
Suasana canggung menemani pertemuan Nina dan Farhan setelah Ayah Nina berlalu. Mereka yang sama-sama berbohong perihal sedang menunggu teman akhirnya sama-sama tertangkap basah saat Ayah Nina menjelaskan bahwa merekalah satu sama lain yang ingin dipertemukan dan bukan sebagai "Teman" melainkan untuk perjodohan.
Farhan diam saja dikursinya dengan sesekali melirik Nina yang terdiam saja didepannya menunduk tanpa melakukan apapun.
"Ha ha ha.. Ki kita ini seperti sama-sama lagi ngeprank tapi sama-sama kena prank juga ya.. Ha ha ha lucu deh..." Kata Farhan memulai percakapan untuk menghilangkan kesunyian di meja mereka meski sangat kentara bahwa dia sedang gugup sekarang.
PPffftttt... Nina menahan tawanya.
"Kenapa??" Tanya Farhan menatap Nina dengan kebingungan.
"Kalau masih gugup ya diam aja dulu kak, daripada ngomong tapi terbata-bata begitu.." Tegur Nina.
Farhan mengalihkan pandangannya, mengusap wajahnya dan titik-titik air keringat di dahinya.
"Sumpah ini awkard bangett..." Kata Farhan masih belum bisa menatap Nina.
"Kalau tahu itu kakak, harusnya dari awal aku udah gak bohong..." Keluh Nina.
"Sama... Aku juga.."
"Kenapa juga aku gak kepirikiran kalau itu kakak padahal jelas-jelas Papa nyebut nama kakak terus.."
"Kamu tuh, kalau aku wajar kalau gak tahu, Tettaku cuman bilang putri pak Fatir terus, gak pernah nyebut nama kamu.."
"Aku gak bisa nebak kan wajar, nama kakak kan pasaran.." Celetuk Nina penuh kejujuran.
Farhan spontan menatap Nina, Nina dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Haahh ya, namaku memang pasaran.." Kata Farhan penuh kecewa.
"Ma maaf, maksud aku bu bukan gitu kak.. He he aku cuman bercanda kok.." Kata Nina mencoba membujuk Farhan dengan memasang wajah imutnya.
Dag dig dug.. "Eh aku kenapa??" Farhan dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Nina, entah kenapa jantungnya sempat berdetak tidak karuan sejenak melihat Nina yang memasang wajah imutnya. "Ini anak mukanya apa udah dari dulu begini??" Farhan kebingungan sendiri.
"Kakak kenapa?? Habis ngeliatin aku langsung buang muka begitu.. Aku jelek??" Tanya Nina cemberut.
"Gak.." Jawab Farhan singkat lalu meraih segelas airputih di mejanya.
Mereka kembali diam sejenak tanpa pembahasan.
"Ah iya, aku belum ngenalin diri secara resmi sama kamu sebagai anak dari teman Papamu yang mau dijodohkan sama kamu.. Aku Farhan.." Kata Farhan menyalurkan tangannya.
"Ck apaan sih kak, kan aku udah tahu.." Kata Nina menatap Farhan aneh.
"Kamu kan tahunya aku sebagai kakak kelasmu.. Ini kamu gak kasian sama tanganku??" Tanya Farhan sambil menatap tangannya yang tidak disalami Nina.
"Ada-ada aja deh.." Nina menyalami tangan Farhan. "Aku Nina, putrinya pak Fatir yang selalu disebut-sebut sama Ayah kakak.."
"Hem.. terus kita mau ngapain ini??"
"Ya mau ngapain lagi makan terus pulang lah.." Jawab Nina menyeruput Jus buah naga didepannya.
"Itu saja??"
"Ya terus mau ngapain lagi??"
"Ma masalah perjodohan ini gimana??"
"Gimana apanya? Kakak mau ngelanjutin ini??" Tanya Nina menatap Farhan.
Farhan tertawa kecil sambil menunduk "Keputusan ada sama kamu Nina.."
