Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Status sosial.


__ADS_3

Hubungan antara Sasa dan Faiq semakin hari semakin menunjukkan kemajuan, perasaan mereka menjadi lebih kuat setelah mereka berhasil melalui pertengkaran beberapa hari yang lalu. Ya, hubungan memang akan menjadi lebih kuat setelah berhasil melewati suatu rintangan.


Malam belum begitu larut, namun Sasa sudah beranjak dari aktifitasnya menuju tempat tidur, mengingat besok ia mendapat shift pagi sehingga harus bersiap di awal hari.


Sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya, membuatnya yang sudah bersiap-siap untuk tidur, kembali meraih ponselnya yang dia letakkan diatas meja samping tempat tidur.


“Besok kamu kerja pagi kan, sayang?”


Sasa tersenyum mendapat pesan dari Faiq, dan dengan cepat menekan bagian replay untuk memberi balasan pada pesan yang dikirim oleh kekasih hatinya.


“Iya, kenapa?”


“Besok aku ada undangan pesta, mau ikut?”


Sasa berpikir sejenak, sudah terlalu lama dia tidak ke pesta membuatnya merasa sedikit canggung memikirkannya.


Belum Sasa memberi balasan pada pesan Faiq, ia beranjak dari tempat tidurnya menghampiri lemari. Sasa menyapu seisi lemari dengan pandangannya, mencoba mencari pakaian yang sekiranya bisa di gunakan ke pesta.


Pesan Faiq kembali masuk, membuat Sasa mengalihkan pandangannya dan berjalan meninggalkan lemari yang masih terbuka, menghampiri ponselnya.


“Sayang, kamu sudah tidur”


Pesan Faiq yang tidak mendapat balasan sebelumnya, membuatnya mengira Sasa telah tidur.


“Belum”


“Jadi gimana? Kamu mau ikut ke pesta besok? Aku mau ngenalin kamu ke teman-temanku. Kan lebih bagus kalau mereka kenal sama kamu, sayang”


Ada rasa bangga tersendiri di hati Sasa melihat Faiq yang ingin memperkenalkannya lebih luas. Sasa jadi merasa bersalah karena pernah mengurangi rasa kepercayaannya pada Faiq beberapa hari yang lalu.


“Tapi aku udah lama gak ke pesta, aku pasti bingung nanti”


“Kenapa bingung, kan ada aku yang disamping kamu. Jadi gimana?”


Sasa berpikir sejenak, selain karena sudah terlalu lama tidak menghadiri pesta, ia juga sedikit terkendala pada pakaian.


“Iya deh, aku ikut” Balas Sasa setelah memutuskan untuk ikut. Masalah baju, dia punya waktu besok siang untuk pergi mencari gaun.


“Oke, sepulang kerja besok aku jemput kamu dan kita langsung ke butik”


“Butik??”


“Iya. Tadi katanya kamu lama gak ke pesta, aku pikir mungkin kamu gak ada persiapan baju buat ke pesta”


Dia paham sekali.


“Oke, kamu bakal ngebantu aku buat milih baju kan?”


“Pasti sayang. Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu karena besok harus berangkat kerja pagi-pagi. Aku akan kerumahmu dan nganter kamu kerja”


“Gak usah, aku bisa ikut sama Azka. Kamu kerjanya jam delapan, terlalu repot kalau harus datang pagi-pagi cuman buat nganter aku aja”


“Lebih repot lagi menangani rasa cemburu di hatiku kalau kamu berangkatnya bareng cowok lain.”


Sasa tertawa kecil membaca pesan balasan dari Faiq. Dia bisa membayangkan ekspresi cemberut yang sekarang terpajang di wajah laki-laki yang menjadi raja di hatinya saat ini.


“Yaudah, aku naik kendaraan umum saja”


“Kendaraan umum pagi-pagi itu masih sepi. Pokoknya biar aku yang nganter kamu, aku harus mastiin kalau kamu sampai dengan selamat besok”


Faiq begitu protektif jika itu menyangkut keselamatan Sasa.

__ADS_1


“Iya iya..”


Sasa tidak lagi bisa menolak, dia tahu bagaimana Faiq yang akan terus memaksa untuk mengantarkannya meski dia dengan keras menolak. Toh, apa yang Faiq paksakan juga demi kebaikannya sendiri.


