
Farhan membanting stir memutar arah mobilnya dan melaju dengan cepat menerobos hujan setelah mendapat telfon dari Fauzi.
"Salwa ini kenapa bisa di jalan hujan-hujan? Nih bocah satu juga, pacarnya lagi di jalan hujan-hujannya bukannya di jemput lah malah nelfon gue.." Gerutu Farhan.
Tidak cukup lama, Farhan akhirnya menemukan Salwa. Dengan cepat Farhan berlari menghampiri Salwa yang tergeletak di pinggir jalan.
"Salwaa.. Apa yang kamu lakukan disini?? Ayo Bangun.." Farhan mengangkat Salwa yang entah sudah sejak kapan tergeletak di pinggir jalan dibawah derasnya guyuran hujan, tangan dan seluruh tubuh Salwa menjadi dingin.
Salwa terus-terusan menangis, Farhan kebingungan melihatnya dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Tenang.. Ada aku disini.." Kata Farhan memeluk Salwa mencoba memberinya rasa tenang.
"Ka kak Farhan???" Tanya Salwa terbata-bata mencoba memastikan siapa yang ada didepannya sekarang.
"Iya.. Ini aku, jadi tenanglah.."
Salwa terus-terusan menangis sampai terbatuk-batuk. Farhan tidak tahu harus melakukan apa, dia juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.
"Kak.. Fa Fauzi.. Fauzi dengan perempuan lain kak.. Fa Fauzi.. hu hu hu" Kata Salwa terbata-bata dan kesulitan mengambil nafas dengan terus-terusan menangis, airmatanya bercampur dengan air hujan.
"APA?? PEREMPUAN LAIN???" Farhan sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Salwa, namun dia tetap terlihat tenang. Salwa hanya akan semakin terluka jika dia memperlihatkan betapa terkejutnya dia. Farhan tidak bertanya lebih lanjut, yang dia inginkan hanya membuat Salwa tenang dulu sekarang.
"Jangan pikirkan itu.." Farhan masih berusaha menenangkan Salwa.
"Kak.. perasaanku.. hikss.. hatiku.. saa..sakit sekali kak.. hikss.." Salwa terus-terusan menangis.
Farhan yang melihat Salwa seterluka itu menjadi kesal, marah dan ikut larut dalam perasaan Salwa. "Bagaimana bisa Fauzi bareng sama cewek lain sekarang?? Dan dia bukannya ngejemput Salwa disini malah minta aku yang ngejemput pacarnya?? Kali ini Fauzi keterlalun.." Pikir Farhan yang mulai emosi karena tidak tahan melihat perempuan yang dicintainya menangis karena perlakuan buruk dari laki-laki lain meskipun itu sahabatnya.
Farhan tidak tahan lagi melihat Salwa yang seperti itu.
"Salwa.. Jadi pacarku oke?? Aku selalu mencintaimu dan akan selalu mencintaimu, aku tidak akan membuatmu menangis seperti ini, aku tidak akan membiarkan perasaanmu terluka.."
Farhan tidak lagi memikirkan tentang siapa Salwa dan apa hubungannya dengan Fauzi yang sahabatnya. Yang dia pikirkan sekarang bagaimana cara menjaga perempuan yang dicintainya ini. Perasaannya benar-benar sakit melihat Salwa terluka seperti sekarang ini. Selama ini dia menahan perasaannya dari Salwa karena selalu berfikir bahwa Fauzi bisa menjaga Salwa, bahwa Fauzi jauh lebih baik dari dirinya dalam mencintai Salwa, namun hari ini melihat Salwa yang menangis sampai tak berdaya seperti ini membuat Farhan tidak lagi yakin bahwa Fauzi adalah laki-laki yang baik buat Salwa.
__ADS_1
"Beri aku kesempatan sekali ini saja untuk bisa membuat kamu bahagia dan melupakan semua rasa sakitmu saat ini. Aku akan berusaha terus membuatmu bahagia" Farhan berusaha meyakinkan Salwa.
Farhan menatap Salwa menunggu jawaban Salwa, Salwa yang sedari tadi menangis hanya diam menatap Farhan sejenak lalu..
"Hu hu hu kak..." Salwa menghambur memeluk Farhan.
"Tenanglah Salwa ada aku bersamamu.." Kata Farhan balik memeluk Salwa dengan erat. "Karena kamu sudah memberiku kesempatan ini, aku tidak akan menyia-nyiakannya dan tidak akan melepasmu lagi.."
