
Waktu berlalu dengan kesalahpahaman yang terus beranjut, kesalahpahaman yang diabaikan dan kesalahpahaman yang masih berusaha diperbaiki meski tidak ada jalan keluar. Kesalahpahaman Salwa mengenai Fira, meski Salwa masih belum tahu kebenarannya tapi Salwa siap menerima Fauzi kembali, ya alasan klasik yang dipegang Salwa, dengan sengaja tidak ingin menerima penjelasan Fauzi karena takut jika penjelasan itu hanya alasan Fauzi saja, dan kebenaran tentang Fira pada akhirnya hanya menjadi kebenaran yang tidak terungkap. Juga kesalahpahaman yang tidak memiliki penyelesaian tentang perasaan Farhan yang terus-terusan menganggap Salwa kekasihnya meski Salwa tidak berfikiran yang sama.
.
.
.
.
Farhan berjalan masuk kekamarnya, melemparkan tasnya begitu saja ditempat tidur dan berjalan dengan lusuh dan duduk didepan meja belajarnya. Pandangannya kosong, hanya pikirannya berkecamuk mengingat kejadian siang tadi.
Farhan tidak tahu tentang bagaimana hubungan Salwa dan Fauzi yang sekarang, yang dia tahu sebelumnya hubungan keduanya sedang tidak baik dan mungkin saja sudah berakhir. Farhan kebingungan melihat Salwa dan Fauzi yang nampak baik-baik saja siang tadi, dan yang lebih membingungkan lagi bagi Farhan adalah permintaan Salwa yang ingin mengakhiri hubungan mereka.
"Argghhhhh...." Farhan menjambak rambutnya sendiri berusaha menenangkan perasaannya yang tidak karu-karuan. "Kenapa kamu seperti ini ke aku Salwa??? Baru kemarin kamu nerima aku, baru kemarin aku ngerasa bahagia sekali dan hari ini kamu minta untuk menyudahi ini semua?? Apa ini mimpi????"
Farhan sangat sulit menerima permintaan Salwa untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Farhan.." Panggil Ibunya dari luar.
"Iya Ma..." Farhan berjalan membukakan pintu untuk Ibunya.
"Loh, kamu kok belum ganti baju Nak??" Tanya Ibunya kebingungan melihat Farhan yang masih menggunakan seragam sekolahnya lengkap.
"Ah, tadi aku kecapean jadi duduk-duduk dulu sebentar.."
"Ya sudah, ganti bajumu dan temui Tetta mu dibawah.."
"Kenapa?? Kenapa Tetta nyariin aku??"
"Sudah tidak usah banyak tanya, sana ganti baju. Mama tunggu dibawah.."
Farhan hanya terdiam. Ayahnya adalah orang sibuk, ya wajar saja sebagai pemilik saham di sebuah pabrik besar dan beberapa usaha lainnya, Ayah Farhan jelas sangat sibuk dan jarang sekali sekedar berbicara dengan Farhan. Selain karena sibuk, pembawaan Ayahnya yang tegas juga membuat Farhan tidak terlalu dekat dengan Ayahnya. Ya meskipun terkesan tegas dan agak keras, tapi Ayah Farhan sangat mencintai Farhan sama seperti orangtua lainnya. Apapun yang Farhan inginkan selagi itu batas wajar Ayahnya akan menuruti semuanya, maka tidak heran jika dirumah Farhan memiliki fasilitas yang lengkap termasuk Nintendo wii supreme yang biasa dia mainkan bersama Fauzi sampai berjam-jam.
Farhan berjalan masuk keruang keluarganya menemuinya Ayahnya yang sedang membaca koran dengan Ibunya yang sedang menuangkan teh hangat pada suaminya.
"Kenapa Tetta??" Tanya Farhan.
Perlahan Ayahnya melipat koran dan meletakkannya di meja.
"Bagaimana sekolahmu??"
"Baik-baik saja.."
"Baguslah.. Kegiatan eskul dan organisasi disekolah bagaimana??"
"Baik.." Jawab Farhan dengan sedikit kebingungan. Ayahnya sering bertanya tentang bagaimana pelajarannya saat Farhan meminta tanda tangan orangtua di rapornya, tapi mengenai kegiatan lainnya Ayahnya tidak pernah bertanya tentang hal itu.
"Tetta tidak tau mau ngebahas apa sama kamu, jadi Tetta langsung saja.."
Farhan hanya terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan Ayahnya selanjutnya.
"Kamu ingat pak Fatir?? Orang yang menemani kita berkeliling pabrik waktu itu.."
Farhan berusaha mengingat..
"Ah iya, kenapa?"
"Dia punya anak perempuan, Tetta bermaksud menjodohkan kamu dengan putrinya.."
JLEBBB.. "Menjodohkan?? Apa ini jaman Siti Nurbaya??" Pikir Farhan.
