Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (4)


__ADS_3

Faiq yang gagal meluncurkan tujuannya pada pertemuan pertama, akhirnya meminta Karin untuk menyiapkan waktunya yang kedua. Namun waktu berikutnya pun, Faiq masih saja belum bisa menjalankan niat yang sebenarnya.


Pertemuan kedua, Karin mengambil kendali pada pembahasan. Dia yang baru saja bekerja di perusahaan Ayahnya bercerita pada Faiq tentang pengalaman pertamanya kerja. Faiq pun sempat lupa akan tujuannya untuk bertemu dengan Karin, dan larut menikmati cerita Karin. Faiq bahkan sesekali memberi saran untuk menikmati pekerjaan dan beberapa cara untuk meningkatkan kualitas kerja, mengingat Faiq lebih dulu terjun dalam dunia bisnis, sehingga ia memiliki pengalaman yang cukup untuk dia ceritakan pada Karin.


Pertemuan kedua yang tidak menghasilkan apa-apa bagi Faiq, yang ada keduanya malah semakin akrab tanpa mereka sadari. Hingga hari-hari berikutnya mereka jadi lebih sering bertemu ketika Karin meminta Faiq untuk mengajarinya beberapa hal perihal pekerjaan.


Seiring seringnya mereka bertemu membuat Karin mulai membuka diri pada Faiq, namun Faiq masih memberi dinding pembatas pada dirinya. Karin menyadari akan hal itu, namun sesekali ia tepis ketika ia melihat Faiq dengan tulus mengajarinya beberapa hal yang dia butuhkan.


Ya, meski Faiq terkadang ikut larut dalam serunya obrolan yang tercipta bersama Karin dan rasa nyaman saling berbagi perihal masalah pekerjaan, namun Faiq masih saja menganggap dirinya sebagai milik Sasa, sehingga tak jarang ia memperlihatkan pada Karin dinding pembatas yang dia buat. Dinding pembatas yang dibuatnya pun terkadang melunak ketika percakapan keduanya sedang asyik-asyiknya.


Perlahan Faiq menyadari keakrabannya bersama Karin, dengan rencananya yang masih saja belum dia jalankan sampai sekarang. Faiq kembali fokus pada rencanya dan memulai dengan mengajak Karin untuk bertemu.


Tidak seperti biasanya, pertemuan mereka yang sebelum-sebelumnya berlangsung di jam makan siang saat istirahat, hari ini sedikit berbeda karena Faiq meminta bertemu saat jam kerja selesai. Faiq sadar, dia butuh waktu lama untuk bercerita perihal hal yang bisa membuatnya terlihat negatif di mata Karin, sehingga ia memilih waktu yang lebih luang untuk keduanya.


“Tumben ngajakin ketemu sore, biasanya juga di jam istirahat”


“Biar punya banyak waktu saja” Jawab Faiq tersenyum. Sebuah jawaban yang kembali membuat Karin salah paham. “Kamu gak ada kerjaan kan? Jangan sampai aku ngeganggu waktu kamu..”


Karin berbalik menatap Faiq yang duduk disampingnya. “Aku disini ya karena aku ada waktulah, jangan sungkan begitu”


Faiq tersenyum. “Makasih ya Rin, kamu selalu ada waktu tiap aku ajak keluar”


Karin hanya menanggapi dengan tersenyum.


Percakapan diantara keduanya berlangsung seperti biasanya, saling tertawa jika ada hal menurut mereka lucu dan terbawa suasana satu sama lain. Namun begitu, Karin masih tetap merasakan Faiq yang tidak meluapkan perasaannya meski ia ikut tertawa lepas.


“Karin..”


“Hem?” Sahut Karin sembari menoleh menatap Faiq yang memperlihatkan ekspresinya yang terlihat serius dengan sedikit gugup. “Ada apa?” Tanya Karin. Sebelumnya ia tidak pernah melihat ekspresi serius dari Faiq, dan ini adalahh kali pertama sehingga membuatnya kebingungan.


“Aku gak tahu, apa hal seperti ini bisa aku ceritain sama kamu apa gak. Tapi... hahaha” Faiq tertawa sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. “Haha kenapa juga aku mau cerita hal seperti ini sama kamu?” Tanya Faiq berbalik menatap Karin dan mengubah tawanya menjadi senyuman.


“Kamu mau bilang apa sih? Aneh deh..” Karin balas tersenyum di susul tawa kecilnya.


“Aku cuman mau cerita suatu hal sama kamu. Tadinya aku udah mantap mau cerita, tapi tiba-tiba aku kepikiran lagi, hal seperti ini kenapa harus bahas sama kamu” Kata Faiq mulai memainkan rencananya. Jelas saja dia tidak lagi berpikiran dua kali untuk membahas hal buruk tentangnya yang sudah ia pikirkan matang-matang beberapa hari terakhir ini. Dia hanya bermain kata agar Karin penasaran dengan apa yang ingin dia katakan.


“Apaan sih? Cerita saja, aku pasti dengerin kok”


“Tapi ini bukan cerita yang baik”


Faiq mulai memasang wajahnya yang seolah sungkan untuk bercerita.

__ADS_1


“Jangan ragu, kalau emang mau cerita, cerita aja. Aku gak masalah kok kamu mau cerita apa aja ke aku”


Faiq terdiam sejenak, menghembuskan nafas panjang sebagai awal dari dia yang akan meluncurkan rencananya.