Meski Farhan sudah memeluk Salwa dengan erat, Salwa tetap saja menangis. Farhan dengan segala upayanya membujuk Salwa untuk pulang, Farhan bahkan harus menggendong Salwa ke mobil karena tubuhnya yang sudah sangat lemah bahkan untuk berjalanpun sudah tidak bisa. Farhan mengantar Salwa pulang, dia sangat khawatir mengingat saat ini Salwa tinggal sendiri tapi Farhan juga tidak ada pilihan lain, Farhan tidak mungkin tinggal untuk menemani Salwa dirumahnya, Farhan menawarkan untuk membawa Nina kerumahnya namun Salwa menolak.
.
.
.
Sementara itu, Fauzi baru tiba dirumahnya dan dalam keadaan basah kuyup.
"Cuman main Bu.." Jawab Fauzi mencoba tersenyum, Fauzi tidak ingin membuat Ibunya khawatir.
"Ya sudah sana makan, Ibu sudah masakan sayur tettu seperti yang kamu minta..."
"Fauzi gak lapar Bu??"
"Gak lapar apanya, kamu kan baru pulang Nak.."
"Nanti saja Bu, aku kekamar dulu ganti baju.."
"Ya sudah sana.."
Fauzi melangkah menuju kamarnya, namun bukannya langsung mengganti pakaian Fauzi lebih dulu mengambil ponselnya dan menchargernya, dia ingin menjelaskan semuanya dengan cepat pada Salwa.
Fauzi mencoba menghubungi Salwa berkali-kali tapi tetap saja nomor Salwa tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Kenapa ini? Kenapa nomornya gak bisa dihubungi??" Kata Fauzi dengan terus-terusan mencoba menghubungi nomor Salwa. "Apa Salwa memblokir nomorku??"
Fauzi dengan cepat keluar.
"Mau kemana sayang??" Tanya Ibunya yang melihat Fauzi keluar rumah dengan terburu-buru.
"Beli kartu Bu.."
"Beli kartu jam begini? Hujan-hujan begini? Apa gak bisa besok saja??"
"Gak bisa Bu.."
"Tapi sayang.."
"Fauzi berangkat dulu Bu.." Kata Fauzi tanpa menghiraukan perkataan Ibunya.
Benar apa yang dipikirkan Fauzi, setelah mengganti nomor ponselnya dengan yang baru akhirnya panggilannya ke Salwa bisa terhubung, meski tetap saja Salwa tidak menjawab panggilannya.
"Salwa, angkat telfonku.. Bagaimana keadaanmu sekarang??" Fauzi semakin khawatir.
Fauzi melirik jam, sudah pukul sebelas malam. "Mungkin Salwa udah tidur"
Meski Fauzi mencoba berpositive thinking dengan menganggap Salwa sudah tertidur, tetap saja dia terus-terusan menghubungi Salwa dengan nomor barunya. Beberapa pesan singkat sudah dikirim juga oleh Fauzi namun tidak ada respon dari Salwa. Bukan hanya panggilan, Fauzi juga memenuhi notifikasi di ponsel Salwa dengan pesannya yang beruntun.
Fauzi yang terus-terusan gelisah, dia akhirnya berhenti menghubungi Salwa. "Ya Salwa pasti sudah tidur sekarang jadi dia gak ngangkat telfonku" Kata Fauzi mencoba berpikiran positif.
Semalam Fauzi terjaga, karena pikirannya yang tidak tenang dan perasaannya yang tidak karu-karuan membuatnya sulit tertidur. Fauzi terus-terusan menatap jam, berharap pagi cepat datang dan menunggu Salwa terbangun agar bisa menjawab atau setidaknya membaca pesan singkat yang dikirimnya.
Fauzi benar-benar menunggu waktu hingga pagi tanpa tertidur sekejap pun. Fauzi kembali menelfon Salwa berharap kali ini Salwa akan menjawab panggilannya.
"Salwa.. Tolong angkat telfonku, aku punya banyak hal yang harus aku jelaskan sama kamu sayang.." Pesan singkat yang dikirim Fauzi, tapi lagi-lagi selain telfon yang tidak diangkat pesan yang dikirimnya pun tidak ada respon dari Salwa. Fauzi terus menghubungi Salwa sampai akhirnya, nomor Salwa tidak bisa dia hubungi lagi, "Salwa ngeblokir nomorku lagi.." Kata Fauzi dengan perasaannya yang hancur.
__ADS_1