
Waktu berlalu dengan cepat, hari ini adalah hari terkhir untuk ujian disemester ganjil tahun ini.
Kurang lebih sekitar tiga bulan yang lalu, hubunganku dengan Fauzi sedang berada diujung tanduk meski pada akhirnya bisa membaik seperti saat ini. Meski antara aku dan Fauzi baik-baik saja seperti ini tapi ada hal lain yang sebenarnya sedikit sulit dikatakan baik. Ya, adanya Farhan dalam hubungan kami.
Aku masih ingat bagaimana Farhan datang dan memintaku menjadi kekasihnya waktu itu dan dengan cerobohnya aku memeluknya seolah mengiyakan permintaannya meskipun aku tidak bermaksud begitu. Karena itu, Farhan salah mengartikan dan menganggap aku adalah kekasihnya saat itu, sampai sekarang. Ya aku sadar hal ini salah, menjalin hubungan khusus dengan Farhan sedangkan aku masih juga dengan Fauzi. Aku sudah mencoba mengakhiri kesalahpahaman Farhan tentang hubunganku dengannya, tapi tidak ada hasil yang baik malah semakin menjadi-jadi saja hubunganku dengan Farhan. Ya, aku sedang berselingkuh sedang dalam cinta segitiga yang sebenarnya akupun tidak menginginkannya.
Hari-hari berlalu, aku terus-terusan selingkuh dibelakang Fauzi. Awalnya aku sangat resah, takut dan gelisah. Aku merasa sangat tidak nyaman, aku takut Fauzi akan tau dan pastinya itu membuatnya sangat terluka. saat dia tau hubunganku dengan Farhan maka dia akan kehilangan dua orang sekaligus, aku kekasihnya dan Farhan sahabatnya. Aku tidak menginginkan itu, aku sudah menyampaikan ketakutanku itu pada Farhan, namun Farhan sangat meyakinkanku bahwa Fauzi tidak akan tau dan tidak akan pernah tau.
Benar saja, sudah sekitar tiga bulan hubunganku dengan Farhan dan Fauzi benar masih tidak mengetahuinya. Farhan benar-benar menjaga jarak denganku ketika ada Fauzi. Tapi aku dan Farhan tidak ketahuan bukan semata-semata karena kami pandai menyembunyikannya, tapi karena Fauzi yang memiliki kepercayaan besar pada aku kekasihnya dan Farhan sahabatnya. Aku sangat merasa berdosa rasanya.
AKu yang awalnya takut ketahuan lama-lama menjadi terbiasa setelah beberapa kali kami kepergok tapi dengan alaminya Farhan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan dengan kepercayaan Fauzi pada kami sehingga kami tidak ketahuan. Sadar akan hal itu membuat rasa khwatirku menjadi hilang dan mulai terbiasa dengan hubungan yang rumit ini. Sesekali kami jalan bertiga kadang juga aku jalan berdua dengan Fauzi dan ada waktu aku jalan sama Farhan tanpa diketahui Fauzi. Terkadang juga aku izin sama Fauzi untuk pergi dengan Farhan dengan ribuan alasan yang membuat Fauzi tidak akan curiga. Aku menikmati waktuku sebagai wanita yang buruk yang berselingkuh. sesekali aku mengutuk diriku sendiri namun dengan sifat pengecut dan munafikku aku masih juga tidak bisa memutuskan hubunganku diantara salah satu dari mereka. AKu selalu bersembunyi dibalik kata-kata "Keadaan yang membuatnya seperti ini" Yah, aku wanita yang buruk.
Semenjak kejadian itu, Fauzi berhenti memotret. Fauzi meluangkan waktunya untukku dan belajarnya. Fauzi pernah bilang "Aku hampir kehilangan kamu karena ketidakmampuanku membuatmu nyaman dengan waktuku, dan itu tidak akan terjadi lagi" dan semenjak itu Fauzi selalu ada ketika aku butuh. Dia menghentikan semua aktifitas memotretnya, aku tidak tau tentang projectnya yang sedang berjalan waktu itu, apa dia langsung berhenti atau sudah selesai atau dia meninggalkan project itu begitu saja. Tapi aku rasa Fauzi tidak akan meninggalkan project itu begitu saja mengingat Fauzi orang yang cukup bertanggung jawab, aku tidak tau konsekuensi apa yang dia dapat dengan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. AKu juga tidak ingin membahasnya, cukup menyebalkan saja ketika kuingat.
