
Lagi, Fauzi membawa Mikayla untuk bermain di rumah orangtuanya. Mikayla pun sudah terbiasa tinggal di rumah neneknya, bahkan beberapa kali Fauzi kesulitan jika ingin menjemput Mikayla pulang, karena Mikayla yang sering menolak untuk pulang dari rumah neneknya. Keinginan Mikayla yang ingin tetap tinggal, ditambah dukungan orangtuanya saat menahan cucunya, semakin membuat Fauzi kesulitan membujuk Mikayla untuk pulang.
Mikayla senang bermain dirumah orangtua Fauzi, sama senangnya jika dia berkunjung ke rumah orangtua Salwa. Hanya saja, karena saat ini Afifah tinggal sementara di rumah orangtua Fauzi selama suaminya mengambil cuti, semakin membuat Mikayla betah disana, karena ada Naila teman bermainnya.
Jelas Fauzi merasa tak enak hati selalu menitipkan putrinya, namun rasa tak enak hatinya itu bukanlah apa-apa dibandingkan rasa senang melihat orangtuanya yang bahagia tiap kali cucu satu-satunya itu berkunjung.
Fauzi dan Salwa tiba di sebuah restaurant yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Berhubung sekarang adalah waktu makan siang, restaurant itu di penuhi pengunjung. Entah yang benar singgah untuk mengisi perut di siang hari, ataukah yang sekedar memiliki janji temu di restaurant itu.
Terlihat jelas bagi Fauzi, bagaimana istrinya itu merasa senang. Mungkin karena sudah terlalu lama istrinya hanya tinggal dirumah, sehingga ia merasa senang ketika berada diluar.
“Kamu mau pesan apa sayang?” tanya Fauzi sembari menyodorkan buku menu pada Salwa.
Salwa meraih buku menu yang Fauzi berikan. Salwa menatap buku menu itu begitu lama, seolah sedang memikirkan sesuatu dengan melihat buku menu itu.
“Kenapa sayang? Kamu bingung mau makan apa?”
Salwa terdiam saja, pertanyaann Fauzi berlalu tanpa respon, tanpa jawaban dari Salwa.
“Sayang..”
Entah apa yang begitu menarik perhatian Salwa pada buku menu itu, ia terus memandangi buku menu tanpa menghiraukan panggilan Fauzi.
“Sayang...??”
Fauzi memanggil sambil menyentuh pelan tangan istrinya, berusaha menyadarkan istrinya akan panggilannya.
Salwa menoleh, menatap Fauzi sejenak kemudian kembali menatap buku menu itu.
“Ada apa? Kenapa sama buku menunya? Kamu bingung mau pesan apa?”
“Pesan?” tanya Salwa ulang, dengan tatapannya yang mulai kebingungan.
“Maksudku pesan makanan sayang..”
Salwa kembali terdiam, dan menatap buku menu itu.
“Kenapa sayang?”
Perlahan Salwa mengangkat buku menu yang dipegangnya.
“Ini apa? Kenapa kamu ngasih ini ke aku tadi?”
Mendengar pertanyaan Salwa, rasa sakit kembali menghantam perasaannya. Fauzi kembali di sadarkan akan keadaan istriniya yang semakin memburuk.
Fauzi hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan istrinya, perlahan menghembuskan nafas panjang dan dengan sabar kembali menjelaskan pada istrinya.
“Sayang.. ini buku menu, kita kan lagi mau makan. Ini kamu lihat, ada beberapa jenis makanan yang tertera disini kan? Nah kita tinggal pilih mau makan apa?”
Salwa terdiam sejenak, dengan memperlihatkan ekspresinya yang begitu serius mendengarkan penjelasan Fauzi.
__ADS_1
“Ah iyaa.. Aku tahu. Kok aku jadi bingung begini sih..” Salwa tertawa kecil menyadari dirinya yang kebingungan akan hal yang sudah lumrah diketahui banyak orang.
“Jadi kamu mau makan apa sayang?”
Salwa kembali menatap buku menu itu sembari berpikir, kiranya rasa masakan seperti apa yang akan menyenangkan tenggorokan dan indra pengecapnya.
Sudah berlalu delapan menit, dan Salwa masih saja belum menentukan pilihannya, membuat Fauzi yang awalnya sabar menunggu akhirnya kembali menanyai istrinya.
“Sayang, jadi kamu mau makan apa?”
Salwa mengalihkan pandangannya dari buku menu, mengangkat kepalanya dan menatap Fauzi.
“Kamu aja deh yang pilih. Aku bingung mau pilih yang mana” keluh Salwa sembari memberikan buku menu yang sedari tadi di pegangnya, kembali ke Fauzi.
Fauzi meraih buku menu itu. Ia teringat lagi akan perkataan dokter bahwa akan ada masa nantinya, dimana istrinya sulit menentukan sesuatu, bahkan untuk pilihan yang tidak sulit.
“Kalau gitu aku pesan makanan yang biasa kamu makan aja ya?”
Salwa hanya mengangguk sambil tersenyum, Fauzi balas tersenyum.