“Yaudah, kalau gitu kamu tidur gih, biar besok gak telat bangun”


“Kamu juga, kamu harus banyak istirahat”


“Ashiaap nyonya. Good night, sweet dream the sweatiest Sasa”


Sasa hanya tersenyum mendapatkan ucapan selamat tidur yang manis dari Faiq.


.


.


.


.


Malam ini, adalah malam dimana Faiq mengajak Sasa untuk ke pesta bersamanya. Sasa sudah siap dengan dress midi berwarna denim yag dia gunakan, dia nampak anggun dan cantik meski rambutnya hanya teruai dengan satu sisinya yang dia selipkan kebelakang telinga.


Dress midi dengan atasan brukat dan bawahan berbahan ceruti sangat indah menghias di tubuh Sasa, membuat Faiq sempat tidak mengalihkan pandangannya dari Sasa.


Keduanya tiba, di gedung dimana pesta itu berlangsung. Dengan sangat gugup Sasa melangkahkan kakinya sembari tangannya yang tidak lepas dari lengan Faiq, ia akan menjadi seperti orang yang hilang jika semenit saja lepas dari Faiq.


“Ayahku ada disana” Tunjuk Faiq melihat Ayahnya yang tengah menikmati segelas minuman.


“Kenapa Ayahmu ada disini? Ini bukannya pesta untuk anak muda?”


“Bukan sayang, ini pesta salah satu rekan bisnis. Jadi, semua para pemain bisnis berkesempatan hadir disini”


Sasa bingung, dia baru tahu bahwa ada pesta yang dibuat khusus untuk kalangan para pebisnis.


Sasa hanya menatap Faiq, memperlihatkan ekspresinya yang sedikit takut.


“Gak apa, kan aku udah bilang kalau Ayahku udah gak mempermasalahkan masalah kamu lagi”


“Ta-tapi..”


“Udah ayo..”


Faiq menarik pelan Sasa, sehingga perempuan itu tidak ada pilihan selain mengikut saja.


“Ayah..” Sapa Faiq.


Meski hubungan Faiq dan Ayahnya tidak seharmonis dulu, namun dia tetap akan menyapa Ayahnya jika bertemu di tempat seperti ini.


“Oh, kamu datang juga”


“Iya, mungkin ada beberapa yang bisa dijadikan tangga baru”


“Berhenti berpikir seperti itu Faiq, dan nikmati saja pestanya”


Faiq hanya tersenyum simpul mendapat teguran dari Ayahnya.


Ayahnya menatap Sasa sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya, menatap putranya dengan penuh pertanyaan.


“Iya, aku sama Sasa balikan” Kata Faiq, yang bisa menebak apa yang ada di pikiran Ayahnya sekarang.


“Oh, begitu. Selamat..”

__ADS_1


Ayah Faiq menatap Sasa sejenak, dan memperlihatkan senyum simpul yang hanya berlangsung beberapa detik.


Sasa balas tersenyum, dan sedikit membungkuk memperlihatkan kesopanannya.


“Ayah permisi dulu, nikmati pestanya dan jangan memikirkan hal yang aneh-aneh” Kata Ayahnya kemudian berlalu, menghampiri beberapa orang yang tengah berkumpul di suatu meja.


Sasa masih merasa gugup, karena ini adalah kali pertama dia bertemu dengan Ayah Faiq. Belum lagi ekspresi Ayah Faiq yang terkesan datar membuat rasa gugupnya semakin menjadi-jadi. Ya, meskipun Ayah Faiq tidak mempermasalahkan kehadirannya bersama Faiq, namun jelas saja terlihat laki-laki berusia 50 tahunan itu tidak begitu suka meski dia tersenyum pada Sasa.


“Lihat kan, Ayah udah gak mempermasalahkan kita lagi”


Sasa hanya tersenyum, walau dia tidak sepemikiran dengan Faiq melihat Ayah Faiq yang terkesan memberi batasan pada dirinya.


“Ah itu teman-temanku. Ayo kesana”


Sasa menoleh dan melihat sekumpulan laki-laki yang sepertinya begitu asyik dengan obrolan mereka.


Sasa hanya mengikut tiap kali Faiq mengajaknya, karena benar hanya itu yang bisa dia lakukan. Tidak ada orang lain yang dia kenal pada pesta itu, pesta glamor itu juga terlihat begitu berkelas dengan orang-orang yang hadir sama berkelasnya, membuat Sasa tidak akan bisa berbaur dengan mudah.


