Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Apakah sembuh?


__ADS_3

Malam mulai larut, namun Salwa belum juga sadarkan diri yang membuat Fauzi menjadi begitu khawatir dan sangat gelisah sekarang. Ia menunggu istrinya tersadar dengan terus berusaha terjaga meski malam semakin larut.


Dokter yang memeriksa Salwa tadi mengatakan, bahwa tidak ada hal yang serius pada Salwa. Salwa hanya mengalami trauma sejenak setelah mengetahui sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang ada di dalam pikirannya.


Sebelumnya Fauzi berniat menghubungi orang tua dan juga mertuanya, namun melihat kondisi Salwa dengan pemikirannya yang terbilang aneh, membuat Fauzi menahan diri untuk memberitahu hal ini pada orangtua mereka. Fauzi ingin memastikan keadaan Salwa yang sebenarnya dulu sebelum memberitahu mengenai kecelakaan Salwa.


Farhan dan Nina harus undur diri ketika hari beranjak sore tadi. Mereka tidak bisa tinggal lebih lama menemani Fauzi menjaga Salwa, meningat Nina tengah hamil dan juga putra mereka yang sekarang mereka titip di rumah orangtua Farhan, harus mereka jemput.


“Sayang.. Ayo bangun.. Kamu mau sampai kapan tidur terus sayang..” Kata Fauzi sembari menggenggam erat tangan istrinya.


Dia begitu tidak tenang melihat istrinya belum sadarkan diri. Airmatanya kembali menetes, semua kemungkinan-kemungkinan buruk menghampirinya, membuat ketakutannya semakin menjadi-jadi.


“Aku gak becus, aku suami yang buruk. Bagaimana bisa aku ngebiarin kamu seperti ini sayang? Suami macam apa aku??” Fauzi mengutuk dirinya sendiri. Ia begitu merasa bersalah atas apa yang menimpa istrinya saat ini.


Fauzi tertunduk, dan terus-terusan menciumi tangan istrinya dengan airmata yang semakin deras mengalir.


“Fa-Fauzi...”


Fauzi terkejut, benarkah suara yang di dengar itu adalah milik istrinya?


“Sayang.. Kamu sudah bangun??”


Salwa yang sudah sadar berusaha bangun dan duduk dengan bersandar.


“Pelan-pelan sayang..” Kata Fauzi membantu istrinya.


Salwa duduk dengan bantuan Fauzi.


“Bagaimana perasaanmu sekarang??”


“Sedikit pusing..” Jawab Salwa dengan suaranya yang lemah.


“Sebentar aku panggil dokter..”


“Gak usah..” Cegah Salwa.


Fauzi kembali berbalik setelah sebelumnya sudah bergegas untuk memanggil dokter.


“Kamu mau makan sayang? Mau minum??”


Salwa menggeleng.


“Kamu kedinginan, mau aku ambilin selimut?”


Salwa kembali menggeleng.


“Fauzi..”


“Iya sayang?”


“Fauzi, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Tentang apa sayang??”


“Tentang semuanya. Cerita sama aku, apa yang sebenarnya terjadi”


Perlahan Fauzi mulai bercerita tentang apa yang sudah terjadi selama ini. Fauzi menceritakan bahwa mereka sudah menikah selama 7 tahun, meski mereka sudah sempat putus. Fauzi menceritakan bagaimana mereka bertemu kembali di rumah sakit untuk pertama kalinya setelah berpisah lama, hingga Salwa yang salah menyangka mengenai Afifah waktu itu. Dengan penuh semangat Fauzi bercerita bagaimana mereka yang mulai pendekatan kembali setelah putus, bagaimana dia sempat kesulitan mendekati Salwa kembali karena Salwa yang selalu salah mengira.


Sesekali Salwa tersenyum mendengarkan cerita Fauzi, Fauzi pun bahkan tertawa ketika dia bercerita hal lucu.


“Jadi aku sekarang?”


“Sekarang kamu adalah istriku sayang, kita akhirnya pindah ke rumah kita sendiri. Kamu akhirnya memutuskan berhenti kerja dan kamu membuka..”

__ADS_1


“Aku punya Apotek sendiri kan di rumah?”


“Iya sayang. Kita juga sekarang sudah punya anak..”


“Mikayla..”


“Iya, Mikayla putri kita..”


Salwa terdiam sejenak, dan mulai kebingungan.


“Mikayla sudah sekolah sekarang, kamu setiap hari ngantar Mikayla pergi sekolah dan aku yang jemput” Kata Salwa pelan-pelan.


Dia sendiri bingung, kemana ingatannya tadi dan baru mengapa sekarang muncul kepermukaan.


“Ka-kamu ingat itu sayang?? Ka-kamu beneran ingat??”


Salwa berbalik menatap Fauzi, dan masih memperlihatkan bagaiamana dia kebingungan karena bisa mengingat apa yang sebelumnya tidak bisa dia ingat.


“Kamu kerja di perusahaan Ayah Farhan kan?”


“Iya sayang iya.. Kamu beneran ingat semuanya?” Tanya Fauzi antusias melihat Salwa yang perlahan mengingat satu persatu yang ada di kehidupannya.


