
"OZIII........"
Hoshh hosshhh hufftt...
Nafasku terengah-engah, mimpi apa aku barusan? kenapa buruk sekali.
Aku tertidur selepas menangis tadi, mungkin karena kelelahan menangis aku sampai tak sadar dan tertidur. Mungkin juga karena kondisiku yang tidak baik saat ini karena kehujanan semalam ditambah lagi aku waktu tidurku yang kurang semalam. Mataku rasanya bengkak sekali, andaikan aku ini putri duyung mungkin saja aku sudah bisa membeli selorong perumahan di Meikarta saking banyaknya uang yang kumiliki hasil dari airmataku yang berubah jadi mutiara. Tapi karena pada kenyataannya aku hanya perempuan biasa, alhasil yang kudapat dari menangis terlalu lama adalah mata bengkak, hidung tersumbat dan muka yang tidak terkondisikan.
Aku mengucek-ngucek mataku, sesekali ingatan tentang mimpi barusan terlintas dipikiranku. Yah.. mungkin ini pamali yang selalu disebut ibuku jika tertidur dipagi hari, akhirnya aku mimpi buruk.
"Nak.. Nak Salwaa..."
Sepertinya seseorang memanggilku dibawah.
Aku bergegas turun kebawah, dari suaranya sepertinya Bibi disamping rumah yang memanggil.
"Nak Salwa ada dirumah??"
"Iya Bi ada.. Sebentar.." Jawabku.
Aku mempercepat langkahku, tapi sebelumnya aku ke kamar mandi dulu mengusap wajahku yang sudah tidak karuan tampilannya.
"Ada apa Bi?" Tanyaku membuka pintu.
"Itu nak..dia temanmu kan? Bibi sering melihatnya duduk diteras sama Ayahmu"
Aku menoleh.
"Fa.. Fauzi... Dia kenapa Bi?" Kataku menghampiri Fauzi yang jatuh pingsan.
"Gak tau nak.. Tadi Bibi tanya ada apa ke dia, dia bilang katanya lagi nungguin kamu Bibi kira kamu lagi gak ada dirumah makanya dia nungguin kamu diluar. Bibi ajak kesebelah katanya mau nunggu disini saja.."
"Terus kenapa jadi begini Bi?"
"Itu Bibi gak tau juga Nak, pas pingsan tadi Bibi rencanya mau manggil kakak kamu disebelah buat bawa dia kerumah dulu, tapi tadi Bibi dengar kamu teriak dari dalam jadi Bibi panggil kamu saja.."
Ah, Pasti pas aku teriak waktu mimpi tadi
"Jadi ini gimana Nak? mau dibawa masuk dulu? Nanti Bibi panggilkan kakakmu buat bantu angkat"
"Salwa lagi sendiri dirumah Bi"
"Ah iya yaa.. Bibi lupa kalau Ayah dan Ibumu sedang tidak dirumah.. yasudah bawa kesebelah saja dulu"
"Gak usah Bi, Sepertinya dia butuh dibawa kerumah sakit juga, takutnya ada apa-apa"
"Yasudah, sebentar Bibi panggil kakakmu dulu sebentar buat ngantar kalian ke Rumah Sakit"
__ADS_1
"Makasih Bi.. Maaf jadi merepotkan.."
"Ah Nak Salwa jangan sungkan, Bibi juga kan orang tuamu Nak.. yasudah Bibi kesebelah dulu" Katanya sambil berlalu.
"Fauzii... heyy bangunn.."
Tidak ada respon dari Fauzi.
Ah.. inikah hasil dari mimpi burukku tadi?
***
Sudah setengah jam setibanya Fauzi di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit terdekat tapi Fauzi belum juga sadarkan diri. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa Fauzi kelelahan, kurang tidur dan sedikit stress, resep obat dari dokter hanya berupa beberapa Multivitamin dan Mineral dan Obat daya tahan tubuh. Dokter mengatakan bahwa tingkat stres Fauzi tidak begitu parah sehingga ia tidak meresepkan obat khusus untuk itu dan hanya menyarankan agar Fauzi mengurangi aktifitasnya bahkan jika bisa Fauzi harus beristirahat penuh untuk memulihkan kembali kesehatannya juga menghindari hal-hal yang bisa membuatnya stres. Fauzi mendapatkan cairan infus dan beberapa obat injeksi untuk membuat keadaannya bisa membaik lebih cepat.
Aku duduk terdiam disamping Fauzi sambil memandanginya. Jujur saja aku masih marah dan sakit hati, aku masih tidak ingin melihat Fauzi apalagi sampai duduk disampingnya seperti ini, Tapi aku juga tidak tega meninggalkannya dengan kondisi seperti ini, dilain sisi perasaanku terhadapnya yang selama 2 tahun ini tidak mudah hilang begitu saja meskipun ia sudah melukai perasaanku. Hanya saja aku benar-benar tidak bisa membuang bayangan Fauzi ketika sedang bersama perempuan itu. Aku seperti terhantui dengan ingatanku yang melihat Fauzi waktu itu.
