Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Guilty Feeling


__ADS_3

Fauzi dipenuhi perasaan bersalah setelah balik marah dan bicara dengan nada tinggi pada istrinya pagi ini. Berkali-kali ia mengecam dirinya sendiri yang begitu payah dan tidak bisa menahan amarahnya. Dengan langkah yang dipercepat, Fauzi berjalan menghampiri istrinya.


Perasaan sakit semakin menyerbunya tatkala ia melihat Salwa menangis sembari duduk memeluk lutut. Fauzi semakin mengutuk dirinya karena telah membuat istrinya menangis.


Fauzi semakin mempercepat langkahnya, menghampiri Salwa dan berhambur memeluknya.


“Maafkan aku sayang.. maafkan aku. Maaf karena aku marah, maaf karena suaraku meninggi. Maaf..”


Berulang-ulang Fauzi mengucapkan kata maaf, sebagai bukti penyesalannya karena telah memperlakukan istrinya dengan buruk pagi ini.


Salwa hanya menangis, tidak mengucapkan satu katapun.


“Maafkan aku. Aku memang suami yang tidak becus, tidak seharusnya aku marah..”


Airmata Fauzi semakin deras mengalir, perasaan sakit dan bersalah yang dia rasakan saat ini, tidak juga tertebuskan meski ia sudah meminta maaf berkali-kali pada istrinya.


Fauzi melepas pelukannya, memandangi wajah istrinya yang dipenuhi airmata.


“Maafkan aku..” Fauzi menyeka airmata yang terus-terusan keluar dari dua bola mata Salwa.


“Ja-jangan marah..” Salwa yang berbicara dengan terisak-isak semakin membuat Fauzi merasa bersalah.


“Iya tidak, aku tidak marah, aku tidak akan marah lagi”


Fauzi kembali memeluk salwa dengan erat.


“Aku takut kalau kamu marah...”


“Maaf sayang.. Maaf..”


Fauzi kembali melepas pelukannya dan menyeka airmata Salwa.


“Aku gak akan marah lagi. Maafin aku ya..”


Salwa mengangguk pelan.


“Jangan nangis lagi, aku janji gak akan kayak gini lagi”


Salwa kembali mengangguk dan perlahan tersenyum. Fauzi balas tersenyum dan kembali memeluk Salwa.


Fauzi sangat tidak ingin melihat Salwa menangis, ia meminta Salwa untuk berhenti menangis, namun sendirinya masih saja di banjiri airmata.


Perlahan, suara tersikuk-sikuk Salwa tidak terdengar lagi, namun tangannya masih terasa hangat memeluk Fauzi. sedang Fauzi, masih tidak bisa menghentikan tangisnya karena rasa bersalah yang belum juga hilang dari perasaannya. Ia semakin mempererat pelukannya, dan akan melepaskannya ketika dia sudah bisa menangani perasaannya dan menghentikan tangisnya. Namun sepertinya itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


“Sayang...”


“Hem??” Jawab Fauzi masih enggan melepas pelukannya.

__ADS_1


“Ka-kamu kenapa?”


Fauzi terdiam sejenak. Apalagi maksud dari pertanyaan Salwa ini.


Fauzi menyeka airmatanya sebelum melepas pelukannya.


“Kenapa apanya sayang?”


Salwa memandangi Fauzi dengan tatapan sedih. Perlahan membelai pipi Fauzi dan menyeka sisa airmatanya.


“Kamu kok nangis??”


Dimata Salwa, terlihat dengan jelas tatapannya yang sedih bercampur kebingungan.


Gejolak sakit yang tak terjabarkan, kembali menghantam seluruh bagian hati dan perasaan Fauzi. Belum lepas rasa sakit yang ia rasakan akibat pertahanannya rubuh ketika marah, sekarang ia kembali di sajikan keadaan dimana istrinya tidak mengingat akan apa yang baru terjadi. Hanya seperti helaan nafas, namun istrinya sudah melupakan semuanya. Melupakan apa yang baru saja terjadi, dan alasan apa yang membuat suaminya menangis tersikuk-sikuk di pelukannya.


Fauzi semakin tidak bisa menahan airmatanya, semuanya tumpah tanpa aba-aba, tanpa bisa ditahan lagi.


“Sayang.. kamu kenapa??”


Salwa semakin khawatir melihat Fauzi.


Fauzi hanya menggeleng merespon pertanyaan Salwa. Kembali ia tarik istrinya dan meringkuh dalam pelukan yang semakin erat.


Aku tidak tahu misteri apa yang tengah bermain di kepalamu. Yang aku tahu, aku benci keberadaannya karena dengan mudah mengambil ingatanmu.


