Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (6)


__ADS_3

Hari-hari berlalu, pertemuan mereka semakin sering dengan durasi yang meningkat menjadi lebih lama. Dinding pembatas yang sebelumnya Faiq ciptakan dengan menjadikan Sasa penguatnya, perlahan runtuh meski tidak sepenuhnya hilang.


Hal yang demikian juga masih dirasakan Karin. Laki-laki yang menjadi teman menuangkan ide, pikiran dan perasaan itu, perlahan bisa lebih terbuka dengannya namun sesekali masih menolak Karin untuk masuk lebih jauh dalam lingkup kehidupannya. Hal yang bisa Karin mengerti, mengingat keduanya saling mengenal belum beberapa lama.


Faiq yang biasanya bersikap amat tegas pada pekerjaan, kini mulai lebih santai, juga obsesinya yang dulu membara-bara yang disertai dengan emosi yang meledak-ledak jika menemui jalan yang sedikit sulit untuk meraih apa yang dia inginkan, sekarang menjadi lebih terkontrol. Perubahan Faiq yang jelas terlihat meski tidak signifikan itu, membuat Ayahnya kembali berpikiran untuk campur tangan dalam kehidupan pribadi putra tunggalnya.


Ketukan pelan pada pintu menyentuh gendang telinganya, Faiq menoleh hingga pintu setinggi kurang lebih 4 meter itu terkuak dan terbuka pelan.


Sosok Ayahnya muncul dari balik pintu, membuat Faiq kembali fokus pada laptop dan pekerjaannya setelah tahu, siapa tamu yang berkunjung di kamarnya malam ini.


“Kamu sibuk?” Tanya Ayahnya berjalan perlahan dan duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari meja dimana Faiq tengah mengerjakan pekerjaannya.


“Setiap saat aku selalu sibuk” Jawab Faiq tanpa mengalihkan perhatiannya pada benda pipih yang canggih, di depannya.


Ayahnya hanya mengalihkan pandangnnya sejenak. Jawaban putranya yang terkesan dingin itu benar-benar membuatnya harus menyiapkan kesabaran sebelum memulai apa yang ingin dia katakan.


“Bagaimana dengan proyek baru yang sedang kamu kerjakan sekarang?” Ayahnya bertanya sesuatu hal yang sudah dia ketahui, sekedar intermezzo sebelum masuk pada pembahasan inti yang ingin dia sampaikan pada putra semata wayangnya itu.


“Gak usah basa-basi, langsung saja sama poinnya. Ayah mau bilang apa sampai datang ke kamarku malam-malam begini?”


Kelakuan Ayahnya sangat tertebak, toh ini bukan kali pertama Ayahnya melakukan intermezzo yang tidak penting menurut Faiq, sebelum dia menyampaikan maksud yang membawanya datang menghampiri putranya itu.


“Ayah lihat, akhir-akhir ini sering ketemu sama Karin. Apa kamu sedang meluncurkan rencanamu atau sedang melakukan hal lainnya”


“Kenapa Ayah mau tahu?” Tanya Faiq masih sibuk dengan pekerjaannya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya untuk mengarah pada Ayahnya, lawan bicaranya saat ini.


“Ya, Ayah hanya bertanya saja”


“Apa mau Ayah?” Faiq kembali bertanya langsung pada poinnya, ia seolah tidak ingin membiarkan Ayahnya berlama-lama berada dalam kamarnya.

__ADS_1


Ayahnya mengerti akan keberadaannya yang sepertinya tengah menganggu aktifitas putra tunggalnya itu, diapun tidak lagi berniat melanjutkan basa-basi yang sempat ia mulai sebelumnya.


“Ayah bukannya ingin mencampuri urusanmu lagi, Ayah datang cuman untuk memberimu sedikit saran dan gambaran”


Tangan Faiq yang sedari tadi sibuk bermain diatas keyboard, terhenti sejenak mendengarkan perkataan Ayahnya. Tidak cukup lama, Faiq kembali sibuk pada pekerjaannya sembari menunggu Ayahnya melanjutkan apa yang ingin dia katatakan.


“Ayah tidak tahu seperti apa perasaanmu pada Karin saat ini, tapi melihat kamu yang lebih sering tertawa dibandingkan memasang wajah dinginmu itu saat di samping Karin, membuat Ayah berpikiran kalau kalian menikmati waktu yang kalian miliki bersama. Ayah bukannya lupa kalau kamu masih mencintai wanita itu..”..


“Sasa. Namanya Sasa, bukan ‘wanita itu’ “ potong Faiq, mempertegas bahwa ia tidak senang mendengar Ayahnya memanggil Sasa dengan panggilan ‘wanita itu’


“Ah iya, maafkan Ayah karena tidak ingat dengan namanya”


Laki-laki dengan beberapa helai uban dirambutnya itu menggaruk keningnya sejenak setelah mendapat teguran dari putranya, sebuah gerakan refleks ketika ia merasa sedikit canggung setelah ditegur.


“Ayah tahu, kalau kamu masih mencintai Sasa dan tidak bisa melupakan dia begitu saja. Hanya saja, Ayah juga tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari. Ma-maksud Ayah, bukannya kamu akan menyesal kalau mencintai Sasa, cuman Ayah tidak mau kamu kehilangan Karin” Jelas Ayahnya dengan sedikit berhati-hati.


