Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Wedding Day


__ADS_3

Aku sempat kecewa setelah menunggu Fauzi seharian tapi sama sekali tidak memberiku kabar, namun rasa kecewa itu terbayarkan dan berubah menjadi perasaan bahagia yang penuh haru setelah akhirnya Fauzi benar-benar melamarku.


Fauzi kembali menggendongku dipunggungnya sambil berjalan berkeliling di luasnya rerumputan. Aku melingkarkan sebelah tanganku di pundak Fauzi dan sibuk menatap tangan lainnya. Tidak bosan-bosannya aku melihat jari manisku yang kini melingkar sebuah cincin saat Fauzi melamarku tadi.


"Kamu gak bosan ngeliatin jarimu terus??" Tanya Fauzi.


"Aku gak lagi ngeliatin jariku.." Jawabku tersenyum terus.


"La terus??"


"Aku lagi ngeliatin cincinnya.." Kataku cengengesan.


"Kamu suka??"


"Tapi aku lebih suka kamu.." Aku memberi kecupan manis di pipi Fauzi.


"Kamu baru bangun.. Jangankan mandi, cuci muka saja belum dan udah ngecium aku?? Jorok.."


"Bodoo biar aja ilerku nempel dipipimu.." Jawabku.


"Hemm.. Terserah kamu, yang penting kamu senang.."


"Kamu juga ikut senang???" Tanyaku cepat.


"Ya gak lah.. Kamu nyiksa aku mah kamu senang, tapi aku gak senang kalau disiksa.."


"Emang aku pernah nyiksa kamu??"


"Pernah.."


"Pas kapan?"


"Pas aku lagi kangen-kangennya sama kamu..."


"Ishh apaan sih.." Jawabku sedkit tersipu malu..


"Ciee yang malu-malu aku gombalin..."


"Gak tuh.." Jawabku cuek.


"Seriusan??"


"Iya lah.."


"Coba maju sini dikit, aku mau ngebisikin sesuatu.."


Aku memperkuat lingkaran tanganku dan sedikit maju untuk mendengar apa yang akan dikatakan Fauzi.


Cup.. Fauzi mengecup kecil pipiku. Aku terdiam sedikit terkejut.


"Aku lagi ngetes pipi kamu panas habis ngedenger gombalanku atau biasa aja..."


"Apaan sih, ngeceknya ya gak harus.."


"Aku kan gak bisa nyentuh pipi kamu, aku mana bisa ngegendong kamu pakai satu tangan.." Katanya memotong perkataanku. "Wah ternyata panas..."


"Iyalah.. Ye kan digombalin sama calon suami, jadi wajar aja kalau blushingggg..."


"A apa?? Kamu bilang apa??"


"Aku bilang, di gombalin sama calon suamiii sayang...."


Fauzi terlihat malu-malu tidak jelas mendengar perkataanku.


"Ciee yang malu-malu aku sebut calon suami.." Balasku menggodanya.


"Hahaha kamu balas dendam nih ceritanya..."


Aku hanya tertawa..


Rasanya bahagia sekali bisa seperti ini sekarang dengan Fauzi.


"Kamu gak capek ngegendong aku terus.."


"Gak..."


"Terus ini mau jalan sejauh apa lagi.."

__ADS_1


"Sampai aku capek"


"Kamu beneran gak capek?"


"Tenagaku full karena bahagia pagi ini..."


Aku mempererat pelukanku dari belakang.


"Aku juga bahagia sekali..."


Aku seperti tidak ingin waktu berputar agar aku bisa merasakan terus kebahagiaan seperti ini. Tapi aku juga menginginkan waktu yang berputar cepat agar status Fauzi cepat berpindah dari calon suamiku menjadi suamiku.


"Ozi..."


"Hem??"


"Kamu kenapa datangnya hari ini? Kamu bilang kan mau datang pas hari ulangtahunku.."


"Maaf, kemarin kamu pasti nunggu.. Tapi aku punya alasan sendiri kenapa datangnya hari ini.."


"Kenapa??"