“A-aku, aku gak apa-apa sayang..”


Fauzi memaksakan diri menjawab pertanyaan istrinya, meski diiringi dengan suara parau dan bergetar.


“Gak apa-apa? Tapi kamu kok nangis??”


“Aku sayang sama kamu. Karena terlalu sayang, aku sampai menangiss...” jawab Fauzi memperat pelukannya, menyembunyikan wajah dari Salwa, dan menangis sejadi-jadinya. Piyama berwarna maroon yang di kenakan Salwa, mulai basah dengan airmata Fauzi.


“Jangan menangis, aku khawatir. Kalau sayang sama aku, kamu harusnya gak nangis..”


Fauzi melepas pelukannya, menatap istrinya dengan matanya yang masih saja banjir airmata, memaksakan diri untuk tersenyum, sekiranya itu bisa mereda rasa khawatir istrinya.


Salwa menatap tangannya, dan perlahan ia arahkan untuk mengusap airmata Fauzi. menyeka dengan pelan airmata Fauzi sambil memperlihatkan senyumnya.


“Aku sayang sama kamu. Jadi jangan nangis lagi..”


Salwa memperlakukan Fauzi layaknya seorang Ibu yang tengah menenangkan putranya, membujuk Fauzi agar berhenti menangis dengan cara yang telaten. Fauzi hanya mengangguk dengan masih berusaha memperlihatkan senyumannya.


Salwa balas tersenyum melihat senyuman Fauzi, bergerak pelan melingkarkan mendekat dan mengusap punggung Fauzi sembari mendekap Fauzi lebih dalam.


Fauzi bersandar pada istrinya, terdengar jelas suara detak jantung milik Salwa yang berirama teratur, membuat Fauzi merasa nyaman dan dengan perlahan bisa mereda rasa sakit yang sedari tadi menyiksanya.

__ADS_1


“Sayang..” panggil Fauzi setelah berdiam beberapa saat dalam pelukan Salwa.


“Hem?”


“Mau makan di luar hari ini?”


“Makan diluar?”


Fauzi beranjak dari pelukan Salwa, matanya masih sembab.


“Iya, sudah lama kita gak makan diluar kan. Ayo ke restaurant...”


Rasa bersalah dan niat ingin menebus kesalahannya pada Salwa, mendorong Fauzi untuk mengajak istrinya makan bersama diluar. Dari yang dia ingatpun, sudah sangat lama mereka tidak makan bersama. Pekerjaan Fauzi yang begitu banyak, dan hari libur yang mereka gunakan untuk berkunjung kerumah orangtua, membuat mereka sangat tidak memilki waktu yang banyak untuk sekedar bisa makan di luar.


Fauzi sadar akan kemungkinan-kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak baik nantinya. Salwa bisa saja tiba-tiba berpikiran yang tidak sewajarnya atau melakukan hal-hal aneh, namun tetap saja Fauzi berniat membawa istrinya keluar. Sudah cukup lama istrinya itu hanya berada dalam rumah saja.


Salwa mengangguk pelan sambil tersenyum, mengiyakan ajakan Fauzi.


“Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu. Aku mau nyelesaiin pekerjaanku dulu”


“Pekerjaannya gak bisa ditunda dulu? Kita pergi sekarang saja”


“Bukan pekerjaanku yang gak bisa di tunda sayang, tapi karena sekarang masih terlalu pagi, belum banyak restaurant yang buka”


Fauzi yang melihat ekspresi bingung istrinya mulai mengerti, bahwa lagi-lagi istrinya tidak sadar akan waktu.


“Lihat, sekarang baru jam 7 pagi” kata Fauzi sembari menunjuk Jam yang bertengger di dinding.


“Ah iya, masih pagi”


“Mikayla kan juga belum bangun. Jadi kita harus nungguin Mikayla bangun dulu. Sambil nungguin Mikayla, aku nyelesaiin pekerjaanku dulu”


“Iya..” jawab Salwa mengangguk paham sambil tersenyum.


“Kalau kamu mau ngapain?”


“Aku??” Salwa mengarahkan jari telunjuknya pada dirinya. “Aku gak tahu..”


“Mau nonton Tv?”


“Iya mau..”


Fauzi mengarahkan istrinya ke ruang keluarga, duduk di sofa depan Tv dan memutarkan tayangan umum yang ditayangkan pagi ini.


“Panggil aku kalau butuh sesuatu”


Salwa mengangguk.

__ADS_1


Fauzi mengecup kening istrinya, kemudian berlalu menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang tadinya sempat tertunda.


__ADS_2