__ADS_1
"Kenapa sama aku? Kakak juga kan berhak nolak.."
Farhan mengangkat kepalanya menatap Nina. "Karena kamu sudah tahu separuhnya, sekalian saja aku kasi tahu semuanya.."
Nina hanya menatap Farhan dengan bingung.
"Keputusan semua ada sama kamu, aku hanya bisa menurut saja. Perjodohan ini bukan hal yang bisa aku pilih mau atau tidak karena ini pilihan mutlak buatku, jadi akhir dari hubungan perjodohan ini ada sama kamu" Jelas Farhan. Farhan tahu, Ayahnya akan menolak perjodohan itu jika saja dia tidak mau tapi Farhan kembali mengingat tentang apa yang akan terjadi pada Ayahnya jika dia menolak perjodohan ini. Kakek dan Neneknya yang haus dengan marga dan darah bangsawan itu akan menyudutkan orangtuanya.
"Kenapa seperti itu??" Tanya Nina semakin bingung dan penuh simpati.
"Ya pokoknya begitulah..." Kata Farhan mencoba tersenyum.
"Jadi perjodohan ini mau dilanjut saja??" Tanya Nina.
"Memang kamu suka sama aku sampai mau ngelanjutin perjodohan ini??" Tanya Farhan kembali.
"Emang aku terlihat seperti perempuan yang suka sama kakak.."
Jleeebb.. Jawaban Nina menusuk sekali.
"Gak sih.." Jawab Farhan ogah-ogahan mengalihkan pandangannya.
"Tapi aku beneran pernah suka sama kak Farhan loh.."
"Masa??" Tanya Farhan spontan menatap Nina.
Nina mengangguk. "Sama seperti teman-teman yang lain yang mengagumi kakak, aku juga gitu waktu SMA"
"Terus sekarang??"
"Hem.. Biasa aja.." Jawab Nina santai.
"Oh he he he gitu..."
"Tapi kalau perjodohan ini emang harus dilanjut berarti aku harus belajar lagi buat suka sama kak Farhan.."
Nina yang mengatakannya dengan santai tapi nyaris membuat jantung Farhan melompat dari tempatnya.
"Emang kamu mau nerima perjodohan ini??" Tanya Farhan.
"Emang kak Farhan gak mau??" Tanya Nina kembali.
"Kamu ini kebiasaannya ditanya malah balik bertanya.
"Ya kan jawabanku tergantung dari jawaban kak Farhan, masa iya aku bilang mau tapi kak Farhannya gak mau.." Nina terus-terusan berbicara asal nyeletuk dengan santai.
"Kan aku sudah bilang kalau aku gak punya pilihan untuk ini.."
"Kalau gitu biar aku yang ngasih kakak pilihan.."
"Maksud kamu??"
"Kakak aja yang nentuin.."
"Kan aku ud..."
"Ck.. Tentuin aja" Kata Nina memotong perkataan Farhan. "Aku ngikut apa aja yang kakak tentuin, hasilnya akan aku bilang sama Papaku dan itu akan menjadi penentu untuk kakak juga kan?? Kakak adalah penentu dari pilihan kakak hanya saja itu bermain dibelakang kepala orangtua kita.." Jelas Nina.
"Apa ini Nina yang aku kenal sebelumnya? Aku tidak pernah berfikir kalau Nina adalah orang yang bisa santai begini dalam membicarakan hal yang serius" Pikir Farhan.
Farhan berfikir sejenak, Nina sudah memberinya wewenang untuk mengambil keputusan. Jika berbicara masalah cinta jelas Farhan tidak memiliki perasaan apapun pada Nina, Farhan hanya melihat Nina sebagai adik kelasnya yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Tapi Farhan kembali melihat dari sudut pandang orangtuanya, Ayah dan Ibunya mungkin tidak masalah tapi bagaimana dengan Kakek dan Neneknya. Jika Nina menolak untuk di jodohkan dengannya, Nenek dan Kakek akan menyalahkan orangtuanya.