“Aku pernah kuliah di luar negri, Ayahku yang ngirim aku kesana. Awalnya aku menolak karena aku suka disini tapi ya seperti yang kamu tahu, kita yang lahir sebagai anak dari orang tua yang kompeten dengan sedikit otoriter, bagaimana bisa menolak hal yang sudah diacungkan oleh jari telunjuk mereka”


“Ya kamu benar, akupun ngerasain hal seperti itu. Jadi??”


“Ya aku akhirnya kuliah disana, tapi aku bukan aku yang seperti kamu kenal sekarang”


“Maksudnya?” Tanya Karin yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Faiq.


“Disana aku main-main, menghambur-hamburkan uang Ayahku sesukaku, aku bahkan..” Lagi, Faiq berpura-pura seolah ia sungkan untuk melanjutkan ceritanya, sekedar untuk menarik Karin semakin larut dalam rasa penasarannya.


“Bahkan???” Tanya Karin yang benar sudah masuk dalam perangkap yang diciptakan oleh Faiq.


“Aku bahkan menjadi orang yang candu alkohol” Faiq melengkapi kata-katanya dan dengan cepat menatap Karin, ia tidak sabar melihat seperti apa reaksi Karin.


Untuk orang luar, jelas candu alkohol bukanlah hal yang terlalu buruk, meski itu tetap bernilai negatif. Namun di negara Republik dengan kepulauan ini, jelas candu alkohol adalah hal yang sangat menyimpang.


Karin tidak memberikan ekspresi yang sesuai dengan yang Faiq harapkan, dia tidak terkejut namun juga tidak terlihat santai.


“Aku buruk bukan?” Tanya Faiq berusaha mencari tahu pandangan Karin mengenai ini.


“Eh?”


Bukan Karin yang terkejut mendengar perkataan Faiq, yang ada malah Faiq yang terkejut melihat respon Karin yang menurutnya diluar dugaan.


“Toh sekarang kamu bukan pecandu alkohol lagi kan?? Beberapa hari kita ketemu dan mengobrol lama, aku gak pernah ngeliat kamu minum minuman yang mengandung


alkohol”


“Ta-tapi aku pernah..”


“Kalau pernah memangnya kenapa??” Tanya Karin memperlihatkan ekspresinya yang bingung melihat Faiq.


“Ya.. A-aku pikir kamu akan berpikiran negatif sama aku..”


“Santai saja..” Kata Karin sembari meneguk sebotol air mineral.


Faiq mulai berpikir ulang. Hal yang menurutnya cukup untuk membuat dirinya terlihat buruk di mat Karin, sepertinya menemui jalan buntu. Karin sama sekali tidak mempermasalahkan hal seperti itu.

__ADS_1


Faiq kembali memutar otaknya, mencari sesuatu untuk melanjutkan percakapan mereka yang bisa membuat Karin berpikiran negatif tentangnya.


“A-aku bukan cuman candu alkohol saja, ta-tapi aku juga main.... main perempuan”


Entah terlalu larut dalam aktingnya ataukah karena tidak ada lagi yang bisa hinggap diotaknya sebagai ide untuk meluncurkan aksinya, Faiq jadi mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah ia lakukan, mengingat ia selalu menjunjung tinggi cintanya pada Sasa.


Spontan Karin berbalik menatap Faiq, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.


“Sepertinya berhasil” Gumam Faiq melihat reaksi Karin.


“Main perempuan??” Tanya Karin memperjelas.


“Iya, disana hal seperti mendapatkan perempuan bukan hal yang susah”


Karin terdiam sejenak, dan kembali meneguk air mineral untuk meredakan rasa terkejutnya.


“Orang-orang hanya menilai aku yang sekarang, sebagian dari mereka muji-muji aku atas apa yang sudah aku raih, padahal mereka tidak tahu orang seperti apa aku dulu”


“Aku juga seperti itu” Kata Karin yang sebelumnya terdiam sejenak.


Perlahan Karin mengarahkan pandangannya pada Faiq, menatap dalam laki-laki yang duduk disampingnya itu dengan tersenyum.


“Aku juga sama seperti orang-orang lainnya yang mengagumi kamu atas apa yang sudah kamu raih sampai saat ini. Aku juga sebelumnya gak tahu kalau kamu punya cerita buruk seperti ini di masa lalu, tapi sekarang... Saat aku tahu kalau sebelumnya kamu adalah laki-laki buruk, tetap saja tidak mengubah pandanganku saat ini, bahwa kamu adalah laki-laki yang hebat”


Faiq tercengang mendengar perkatan Karin. Bagaimana bisa perempuan yang duduk disampingnya itu masih bisa berbicara dengan tersenyum padanya dan masih mengungkapkan rasa kagum yang dia miliki, sedang Faiq sudah menyebutkan hal yang seharusnya ia sudah menjadi seseorang dengan hawa negatif bagi Karin.


“Ka-kamu gak memandang negatif ke aku..”


“Kalau kamu tanya hal seperti itu, jelas aku sempat memandangmu negatif. Main perempuan itu, apapun alasannya tetaplah negatif”


“Sempat??”


“Iya, karena aku menarik kembali pandangan negatifku sama kamu”


“Kenapa?”


“Ya karena aku bukan kamu”


“Maksudmu??”


“Aku bukan kamu yang berada di posisimu waktu itu”

__ADS_1


Faiq memandang Karin masih dengan tatapannya yang kebingungan, tidak cukup mengerti dengan apa yang Faiq maksud.


__ADS_2