Salwa mengangguk dan menatap Fauzi dengan matanya yang berkaca-kaca. Meski dia bingung dari mana saja ingatannya, tapi ada rasa terharu yang dia rasakan ketika bisa mengingat semuanya.


“A-aku bingung dan seperti sedang mimpi..” Kata Salwa kebingungan.


“Ka-kamu beneran ingatkan sayang?? Kamu ingat semuanya??”


Salwa mengangguk dan tersenyum dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Fauzi berhambur memeluk Salwa, perasaan bahagia yang dia miliki sekarang serasa mencuak kepermukaan.


Namun, belum saja lama Fauzi merasa bahagia, ia kembali di terpa kekhawatiran.


“Kenapa?” Tanya Salwa kebingungan melihat Fauzi yang ekspresinya tiba-tiba berubah.


“Sayang.. Kamu ingat ini, dan selamanya akan ingat kan??”


“Tentang apa?”


“Tentang hidup kita, diri kita, aku, anak kita dan semuanya”


“Maksud kamu?” Tanya Salwa kebingungan.


Fauzi kembali khawatir dan takut kecewa karena sudah berharap lebih sekarang.


“Kamu gak akan lupa lagi kan sayang?”


“Lupakan apa? Mungkin tadi karena aku habis kecelakaan jadi ingatanku sedikit terganggu dan mengingat kejadian di masa lalu. Tapi sekarang aku ingat, kalau aku ini istrimu dan kita sudah punya anak. Aku sudah sadar kalau ini adalah waktu sekarang, aku gak mengigau lagi tentang kejadian yang terjadi di masa lalu”


“Bu-bukan itu maksudku sayang. Maksudku tentang sesuatu yang ada di kepalamu, yang bisa ngehapus semuanya”


Dahi Salwa berkerut. Dia masih belum bisa mengerti tentang apa yang dikatakan Fauzi.


“Penghapus apa? Aku sakit?” Tanya Salwa.


Fauzi menatap Salwa sejenak, dia bingung mengenai apakah hal ini bisa dia katakan pada Salwa. Fauzi kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Salwa.


“Aku sakit apa?”


“Al-Alzheimer” Jawab Fauzi ragu-ragu.


Salwa begitu terkejut mendengar apa yang Fauzi katakan. Bagaimana bisa suaminya itu mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan.

__ADS_1


“Al-Alzheimer?? Aku menderita Alzheimer??” Tanya Salwa memperjelas apa yang baru saja dia dengar dari suaminya.


Fauzi kembali mengangguk. Dia sempat menyesali karena sudahh mengatakan kebenaran akan penyakit yang di derita istrinya. Fauzi baru sadar akibat apa yang akan dia dapatkan ketikan mengatakan yang sebenarnya pada istri kesayangannya itu. terakhir kali saat Salwa menyadari kondisinya yang menderita Alzheimer, dia menangis tersedu-sedu menyalahkan dirinya, bahkan meminta Fauzi untuk mencari perempuan lain karena merasa tidak becus sebagai istri. Salwa bahkan pernah melarikan diri dari rumah saat ia sadar, bahwa ia menderita Alzheimer dan tahu kalau dia tidak memiliki jalan untuk sembuh.


“Aku menderita Alzheimer? Penyakit yang bisa melupakan segalanya itu?” Tanya Salwa memperjelas sekali lagi.


“Iya sayang..” Jawab Fauzi yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedihnya.


Salwa benar-benar terkejut mendengar apa yang Fauzi katakan.


“Ta-tapi, aku ingat semuanya. Aku ingat kamu, diriku, putri kita, pekerjaanku dan apapun itu, aku ingat semuanya” Jelas Salwa. Ia masih berharap bahwa mungkin saja suaminya salah menyebut penyakit atau salah mengira.


Fauzi menatap Salwa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Fauzi sendiri bingung, apakah yang terjadi malam ini nyata, atau apakah istrinya itu bisa terus mengingat semua yang terjadi malam ini. Fauzi sangat berharap bahwa ini adalah benar.


“Ka-kalau aku menderita Alzheimer, itu berarti aku gak bisa sembuh dan itu berarti aku gak bisa ingat semuanya. Tapi se-sekarang aku ingat”


“Iya sayang, aku juga berharap kalau kamu bisa ingat ini semua selamanya, bukan hanya malam ini saja”


Salwa terdiam sejenak, dengan pikirannya yang mulai berpikir keras untuk mencerna apa yang baru saja dia dengar dari suaminya.


“Ja-jadi selama ini? Aku jadi pelupa?”


Fauzi mengangguk. Fauzi sendiri masih bingung, apakah hal seperti ini bisa dia katakan pada istrinya. Tapi melihat salwa yang sekarang terlihat baik-baik saja, membuat Fauzi semakin berharap lebih bahwa benar istrinya sekarang sudah sembuh.


“Apa saja yang sudah aku lupakan? Dan sejak kapan aku seperti itu?”


“Sayang.. Apa kamu benar ingat semuanya sekarang?”


Fauzi tidak menjawab pertanyaan Salwa, dan kembali bertanya untuk memastikan ingatan istrinya.


