Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 12


__ADS_3

Sejak mengatakan perasaannya pada Salwa, Fauzi selalu merasa tidak tenang dan tidak sabaran menunggu jawaban Salwa. Sepulang mengantar Salwa kemarin, Fauzi terus-terusan menatap layar ponselnya sampai saat ini karena menunggu kabar dari Salwa, Fauzi tidak ingin pesan Salwa jadi terlewatkan. Fauzi bahkan mendapat teguran dan godaan dari orangtuanya saat sedang makan malam bersama namun Fauzi tetap saja terus-terusan melirik layar ponselnya.


Fauzi berbaring ditempat tidurnya dengan masih menatap layar ponselnya berharap Salwa akan memberinya kabar.


"Kok sampai sekarang Salwa belum ngabarin juga??" Pikirnya. "Atau aku hubungi aja kali ya, nanyain gimana jawaban dia??" Gumam Fauzi. "Gak gak gak" Seketika pikirannya berubah. "Salwa akan berfikir kalau aku ini cowok yang gak sabaran.Gak gak itu poin negatif untukku" Kata Fauzi sibuk sendiri. "Tapi, kalau sampai sekarang aku gak ngehubungi Salwa, dia bisa saja berfikir kalau aku gak serius sama perkataanku, karena habis nembak malah hilang kabar.. Apa aku chat aja ya? Sekedar basa basi gitu.." Fauzi terus-terusan berbicara sendiri. "Gak, meskipun cuman basa basi itu kelihatan banget kalau aku butuh jawaban dari dia, kentara banget kalau aku gak sabaran nunggu jawabannya" Fauzi berfikir sejenak. "Arrgghh gak tau deh, kepalaku rasanya pusing sekali mikirin ini.." Kata Fauzi melempar kecil ponselnya disampingnya.


Tingtonggg.. Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Fauzi, dengan cepat Fauzi membukanya.


"Pesan dari Salwa, pesan dari Salwa, pesan dari Salwa.." Kata Fauzi berulang-ulang saking senangnya namun beriringan dengan rasa gugupnnya.


"Kak nanti bisa ketemu gakk??"


Fauzi dengan cepat membalas pesan Salwa, Fauzi tidak ingin membuat Salwa menunggu balasan pesan darinya.


"Iya bisa.."


"Oke, nanti aku share lokasi ketemuannya ya kak.."


"Gak, biar aku jemput aja.."


"Nanti aku ngerepotin"


"Hem.. Jangan selalu bilang ngerepotin Salwa, kan yang nawarin aku. Aku jemput ya.."


"Hem, iya deh kalau gitu.."


"Chat aja kalau udah mau berangkat.."


"Oke kak.."


Fauzi dengan cepat bergegas mandi dan berusaha tampil setampan mungkin, Fauzi ingin terlihat baik di mata Salwa.


.


.


Fauzi dan Salwa tiba disebuah cafe yang sudah mereka setujui setelah sebelumnya Fauzi menjemput Salwa. Keduanya sedikit canggung dan hanya tersenyum satu sama lain saat tidak sengaja saling kontak mata.


"Engg.. Sa Salwa mau pesan apa??" Tanya Fauzi dengan gugup.


"Aku mau hot chocolate aja.."


"Makannya??"


"Gak deh, aku mau minum aja.."


"Yaudah, bentar aku antar daftar pesanan ini dulu.."Kata Fauzi tersenyum berjalan meninggalkan Salwa sambil membawa kertas pesanannya.


Huffttt.. Salwa dengan cepat meminum segelas air putih yang tersedia di meja untuk menghilangkan kegugupannya. Tak lama kemudian Fauzi kembali.


"Kak..." Salwa mencoba membuka percakapan.


"I iya??" Fauzi masih saja gugup.


"A aku mau jawab permintaan kakak waktu itu.."


Fauzi hanya menatap Salwa dengan menunggu perkataan Salwa selanjutnya.


Salwa mengangguk, Salwa sendiri bingung harus mengatakannya seperti apa.


"A apa??" Tanya Fauzi kebingungan melihat Salwa yang hanya mengangguk.


"A aku mau.."


"Mau???" Tanya Fauzi memperjelas.


"A aku mau jadi pacar kakak.."

__ADS_1


"A apaa??? Gak gak, ka kamu bilang mau jadi pacarku??" Tanya Fauzi memperjelas lagi.


Salwa mengangguk.


"Se serius kan?? Ini beneraran kan bukan bercandaan??"


Sekali lagi Salwa mengangguk.


"Ha ha ha.." Bahkan tertawapun Fauzi tergugup-gugup. "Salwa nerima aku, Salwa sekarang pacarku.."


Terlihat jelas ekspresi bahagia di wajah Fauzi, Fauzi berusaha keras menahan diri untuk tidak lompat-lompat kegirangan bahagia karena sedang berada di cafe dan sangat banyak orang lain disana saat ini.


"Tunggu tunggu.. Aku mau memperjelas sekali lagi, Salwa beneran nerima aku kan? Salwa beneran jadi pacarku kan sekarang???"


