
Karin dibuat bingung dengan ingatan Salwa yang menurutnya terlalu dangkal. Karin masih bisa mengerti jika Salwa tidak ingat pada dirinya, namun sangat sulit Karin pahami ketika Salwa bahkan bertanya guna memperjelas bahwa dia satu alumni dengan Fauzi, suaminya.
Namun kebingungan yang tengah melandanya, hanya Karin simpan untuk dirinya sendiri, tidak berani bertanya lebih atau memperjelas ingatan Salwa yang tidak bisa mengingat hal yang seharusnya tidak akan dia lupakan meski sudah berusia lanjut nantinya.
Ditengah kebingungan Karin, ada rasa was-was yang di rasakan Fauzi. Fauzi yang mulanya tidak ingin memberitahu orang lebih banyak tentang istrinya, akhirnya tidak ada pilihan lain selain membiarkan Karin juga turut masuk dalam list orang-orang yang mengetahui keadaan Salwa.
Melihat ekspresi Karin yang tidak bisa dia sembunyikan, membuat Fauzi mengambil kesimpulan untuk membiarkan Karin tahu. Fauzi tidak ingin Karin memberi nilai negatif pada Salwa. Selain itu, karin akan lebih mengerti jika nantinya Salwa mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, jika Karin tahu kondisi Salwa. Fauzi juga harus memberi Salwa arahan sekarang, agar istrinya itu tidak lagi kesasar dalam ingatannya. Karin akan merasa aneh jika melihat Salwa mendapatkan arahan darinya, tanpa tahu kondisi Salwa.
Dalam hati Fauzi, dia sedikit mengecam akan kehadiran karin di meja mereka saat ini. Ada perasaan menyesal karena telah membawa Salwa di restaurant itu dan bertemu dengan Karin. Namun apalah arti penyesalan saat ini, semuanya sudah terlanjur. Yang bisa Fauzi lakukan, hanya tetap mengarahkan Salwa dan memberitahu Karin keadaan Salwa nantinya.
“Sayang.. dulu itu kita satu sekolah, satu SMA. Dan Karin ini, kakak kelas kita”
Fauzi kembali berusaha membangkitkan ingatan istrinya. Dia tahu, akan semakin menjadi-jadi kebingungan Karin dengan ribuan pertanyaan dikepalanya sekarang, namun Fauzi tidak peduli itu, dia akan menjelaskan keadaan Salwa nanti.
“Kita satu kelas?”
Benar apa yang dipikirkan Fauzi. Karin tengah berusaha mencerna apa yang terjadi sekarang, melihat Salwa yang terus-terusan bertanya akan hal yang seharusnya dia tahu dan ingat seumur hidupnya itu.
“Tidak. Kamu kelas satu, aku kelas dua dan Karin ini kelas tiga”
Salwa memutar pandangannya yang sedari tadi tertuju pada Fauzi yang tengah memberinya penjelasan, mengarah pada Karin yang menatapnya dengan tatapan bingung namun tetap memperlihatkan senyum manisnya.
“Ah maaf, tadi aku gak ingat kak” Kata Salwa memperlihatkan rasa penyesalannya yang tidak bisa mengingat kakak kelasnya itu.
Karin balik menatap Fauzi sejenak, dengan Fauzi sudah menatapnya lebih dulu. Seolah kedunya tengah berbicara lewat telepati, memberitahu Karin untuk mengikuti alur yang ada saja saat ini.
“Iya, gak apa-apa” Jawab Karin tersenyum.
Makanan yang sudah di pesan sebelumnya, akhirnya tersaji di meja mereka. Karin yang sudah terlanjur duduk di kursi dengan satu meja bersama Fauzi dan Salwa, akhirnya ikut menikmati makan siang bersama siang itu.
Mereka menikmati makan bersama di selingi dengan obrolan. Obrolan yang tidak berjalan begitu baik, karena Fauzi sesekali harus menghentikan percakapannya dan menjelaskan hal-hal yang membuat Salwa bingung dalam obrolan itu.
“Aku ke toilet sebentar”
“Kamu bisa ke toilet sendiri sayang?” Tanya Fauzi memastikan keadaan Salwa.
Salwa mengangguk sembari tersenyum.
“Bawa tas dan ponselmu, kalau ada hal yang ngebuat kamu bingung, telfon aku”
__ADS_1
Sekali lagi salwa mengangguk, kemudian berlalu.
Fauzi terus mengikuti Salwa dengan pandangannya, membuat Karin semakin menyimpan ke kaguman pada Fauzi, sekaligus rasa cemburu yang semakin menjadi-jadi. Karin tidak bisa memungkiri, bagaimana ia berharap bisa diperlakukan seperti Salwa oleh Fauzi. cara Fauzi memanggil, memperhatikan dan memandang Salwa, benar-benar membuat Karin merasa cemburu. Ya, namun dibalik perasaan kemelut dengan cemburu yang berkobar, Karin masih mampu menyadarkan diri, bahwa Fauzi adalah milik oranglain. Meski sesekali terbesit niat jahat untuk bisa memiliki Fauzi, tanpa peduli akan menjadi yang kedua, atau menjadi satu-satunya dengan menyingkirkan yang pertama.
“Sepertinya kamu sayang banget sama Salwa..”
