Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Faiq's Story : Flashback (4)


__ADS_3

Faiq masih betah duduk di meja bartender ditemani oleh laki-laki tua yang membuatnya larut dalam ceritanya. Laki-laki tua yang tidak dia kenali itu, telah menampung semua ceritanya, memberinya gambaran kehidupan akan apa yang dia lakukan sekarang juga saran yang sangat bermanfaat.


Laki-laki itu bahkan tidak meninggalkan tempatnya dan tetap menemani Faiq bercerita bahkan ketika ada pengunjung lain di meja bartender itu. Dia yang sepertinya benar bukan pegawai disitu, akan meminta pekerja lain untuk melayani pengunjung yang datang ke meja bartender yang cukup panjang.


Faiq terdiam sejenak saat lawan bicaranya memberikan ia saran yang menurutnya sangat masuk akal untuk dia lakukan, meski ia masih sedikit bimbang untuk melakukan saran itu, mengingat yang sudah terlanjur jatuh dalam nikmatnya berfoya-foya.


“Sebelumnya terimakasih, karena telah menemaniku duduk menikmati wine-ku. Juga tentang ceritamu yang penuh pelajaran dan mau mendengarkan ceritaku. Aku juga sangat berterimakasih atas saran-saran yang kamu berikan”


“Jangan sungkan seperti itu, aku hanya tidak ingin ada orang lain yang menjadi seperti aku. Seseorang yang berakhir dengan penyesalan hanya karena terlalu percaya pada alkohol untuk bisa mengatasi perasaan yang buruk”


“Kau bekerja disini?” Tanya Faiq melihat orang itu cukup tua untuk menjadi pekerja di sebuah bar.


“Tidak. Aku pemilik bar ini”


“Lalu apa yang kau lakukan disini?”


“Menjenguk bar, juga untuk bertemu dengan orang-orang sepertimu..”


“Tunggu tunggu.. Kau mengatakan, kalau adalah pemilik bar ini?”


“Iya, ada apa?”


“Bukannya kau sedari tadi berbicara seolah alkohol bukanlah hal yang baik?”


“Aku tidak mengatakan bahwa alkohol itu sesuatu yang buruk, aku hanya tidak membenarkan jika seseorang beranggapan bahwa alkohol bisa menenangkan pikiran yang sedang kacau"


“Jadi bagaimana bisa kau pastikan kalau orang yang datang ke bar mu ini tidak untuk menikmati alkohol sebagai pelampiasan dari perasaannya yang buruk”


“Iya, aku tidak bisa mengontrol semua pengunjungku, dan lagi aku tidak bisa selalu berada disini dalam waktu yang lama. Tapi setidaknya aku bisa menemukan orang-orang sepertimu dan memberinya saran seperti apa yang aku lakukan padamu saat ini”


“Bagaimana bisa kau tahu, jika orang yang datang untuk menikmati alkohol dengan baik atau untuk menikmati alkohol sebagai pelampiasan”


“Kau lihat yang disana?” Tunjuk laki-laki tua itu pada kerumunan anak muda yang tengah menikmati waktu bersama sedang menikmati beberapa minuman yang tersedia di meja mereka.


“Iya, kenapa dengan mereka?”


“Apa kau pikir mereka memiliki beban sepertimu sehingga mereka menikmati minumannya sebagai pelampiasan?”

__ADS_1


Faiq mengamati beberapa anak muda yang berkumpul tidak jauh dari tempatnya. Mereka yang tertawa satu sama lain sambil menikmati alkohol jenis lain dari apa yang dia teguk kali ini. Berbagai macam minuman tersedia di meja mereka.


“Aku rasa tidak, mereka tampak senang”


“Nah, kau yang tidak selalu berada disini pun bisa menilai itu. Bukankah mereka terlihat tengah merayakan sesuatu??”


Faiq terdiam, kemudian mengangguk menyetujui perkataan laki-laki tua itu.


“Dan lihat laki-laki yang ada di belakangmu itu”


Faiq berbalik, melihat laki-laki yang sudah tidak muda lagi tapi belum juga bisa dikatakan tua, tengah sibuk menatap layar ponselnya dengan jari-jarinya yang meremas-remas kepalanya sendiri.


“Aku rasa dia juga memiliki beban sepertiku..”


“Kau benar-benar sudah bisa membedakannya. Jadi jangan tanya, bagaimana aku bisa membedakan mereka”


“Kalau kau tahu dia memiliki beban pikiran sepertiku, lalu kenapa kau tidak menghampirinya dan memberinya wejangan sepertiku juga?”


