
Kelas terkahir di siang hari. Ah aku rasa dibanding ilmu yang aku dapatkan lebih
banyak lagi dosa yang aku dapatkan. Entah mengapa penjelasan Ibu guru terdengar
seperti cerita dongeng yang membuatku mengantuk. Sesekali aku melirik
teman-temanku, seperti mereka juga merasakan apa yang kurasa, yah... Rasa
ngantuk berjamaah, hanya beberapa saja teman-teman yang masih fokus. Apa yang
mereka makan sehingga rasa kantuk tidak menghampirinya di jam-jam pelajaran
seperti ini.
"Yah, sekian pelajaran hari ini. Tolong kalian ulang-ulangi lagi
pelajarannya dirumah, sebentar lagi ujian semester ganjil akan dimulai. Jangan
sampai kalian keteteran belajarnya, hasilnya tidak akan baik pada ujian kalian
nantinya"
"Iyaa buu..." Seru kami serempak.
"Selamat
siang.." Kata Ibu guru sambil melangkah keluar kelas..
Hoaaaammmmm..... Aku menguap besar sambil meregangkan otot-otot tubuhku yang
serasa kaku. Hahh.. Sudah kayak orang tua saja, umur belasan tahun, kekuatan
tulang sudah seperti puluhan tahun.
"Ibu pasti kurang memberiku susu Formula sewaktu kecil, sampai
tulang-tulangku serasa rapuh begini" Pikirku mengoceh.
Tingtong...
Satu pesan diterima dari Farhan.
"Jadi gak?"
Ah iya, sepulang ini aku janjian dengan Farhan ketoko buku bersama.
"Iya jadi kak.." balasku
"Yaudah aku tunggu depan gerbang"
"Oke"..
Aku merapikan mejaku, memberes-bereskan barang-barangku dan tidak lupa mengecek
laci mejaku untuk memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal.
Aku berlari kecil keluar kelas menuju gerbang.
"kak..." panggilku ketika melihat Farhan berdiri sambil bersandar di
tembok pagar sekolah.
Farhan menoleh dan tersenyum.
"Gausah lari-lari neng, lagian gak ada yang ngejar juga"
Kata Farhan melihatku berlari kecil kearahnya.
Aku hanya tersenyum.
"Yaudah ayo.." Kata Farhan melangkah diikuti dengan langkahku.
Toko buku yang kami tuju tidak jauh dari sekolah, sehingga cukup berjalan kaki
saja untuk sampai.
Farhan membuka pintu toko dan mempersilahkan aku masuk duluan.
Hal sederhana yang seperti ini yang membuat kita menjadi lebih nyaman ketika
sedang jalan dengan seseorang.
Aku berjalan
menuju rak buku Mipa, ada beberapa tugas yang membutuhkan buku lain selain buku
paket yang disediakan dari sekolah untuk menemukan jawabannya.
Ckck.. Tinggi sekali..
Aku sampai jinjit-jinjit sambil berlompat kecil untuk meraih buku di rak kedua
dari atas.
"Minta tolong nengg.." Kata Farhan yang seketika sudah ada
__ADS_1
dibelakangku membantuku meraih buku yang kubutuhkan.
Spontan aku berbalik
"Ya kan tadi aku gak ngeliat ka..."
Kata-kataku terhenti, aku tidak menyadari betapa dekatnya aku dengan Farhan.
Aku sempat sedikit mengdongkak melihat wajah Farhan yang sedang fokus mengambil
buku yang aku inginkan. Terlihat sangat kharismatik garis wajahnya.
Aku mengalihkan pandanganku dan bergeser kesamping sedikit menjauh dari Farhan.
Aku tertunduk, ah ada apa yang barusan? mengapa rasanya jadi seperti ini?
Membuatku gugup saja.
Sepertinya tingkah gugupku tidak bisa kusembunyikan dan terlihat aneh.
"Kenapa?" Tanya Farhan yang melihatku seperti orang kebingungan.
"Gak.." Jawabku nyegir. "Aku kira Fauzi aja yang ketinggian
selama ini, ternyata aku yang kependekkan hehehe" Lanjutku mencoba menghilangkan
kegugupanku.
Farhan meletakkan buku dikepalaku.
"Standar kok untuk ukuran cewek, gak pendek-pendek banget" Jawabnya
sambil menatapku.
"Oh, hehe gitu yaa.." kataku mengalihkan pandanganku.
"Cuman buku itu?" Tanyanya.
"Hemm.. Rencananya sih cuman buku ini, tapi tadi pas jalan menuju rak ini
aku ngelewatin rak buku yangg..."
