
Fauzi tidak bisa menjabarkan seperti apa rasa bahagia yang sedang menyelimuti perasaannya saat ini. Hingga keluar dari rumah sakit, airmata Fauzi masih saja menetes yang membuat ia menjadi pusat perhatian beberapa orang disana.
Beberapa bulan yang lalu, saat istrinya didiagnosa menderita alzheimer, hati dan perasaan Fauzi begitu hancur. Terlebih lagi setelah ia diberitahu bahwa penderita alzheimer tidak memiliki jalan untuk sembuh. Meski Fauzi sempat putus asa, namun ia tetap saja berharap dari hari ke hari bahwa akan ada waktu nanti, dimana keajaiban datang kepadanya dengan memberikan kesembuhan pada istrinya.
Bukan hal mudah bagi Fauzi untuk menjalani hari-harinya beberapa bulan terakhir ini. Keadaan Salwa yang semakin hari semakin memburuk membuatnya terus merasakan sakit yang luarbiasa. Keadaan istrinya terus mengingatkannya akan ketidakmungkinan bagi dirinya untuk bisa melihat Salwa seperti yang dulu lagi. Salwa-nya telah direnggut oleh sesuatu yang menjadi penghapus di otak istrinya.
Meski keadaan istrinya memburuk, tidak sekalipun Fauzi beranjak meninggalkan istrinya. Jangankan beranjak, berniat untuk melangkah menjauh saja, tidak pernah terlintas di pikirannya. Bagi Fauzi, bisa melihat Salwa setiap harinya saja, itu sudah bisa memberinya kehidupan.
Keajaiban yang datang padanya hari ini, seolah buah yang ia petik dari ketulusan, kesabaran dan cinta luarbiasa yang ia tuangkan pada istrinya selama ini. Tentu saja, itu semakin memupuk cinta Fauzi yang kian meluap-luap saat ini.
Ya, keajaiban yang selalu Fauzi harapkan dan semogakan, kini telah datang.
Tidak banyak obrolan yang terjadi diantara Fauzi dan Salwa selama perjalanan pulang. Fauzi terus mengurusi airmatanya yang entah mengapa tidak bisa berhenti mengalir, meski sudah ia seka-seka berkali-kali. Fauzi tidak membahas hal lain, selain mengungkapkan berkali-kali, bagaimana dia merasa sangat bahagia hari ini karena kesembuhan istrinya.
Namun dibalik kebahagiaan yang Fauzi rasakan saat in, sejenak tersilap rasa khawatir. Salwa tampak diam, membuat Fauzi bertanya perihal hal lain, selain ungkapan kebahagiaan yang sedari tadi dia ucapkan.
“Sayang, kamu kenapa? Perasaan dari tadi diam terus?” Tanya Fauzi saat mereka tiba dirumah.
Salwa hanya menoleh sejenak, memperlihatkan senyumnya yang terlihat canggung. Jelas ada sesuatu yang tengah menganggu pikirannya saat ini.
“Gak apa” Jawab Salwa tersenyum yang kemudian beranjak keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Fauzi semakin merasakan keanehan pada istrinya. Karena jika ia tidak salah mengingat, Salwa sudah sedikit aneh sedari mereka keluar dari ruangan dokter tadi. Namun rasa bahagia yang dia rasakan saat ini, cukup membuatnya mudah mengabaikan keanehan pada Salwa.
Fauzi menyusul masuk, dan mendapati Salwa berdiri memandangi beberapa stick note yang menempel pada dinding rumah mereka.
“Kenapa sayang?” Tanya Fauzi menghampiri. Jelas terlihat, mata yang berkaca-kaca dari istrinya itu. “Ah.. Ini sudah harus di lepas ya..” Fauzi mulai melepas satu persatu stick note yang masih menempel rapi di dinding rumah mereka. “Kamu sudah gak butuh ini lagi sekarang” Kata Fauzi tersenyum. “Kamu sudah mengingat semuanya”
Salwa terdiam sejenak, matanya yang sedari tadi terarah pada kumpulan sticky note yang berhias di dinding rumahnya, kini teralihkan dan menunduk dengan dalam.
“Maafkan aku..” Kata Salwa dengan airmata yang mulai menetes. Dia tertunduk dalam seperti tengah menyesali sesuatu.
__ADS_1
“Maaf untuk apa sayang? Kamu kenapa?” Tanya Fauzi khawatir dan bingung.
