Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Lost (2)


__ADS_3

Fauzi harus meninggalkan Karin ditengah-tengah obrolannya ketika ponselnya berdering, mendapat panggilan masuk dari istrinya. Fauzi melangkah beberapa langkah dari posisi sebelumnya bersama Karin untuk menerima panggilannya.


Mendengar suara terbata-bata Salwa dari seberang telfon, membuat Fauzi terkejut.


“Iya kenapa sayang? Kamu kenapa???”


“A-aku... Aku tersesat..”


Tersesat? Mau kemana dia sampai tersesat? Salwa tidak pernah pergi jauh tanpa izinku.


“Tersesat?? Tersesat dimana? Kamu mau kemana??” Tanya Fauzi memastikan kemana arah tujuan istrinya.


“Mikaylaa.. A-aku mau jemput Mikayla..”


Deggg... Jantungnya berdegup seketika, apa dia tengah salah dengar, atau Salwa yang salah ucap.


Fauzi dibuat bingung akan apa yang dikatakan Salwa. Bagaimana bisa ia tersesat, sedang jarak rumah hingga sekolah Salwa tidaklah jauh. Dan lagi, bahkan jika itu adalah jarak jauh, tidak seharusnya Salwa tersesat pada jalan yang sudah ia lalui hampir setahun itu, tiap kali dia menjemput Mikayla. “Apa Salwa salah arah??”


“Kamu mau jemput Mikayla, dan kamu tersesat??” sekali lagi Fauzi memastikan, apa yang dikatakan istrinya. Fauzi sangat berharap, yang dikatakan istrinya tadi hanyalah sebuah kesalahan.


Sejenak Salwa terdiam, entah ia sedang mencerna pertanyaan Fauzi atau hal lainnya terjadi disana.


“Fa-Fauzi, aku gak tahu harus kemana. A-ku gak tahu..”


Fauzi semakin tidak tenang. Benar, istrinya tengah tersesat sekarang. Yang menjadi kekhawatiran dan ketakutan Fauzi, bukan tentang istirnya yang sedang tersesat. Melainkan kondisi istrinya, yang tidak bisa mengenali wilayah dan lingkungan sekitar hingga merasa tersesat.


“Apa yang kamu lihat sekarang???” Tanya Fauzi dengan cepat.


“Ha??” Salwa yang terdengar kebingungan.


Perasaan Fauzi semakin sakit mendengar respon istrinya yang terdengar bingung dan sedikit lamban.


“Apa yang bisa kamu lihat sekarang?? Ada apa disana??” Tanya Fauzi ulang dengan matanya yang mulai berkaca-kaca mengingat keadaan istrinya.


“La-lapangan.. To-toko yang bergambar bayi dan..”..


Kembali Fauzi merasakan sakit yang luar biasa. Sebelumnya ia masih berharap, istrinya itu benar tersesat di suatu tempat yang sedikit jauh dari rumahnya, atau sekiranya jalan yang belum pernah ia lalui. Tapi apa yang baru saja dikatakan Salwa tentang apa yang dilihatnya semakin menyadarkan Fauzi, bahwa istrinya itu tersesat ditempat yang tidak seharusnya.


“Kamu tidak tahu tempat itu??”


Fauzi masih berharap walau sedikit saja, bahwa ini adalah sebuah kesalahan. Kembali Fauzi bertanya, berharap istrinya bisa menjawab hal yang sesuai.

__ADS_1


“Ti-tidak.. Fauzi cepat kesini, aku takut..”


Airmata yang tadinya hanya menggenang dipelupuk matanya, kini tumpah tanpa aba-aba. Fauzi tidak lagi bisa menahannya, istrinya yang benar-benar buta akan jalan yang setiap hari di laluinya membuat Fauzi tidak lagi bisa menahan perasaannya.


“Oke.. Tetap disitu, jangan kemana-mana, aku kesitu sekarang. Jangan matikan telfonnya!!”


Fauzi menyeka airmatanya, tidak ingin kesedihannya itu dilihat oleh Karin.


Tidak ada hal yang dipikirkan Fauzi selain istrinya. Sebelumnya, perasaan Fauzi sudah lega, mengingat empat hari terakhir ini istrinya sudah kembali seperti sebelumnya. Tapi hari ini, keanehan yang terjadi pada istrinya terjadi lagi, bahkan menjadi lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya.


“Karin, maaf. Aku harus pulang sekarang”


“Kenapa? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”


Fauzi hanya mengangguk.


“Aku duluan..”


Fauzi bergegas, meraih tasnya dan berjalan dengan cepat menuju mobilnya, meninggalkan Karin yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Pandangan Karin terus mengikuti langkah Fauzi hingga Fauzi tidak lagi bisa tertangkap dalam pandangan.


“Apa terjadi sesuatu yang buruk?” Gumam Karin mengira-ngira. “Ah sial, kenapa aku lupa minta nomor telefon Fauzi”


Karin melirik jam yang tertera pada layar ponselnya. Ia segera bergegas, mengingat ia memiliki hal penting lainnya yang harus dia lakukan hari ini.


