Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Unbearable


__ADS_3

Bangunkan aku dari mimpi buruk ini...


Sungguh ini menyiksaku, menghujaniku dengan rasa sakit..


Tolong katakan padaku, bahwa ini bukanlah kenyataan..


Biarkan aku bernafas lega seperti biasanya..


Biarkan aku menikmati hari-hariku seperti biasanya..


Tolong jangan sekejam ini padaku..


Jangan membawa ingatan belahan jiwaku pergi..


Jangan menganggu kenangan yang kami miliki bersama..


Bahkan jika itu kenangan buruk, tetap jangan membawanya..


Apa yang kau jadikan penghapus dalam kepalanya,


Tolong segera singirkan itu..


Dia adalah separuhku, bagaimana aku bisa hidup ketika ia tidak lagi lengkap..


Tolongg...


.


.


...


.


.


.


Entah berapa lama Fauzi terdiam dan mematung di depan dokter. Air matanya tersirap, tidak lagi mengalir. Pandangan matanya tampak kosong, selaras dengan otaknya yang tak mampu berpikir jernih.


Kenyataan yang tersaji untuknya hari ini, adalah fakta menyakitkan yang sudah pasti akan membuat kehidupannya tak lagi sama seperti sebelumnya.


“Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dok?” tanya Fauzi setelah berdiam cukup lama.


“Yang bisa kita lakukan, hanya membantu istri bapak mengingat semaksimal mungkin dan selama mungkin”


Kembali airmata Fauzi menetes. Apa yang dikatakan dokter padanya barusan, benar-benar memperjelas bahwa tidak ada jalan bagi istrinya untuk sembuh.


.


.


.


.


Sepulang dari menjemput Mikayla, Fauzi tidak banyak bicara. Fauzi langsung mengurung dirinya di ruang kerja dengan dalih menyelesaikan pekerjaan, dan baru keluar dari ruangan ketika waktu makan malam tiba. Pasca makan malam pun Fauzi masih betah berkutat dengan pikiran-pikirannya yang berkelana. Memilih kembali menyendiri, demi bisa berpikir jernih. Apa yang dikatakan dokter padanya siang tadi, masih saja menjadi hal yang terus-terusan mengusiknya. Bagaimana tidak, ia di sajikan fakta tentang istrinya yang tidak memiliki jalan untuk sembuh, dan dengan perlahan akan melupakan semuanya, termasuk dirinya.


Malam semakin merangkak naik. Namun Fauzi masih saja termenung di ruang kerjanya sembari terus memikirkan keadaan Salwa. Dia tidak sanggup memikirkan bagaimana keadaan Salwa, ketika apa yang di derita oleh istrinya , mengubur segala kenangan yang mereka punya sedikit demi sedikit. Fauzi selalu berharap kalau fakta yang menghantui mereka kini hanyalah mimpi buruk belaka.

__ADS_1


Tapi sayangnya, apa yang dia dan Salwa alami, terlalu nyata untuk menjadi mimpi. Semua ini nyata! Benar-benar nyata. Dan Fauzi merasa... dirinya belum cukup kuat untuk menerima kenyataan sepahit ini. Fauzi membenamkan wajah dibalik kedua telapak tangannya. Menghela napas panjang, dalam, dan putus asa.


Fauzi ingin mangkir. Hatinya menolak untuk mempercayai fakta yang ada. Tapi itu bukan suatu hal yang mudah dilakukan, ketika dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana istrinya perlahan-lahan semakin berbeda dari sebelumnya.


“Sayangg..”


Panggilan Salwa membuyarkan lamunan Fauzi. Fauzi dengan cepat menyeka airmata yang sebelumnya sudah menggenang saat memikirkan kondisi kesehatan istrinya tadi.


“Iya..” Jawab Fauzi berbalik, memperlihatkan senyumannya. Menyembunyikan perasaan sakit yang dia miliki.


“Kerjaan kamu banyak ya? Aku dari tadi nungguin kamu, tapi kamunya gak keluar-keluar dari sini”


“Maaf sayang. Iya nih, kerjaanku lagi banyak”


“Istirahat dulu, jangan dipaksa..”


Fauzi hanya tersenyum. Beranjak dari duduknya, menghampiri Salwa dan memberinya pelukan hangat. Salwa sedikit bingung mendapat perlakuan Fauzi yang tiba-tiba saja memeluknya.