Tapi meski Fauzi tidak lagi memotret, Fauzi masih saja sesekali sibuk meskipun ketika aku butuh dia langsung ada. Fauzi sedang sibuk mempersiapkan Ujian Nasionalnya dan belajar dengan giat. Dia memiliki target universitas yang dia tuju sehingga dia benar-benar ekstra dalam belajar, ya alasan itu juga yang terkadang aku gunakan untuk jalan dengan Farhan. Dalih-dalih tidak ingin menganggunya beljar aku meminta izin padanya agar Farhan yang menemaniku.
Berbeda dengan Fauzi, Farhan juga giat belajar untuk mempersiapkan Ujian Nasionalnya tapi tidak segiat Fauzi. Karena Farhan tidak menargetkan Universitas tertentu. Farhan tidak memprioritaskan khusus studynya saja. Farhan bermaksud kuliah sambil bekerja. Seperti yang kalian tahu, orang tua Farhan adalah pengusaha dan salah satu pemegang saham di salah satu pabrik yang ada didaerah kami sehingga jiwa-jiwa bisnis orangtuanya mengalir ke Farhan, yah seperti yang pepatah bilang "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Seperti itu lah perumpamaan Farhan, tapi tidak semua buah jatuh juga dekat dengan pohonnya, kalau buah yang jatuh pohonnya berada dipegunungan mungkin buahnya akan jatuh menggeliinding kebawa, kembali lagi ke faktor lingkungan.
Bel sekolah berbunyi menandakan berakhirnya waktu ujian. Sebagian siswa berhambur keluar kelas sebagiannya lagi masih saja sibuk membahas soal ujian tadi. "Kenapa harus dibahas lagi coba? toh sudah berlalu" Pikirku sambil mengecek laci meja memastikan tidak ada barang yang terlupakan sebelum pulang, tapi sepertinya membahas kembali soal ujian saat ujian telah berakhir merupakan rutinitas mutlak beberapa siswa.
Aku berjalan keluar menuju kelas Fauzi. Seblum masuk ujian jam terkahir tadi Fauzi mengirimkan pesan singkat untuk melihatnya kekelas sebelum pulang sekolah.
__ADS_1
"Cari Fauzi?" Tanya teman sekelasnya ketika ku tiba depan kelasnya.
"Eh iya kak.." Jawabku tersenyum.
"Ozi.. cewek Lu nih.." Panggilnya.
"Ah bentar-bentar.." Jawab Fauzi dari dalam kelas.
Aku menunggu sebentar sambil bersandar dan memainkan ponselku. Satu notif pesan masuk dari Farhan.
"Ada Janji ketemu sama Fauzi hari ini?"
"Gak ada, cuman Fauzi ngajak ketemu.. " Balasku..
"Ah, gak.. Cuman chat dari Nina.. "Jawabku berbohong. "Kenapa? kok minta aku kesini?"
"Lah gak boleh? Ya kan searah juga sebelum pulang.."
"Ya gak, kan biasanya yang jemput ke kelas kan kamu.."
"Sekali-kali kamu kan gak papa.." Jawabnya cengengesan.
__ADS_1
"Cihhh.." Jawabku sambil tersenyum tipis.
"Yaudah ayo balik.." Katanya menarik tanganku dan langsung berbalik.
"Eh.." Refleks Fauzi yang hampir menabrak Farhan yang baru saja keluar dari kelas.
"Liat-liat napa bung.." Tegur Farhan
"Haha.. Maap, maap lagi buru-buru soalnya.."
"Mau kemana?" Tanya Fahan sambil melirkku, aku diam saja.
"Gak, ngajak jalan Salwa aja mumpung ujian udah selesai. Lagian besok-besok bakalan lebih sibuk lagi buat persiapin Ujian Nasional, jadi mumpung ada waktu ya jalan dulu.."
"Oh gitu.."
"Yaps, jangan minta ikut Lu.."
"Gak niat juga gue jadi obat nyamuk.. yaudah Gue diluan deh.. selamat bersenangp-senang.." Kata Farhan melirikku lalu berlalu. Aku hanya melihatnya berjalan menjauh dariku dan Fauzi
Seperti hari ini, hari-hari sebelumnya pun Farhan selalu menghindar ketika aku sedang bersama Fauzi kecuali jika Fauzi memiintanya untuk ikut dengan kami. Ya meskipun Farhan seperti tidka ada respon melihatku pergi dengan Fauzi, tapi setelah pulang nanti Ponselku akan terus berdering dibuatnya, akan ada puluhan pesannya yang masuk. Mungkin itu bagian dari rasanya cemburunya yang tidak bisa dia ungkapkan.
__ADS_1
Awalnya kupikir hubungan ini terlalu sulit unutk dijalani, tapi pada akhirnya aku sudah sejauh ini yang menandakan bahwa aku benar-benar menjadi perempuan yang jahat.