"Sa.. Salwaa..."
Entah ini mengigau atau apalah namanya yang aku tidak tahu, yang jelas dalam keadaan tidak sadar Fauzi terus memanggilku.
Dokter yang tadi menanganinya datang bersama perawat untuk memeriksanya setelah kupanggil.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Dia baik-baik saja, hanya mungkin seseorang yang bernama Salwa ini ada kaitannya dengan tingkat stresnya saat ini, jika memungkinkan adik bisa memanggil Salwa datang kesini untuk melihatnya.."
"Maaf, disini wali sementara pasien atas nama Salwa.." Jelas perawat dengan membawa catatan rekam medik dan administrasi serta catatan medis milik Fauzi.
"Oh, bagus kalau begitu, tolong adik temani dia dulu. kemungkinan dia pingsan karena kelelahan dan sepertinya dia sedang membutuhkanmu sekarang"
"Iya dok.."
"Kalau begitu saya permisi dulu.." Kata Dokter sambil berlalu dengan sedikit berlari kecil ketika mobil ambulance lainnya tiba, mungkin pasien baru yang harus dia tangani. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Aku duduk kembali, kembali menatap Fauzi yang masih tak sadarkan diri.
Apa perlu kuhubungi orangtuanya? Tapi kalau orangtuanya tanya kenapa dia ada disini, aku jawab apa? kalau aku jujur bisa-bisa aku?? Arghhhh tunggu sebentar saja, kalau belum sadarkan diri juga nanti kuhubungi.
Aku meletakkan kepalaku disamping Fauzi yang sedang terbaring.
"Aku juga lelah..." Kataku sambil menghela nafas panjang.
"Salwaa..."
Kurasakan sentuhan dikepalaku. Aku terabngun
"Maaf merepotkanmu.." Kata Fauzi yang sudah tersadar.
__ADS_1
"Tidak apa, telfon Om atau Tante untuk menemanimu disini, aku mau pulang.."
"Gak bisa nemenin aku sebentar disini?"
"Aku mau pulang..."
"Tolong.. temenin aku sebentar, aku gak mau buat orangtuaku khawatir"
"Aku juga butuh istirahat.."
"Salwaa.." Fauzi memegang tanganku. "Ini semua gak seperti yang kamu pikirkan.. Aku dengan dia gak ada apa-apa"
"Udahlah Fauzi.. aku gak butuh alasanmu lagi.."
"Ini bukan alasan, aku.."
"Tolong cepat membaik, karena aku mau pulang"
"Salwa, kamu akan terus-terusan salah paham kalau tidak mau mendengarkan penjelasanku"
"Aku tidak butuh penjelasanmu Fauzi, aku udah liat semuanya"
"Tapi dia bukan.."
"Ya.. anggaplah dia bukan selingkuhanmu.. Lalu kenapa pake acara ngebelai-belai rambutnya? apa kamu pikir semua perempuan bisa asal dibelai rambutnya? Gak ada alasan yang ngebuat perempuan itu rela dipegang kepalanya kalau kalian gak ada hubungan khusus. Normalnya perempuan gak akan mau seperti itu Fauzi.."
"Salwa aku gak ngebelai rambutnya seperti yang..."
"Hehh lucu sekali.. Apa kamu kira mataku kurang baik?"
"Salwaa..."
"Sudahlah, semakin kamu jelasin semakin aku sakit. Kamu segitunya sampai bohong sama aku.."
"Aku..."
"Udah.. bentar lagi cairan infusmu habis dan kamu udah sadar jadi kamu udah boleh keluar, obatnya udah aku tebus ke Apotek tadi.. Aku mau istirahat sebentar jadi jangan ajak aku bicara.." Kataku lalu kembali meletakkan kepalaku.
Fauzi benar terdiam. Airmataku menetes, aku tidak sampai hati berkata kasar seperti saat ini pada Fauzi dengan keadaannya yang seperti itu, tapi aku juga belum bisa menerima pengkhianatan Fauzi yang benar-benar melukai perasaanku. Perlahan airmataku juga menetes, aku tidak pernah menyangka kami akan berada diposisi seperti ini.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Teman-teman, Mari sejenak mengheningkan Cipta untuk gugurnya Putra Kebanggaan Indonesia Bapak Bachruddin Jusuf Habibie, Semoga Allah Tuhan yang Maha Esa memberikan tempat terbaik buat Beliau.. Buah tangan kebaikannya untuk Indonesia semoga selalu terjaga untuk kita anak-anak penerus bangsa Indonesia..