“A-aku pernah seperti itu, aku pernah dalam keadaan itu” Kata Salwa dengan tangis yang mulai pecah.
“Pernah seperti apa sayang? Hey kamu kenapa??”
Salwa mengangkat wajahnya, memandangi wajah Fauzi sejenak dan perlahan memegangi wajah mulus milik suaminya.
“A-aku.. Aku pernah lupa sama wajah ini, wajah ini pernah hilang dari ingatanku, dan aku.. aku...” Salwa tidak lagi bisa melanjutkan apa yang dia katakan, tangisnya yang sudah pecah membuatnya sulit berkata-kata lagi.
Fauzi menarik Salwa dalam pelukannya, mendekap erat istrinya yang kini dibanjiri airmata.
“Jangan dipikirkan, itu sudah berlalu sayang. Yang aku tahu sekarang, kamu sudah pulang dan ingatanmu tentangku sudah ada lagi. Salwaku sudah kembali, dan itu adalah segala-galanya”
“Ma-maafkan aku, aku pasti nyusahin kamu kemarin. Aku lupa dan tidak bisa ngurus diriku sendiri, aku ngebuat kamu repot dan ngebuat perasaanmu sakit. Aku ngelihat kamu seperti orang lain padahal kamu adalah suamiku, orang yang sangat mencintai aku. Maafkan aku..”
“Sudah sayang, sudah.. Kenapa kamu jadi mikirin hal itu sih? Kan aku bilang itu sudah berlalu. Aku sendiri gak pernah sekalipun ngerasa repot selama ngelewatin waktu sama kamu. Seperti apapun keadaanmu, itu tetap bisa membuatku bahagia. Asal ada kamu, itu sudah cukup” Fauzi berusaha menenangkan istrinya, meski ia sendiri sulit mengendalikan airmatanya yang kembali tumpah.
“Makasih sayang, aku juga mencintaimu Salwa”
Tangis yang sama-sama tidak bisa mereka hentikan itu, membuat keduanya terus larut dalam airmata dengan pelukan yang semakin erat. Fauzi tengah berusaha menenangkan istrinya yang terus-terusan merasa bersalah akibat apa yang dideritanya beberapa bulan terakhir ini.
Aku senang denganmu yang sudah pulang sayang, dan aku tidak peduli kalau sebelumnya ingatanmu itu pernah beranjak melupakanku. Hari ini dan seterusnya, aku akan tetap menjagamu seperti hari-hari kemarin.
.
.
.
.
__ADS_1
Meski tidak ada yang menarik diluaran sana, namun Faiq masih saja tetap mengarahkan pandangannya keluar. Tatapan kosong yang terpancar dari matanya, memperlihatkan bagaimana pikirannya yang tengah berkelana tak tentu arah saat ini.
Dering ponsel Faiq, menyadarkan dia dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Hari ini, apa kita bisa ketemu?”
“Siapa?” Gumam Faiq.
Nomor tak dikenal, dengan pesan yang tanpa pengenal itu membuat Faiq harus berpikir sejenak.
“Siapa?” Balas Faiq.
“Ah, maaf. Aku Sasa”
Eskpresi bingung yang tadinya terlihat di wajah Faiq, seketika berubah setelah mengetahui siapa pengirim pesan dari nomor tak dikenal itu. Pesan yang sudah dia nantikan selama ini.
Rasa tak sabar membuat Faiq dengan cepat memanggil nomor pengirim pesan yang dia ketahui adalah Sasa. Namun sepertinya, nomor itu hanya bisa ia gunakan untuk mengirim pesan saja tanpa bisa ia hubungi.
“Ah tidak apa, toh bakal ketemu” Gumam Faiq dengan wajah sumringah.
“Oke, ketemu dimana? Kapan? Jam berapa?” Tanya Faiq beruntun, memperlihatkan bagaimana dia yang begitu antusias untuk bertemu dengan Sasa.
“Hari ini bisa?”
“Tentu. Dimana? Jam berapa?”
“Aku akan kirim lokasinya nanti”
Faiq yang begitu bersemangat, dengan cepat meraih jas yang sebelumnya ia lepas dan letakkan diatas sofa yang berada dalam ruang kerjanya.
“Aku akan ketemu Sasa. Ini adalah awal untuk aku memulai yang baru” Gumam Faiq penuh semangat.
__ADS_1