Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 11


__ADS_3

Salwa duduk sambil menyeruput hot chocolate kesukannya, karena hujan turun dengan deras semalam sehingga hawa dinginnya masih saja terasa hingga pagi.


Salwa dan Nina janjian untuk bertemu jam sembilan pagi di salah satu cafe yang sering mereka kunjungi berdua.


Nina berlari kecil sambil jinjit-jinjit menghampiri Salwa yang sudah terlebih dahulu sampai.


"Sorry sorry aku telat, jalan macet gara-gara ada pohon tumbang semalam disana.."


"Gak apa, minum.." Kata Nina memberikan secangkir moccacino hangat pada Nina.


"Mau cerita apaan??"


"Ck, to the point banget sih.. Minum aja dulu.."


"Aku udah penasaran banget dari semalam.."


"I itu.." Salwa sedikit ragu-ragu


"Heleh, kalau ragu-ragu gak usah cerita.." Kata Nina ketus.


"Ck, gimana ya aku ngomongnya.."


"Tentang apa emang??"


"Huuffftttt..." Salwa menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. "Kak Fauzi nembak aku.."


"WHAATTT???? SERIUSSS??? KAPAN?????"


"Sttt Ninaa... Jangan kencang-kencang ngomongnya.." Tegur Salwa.


"Oh maap-maap, seriusan aku kaget... Jadi jadi gimana tadi?"


"Kak Fauzi nembak aku.."


"Terus kamu jawab apa??" Tanya Nina penasaran.


Salwa hanya menggeleng.


"WHAAAT??? KAMU NOLAK..."


"Sssttttt dibilangin jangan kencang-kencang ngomongnya.." Kata Salwa dengan sigap menutup mulut Nina.


"Ka kamu nolak kak Fauzi? Seriously???"


"Aku gak bilang kalau aku nolak kak Fauzi.."


"Lah terus?? Tadi kamu menggeleng.."


"Bukannya aku nolak, aku cuman belum ngejawab saja.."


"Jadi kamu ngegantung kak Fauzi.."


"Bukan ngegantung juga, aku cuman minta waktu aja buat berfikir dulu..."


"Ck.. Ngapain pakai acara berfikir sih Wa. Kak Fauzi cakep, tinggi, putih dan jelas budgetnya kuat, kurang apa lagi coba??"


Yah yah.. lagi Nina dengan pikiran realistisnya itu.


"Tapi aku ragu.."


"Ragu apa lagi? Bukannya kamu juga sering chat sama kak Fauzi kan? Kalian memang sudah cukup akrab kan??"

__ADS_1


"Iya sih, tapi aku ngerasa gak enak.."


"Gak enak apanya? Ya kamu harusnya ngerasa gak enak itu kalau kamu berniat nolak kak Fauzi.."


"Bukan sama kak Fauzinya, tapi sama kak Farhannya.."


"Lah apa hubungannya sama kak Farhan?? Oh tunggu-tunggu.. Masalah tentang gosip itu?? Yaelah Wa, itu cuman gosip, gak mungkin kak Farhan sama kak Fauzi beneran sepasang kekasih.."


"Kalau itu juga aku gak percaya Nin.."


"Jadi??"


"Aku gak enak aja kalau nerima kak Fauzi padahal sebelumnya aku nolak kak Farhan.."


"Wha whaaaattttt????" Kata Nina nyaris tak terdengar suaranya. "Kak Farhan juga nembak kamu dan kamu udah nolak kak Farhan?"


Salwa hanya mengangguk.


"Woaahh woaaahhhh, kalau satu sekolah tahu ini kamu pasti langsung terkenal di seluruh penjuru sekolah, cewek-cewek penggemar kak Farhan dan kak Fauzi akan patah hati nasional.."


"Ck apaan? Hiperbola banget deh.."


"Wah serius ini fenomena besarr.."


"Ah Nina apaan sih.. Jadi aku ini aku harus gimana???" Keluh Salwa.


"Jujur saja, sayang banget rasanya kamu nolak kak Farhan. Kamu tahu kan kak Farhan itu?? Woah dia itu laki-laki idaman.. Tapi kak Fauzi juga laki-laki idaman sih.."


"Hilangin dulu pikiran rasionalmu yang kelewatan itu, seriusan aku gak bakal dapat saran dari kamu kalau kamu ngebandingin Kak Farhan dan kak Fauzi tergantung dari segi keuntungannya.."


"Terima saja.." kata Nina dengan sorot mata dan ekspresinya yang berubah jadi serius. "Jangan ngerasa gak enak sama kak Farhan, kalau kamu emang suka sama kak Fauzi ya terima saja.."