“Kenapa? Ada apa? Apa terjadi sesuatu??”


“Tidak, aku cuma mau meluk kamu seperti ini saja”


Kembali air mata Fauzi menggenang. Tak peduli seberapa kerasnya dia berusaha untuk menahan perasaannya, namun tetap saja... ia kalah dari rasa sakit yang tengah menghujaninya saat ini.


Salwa membalas pelukan suaminya, dengan dekapan yang lebih erat. Tanpa sedikit pun tahu perasaan sakit apa yang sedang menyayat perasaan suaminya sekarang.


“Sayang, kamu harus selalu ingat sama aku ya..”


“Hem??”


Salwa sedikit mendongak mendengar pertanyaan tiba-tiba dari suaminya.


Salwa tertawa kecil. “Kamu ini ngomong apa sih sayang? Siapa juga yang mau lupain kamu”


“Kamu harus janji. Janji buat selalu bisa ingat sama aku, sama anak kita, keluarga kita dan semuanya..”


Fauzi akhirnya kalah dari pertahanannya. Airmata yang mati-matian dia tahan, kini tumpah tanpa bisa dibendung.


“Sayang kamu kenapa?”


Salwa terkejut melihat reaksi Fauzi yang tiba-tiba saja menangis.


“Sayang.... Sayang kamu kenapa? Ada apa?”


Salwa melepas pelukannya, pertanyaannya tak satupun mendapatkan jawaban dari suaminya yang tampak pilu dibanjiri tangis.


“Aku cinta sama kamu Salwa, aku sayang sama kamu. Aku gak mau kamu lupain, aku gak mau jadi orang asing dalam hidupmu.. Aku gak mau..”


Perasaan sakit yang dia simpan sendiri, kini meluap-luap tanpa bisa dicegah. Sulit sekali bagi Fauzi untuk meredam sedih yang membalut jiwanya.


“Kamu ini bicara apa sih sayang? Aku gak mungkin lupain kamu, aku juga sayang sama kamu, cinta sama kamu. Kamu kenapa? Ada apa?”


Tidak ada jawaban dari Fauzi, dia kembali merengkuh istrinya ke dalam dekapan. Mempererat pelukannya untuk melepaskan semua sesak yang ada di hatinya. Salwa yang tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi pada suaminya, hanya berusaha menenangkan. Memberikan usapan lembut pada kepala hingga punggung Fauzi, Dengan harapan apa yang ia lakukan, bisa sedikit memberikan rasa tenang pada suaminya.


Tak ada kata-kata lagi yang diucapkan Fauzi, ia hanya terus menangis layaknya anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Salwa pun tidak bertanya lagi, ia mengerti jika suaminya itu butuh waktu untuk meluapkan semua perasaannya.


Selang beberapa waktu, Fauzi yang tadinya memuncak-muncak dengan segala kesedihan yang dia derita, perlahan mulai mereda dan tenang. Namun dia masih saja bertengger dipelukan Salwa. Membenamkan wajahnya pada bahu mulus milik istrinya, dengan tangannya yang masih melingkar dengan erat memeluk Salwa.


“Sayang, kamu baik-baik saja?”

__ADS_1


Setelah terdiam cukup lama, Salwa kembali bertanya untuk memastikan keadaan suaminya. Fauzi mengangguk pelan, memberikan jawaban dengan isyarat. Perlahan Salwa melepas pelukannya, tetapi dengan cepat Fauzi kembali membawa Salwa berada dalam pelukannya.


“Biar seperti ini dulu”


Salwa kembali terdiam. Membiarkan suaminya bergelut manja di sisinya.


“Maafkan aku..”


Suara Fauzi masih terdengar parau dan bergetar.


“Maaf untuk apa?”


“Karena udah ngebuat kamu khawatir malam ini”


Salwa kembali mengusap kepala suaminya.


“Tidak apa. Kalau ada yang menyesakkan dalam hatimu, tumpahkan saja” jawab Salwa penuh pengertian. “Tapi kamu beneran gak apa-apa kan sayang??” sekali lagi Salwa memastikan keadaan suaminya.