“Iya.. Aku ingat kalau kita sudah menikah dan punya anak. Fauzi, tadi itu mungkin aku hanya mimpi jadi gak bisa bedain waktu. Bukan karena aku sempat lupa itu sampai kamu ngira aku menderita alzheimer. Penderita alzheimer itu bukan seperti aku, mereka tidak lupa bagian-bagian tertentu saja atau pikirannya kembali ke masa lalu seperti apa yang terjadi sama aku tadi” Jelas Salwa yang panjang lebar.


Salwa berusaha meyakinkan Fauzi bahwa apa yang terjadi padanya barusan bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai orang yang menderita Alzheimer.


Ya, Salwa sadar bahwa sebelumnya dia memiliki pikiran yang aneh. Entah apa yang terjadi pada memorinya sehingga dia berpikiran bahwa apa yang baru saja terjadi padanya, adalah hal yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


Tapi, Salwa tidak menyadari bahwa sebelumnya dia adalah penderita Alzheimer. Dia sama sekali tidak merasa kalau dia pernah mengalami gejala lupa yang luarbiasa sehingga bisa dikatakan sebagai penderita Alzheimer. Meski yang terjadi sebenarnya bahwa dia memang adalah penderita Alzheimer.


Fauzi terdiam sejenak. Cara Salwa menjelaskan perihal bagaimana penderita Alzheimer itu, sangat persis dengan bagaiamana dia yang biasanya mmberikan informasi mengenai suatu penyakit kepada pasiennya, membuat Fauzi semakin besar harapan bahwa yang terjadi pada istrinya saat ini adalah tanda-tanda kesembuhan.


“Fauzi, penderita Alzheimer itu bukan hanya lupa pada diri, anak, keluarga dan yang lainnya. Tapi mereka juga perlahan kehilangan kemampuan verbal, kemampuan berpikir, bahkan kemampuan berbicara karena mereka kesulitan menyusun kalimat dari apa yang ingin dia katakan. Mereka bahkan gak bisa hidup tanpa orang lain atau berinteraksi dengan baik sama orang lain. Jadi apa kamu lihat aku seperti itu sekarang?” Tanya Salwa memastikan.


Salwa menjelaskan panjang lebar perihal apa yang terjadi pada penderita pasien. Dia masih belum bisa menerima suaminya yang berpikiran bahwa dia adalah penderita Alzheimer, mengingat saat ini dia begitu sadar dan sangat pandai mengatakan apa yang ingin dia katakan.


“Aku ingat kita pacaran dari SMA, dan aku..” Salwa terhenti sejenak saat ingatannya mengenai perselingkuhan yang pernah dia lakukan. “Dan aku.. Aku pernah selingkuh” Kata Salwa sedikit menurunkan nada suaranya.


“Kamu ingat masalah itu?” Tanya Fauzi terkejut.


Apakah benar ini adalah tanda-tanda kesembuhan istrinya.


“Iya, aku ingat. Kita sempat putus, dan tidak bertemu dalam waktu yang lama. Tapi pada akhirnya kita ketemu lagi..”


Fauzi terdiam. Dia yang sebelumnya sudah merasa senang, kembali khawatir. Hal yang Salwa ceritakan sekarang adalah hal yang baru saja mereka bahas. Sebelumnya Fauzi sudah bercerita hal itu pada Salwa.


“Ta-tapi kan itu sudah aku bahas tadi sayang..”


“Kalau gitu, tentang aku yang pernah putus gara-gara mergokin kamu sama cewek lain. Aku ingat saat aku sedang pertunjukan seni dan kamu gak datang. Pas aku jalan sama temenku, aku mergokin kamu lagi sama cewek lain. Waktu itu akan marah dan minta putus kan??” Kata Salwa mencoba meyakinkan Fauzi bahwa ingatan Fauzi mengenai dirinya itu salah. Salwa sangat menyadari dirinya bahwa dia mengingat semuanya sehingga itu tidak bisa dikatakan bahwa dia adalah penderita alzheimer.


Salwa sedikit mendebat Fauzi. Apa yang dia alami sekarang sangat berbeda dengan dugaann Fauzi. Salwa menceritakan beberapa hal sebagai bukti bahwa ingatannya baik-baik saja.


Mendengar Salwa mengatakan itu, membuat Fauzi bingung. Dia tidak tahu apakah Salwa yang berbicara dengan jelas seperti sekarang ini bisa dia percaya bahwa itu adalah tanda kesembuhan istrinya, ataukah hanya sebersik ingatan yang muncul kepermukaan, seperti sebelum-sebelumnya.


Malam semakin larut, Salwa yang siuman dengan kesadarannya yang memperlihatkan diri sebagai orang sehat, terus-terusan menjelaskan pada Fauzi tentang keadaannya.

__ADS_1


Sepertinya, mereka akan memiliki waktu yang panjang kali ini, untuk menguak semua hal-hal yang menurut keduanya berbeda. Tak ada rasa ngantuk yang menghampiri keduanya, akibat kebingungan yang sama-sama menderu mereka saat ini.


__ADS_2