"Jangan pikirkan itu, ini tentang perasaanmu Salwa. Kalau kamu nolak kak Fauzi karena merasa gak enak sama kak Farhan, aku yakin suatu hari nanti kamu bakal nyesel. Jangan korbankan perasaanmu atas dasar rasa gak enak sama kak Farhan. Aku yakin kak Farhan pasti ngerti kok, kak Farhan juga gak terlihat seperti orang yang bakal ngepermasalahin itu. Ya mau gimana lagi kan kalau kamu beneran sukanya sama kak Fauzi, namanya perasaan suka kan gak bisa diatur"


Salwa berfikir sejenak "Ya aku pasti akan menyesal kalau nolak kak Fauzi, gak kupungkiri kalau selama chat dan telfonan sama kak Fauzi aku merasa nyaman dan lagi tentang kejadian kemarin dirumah hantu, itu benar-benar ngebuat jantungku berdetak tidak karuann"


"Lama banget mikirnya.." Tegur Nina yang sedari tadi melihatku hanya terdiam. "Jadi gimana??"


"Tapi Nin, apa cewek-cewek disekolah gak bakal musuhin aku kalau mereka tahu aku pacaran sama kak Fauzi" Tanya Salwa ragu-ragu.


"Lah apa hak mereka ngebenci kamu, yang nembak dan dekati diluan kan kak Fauzi, bukannya kamu. Udah jangan pikirin masalah itu, kalau mereka semua ngebenci kamu masih ada aku kok, kalau mereka ngejahatin kamu tenang saja aku bakal ngebantu kamu ngelawan mereka.."


"Emang kamu bisa ngelawan semua anak cewek disekolah??"


"Ya aku minta tolong papaku lah buat ngebantu.."


"CK ck ck kamu ini ada-ada saja..."


"Pokoknya kalau kamu beneran suka sama kak Fauzi, terima saja. Masalah tentang kamu gak enak sama kak Farhan atau takut anak-anak cewek disekolah bakal ngemusuhin kamu gak usah dipeduliin. Pokoknya sekarang fokus sama perasaanmu saja"


Salwa terdiam sejenak.


"Iya.." Kata Salwa setelah memantapkan hati. "Aku gak bakal musingin hal lainnya dan aku akan nerima kak Fauzi gak peduli cewek-cewek sekolah bakal marah sama aku atau enggak" Kata Salwa tegas.


"Nah gitu dongg.. Kamu itu harus strong babeeyyy..."


"Makasih ya Nin.." Kata Salwa tersenyum.


Nina berdiri dan memeluk Salwa.


"Apapun itu, aku bakal ngedukung kamu.."

__ADS_1


Salwa balas memeluk Nina.


"Oh iyaa.." Nina melepas pelukannya.


"Apa??" Tanya Salwa bingung.


"Hari ini aku kepengen makan kepiting saus tiram, bayarin ya.."


"Lah??"


"Pajak jadian beb..." Jawab Nina cengengesan.


"Lah jadian aja belum.."


"Ya kan bentar lagi jadian.."


"Ya tapi kan belum.."


"Ah pokoknya aku mau kepiting saus tiram. Udah udah ayo bangun.. Kita ke resto di dekat bundaran itu, kepiting disana enak bangett..." Kata Nina berdiri dan menarik Salwa. Salwa mengikut saja.


.


.


.


.


Setelah berfikir sendiri dan mendapat saran dari Nina, Salwa akhirnya memantapkan diri untuk menerima Fauzi dengan segala resikonya.


Salwa berbaring dengan pandangannya yang kosong, meski dia sudah memantapkan hatinya untuk menerima Fauzi tapi tetap saja sesekali keraguan muncul dihatinya, sampai akhirnya Salwa berfikir untuk segera mengambil keputusan agar tidak terus-terusan berfikir yang tidak-tidak.


"Kak Nanti bisa ketemu gak??" Pesan yang dikirim Salwa untuk Fauzi.


"Iya bisa.." Balasan pesan Fauzi dengan cepat.


"Oke, nanti aku share lokasi ketemuannya ya kak.."


"Gak, biar aku jemput aja.."


"Nanti aku ngerepotin.."


"Hem.. Jangan selalu bilang ngerepotin Salwa, kan yang nawarin aku. Aku jemput ya??"


"Hem iya deh kalau gitu.."


"Chat aja kalau udah mau berangkat.."


"Iya kak.."


Ada perasaan deg-degkan tapi juga diselingi dengan perasaan bahagia. Salwa tidak tahu harus berbicara seperti apa untuk menerima perasaan Fauzi. Tapi ah sudahlah, Fauzi tidak akan peduli bagaimana cara Salwa menjawabnya, asalkan itu jawaban sebuah penerimaan, itu sudah cukup buat Fauzi.


.


.


.


Teman-teman, jangan lupa ngasih ucapan tahun baru buat Lina melalui event ya..


Lina sayang kalian 💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2