"Kemarin kamu kerja, aku juga kerja. Aku gak akan bisa ngebawa kamu kesini dan jalan-jalan seperti sekarang ini" Jelas Fauzi. "Aku gak akan bisa tahan buat pisah sama kamu dengan cepat kalau habis ngelamar kamu, jadi aku gak ngelakuin itu kemarin, kalau ini kan akhir pekan jadi seharian aku bisa nyulik kamu seperti sekarang.."


"Tapi kamu kenapa gak ngasih tau? Aku nungguin seharian kemarin.." Kataku kesal dengan sedikit bernada manja.


"Maafin aku sayang.. Kedepannya aku gak akan ngebuat kamu nunggu lama untuk hal baik seperti hari ini.."


"Gak papa.. Asal kamu datang, telatpun gak jadi masalah.."


.


.


.


.


Hari-hari berlalu, setelah Fauzi melamarku secara pribadi seminggu kemudian orangtuanya datang kerumahku melamarku secara resmi untuk putra tunggalnya. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan seperti apa rasa bahagiaku dan seperti apa rasa haruku. Aku yang meskipun selalu mempertahankan perasaanku pada Fauzi pernah sekali mundur selangkah ketika salah paham, tapi pada akhirnya itu hanya kesalahpahaman yang menguji rasa cintaku pada Fauzi.


Aku dan Fauzi mulai sibuk mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kami, dari pendaftaran pernikahan di KUA sampai semua tentang MUA, dekor, gaun dan sebagainya. Untung saja ada Annisa yang membantu karena Annisa cukup banyak tahu tentang wedding organizer.


Sesibuk apapun aku dalam mengurus pernikahanku, selelah apapun tubuhku, tetap saja aku merasa bahagia setiap mengingat bahwa yang aku persiapkan ini adalah hari bahagia.


.


.


.


Waktu berlalu, akhirnya tiba juga di hari yang sangat aku nanti-nanti selama ini. Pakaian adat yang dimodifikasi sedikit modern membalutku dengan indah. Lukisan henna mewarnai tanganku memberi kesan seni yang luarbiasa.


Tanpa sadar aku meneteskan airmata saat orang-orang berseru Sah setelah Fauzi mengucapkan ijab kabul untukku. Darahku serasa mengalir dengan deras dan jantungku yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku sudah menjadi seorang istri sekarang.


Tamu berdatangan memberikan ucapan selamat pada kami, aku dan Fauzi terus-terusan mengembangkan senyuman ramah pada tamu.


"Ciee yang jadi ratu dan raja sehari.." Goda Annisa saat naik berfoto bersamaku di pelaminan.


"Haha daripada ngecie-ciein aku sama Salwa, mending cari jodoh sana biar cepat nikah juga.." Ledek Fauzi.


"Ck gak ada kata-kata lain apa yang gak bikin sakit hati gitu..." Balas Annisa.


"Haha ini motivasi tau..." Seru Fauzi.


"Haha iya deh, aku mah positive thinking saja sama apa yang dimaksud Fauzi"


Pesta yang kami gelar cukup ramai. Teman alumni SMA sampai beberapa teman alumni kuliah menyempatkan datang meski beberapa dari mereka tidak satu wilayah denganku. Aku sangat bersyukur mereka hadir untuk merayakan hari bahagiaku bersamaku tak terkecuali Nina dan Farhan.


"Wah wahhh.. Yang dinanti setelah sekian lama akhirnya make baju adat ini juga.." Goda Farhan. "Yah gue akui bro, Lu lebih cakep setingkat lah dari gue sewaktu makai baju adat ini.."


"Ck, gue udah gak mau debat masalah siapa yang cakep diantara kita dengan pakaian ini, gue cuman mau bilang kita berdua sudah menjadi cowok sejati karena udah ngucapin ijab kabul dengan satu tarikan nafas, serius gue gak nyangka kalau bakal sesulit dan setegang ini.."


"Haha, akhirnya Lu ngerasain juga.."


Ya Farhan dan Fauzi kalau sudah bertemu benar-benar sibuk dengan pembahasan mereka masing-masing.


"Uwuu Salwaa.. Akhirnyaaa..." Seru Nina memelukku.

__ADS_1


"Iyaa.. Hikss aku terharu dan lega bangeet.." Kataku memeluk Nina erat, tapi Nina sedikit menghindar yang membuatku kebingungan.