“Iya. Aku hanya tiba-tiba merasa takut, takut kamu bakal lupain aku dan ninggalin aku”


Salwa kembali menarik tangan Fauzi dari pinggangnya. Melepaskan pelukan suaminya itu dengan lembut. Kali ini Fauzi tidak menolak, ia tidak lagi menarik Salwa kembali dalam pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di bahu Salwa. Mata sembab suaminya begitu mengganggu Salwa. Dia jadi merasa khawatir, karena ini kali pertama setelah mereka menikah tujuh tahun yang lalu, ia mendapati suaminya menangis sebegitu hebatnya tanpa alasan yang jelas.


Sebuah alasan akan takut kehilangan dan takut dilupakan yang terus-terusan Fauzi katakan dari tadi, dan itu sedikit aneh menurut Salwa. Bagi Salwa hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja, dan tidak ada kemungkinan hal buruk terjadi pada mereka, lalu bagaimana bisa suaminya itu berpikiran hal-hal yang tidak jelas seperti itu?


Yah, bagi Salwa yang tidak menyadari kondisinya, dia pasti merasa kalau semuanya baik-baik saja. Beda halnya dengan Fauzi, yang mengetahui bahwa keadaan Salwa kini tidak sedang baik-baik saja. Salwa menyeka sisa-sisa airmata yang belum sepenuhnya kering dari wajah Fauzi.


“Kamu kepikiran apa sayang? Kenapa ngomong hal yang gak masuk akal seperti tadi?” tanya Salwa lembut.


“Entahlah, tiba-tiba saja aku kepikiran hal yang seperti itu. Ngebuat aku jadi merasa takut” Jawab Fauzi berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada istrinya.


Salwa tersenyum. “Hal seperti itu gak mungkin terjadi, aku gak mungkin ngelupain kamu. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau kamu itu ada dihatiku, jadi aku gak mungkin bisa ngelupain kamu”


“Aku juga berharap seperti itu..”


Lagi airmata Fauzi menetes.


“Jangan dipikirkan lagi” Salwa menyeka airmata bening yang kembali membasahi pipi suaminya. “Hal yang ngebuat kamu takut itu, jangan dipikirkan lagi. Aku akan selalu ada buat kamu, selalu sayang sama kamu, dan gak akan ngelupain kamu”


Fauzi hanya mengangguk pelan, dengan airmatanya yang masih saja menetes meski berkali-kali Salwa menyekanya.


Fauzi yang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, membuat Salwa harus berperan seperti seorang Ibu yang harus menenangkan putranya.


Salwa mengangkat pelan wajah suaminya yang sedari tadi menunduk dengan tetesan air matanya. Di kecupnya kedua pipi suaminya, kening, hidung, hingga bibirnya, dan terakhir kembali memberikan pelukan hangat pada suaminya, sekiranya itu bisa menenangkan segala gejolak yang tengah menyelimuti hati suaminya. Fauzi balas memeluk erat.


.


.


.


Detak jam di dinding menjadi satu-satunya suara di malam yang semakin larut. Salwa yang sebelumnya selalu insomnia, entah mengapa malam ini bisa tidur lebih awal, dan itu berbanding terbalik dengan Fauzi. Fauzi masih saja terjaga, matanya sangat sulit terpejam dikarenakan pikiran-pikiran buruk, yang terus berkelebat di kepalanya.


Fauzi memandangi wajah Salwa yang teduh dan damai dalam tidurnya. Dibelai dengan lembut pipinya istrinya dan menyingkirkan helaian-helain rambut yang menganggu di wajah mulus milik istrinya. Airmatanya kembali menetes, tak kuasa menahan perasaannya.


“Aku mencintaimu..” bisiknya dengan lirih.


Tangan salwa yang mulai merenggang dari pinggangnya, kembali Fauzi angkat dengan semakin mendekapnya. Salwa yang sejenak terjaga dengan perlakuan Fauzi, hanya membuka matanya sekilas lalu tersenyum dan meletakkan tangannya lebih jauh di pinggang suaminya, mendekatkan wajahnya di dada bidang milik Fauzi dan membenamkannya disana.


“Mimpi indah sayangku. Hadirkan aku disana juga, anak kita dan semua kenangan kita, hadirkan itu semua dalam mimpimu..”.

__ADS_1


__ADS_2