Meski terkadang Salwa kesusahan untuk diajak bercerita, namun Fauzi tanpa henti dan tanpa lelah tetap mengajak istrinya berkomunikasi, untuk melatih kemampuan verbal Salwa sekaligus membantu Salwa untuk tetap bisa mengingat kenangan-kenangan mereka yang telah lalu.
Salwa masih bisa menanggapi beberapa cerita yang Fauzi sajikan, namun beberapa lainnya, sudah harus membutuhkan penjelasan berulang-ulang agar Salwa bisa mengingat. Walau begitu, Fauzi tetap berusaha sebiasanya agar istrinya itu bisa mengingat kenangan-kenangan mereka bersama. Setiap harinya Fauzi akan bercerita hal yang sama terus menerus, sampai Salwa menegur bahwa ia sudah mendengar cerita itu, barulah Fauzi mengganti dengan cerita yang lain. Seperti itu setiap harinya, usaha Fauzi dalam membantu istrinya bisa tetap bertahan dengan ingatannya.
Fauzi berhenti sejenak, saat sapaan seseorang menyela cerita Fauzi.
“Kebetulan sekali kita ketemu disini?”
“Aku boleh gabung dengan kalian ya..”
Belum Fauzi ataupun Salwa mempersilahkan, Karin sudah mengambil posisi duduk pada kursi kosong diantara Fauzi dan Salwa.
“Kalian sering makan disini?”
“Gak juga, hanya sesekali” Jawab Fauzi.
Karin hanya tersenyum kecil mendapat jawaban Fauzi yang singkat, dan berbalik menatap Salwa yang menatapnya dengan kebingungan.
“Suami istri ini, modelnya persis sekali. Pertama kali ketemu sama Fauzi dulu, dia juga ngeliatin aku dengan tatapannya yang sama kayak Salwa ngeliat aku sekarang”
Fauzi hanya mendengarkan Karin yang perlahan mulai mengoceh.
“Kamu juga gak ingat sama aku??”
Fauzi spontan menatap Karin. Kata mengingat yang di tujukan pada Salwa, sangat sensitif bagi Fauzi. sedang Salwa, hanya menggeleng merespon pertanyaan Karin.
“Hm wajar sih..” keluh Karin sedikit kecewa.
“Maaf..” Kata Salwa. Kata pertama yang Salwa ucapkan semenjak Karin bergabung di meja mereka.
__ADS_1
“Ah, gak apa-apa. Aku Karin, kakak kelas kalian dulu” kata Karin sembari menyalurkan tangannya.
“Karin? Kakak kelas??” Salwa bertanya dengan kebingungannya.
Fauzi mulai was-was, sedang dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan pembicaraan yang sudah berlangsung.
Karin sedikit canggung melihat tangannya yang sudah ia angkat, namun tidak mendapat respon balasan dari Salwa untuk menyalaminya, melainkan hanya pertanyaan balasan yang ia dapatkan.
Melihat ekspresi Karin, Fauzi kembali mengarahkan Salwa. Fauzi tidak ingin, Karin jadi salah beranggapan pada Salwa.
“Sayang, salami dulu tangan Karin..”
Karin berbalik menatap Fauzi dengan tatapan sedikit terkejut. Masa iya hal beginipun, Fauzi harus mengarahkan Salwa.
Mendapat arahan dari Fauzi, Salwa perlahan mengangkat tangannya dan menyalami Karin sambil tersenyum.
“Aku Salwa..” Jawab Salwa dengan senyumnya yang tidak hentinya ia perlihatkan sebagai tanda keramahannya.
Karin hanya tersenyum kecil dengan kebingungannya.
“Kamu beneran gak ingat sama aku? Aku kakak kelas kalian dulu” Tanya Karin sekali lagi memperjelas.
“Karin, kita udah 10 tahun lebih gak ketemu. Wajar kan kalau Salwa sudah lupa” Sela Fauzi dengan tersenyum. Ia menyela pertanyaan Karin agar tidak menambah kebingungan istrinya. Sayangnya, Fauzi sedikit terlambat, Salwa sudah terlanjur tertarik untuk mengingat Karin.
“Kakak kelas kalian? Kalian siapa?”
“Ya kalian, kamu sama Fauzi”
“Aku sama Fauzi??” tanya Salwa ulang, yang membuat Karin mulai bingung.
“I-iya.. Kan kita bertiga ini satu alumni. Ka-kamu gak ingat??”
Fauzi hanya terdiam, ia tidak tahu harus menyela seperti apa. Dia bisa saja mengundang kekesalan Salwa jika menyela lagi, sedang Salwa terlihat mulai penasaran untuk bisa mengingat Karin.
“Kita satu sekolah? Dari alumni yang sama?” tanya Salwa pada Fauzi.
Karin setengah membelalak mendengar pertanyaan Salwa.
*Apa hal seperti ini bisa dia lupa? Aku mengerti kalau dia udah gak ingat sama aku. Tapi, bagaimana bisa dia juga lupa kalau dia satu alumni dengan suaminya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi teman-teman yang menjalankannya 😊💜
Spesial awal Ramadhan, aku Up eps lebih dari satu 😊😊*