Ucapan Karin yang membuyarkan pandangan Fauzi yang sedari tadi mengekori posisi istrinya.
“Iya.. Dia istriku, wajar kalau aku sayang sama dia”
Mendengar jawaban Fauzi, membuat Karin merasakan serangan sakit bagai teriris sembelih dalam hatinya.
“Kamu sangat mengistimewakannya..”
Fauzi tidak lagi menghiraukan apa yang di katakan Karin, rasa cemaas akan istrinya yang sekarang berada di toilet sendirian, terus-terusan mengusiknya. Sampai ia sadar akan sesuatu, Fauzi akhirnya mengalihkan pandangannya.
“Emhh, Karin”
“Ya?”
Respon Karin yang cepat, seolah seperti tengah menunggu Fauzi mengajaknya berbicara dari tadi.
“Itu.. Tentang kondisi Salwa sekarang..”
“Ah iya, aku ngerasa aneh sama Salwa, dia..”
“Sakit” potong Fauzi.
“Sa-sakit? Sakit apa?”
“Alzheimer” Jawab Fauzi menunduk dalam. Fauzi masih saja sakit tiap kali menyadari keadaan istrinya.
“Alzheimer? Peyakit seperti apa itu?”
Perlahan Fauzi mulai bercerita tentang penyakit seperti apa Alzhheimer itu, penyakit yang tengah menelan sedikit demi sedikit ingatan istrinya, termasuk kenangan mereka yang paling bergharga pun akan Salwa lupakan.
Karin tercengang mendengarnya, ia tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. lebih tepatnya, dia tidak pernah tahu sebelumnya kalau penyakit yang di sebut Alzheimer itu ada, dan menelan penderitanya dengan sangat buas.
Fauzi yang bercerita dengan rasa sakit yang menyayat hatinya, dan Karin yang mendengarkan secara saksama dengan sesekali terbesit ketidakpercayaannya.
__ADS_1
Fauzi menghela nafas panjang tatkala ia menutup pembahasannya mengenai Azheimer. Dahinya di usap pelan sembari berusaha menenangkan perasaannya.
“Karin, tolong mengerti kalau semisal Salwa menanyakan hal-hal aneh atau mungkin melakukan hal-hal aneh nantinya. Salwa sekarang bukan hanya kehillangan ingatan-ingatan tertentu dalam kepalanya, dia juga perlahan kehilangan kemampuan bertahan hidupnya yang lain”
Karin mengangguk. “Ya, aku akan mengerti. Aku turut prihatin dengan apa yang menimpa Salwa saat ini. Aku berharap, dia segera sembuh”
Fauzi menggeleng pelan, membuat Karin tidak mengerti dengan jawaban isyarat penolakan yang Fauzi berikan.
“Aku juga tidak ingin percaya ini, dan sampai sekarangpun aku masih mengusahakan kesembuhan Salwa. Namun dokter bilang, Alzheimer tidak memiliki obat”
“Tidak punya obat???” Tanya Karin lebih terkejut lagi dibandingkan saat ia tahu tentang penyakit yang tengah di derita Salwa. “I-itu berarti??”
“Aku tidak ingin percaya, aku masih berharap Salwa bisa di sembuhkan. Meski aku tetap berusaha menyiapkan diriku untuk menerima kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi”
Karin tidak lagi bisa mengatakan apa-apa. Fakta yang baru saja diketahuinya benar-benar membuatnya terkejut.
Fauzi melirik jam digital yang tertera pada ponselnya. Sudah hampir 10 menit Salwa tidak juga keluar dari toilet, membuat Fauzi menjadi khawatir.
Fauzi terus-teruskan melayangkan pandangannya ke arah pintu masuk menunggu Salwa keluar dari sana. Karin yang melihat Fauzi dengan pandangan yang tidak lepas, mengikuti arah pandangan Fauzi.
“Kenapa?” Tanya Karin.
“Sudah sepuluh menit Salwa masuk ke toilet, dan belum keluar juga sampai sekarang” Jawab Fauzi tanpa mengalihkan pandangannya.
“Mau aku susulin?”
Spontan Fauzi berbalik menatap Karin. “Kamu bisa?”
Respon spontan Fauzi itu, makin memperjelas bagaimana dia yang sangat mengkhawatirkan Salwa, membuat rasa iri Karin tumbuh makin subur.
Karin hanya mengangguk.
“Makasih Karin. Aku sudah khawatir sekali sama Salwa, tapi aku juga gak bisa susulin dia masuk ke toilet perempuan. Aku khawatir terjadi sesuatu sama dia”
Karin beranjak dari duduknya, berjalan menuju toilet untuk mengecek keadaan Salwa.
Makin kuat rasa cemburu yang Karin miliki, rasa iri makin meledak-ledak dan rasa ingin memiliki Fauzi semakin menjadi-jadi. Namun lagi, Karin menyadarkan dirinya akan status Fauzi sebagai suami orang.
“Salwa..” panggil Karin pelan, tidak ingin menganggu pengguna toilet lainnya.
__ADS_1
Karin mendapati Salwa tengah berdiri di depan wastafel dengan cermin di depannya. Perempuan yang membuatnya iri setengah mati itu, tengah memandangi dirinya di cermin dengan ekspresi bingung.
“Salwa, kamu kenapa??”