“Apa kau tidak lihat gerak geriknya. Dia meremas sesekali rambutnya, dan meletakkan gelas dengan sedikit kasar setelah meneguk minumannya. Dia tengah marah sekarang, jika aku datang dan memberinya wejangan, apa kau pikir dia bisa mendengarkanku??”


“Yang seperti diapun, tidak akan meneguk alkohol terlalu banyak dan membiarkan dirinya mabuk, karena yang menguasainya saat ini bukan perasaan sakit, putus asa atau kehilangan semangat sepertimu. Dia datang hanya untuk meneguk dan akan berlalu setelahnya”


“Kau sepertinya sangat pandai membaca pikiran oranglain yang masuk ke dalam barmu”


“Tidak juga. Tidak semua orang bisa terbaca dengan gerak geriknya, juga tidak semua tebakan atau prakiraanku pada orang-orang itu benar. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa, dan berharap tidak akan lagi orang yang sial sepertiku hanya karena terlalu percaya bahwa alkohol yang bisa menenangkanku”


Faiq tertawa kecil. “Kau orang yang baik..”


“Apa itu pujian?”


“Ya, kurasa seperti itu” Jawab Faiq tersenyum. “Jika aku di Indonesia, aku tidak akan bisa berbicara seperti ini padamu”


“Kenapa?”


“Disana kami menghargai orang yang lebih tua, dan memperlakukan mereka dengan sopan, sangat tidak etis jika aku berbicara santai seperti ini terhadap sepertimu yang jauh lebih tua dariku”


“Aku rasa disana, karakter anak-anak dibangun dengan baik sedari kecil, sehingga mereka bisa menghormati yang lebih tua..”

__ADS_1


“Tidak juga. Sebagian besarnya memang seperti itu, tadi beberapa juga menganggap hal seperti itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Disana kami beragam meski tetap satu sebagai Indonesia. Jika kau punya waktu, bermain-mainlah kesana sesekali. Indonesiaku cukup indah untuk kau nikmati”


“Tentu..”


Faiq menggeser layar ponselnya, dia sudah berada dua jam di bar itu.


“Ah, aku sudah terlalu lama berada disini. Aku harus kembali”


“Baiklah. Kembalilah kapan-kapan jika kau butuh teman cerita, aku memang tidak selalu ada disini tapi aku sering berada disini”


“Tentu..” Kata Faiq tersenyum dan beranjak dari kursinya. “Ah, kita sedari tadi bercerita satu sama lain, tapi tidak saling mengenal. Aku faiq” faiq mengulurkan tangannya.


“Kita terlalu larut dalam obrolan, sehingga lupa hal pertama yang harus kita lakukan saat bertemu. Aku Axiel” jawabnya sembari menyalami tangan Faiq dengan senyumannya.


“Sungguh, terimakasih untuk semuanya malam ini..”


Laki-laki tua itu hanya mengangguk, dan mengiringi langkah Faiq dengan pandangannya.


Sepanjang perjalanan, Faiq terus memikirkan apa yang dikatakan Axiel padanya. Dia masih memiliki keragu-raguan untuk menentukan jalan seperti apa yang harus dia tempuh kedepannya. Bingung harus meneruskan apa yang menjadi bakat dan kegemarannya dan menikmati pendidikan yang sudah di sediakan oleh Ayahnya sekarang, ataukah menekuni apa yang sudah Ayahnya siapkan untuknya dengan berjuang keras memulai semuanya dari awal.


Akan ada beberapa resiko kesulitan yang akan dia tempuh jika tidak memikirkan jalan seperti ini matang-matang sebelum memulainya, yang akan membuatnya bisa saja down di tengah jalan.


Hanya satu yang pasti, yang sudah dia tetapkan untuk lakukan sekarang, yaitu menjadi sukses dan melampui Ayahnya agar dia bisa melakukan apapun yan dia inginkan. Dia ingin menjadi lebih hebat dari Ayahnya sehingga tidak lagi ada jalan bagi laki-laki yang kini buruk dimatanya itu, untuk bisa ikut campur dalam kehidupannya


.


.


.


.


Ohaloo.. Tetap semangat untuk teman-teman yang menjalankan Ibadah Puasa..


Jangan lupa untuk tetap mengonsumsi suplemen makanan untuk menjaga daya tahan tubuh, juga perbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi..


Semoga kita semuanya sehat selalu..

__ADS_1


__ADS_2