
Karena perasaan yang sangat dalam, cinta yang masih begitu kuat, dan rasa sayang yang masih hangat terasa dalam hati, akhirnya setelah meluapkan semua emosi dan kekecewaannya Fauzi kembali menerima Salwa, karena Fauzi sendiripun belum siap untuk kehilangan Salwa.
Kesehatan Salwa sempat terganggu karena terlalu lama kedinginan sehingga Fauzi dibantu oleh Sasa pacar Faiq merawat Salwa hingga baikan sampai akhirnya Fauzi mengantar Salwa ke Bandara untuk kembali di keesokan harinya.
.
.
.
Setelah kejadian dimana Fauzi memergoki Farhan memeluk Fauzi, Farhan tidak pernah lagi menghubungi Salwa. Ada perasaan bersalah di hati Farhan, jelas sekali bagaimana Farhan melihat Fauzi hari itu yang berusaha menerima kenyataan kalau dirinya sedang dikhianati oleh orang-orang yang dipercaya. Farhan kagum meihat Fauzi yang tidak serta merta melampiaskan amarahnya, bahkan dengan sikap dewasanya masih berusaha menyapa Farhan hari itu.
Rasa bersalah terus-terusan menghantui Farhan, Farhan sudah membulatkan tekad untuk berhenti dan untuk mengakhiri hubungannya dengan Salwa. Farhan sadar betapa egoisnya dia saat ini dan dia ingin merubah semuanya, memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Farhan meraih ponselnya, mencoba menghubungi Salwa agar bisa bertemu untuk meminta maaf secara langsung sekaligus mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik.
"Halo.." Jawab Salwa dari seberang telfon
"Halo Salwa, besok aku mau ketemu kamu bisa?"
"Ka kak Farhan??" Tanya Salwa memastikan karena Farhan yang menggunakan nomor baru.
"Iya.. Ini aku.."
Salwa sempat menolak untuk bertemu dengan Farhan, Salwa sangat sulit meminta Fauzi kembali dan dia tidak ingin membuat kesalahan yang sama lagi. Namun pada akhirnya Salwa setuju untuk bertemu dengan Farhan setelah Farhan menjelaskan apa maksud dia yang sebenarnya untuk mengajak Salwa bertemu.
Farhan mengakhiri panggilannya.
"Seliku-liku ini hubungan asmara kami yang masih berusia belasan tahun??" Kata Farhan berbicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum kecut.
Semua antara Farhan dan Salwa akan berakhir, dan yang tersisa hanya akan tinggal kenangan. Farhan membuka-buka album ponselnya dan menemukan fotonya bersama Fauzi.
"Gue sudah terlalu jahat sama Lu Zi.." Kata Farhan sambil mengingat semua kesalahan-kesalahannya selama ini. "Maafin gue, dan maafin sekali lagi karena gue benar-benar gak ada keberanian buat minta maaf langsung sama Lu.."
Perasaan bersalah Farhan yang terlalu besar membuatnya menjadi malu juga sekaligus takut untuk mengungkapkan permintaan maafnya secara langsung pada Fauzi. Meski dia tahu Fauzi tidak akan marah apalagi membencinya tapi tetap saja Farhan tidak berani untuk menampakkan wajahnya pada Fauzi.
"Ma.. Tetta dimana??" Tanya Farhan saat bertemu Ibunya didapur.
"Ada diruang kerjanya, kenapa Nak?" Tanya Ibunya sambil menyusun beberapa perabotan di dapur.
"Farhan mau bicara sesuatu sama Tetta.."
"Yasudah sana temui Tettamu..."
Farhan mengetuk pintu setelah sampai didepan pintu ruangan kerja Ayahnya.
"Tetta.." Kata Farhan melangkah mendekati Tettanya yang sibuk mengurus dokumen. "Bisa minta waktu Tetta sebentar??"
"Kenapa Nak?" Tanya Tettanya sambil menutup dokumen-dokumen mengakhiri pekerjaannya.
"Farhan mau ketemu sama putrinya pak Fatir.."
"Kenapa? Ada apa? Kok tiba-tiba??" Tanya Ayahnya sedikit terkejut.
__ADS_1
"Ya, aku rasa sudah seharusnya aku nurutin kemauan Tetta, selama ini Tetta tidak pernah minta apapun sama aku dan selalu memenuhi semua kebutuhanku jadi sekarang aku yang mau nurutin kemauan Tetta.." Jelas Farhan.
"Kamu yakin? Yang Pak Fatir inginkan adalah kamu menjadi menantunya dan itu berarti dia menginginkan kamu menikah dengan putrinya. Ini bukan main-main Farhan, ini sebuah pernikahan. Tetta tidak akan memaksa jika kamu tidak mau karena ini menyangkut masa depanmu, hanya saja Tetta tidak setuju kalau kamu terus-terusan menjalin hubungan dengan perempuan yang bernama Salwa itu karena dia milik oranglain" Jelas Ayah Farhan
"Farhan akan mengakhiri semuanya sama Salwa, maka dari itu Farhan ingin memulai semuanya dari awal.."