"Yang ada BTSnya?" Katanya memotong pembicaraanku.
"Eh..?" Aku terkejut mendengar Farhan tau tengtang apa yang aku
maksud.
"Kok kakak tau" Tanyaku bingung.
"Tau dari mana? Aku gak pernah cerita perasaan"
"Ya dari mana-mana saja.. Yaudah sana cari bukunya, aku mau nyari buku
juga"
"Kakak tau dari mana??" Tanyaku mendesak dengan penuh rasa penasaran.
"Yah pokoknya aku tau aja.. Udah ya, aku kesana dulu entar aku susulin
kamu ke rak buku itu" katanya sambil berjalan
"Kak..." Panggilku. Farhan hanya terus berjalan.
"Apa aku pernah cerita??" Aku mencoba mengingat-ingat. "Ah
perasaan gak, aku juga gak pernah ngebahas itu di sekolah, aku juga gak
berteman sama Farhan di media sosial manapun" Kataku terus berpikir sambil
berjalan menuju rak buku yang ingin aku tuju.
Aku memilah-milah beberapa kumpulan buku yang bertemakan idolaku. Ah.. rasanya ingin kubeli semua
saja, sayangnya aku tidak memiliki cukup uang tabungan untuk memilikinya, hal
seperti ini juga bukan sesuatu yang dengan enteng aku beli hanya dengan meminta
uang ke Ibu. Aku tahu, Ibu pasti memberiku uang jika aku meminta, hanya saja
rasanya aku tidak enak jika meminta uang hanya untuk memuaskan rasa sukaku pada
idolaku.
Yah.. aku
harus menabung lagi jika ingin menambah koleksi buku dan merchandise yang
bertemakan idolaku.
“Udah?” tanya Farhan yang seketika muncul dibelakangku dan membuatku terkejut.
“Bagusan yang mana kak?” Tanyaku sambil memperlihatkan dua buku.
“Kamu bukannya suka sama yang ini ya?” katanya sambil menunjuk buku dengan sampul
__ADS_1
foto biasku (Idola utama dalam grup)
Aku menyerengit..
“Kakak tahu darimana kalau aku suka yang ini?” Tanyaku penasaran
“Cuman tau aja..”
“Kakak ngestalk aku ya?”
“jiahh..
pede begitu? Emang aku orang kurang kerjaan apa, sampai mau ngestalk kamu?”
katanya sambil menepuk jidatku.
“Auu... sakitt..” kataku sambil mengelus-elus jidatku.
“yaudah ayo
bayar” katanya sambil menarikku. Aku mengikut saja.
**
Cuaca seolah
bersahabat denganku, awan-awan seolah menolongku dengan menghalagi matahari
sehingga terik raja tatasurya tidak menyiksaku dengan panasnya. Aku jalan beriringan
dengan Farhan kembali menuju sekolah mengingat sepedaku kutinggal disekolah
tadi.
“Makanan gratisan emang enak ya..” Kata Farhan berjalan sambil memakan kebab turki yang
masih hangat.
“Cuman kebab turki doang” Timpalku
“Air mineral aja kalau gratis juga enak”
Aku menoleh
melihatnya.
“Kenapa?” tanyanya bingung melihatku menatapnya.
“Segitu sukanya ya sama gratisan?”
“Haha gak juga, cuman kalau gratisan dari Salwa ada manis-manisnya gitu..”
“Dikata Leemineral apa..”
“Hahahaha maybe” katanya tertawa sampai membuat mata kecilnya makin mengecil.
Aku hanya tersenyum melihatnya.
Saking asyiknya
mengobrol sambil memakan kebab turki, aku sampai tidak sadar berjalan kaki diluar
trotoar.
“Salwa
awas....” Seru Farhan seketika menarikku.
Aku terjatuh,
Kebab turki yang sedari tadi kumakan jatuh berserakan dijalan.
Seorang pengendara
motor dengan kecepatan tinggi hampir saja menyerempetku. Untung saja ada Farhan
yang menarikku sehingga aku terhindar dari bahaya.
“Sa.. Salwa kamu gak papa?”
“Eh.. aku..”
Aku terkejut, aku terjatuh menimpa Farhan yang menarikku.
Secara tidak sengaja kami jadi saling bertatapan dalam posisi yang tidak baik. Kutatap lekat
wajah Oval milik Farhan, kulit yang putih dengan mata yang kecil. Entah ini rasa
kagum atau rasa yang lainnya yang tidak bisa aku jelaskan, yang jelas aku
menjadi sedikit terbawa perasaan menatap Farhan seperti ini, dengan jarak yang
dekat.
__ADS_1