Laki-laki berumur 50 tahunan itu sudah mengerti akan putranya yang sangat senang menolak apa yang dia katakan. Seperti sebuah kebanggaan sendiri bagi putranya saat melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang dia inginkan. Sehingga dia berusaha berbicara dengan hati-hati, agar apa yang dia sampaikan tidak menyinggung atau membuat putranya itu salah beranggapan lagi.


Untuk pertama kalinya, semenjak Ayahnya berada dalam kamarnya, Faiq menoleh dan menatap langsung mata Ayahnya.


“Maksud Ayah?”


“Faiq, sudah berapa lama kamu tidak ketemu sama Sasa? Sudah berapa lama kalian tidak berkomunikasi? Apa kamu yakin kalau Sasa masih mencintaimu? Atau apa kamu yakin kalau Sasa masih sendiri sekarang? Ayah hanya tidak mau kamu terluka berat dikemudian hari karena terlalu mempertahankan perasaanmu, dan mengabaikan apa yang kamu miliki sekarang”


Ayahnya menatap dalam ke mata Faiq, berusaha menyampaikan dengan baik, maksud baik yang dia miliki. Ia berusaha menyentuh hati putranya itu dengan tatapan dan ketulusannya dalam menyampaikan sarannya, agar Faiq tidak memiliki pikiran untuk bersenang-senang menolak apa yang dikatakan Ayahnya seperti yang dia lakukan beberapa kali terakhir ini.


“Kamu pasti sadar akan keberadaan Karin saat ini. Dia perempuan yang baik, dan bisa membuatmu tertawa yang berarti kamu senang berada di sekitarnya dan nyaman saat bersamanya. Perempuan seperti Karin tidak akan datang dua kali dalam hidupmu jika kamu menyia-nyiakan dia saat ini. Tidak mudah menemukan perempuan yang bisa membuatmu merasa nyaman. Ayah tahu, kamu pun tahu hal ini”


Faiq yang sedari tadi menatap Ayahnya yang sedang memberinya wejangan itu, mengaliihkan pandangannya dan hanya terdiam. Tak satu katapun yang keluar dari bibirnya. Tak ada kata persetujuan atau penolakan seperti yang sering ia lontarkan saat mendapat saran dari Ayahnya. Sedari tadi dia hanya mendengarkan dengan baik apa yang Ayahnya katakan tanpa merespon.

__ADS_1


Ayahnya menghela nafas panjang, lalu berdiri menegakkan tubuhnya yang sedari tadi ia biarkan dalam posisi santai duduk disofa, meski apa yang dia katakan jauh dari kata santai dan terbilang cukup serius.


“Ayah hanya bisa mengatakan hal seperti ini, memberimu gambaran akan apa yang bisa kamu jadikan pilihan saat ini. Ayah tahu, kamu lebih mengenal dirimu dan lebih tahu mana yang lebih baik untuk hidupmu. Ayah hanya mengatakan apa yang menurut Ayah benar, dan berharap kamu tidak menyia-nyiakan apa yang bisa kamu peroleh dengan rasa bahagia dengan mempertahankan sesuatu yang ambigu. Semuanya, Ayah kembalikan sama kamu”


Laki-laki tua itu memberikan senyuman yang manis pada putranya, meski tatapan Faiq tidak sedang mengarah pada Ayahnya.


“Yasudah, Ayah keluar dulu. Maaf karena menyita waktumu, lanjutkan kembali pekerjaanmu”


Faiq menoleh menatap Ayahnya, sebelum langkah kaki Ayahnya beranjak keluar dari kamarnya.


Faiq terdiam sejenak, ia bukannya sedang mencerna baik apa yang dikatakan Ayahnya, melainkan pikirannya bermain sendiri tentang apa yang sudah ia lalui bersama Karin saat ini, dan kembali mengingat Sasa yang entah dimana keberadaannya sekarang.


Faiq menepis pikiran yang sempat singgah di kepalanya, dan kembali mengarahkan fokus pada pekerjaan yang sempat tertunda saat Ayahnya datang dan menyita waktunya.


Namun pikiran Faiq tidak lagi bisa kembali pada pekerjaan meski ia sudah mengambil posisi untuk memulai kembali pekerjaannya yang terhenti tadi. Kini kata-kata Ayahnya mulai bermain di pikirannya, ia menangkap kebenaran tentang apa yang dikatakan Ayahnya, namun masih sedikit ragu membenarkan seratus persen mengingat Sasa pun belum bisa lepas dari kehidupannya.


Faiq kembali mengingat tiap kata-kata yang Ayahnya katakan tadi, dan menyesuaikan dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Ya meski ia memperkuat keyakinannya pada Sasa, tapi dia tidak bisa menolak akan kehadiran Karin, yang benar telah memberikan warna baru dalam kehidupannya.


.


.


.


.


.


Maaf kalau alurnya lamban.. Aku tuntasin masalah Faiq dan Karin dulu..

__ADS_1


Makasih yang udah mampir 😘💜


__ADS_2