"Jadi kamu sudah yakin ingin bertemu putri pak Fatir?"
Farhan mengangguk.
"Yasudah, nanti Tetta kabari pak Fatir. Mungkin kalian tidak akan bertemu dekat-dekat ini karena pak Fatir akan berangkat keluar kota besok.."
"Iya.." Jawab Farhan. "Tetta..."
"Iya?"
"Farhan boleh minta sesuatu??"
"Apa?"
"Ini mungkin permintaan yang sangat keterlaluan, tapi Farhan menginginkannya.."
"Kamu mau apa?"
"Farhan mau berhenti kuliah disini dan kuliah ditempat lain.."
"Kenapa?" Tanya Ayahnya setengah terkejut dan kebingungan.
"Farhan cuman ingin suasana baru saja. Dan lagi Farhan tidak mau mengambil kuliah jurusan bisnis atau management dan sejenisnya.."
"Aku belum menentukan tapi akan kupikirkan secepatnya.."
"Kamu sudah semester dua sekarang, dan sebentar lagi masuk semester tiga. Kamu yakin mau meninggalkan kuliahmu dan mulai kuliah menjadi mahasiswa baru lagi??" Tanya Ayahnya semakin bingung.
"Iya.. Aku akan mulai kuliah sebagai mahasiswa baru ditahun ini..."
"Heem...." Ayahnya menghela nafas panjang. "Ayah tahu kamu sudah tahu mana yang baik dan langkah apa yang harus kamu ambil untuk hidupmu, kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan seperti apa kehidupan yang kamu inginkan. Atur saja sebagaimana maumu, Tetta akan mendukungmu.."
"Makasih Tetta, maaf Farhan selalu menyusahkan Tetta seperti ini..."
Ayahnya beranjak dari kursinya dan melangkah mendekati Farhan.
"Hanya dukungan yang Tetta bisa berikan sama kamu, tentang bagaimana hidupmu itu adalah hakmu untuk menentukannya.." Kata Ayahnya tersenyum.
"Makasih Tetta.." Jawab Farhan.
Setelah berbicara dengan Ayahnya, Farhan izin kembali kekamarnya.
"Farhan.." Cegat Ayahnya.
Farhan yang sudah didepan pintu kembali menoleh.
"Tentang kuliahmu, coba kamu bicarakan dulu sama Mamamu kalau mau kuliah keluar daerah. Mamamu mungkin kesulitan kalau harus jauh darimu.."
__ADS_1
"Iya Tetta.."
"Yasudah..."
"Farhan keluar Tetta.."
Ayahnya hanya mengangguk mengiyakan.
"Bukan hanya Mamamu, Tetta juga akan kepikiran kalau kamu jauh dari kami Nak.." Gumam Ayahnya ketika Farhan sudah berlalu.
.
.
.
Hari ini Farhan bertemu dengan Salwa, meminta maaf sekaligus pamit pada Salwa. Farhan yang masih belum berani bertemu Fauzi juga meminta pada Salwa untuk menyampaikan maafnya pada Fauzi. Farhan menceritakan semua alasannya mengapa dia sampai rela melepaskan Salwa, kekuatan Fauzi menahan perasaannya hari itu benar-benar menyentuh perasaan Farhan dan mengubah pikirannya. Sebelum pulang, Farhan menyalami Salwa untuk yang terakhir kalinya sebagai tanda mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik.
.
"Kamu kok berangkatnya tiba-tiba.." Rengek Key sambil melingkarkan tangannya di lengan Farhan dengan manja.
"Aku pergi cuman sebentar saja kok, cuman ngecek lokasi saja dan ngeliat beberapa kampus yang udah aku buka-buka reviewnya semalam"
"Kamu beneran yakin mau pindah kuliah??"
Farhan mengangguk sambil tersenyum. Key hanya cemberut menatapnya. Farhan melanjutkan langkahnya dengan Key yang masih merangkul manja di lengannya.
"Kak Farhan..."
Farhan menoleh mendengar seseorang memanggil namanya.
"Nina..."
"Kakak ngapain di bandara?" Tanya Nina kemudian menatap Key lalu tersenyum. Key balas tersenyum dengan ramah pada Nina.
"Mau keluar kota.."
"Keluar kota?? Kemana??" Tanya Nina dengan segala kekepoannya.
"Hehe ada deh.." Balas Farhan bercanda. "Kamu sendiri ngapain disini?" Tanya Farhan kembali.
"Oh, aku abis nganterin Papa kak.."
"Oh gitu.."
"Iya.. Yaudah aku duluan kak.."
"Iya, hati-hati.."
Nina hanya tersenyum pada Farhan dan menoleh juga tersenyum pada Key.
"Siapa?" Tanya Key.
__ADS_1
"Nina, adik kelasku.."
Farhan melanjutkan langkahnya.