__ADS_1
"Memangnya kalau aku bilang mau ngelanjutin perjodohan ini kamu juga mau?? Kamu kan gak suka sama aku.." Tanya Farhan untuk sekedar melihat reaksi Nina.
"Ya aku belajar suka sama kak Farhan lagi lah..."Jawab Nina santai.
"Eh..??" Farhan terkejut mendengar jawaban Nina.
"Gak susah kok buat suka sama kak Farhan. Kak Farhan itu cakep, putih, tinggi, budgetnya kuat dan lagi sekarang kuliahnya jurusan kesehatan, jadi kalau aku sakit gak perlu ke dokter lagi, hem jelas ini mah persiapan masa depan cerah.." Jelas Nina nyerocos penuh kejujuran.
"Serius kamu mikirnya kayak gitu??" Tanya Farhan sedikit terkejut.
"Realistis itu penting kak.. Aku bukan orang yang mengutamakan perasaan pribadiku saja, perasaan itu milikku sedangkan kebahagiaanku milikku dan milik orang-orang yang sayang sama aku. Aku bukannya suka sama orang dari segi materinya, tapi kalau memang ada yang seperti kenapa aku harus menolak??"
Farhan tidak pernah mengira bahwa Nina yang biasanya dilihat begitu santai ternyata punya pemikiran jauh begini.
"Seandainya aku orang biasa yang budgetnya gak kuat gimana?" Tanya Farhan mencari tahu lebih dalam tentang Nina dan penasaran seperti apa materi dipandangan Nina.
"Ya gak apa, selagi Papaku milih kakak itu bukan masalah. Papaku milih kakak itu berarti dia yakin kalau kakak bisa dipercaya buat jagain putri satu-satunya ini. Lagian gak mungkin kan Papaku nyariin aku pendamping hidup yang abal-abalan" Jelas Nina.
"Kalau yang di jodohin sama Papamu itu bukan aku tapi oranglain gimana??"
"Ya gak gimana-gimana? memangnya mau gimana lagi??"
"Kamu tetap mau dan gak bakalan nolak karena percaya pilihan Papamu begitu??"
"Ck, aku gak bilang ya kak kalau aku nurutin semua maunya Papaku. Aku iyain sekarang karena itu kak Farhan yang cakep, putih dan udah jelas itu pilihannya Papaku. Ngapain lagi aku capek-capek mikirin kalau seandainya orang yang dipilih Papaku itu bukan kakak melainkan oranglain yang inilah dan itulah.."
"Jadi sekarang kamu nurut mau di jodohkan sama Papamu itu karena pilihan Papamu itu aku.."
"Ya bukan karena kakak juga, kalau yang dipilih Papaku lebih cakep dari kakak ya aku mau coba untuk belajar cinta sama dia juga lah.."
"Ha ha ha aku bingung sama pikiranmu..."
"Ya jangan dibawa bingung, ini kan pikiranku.."
"Jadi intinya kamu setuju karena..."
"Karena udah disiapin yang bagus begini.. Ngapain lagi aku nolak, toh kedepannya gak ngejamin ketemu sama orang yang lebih baik lagi dari kakak.." Jawab Nina memotong perkataan Farhan.
"Kalau aku nolak perjodohan ini gimana??"
"Gak apa, kan aku belum cinta sama kakak, baru mau belajar cinta itupun kalau kakak mau.." Jawab Nina masih dengan gayanya yang super santai.
Farhan tersenyum mendengar jawaban Nina. "Dia ini ternyata cukup unik kalau sudah dikenal" Gumam Farhan dalam hati.
βKalau begitu mulai sekarang belajar buat cinta sama aku lagi, aku juga akan seperti itu..β Kata Farhan. Nina hanya mengangguk.
.
.
.
.
Hay, hay.. Mau nimbrung aja...
Buat para Army khusunya Kim Taehyung stan, selamat merayakan 30 desember untuk Taetae kita tercinta π€π€π
I Purple U π
Boraehe ππ
__ADS_1