“Wah.. Direktur baru kita datang..” Sapa Dirga, salah satu teman Faiq.


“Ha ha ha apaan, sudah gak bisa dibilang baru lagi”


“Ya tetap saja, belum setahun itu berarti masih baru” Pungkas Romi, teman Faiq lainnya yang berkumpul di meja yang sama.


“Ya ya ya.. Terserah kalian saja lah”


Faiq dan beberapa temannya saling melempar candaan satu sama lain sebagai sambutan pertemuan mereka pada pesta itu.


“Wah, si cantik di sebelahmu tidak mau dikenalkan nih??”


Faiq tersenyum dan balik menatap Sasa. Sasa hanya memperlihatkan senyumnya meski ia merasa begitu canggung saat ini.


“Dari perusahaan mana lagi?” Tanya Romi, mengingat mantan pacar Faiq yang dia ketahui adalah Alesha berasal dari perusahaan besar di bagian timur, dan Karin seorang putri dari pengusaha yang terbilang besar juga, dimana sekarang menjabat sebagai direktur dan menangani satu perusahaan sendiri.


“Dia bukan dari dunia seperti yang kita geluti” Jawab Faiq.


“Ma-maksudmu??” Tatapan mata Dirga jelas sekali memperlihatkan bahwa dia bingung dengan jawaban Faiq.


“Dia bukan anak seorang pengusaha atau orang yang bermain di dunia bisnis..”


Senyum manis dan ekspresi ramah yang tadi diperlihatkan oleh teman-teman Faiq, seketika berubah menjadi senyum simpul yang tidak bisa di artikan. Tatapan mata mereka yang hangat tadinya juga ikut berubah menjadi tatapan dengan sedikit tekanan.


Sasa menyadari tatapan teman-teman Faiq yang berubah. Secara tidak langsung, Sasa mearasa bahwa teman-teman Faiq mulai memandanganya remeh sekarang, membuat perasaan dan hati Sasa berkecamuk tidak jelas. Ada rasa sakit yang dia dapatkan saat menerima tatapan seperti itu dari teman-teman Faiq.


“Ya harus kuakui, kalau selera visualmu tidak pernah menurun, bahkan bisa dikatakan meningkat, dia cantik sekali. Tapi untuk kriteria lainnya, sepertinya seleramu anjlok terlalu jauh”


“Hey Dirga, jaga bicaramu” Tegur Faiq yang tidak senang melihat temannya itu menilai Sasa dengan tidak baik.


“Kenapa Faiq? aku rasa apa yang Dirga bilang itu tidak salah. Sebelumnya kamu pacaran sama anak pemilik perusahaan terbesar dari timur, kemudian menikah dengan putri dari pemilik perusahaan yang memiliki banyak cabang. Tapi sekarang???”


Mata Sasa mulai berkaca-kaca, dia paham betul akan maksud dari perkataan teman-teman Faiq. Harga dirinya terasa diinjak-injak, dan perasaan sakit mulai menyerangnya sekarang.


“Dari Alesha ke Karin saja itu, sebenarnya sedikit menurun, tapi jika dilihat Karin yang sekarang jelas itu tidak bisa dikatakan menurun. Tapi kali ini seleramu benar-benar anjlok” Dirga masih saja asyik menilai pilihan pasangan Faiq kali ini.


Sasa mati-matian menahan airmatanya, dan berusaha sebisanya untuk tetap terlihat biasa-biasa saja meski hatinya sedang teriris-iris sekarang.


“Faiq, aku pamit ke toilet sebentar” kata Sasa, izin pada Faiq. Sasa sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya, airmatanya akan tumpah jika ia memaksa untuk bertahan lebih dari ini.


Sasa melangkah dengan cepat setelah mengatakan izin pada Faiq.


“Sa..” Faiq berusaha mengejar, dia tahu bahwa wanita yang dicintainya itu tengah terluka akibat dari ucapan teman-temannya.

__ADS_1


“Yaelah Faiq, dia bilang mau ke toilet, masa iya kamu mau nyusul dia ke toilet wanita”


Faiq tidak memberi jawaban atas apa yang dikatakan temannya, ia hanya menoleh menatap temannya sejenak kemudian melanjutkan langkahnya menyusul Sasa yang pergi entah kemana.


__ADS_2