"Kak, jangan ngebuat aku ngubah jawabanku nih..."


"Ha ha iya gak gak.. Aku gak nanya lagi, pokoknya Salwa pacarku sekarang. Salwa jawabanmu ini gak boleh di tarik loh ya, gak boleh diganti.."


Salwa hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Makasih.." Kata Fauzi berusaha tenang menyembunyikan kebahagiaannya yang meledak-ledak.


Meski sudah mengiyakan permintaan Fauzi, masih saja ada kekhawatiran dalam hati Salwa. Seperti yang dia khawatirkan sebelumnya masalah bagaimana anak perempuan lainnya akan memandangnya nanti disekolah, bagaimana jika ada yang membencinya dan dia harus memasang ekspresi seperti apa jika bertemu dengan Farhan. Ada rasa ingin meminta Fauzi untuk menyembunyikan hubungan mereka, tapi itu pasti akan melukai perasaan Fauzi. Salwa akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan sepihak hubungan mereka, Fauzi sangat sibuk disekolah dengan urusan osis dan juga dengan eskulnya, belum lagi tentang pelajarannya. Salwapun akan sibuk dengan eskulnya dan juga pelajarannya yang lain sehingga mereka bisa saja tidak bisa bertemu saat disekolah pikir Salwa.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Fauzi duduk sambil tersenyum-senyum sendiri menulis kembali pada buku yang sebelum-sebelumnya dia gunakkan untuk meluangkan perasaannya.


"Terimakasih, aku tidak akan memberimu waktu-waktu yang sulit saat bersamaku dan aku tidak akan membiarkanmu menangis karenaku juga selain itu karena tangis haru dan bahagia. Hari ini aku memintamu untuk menjadi pacarku dan akan ada hari aku akan memintamu menjadi istriku"


"Wkwkwk apaan sih gue, alay banget perasaan sampai udah ngebahas mau ngejadiin istri.." Fauzi berbicara dengan dirinya sendiri sambil terkekeh.


Ponsel Fauzi berdering.


"Lu dimana?" Tanya Farhan dari seberang telfon.."


"Dirumah, kenapa??"


"Ayo main, masa Lu habis ujian ngeram aja dirumah.."


"Gak ikut gue, malas main malam ini.."


"Lah gue main sendiri mana seru, Lu habis kesurupan apa sampai malas main.."


"Habis kesurupan cinta, ha ha ha" Jawab Fauzi tertawa. Fauzi masih saja sulit menyembunyikan rasa bahagianya.


"Apaan.. Lu kok jadi alay.."


"Namanya juga orang habis ketibang cinta, wajarlah kalau alay.."


"Maksud Lu apa sih?? Lu habis diterima sama cewek??"


"Iyaa.." Jawab Fauzi sedikit cengengesan.


"LAAHH SERIUSSSSS???" Tanya Farhan terkejut.


"Weiii Lu kalau mau teriak warning dulu, telinga gue sakit dodol.."


"Lu seriusan?? Sekarang Lu punya pacar.."


"Iya.."


"Siapa siapaa??"

__ADS_1


"Haha ntar juga Lu tau.."


"Tinggal bilang ngapaa..."


"Ha ha ntar aja dah..."


"Jadi???"


"Jadi apa???"


"Kisah cinta kita berdua telah berakhir dimata orang.."


"Ck, nogomong apaan sih Lu??"


"Ya kan kita ini sepasang kekasih di mata orang-orang.."


"Edan.. Udah ya, kapan-kapan deh gue main sama Lu.."


"Oke, kali ini gue lepasin karena Lu lagi di mabuk cinta sekarang..."


"Ha ha ha.."


Fauzi sangat bahagia sampai dia sendiri tidak bisa menyembunyikannya.


.


.


.


Ponsel Salwa berdering.


"Ck, siapa juga pagi-pagi begini menelfon.." Gerutu Salwa yang sudah siap dengan seragam sekolahnya dan sebentar lagi akan berangkat ke sekolah.


"Kak Fauzi?? Ngapain dia nelfon pagi-pagi begini?? Gumam Salwa.


"Selamat pagi Salwa.." Sapa Fauzi saat Salwa menjawab panggilannya.


"Pa pagi kak.."


"Udah siap? Udah mau berangkat sekolah.."


"Iya sudah kak.."


"Yaudah, tunggu aku.."


"Tu tunggu kakak? Kenapa??"


"Aku kesana ngejemput kamu, kita berangkat bareng.."


"Ta tapi.."


"Tapi kenapa??"


"Aku bisa berangkat sendiri kok kak.. Lagian aku bakal ngerepotin kakak kalau kakak harus ngejemput aku kesini dulu.."


"Gak kok, aku malah senang kalau bisa ngejemput kamu.. Yaudah aku kesana sekarang..."


Salwa tidak ada pilihan lain selain mengiyakan keinginan Fauzi.


"Iya kak.." Jawab Salwa ragu-ragu.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf karena Lina salah Up eps sebelumnya 😭


__ADS_2