
Aku harusnya bisa cepat tertidur malam ini karena hari aku beraktifitas penuh dan malam sebelumnya waktu tidurku berkurang karena harus belajar agar bisa menjawab soal-soal ujian semester ganjil. Tapi bukannya tertidur lelap aku malah masih terjaga sampai jam dua pagi, parahnya lagi Fauzi yang tadinya sudah tertidur jadi terbangun agar bisa membantuku untuk tertidur, tapi bukannya membantuku tertidur dia malah ikut-ikutan begadang bersamaku.
"Aku mau nanya sesuatu.."
"Tanya apa sayang.."
"Seandainya rencana masa depan yang kamu rencanakan tadi gak terwujud gimana?"
"Ya mau gimana lagi, aku juga gak bisa memaksakan sesuatu yang kuinginkan harus terwujud kan? setidaknya aku udah berusaha buat mewujudkan itu. Kenapa kok nanyanya gitu?"
"Kalau semisal yang ngebuat impian itu gak terwujud adalah aku, gimana?"
"Maksudnya?"
"Ya misalnya karena aku, jadinya impian masa depan kamu gak terwujud gimana?"
"Kamu kok ngomongnya gitu?"
"Fauzi kebiasaan ih.., tiap ditanya bukannya dijawab malah nanya balik.."
"Ya habis aku bingung, kamu kok tiba-tiba ngomongnya kayak gitu, kamu gak mau kedepannya sama aku?"
"Yang bilang aku gak mau sama kamu siapa juga.."
"Ya terus kenapa nanyanya kayak gitu?"
"Ya aku cuman mau tau respon kamu aja.."
"Ya aku pasti sedih lah.. semua orang pasti maunya keinginannya bisa terwujud.."
"Sedih doang?"
"Ya terus kamu maunya aku kayak gimana? ya aku juga gak mungkin sampai mau bunuh diri kan.."
"Ya gak gitu juga.. maksud aku kamu gak marah atau memaksa gitu.."
"Ya tergantung kondisinya, kalau keadaannya mengharuskan aku marah, aku pasti marah tapi kalau masalah memaksa.. Aku kayaknya gak punya hak seperti itu.."
"Tapi kemarin kamu udah maksa aku buat tetap mau sama kamu.."
"Ya itu karena kamunya cuman salah paham.."
"Salah paham apa cuman alasan.."
"Ya ampun sayang, kok jadi bahas ini lagi sih?"
"Kebetulan aja.."
"Tunggu tunggu.. jadi kamu nanyain ini karena masih kepikiran masalah kemarin? Kamu masih gak percaya sama aku? kamu masih ada rencana buat ninggalin aku karena ini.."
"Gak gitu.."
"Terus?"
"Aku cuman mengandai-andai saja, misalnya seandainya kalau impian masa depan kamu gak sesuai rencana karena aku itu respon kamu kayak gimana, kamu ngebenci aku atau gimana"
"Kamu ini mungkin udah tidur sayang, ngomong kayak gini mungkin kamu lagi ngelantur sekarang.."
"Fauzi, kalau semisalnya itu benar gimana?"
"Ya aku bisa apa? semaunya aku, aku mau kamu tetap sama aku sampai tua nanti, aku mau kita sampai sama-sama pusing memikirkan nama anak kita nantinya, gantian ngegantiin popoknya atau sama-sama bingung ngejelasin pertanyaan-pertanyaan aneh yang harusnya dia belum tau semisal bayi itu datangnya dari mana, kenapa ada malam sama siang dan sebagainya. Tapi kalau pada kenyataannya itu gak kesampaian ya aku bisa apa.."
__ADS_1
"Kalau misalnya itu gak kesampaian karena aku punya cowok lain gimana?" Aku bertanya dengan sedikit pelan.
Fauzi terdiam, dia tidak secara langsung menanggapi pertanyaanku.
"Kamu ada yang lain?" Tanyanya kemudian.
"Kan aku bilang seandainya.."
"Kamu ada yang lain? maka dari itu mau ngeliat responku? Siapa?" Nada Fauzi yang tadinya biasa saja berubah seketika serius dan agak dingin.
"A.. aku cu cuman bilang seandainya kan.." Jawabku terbata-bata
"Kalau ada yang lain bilang aja.. siapa?" Tanyanya kembali.
"Ga gak ada.. aku kan cuman bilang seandainya.." Kataku berbohong dan agak tergagap. Aku jadi bingung sendiri, andaikan responnya seperti awal bicara tadi mungkin saja aku jujur malam ini, tapi mendengar nada Fauzi berubah aku jadi berpikir ulang kalau mau terus terang tentang ini.
"Semoga benar.."
"Apanya.."