Mobil melaju dengan cepat. Entah berapa kali suara klakson terdengar dari mobil yang dikendarai Fauzi. Rasanya ingin sekali Fauzi menyingkirkan mobil-mobil lainnya yang berhamburan dijalan.


Rasa khawatir terus menyelimuti perasaan Fauzi, mengingat Salwa dengan kondisinya yang bisa terbilang buruk saat ini.


Berulang-ulang kali Fauzi pikirkan, namun tetap saja kelakuan istrinya kali ini tidak bisa masuk dalam nalarnya. Kelakuan Salwa yang sangat tidak logis membuat Fauzi segera ingin menghampiri istrinya, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Selalu saja terlintas di ingatan Fauzi, kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada istrinya.


Stir mobil yang tidak tahu menahu pun menjadi sasaran kekesalan Fauzi pada jalan ramai yang membuatnya tidak bisa menghampiri Salwa lebih cepat.


Fauzi kembali mengingat, bagaimana istrinya yang merasa tersesat pada daerah yang tidak jauh dari rumahnya. Wilayah yang setiap harinya Salwa lalui, entah untuk menjemput putri mereka atau untuk melakukan aktifitas lainnya diluar rumah. Bagaimana bisa istrinya itu tidak bisa mengenali tempat yang sudah dia lalui 6 tahun terakhir ini.


Semakin Fauzi pikirkan, semakin tidak tenang perasaannya. Airmatanya kembali menetes, rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya namun ditahannya, tidak ingin Salwa mendengar tangisannya dari telfon yang masih tersambung.


“Salwa..” Panggil Fauzi memastikan keadaan Salwa.

__ADS_1


“Iya..”


Meski hanya jawaban singkat itu, Fauzi merasa lebih baik karena setidaknya istrinya masih baik-baik saja disana meski pikiran istrinya sudah tidak bisa dikatakan baik saat ini.


“Tunggu aku sayang, sebentar lagi aku sampai..”


“Iya, hati-hati. Jangan terlalu terburu-buru, aku gak kemana-mana kok”


“Iya, makasih karena tetap disitu..”


“Nungguin kamu 6 tahun saja aku bisa, apalagi kalau cuman beberapa menit..”


Fauzi terenyuh mendengar jawaban istrinya, airmatanya semakin deras saja. Ya, perasaan bahagia Fauzi rasakan hanya dengan istrinya yang bisa mengingat kejadian di waktu yang sudah cukup lama itu.


“Makasih sayang, makasih..”


Berulang-ulang Fauzi mengucapkan kata terimakasih pada istrinya yang masih bisa mengingat penantiannya waktu itu.


Mobil Fauzi melaju lebih cepat dari sebelumnya setelah jalan yang di sediakan sudah lebih renggang dari.


Fauzi tiba ditempat yang tidak jauh dari rumahnya, juga tempat yang membuat istrinya merasa tersesat. Fauzi memarkir mobilnya dari seberang jalan, mengingat jalan yang dilewatinya adalah dua jalur yang harus memaksanya mencari tikungan jika ingin menjemput istrinya tepat di depannya.


Namun rasa tak sabar melihat istrinya membuat Fauzi tidak lagi bisa mencari jalan untuk memutar mobilnya dan memilih memarkir di seberang jalan, lalu menyebrang jalan untuk menghampiri istrinya.


Terlihat jelas oleh Fauzi wajah lega yang dibalut dengan senyuman manis Salwa saat melihatnya berjalan menyebrangi jalan menghampirinya. Senyuman istrinya yang menyimpan luka tersendiri baginya.


Airmatanya di seka dan ia pastikan tidak ada bekas pada pipinya. Fauzi tidak ingin memperlihatkan airmata itu pada Salwa.


Fauzi berhambur memeluk Salwa, melepaskan semua kekhawatiran yang merasukinya sedari tadi. Juga meluapkan rasa sakitnya melihat keadaan istrinya saat ini.


“Kamu gak apa-apa?”


Salwa mengangguk dalam pelukan Fauzi.


“Aku ngebuat kamu khawatir ya? Maaf ya sayang..”


Nada bicara penuh rasa bersalah Salwa, membuat perasaan Fauzi kembali merasakan sakit. Airmatanya menetes dalam pelukan Salwa, semakin erat pelukannya, yang rasanya tidak ingin ia lepas. Fauzi tidak peduli dengan pandangan oranglain yang melewati jalan itu, apa yang dia rasakan sekarang tidak akan bisa di mengerti oleh orang lain yang ada disekitarannya saat ini.


“Gak apa sayang. Karena aku sayang sama kamu, jadi wajar kalau aku khawatir” Fauzi menyeka airmatanya sebelum melepas pelukannya dari Salwa. “Tapi kamu beneran baik-baik aja kan??” Tanya Fauzi memperjelas keadaan istrinya. Meski ia tahu, keadaan istrinya sekarang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


“Iya, aku cuman ketakutan”

__ADS_1


“Sekarang jangan takut lagi. Ada aku disini..” Fauzi kembali memeluk Salwa.


Dari pikiran tidak rasionalnya, Fauzi masih berharap bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah nyata.


__ADS_2