"Aku lagi mengandung, jadi jangan di gencet-gencet perutnya..."


"Oww maaf maaf.. Aku benar-benar gak sadar saking senangnya..."


"Farhan posesif banget selama aku hamil, kalau dia ngeliat kamu nindih perutku sedikit aja dia bakalan negur.."


"Hahaha sepertinya Farhan jadi ayah yang baik ya sekarang..."


"Hehehe begitulah.."


Pesta resepsi berlangsung dengan lancar, karena malam semakin larut beberapa tamu undangan akhirnya pamit pulang dan sekali mendoakan yang terbaik untuk pernikahan dan rumah tangga kami.


.


.


"Ah lega sekali..." Kataku sambil berjalan keluar dari kamar mandi mengeringkan wajahku yang baru saja kubersihkan dari rias make up yang tebal.


Beberapa saat kemudian Fauzi juga masuk.


"Kenapa lama sekali diluarnya?" Tanyaku seketika dia masuk kamar.


"Itu para bapak-bapak diluar ngasih wejangan dulu, udah aku sampai bingung sama apa yang mereka katakan" Jawab Fauzi dengan sedikit mengeluh.


"Lah terus kenapa masuk? Kenapa gak didengerin?"


"Ya aku juga capek sayang, seharian duduk senyum-senyum dan sebagainya. Aku juga mau istirahat.."


"Jadi kamu ninggalin Ayah dan kerabat diluar?? Gak sopan sayang.."


"Gak kok, mereka yang nyuruh aku masuk untuk istirahat.. Katanya nanti kamu nunggu.."


"Lah aku gak papa, lagian besok-besok juga kamunya sama aku terus.. Sana temanin mereka dulu.."


"Yahhh sayang.. Aku juga kan capek, kepengen bersih-bersih badan terus istirahat. Masa iya kamu udah fresh begitu lah aku masih kucel begini??" Keluh Fauzi.


Aku berjalan menghampirinya. "Uwuu... Mukanya ya jangan kusut begitu juga lah sayang.. Ya sudah sana kamu bersih-bersih badan gih"


"Iya nyonya.." Kata Fauzi mengecup keningku.


Aku duduk bersandar sambil memainkan ponselku diatas tempat tidur.


"Kamu ngapain??" Tanya Fauzi yang baru selesai membersihkan tubuhnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Hehe ngebalas satu persatu ucapan selamat dari teman-teman yang gak bisa hadir diacara kita.."


Fauzi mendekat dan duduk disampingku.


"Wah, cewek sama cowok emang beda ya.. Teman-temanmu banyak sekali yang ngirim pesan"


"Emang kamu gak ada?" Tanyaku menatapnya.


"Ada sih.. Tapi gak sebanyak pesanmu.."


"Hehe karena aku lebih banyak teman.." Jawabku tersenyum dan kembali sibuk membalas satu persatu pesanku.


"Engg.. Salwa.."


"Iya?" Jawabku tanpa mengalihkan perhatianku dari ponselku.


"Bo boleh aku peluk gak?" Tanya Fauzi ragu-ragu.


Aku spontan menatapnya.


"Ha ha A apaan sih? Kenapa pake minta izin segala? Dulunya juga kamu langsung main peluk aja tanpa izin dari aku.."


"He he ga gak tau sih.. Aku cuman mau izin saja, menyentuhmu pertama kalinya sebagai suamimu.." Kata Fauzi dengan sedikit canggung.


Mungkin karena sudah terlalu terbiasa dengan Fauzi, aku bahkan tidak menyadari bahwa status kami sekarang sudah berubah. Aku jadi canggung juga melihat Fauzi yang canggung seperti itu.


Aku tersenyum menatapnya.


"Permisi..." Kata Fauzi perlahan mendekat dan memelukku, semakin lama semakin erat.


Setelah menikah pelukan ini terasa berbeda, lebih nyaman, hangat dan rileks. Mungkin karena status kami yang sudah Sah sehingga tidak ada lagi perasaan khawatir.

__ADS_1


Aku berharap, kebahagiaan kami yang seperti ini tidak hanya ada pada hari ini tapi selamanya akan ada.



__ADS_2