"Kamu cuman mengada-ada, semoga kamu beneran cuman mau liat respon aku saja.."
"O. OZi..."
"Aku takut Salwa.. Aku takut kalau itu beneran terjadi. Bukan aku takut kedepannya hidupku tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan, tapi aku takut kalau pada akhirnya aku jadi membencimu karena terlalu terluka.. Aku tidak mau itu.."
Aku sedikit terkejut mendengar Fauzi berkata seperti itu.
"Ga gak kok.. aku cuman.."
"Aku tau, semakin besar aku mencintaimu maka semakin besar juga tanggungan kebencian yang bisa aku rasakan kalau suatu hari nanti terjadi sesuatu sama hubungan kita yang dengan sengaja saling melukai, tapi aku benar-benar gak bisa mencintaimu secara biasa, aku tidak bisa mencintaimu dengan biasa-biasa saja, aku sangat dan sangat mencintaimu Salwa, aku sendiri juga tidak bisa mengendalikan rasa suka ku terhadapmu.."
"Maaf, maaf karena sudah menanyakan hal seperti ini.."
"Tidak apa, kita memang harus lebih saling mengenal kan? setidaknya kamu tau sebesar apa perasaanku terhadapmu dan kamu bisa membayangkan seperti apa kecewaku kalau hal seperti itu benar terjadi.."
"Maaf.."
"Gak papa sayang, lain kali jangan tanya seperti ini lagi. Cuman memikirkan kamu ada yang lain saja rasanya menyakitkan sekali.."
"Iya, aku juga gak tau tiba-tiba aja pengen nanya hal seperti tadi, pertanyaan bodoh.."
"Iya.." JAwabnya singkat.
Dari jawabannya aku tau, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
"Salwa.."
"Ya.."
"Aku sangat mencintaimu, aku juga tidak mau ngomong seperti ini, aku gak mau suatu hari hal seperti ini terjadi tapi.." Fauzi berhenti sejenak. "Tapi.. seandainya kamu ada niat atau sedang menyukai oranglain bilang langsung sama aku.."
"Kenapa? kamu mau pergi sebelum semakin terluka?" Tanyaku sedikit terkejut.
"Bukan.."
"Lalu?"
"Aku akan membuatmu melupakan orang itu, aku akan membuat perasaanmu pada orang itu menjadi hilang dan hanya menyukaiku saja.."
Aku terdiam, aku menyadari betapa besar perasaan Fauzi terhadapku, tanpa sadar airmataku menetes entah karena terharu terlalu bahagia ataukah takut Fauzi akan tau semuanya suatu hari nanti.
__ADS_1
"Aku tidak mau kehilangan kamu Salwa.." Lanjutnya.
"Aku juga.." Kataku mulai terisak.
"Jangan menangis, nanti aku ikutan menangis juga..."
"Kok kamu mau ikutan nangis, kamu kan cowok.."
"Memangnya perempuan saja yang punya airmata?"
"OZIII.."
ah sempat-sempatnya dia berbicara seperti disuasana yang seperti ini.
"Apapun yang terjadi kedepannya aku benar-benar berharap bisa terus bersamamu seterusnya.."
"Aku juga.."
"Aku sayang kamu Salwa.."
"Aku juga Ozi.."
"Yaudah jangan pikirkan hal seperti itu lagi, kalau kita sama-sama saling menyukai seperti ini tidak bakalan mungkin akan ada oranglain diantara kita.. Aku percaya, Tuhan akan merestui kita melihat kita yang sama-sama berjuang seperti ini.."
Mendengar Fauzi berkata seperti itu membuatku semakin merasa bersalah saja karena sudah menyembunyikan Farhan darinya.
"Iya.."
"Sudah mau jam tiga sayang, kamu tidur ya.." Bujuknya.
"Iya.."
"Aku tungguin kamu lagi.."
"Jangan.."
"Kenapa?"
"Kamu tidur juga, kamu juga butuh istirahat kan.."
"Tapi kamu kan lagi susah tidur.."
"Udah gak, aku juga udah mulai ngantuk... perasaanku lega udah dengar kamu yang sayang sama aku.."
"Jadi tadi kamu susah tidur karena gelisah mikirin ini.."
"Gak tau juga, ya bisa jadi.."
"Maaf sayang.."
"Hem.. gak ada yang perlu dimaafin. Ayo tidur.."
"Yaudah matiin telfonnya.. I Love You Salwa.."
"Mee too Ozi.."
"Good night... eh bukan, Good Morning..."
"Hemm..."
Telfonku terputus. Aku benar-benar harus mengakhiri hubunganku dengan Farhan sebelum Fauzi tau dan ketakutannya menjadi kenyataan.
__ADS_1