"Tidak mau.." Jawab Farhan singkat.
"Kenapa? Pak Fatir memilik keluarga yang baik-baik, usahanya bagus dan lagi dia memiliki marga disukunya, sama seperti kita.."
"Aku gak mau.." Jawab Farhan masih tegas menolak.
"Tetta tidak bertanya kamu mau atau tidak. Itu artinya kamu tidak punya pilihan.."
__ADS_1
"Tetta.. Farhan sudah besar, dan lagi dijaman modern seperti ini kenapa masih ada perjodohan seperti itu. Farhan tidak mau.."
"Farhan, Tetta lakukan ini demi kebaikanmu. Pak Fatir akan bicara pada putrinya juga.."
"Kalau putrinya menolak bagaimana??"
"Ya perjodohan ini tidak akan berlangsung.."
"Hehh..." Farhan mendengus membuang wajahnya.
"Farhan, siapa yang mengajarkan kamu bertingkah seperti itu didepan Tettamu nak??" Tegur Ibunya.
"Tetta, pak Fatir menanyai putrinya terlebih dahulu berarti keputusan ada pada putrinya. Apa Tetta tidak berfikir kalau nasib putra Tetta satu-satunya ini berada dikeputusan putri oranglain? Apa Tetta tidak berfikiran kalau pak Fatir tidak seserius itu menginginkan Farhan jadi menantunya.."
"Farhan, pak Fatir butuh bicara dengan putrinya dulu. Sesuka apapun dia padamu tetap saja dia butuh persetujuan putrinya??"
"Kenapa Tetta tidak belajar dari pak Fatir yang mengedepankan keinginan putrinya dari pada egonya??"
"Farhan..."
"Pokoknya Farhan tidak mau..."
"Kenapa? Apa karena kamu punya pacar???"
Farhan terdiam.
"Dilihat dari eskpresimu sepertinya punya. Berikan kontaknya pada Tetta, biar Tetta yang bicara langsung sama dia.."
"Terserah Tetta saja, jual saja anak Tetta satu-satunya ini pada keluarga yang marganya bagus.." Kata Farhan beranjak meninggalkan orangtuanya.
"Farhan mau kemana?? Tetta mu belum selesai bicara Nak.." Farhan tidak menghiraukan panggilan Ibunya. "Farhan..." Panggil Ibunya sekali lagi namun Farhan berjalan terus menuju kamarnya.
"Sudah, biarkan Farhan tenang dulu.." Cegah Ayah Farhan.
"Bagaimana ini Pah? Sepertinya Farhan tidak mau???" Tanya Ibu Farhan khawatir.
"Tapi Pah, bagaimana kalau Kakek Neneknya Farhan dengar masalah permintaan pak Fatir itu dan tahu kalau Farhan menolak. Aku tidak mau anak kita satu-satunya menjadi terasingkan seperti adikmu.."
"Nanti saja aku coba bicara dengan Farhan lagi, aku tidak terlalu dekat dengan Farhan karena terlalu sibuk bekerja sampai akhirnya Farhan seperti ini, tidak dekat denganku dan tidak mau mendengarkan perkataanku.."
"Pah, Farhan harus dibujuk..."
"Tenang Bu, lagian Kakek dan Neneknya Farhan juga belum tahu tentang permintaan pak Fatir. Kalau Farhan benar-benar menolak berarti kita yang harus bisa menutup informasi permintaan pak Fatir untuk sampai di telinga kakek dan Neneknya Farhan.. Kita tidak bisa memaksa Farhan seperti ini Bu.."
"Tapi Pah, bagaimana jika seandainya Kakek dan Neneknya Farhan tahu?? Anak kita Pah.. Anak kita akan seperti adikmu yang diasingkan oleh keluarga hanya karena dia memilih wanita yang dicintainya dan menolak perempuan dari Marga yang baik untuk di jodohkan.. Sampai sekarang kita tidak tahu bagaimana kabar adikmu itu?? Hanya kita yang terakhir peduli padanya sampai akhirnya hubungan kita dengan adikmu juga di putuskan oleh keluarga besar"
"Nanti saja aku pikirkan lagi Bu, kalau sampai nanti Farhan akan bernasib sama dengan adikku, aku sendiri yang akan memutuskan tali kekeluargaan dengan keluarga besar. Ah entah kenapa juga keluarga ini terlalu haus dengan marga.."
"Tapi apa benar pak Fatir yang meminta Farhan??"
"Iya, pak Fatir melihat Farhan hari itu saat aku membawanya ke pabrik. Yah, dia tertarik dengan Farhan hanya karena waktu itu Farhan masih terlalu mudah pak Fatir hanya sekedar menyukainya saja.."
"Terus kenapa meminta anak kita untuk jadi menantunya kalau dia sendiri belum bicara dengan putrinya??"
"Bukan seperti itu Bu, pak Fatir cuman bilang kalau dia punya anak perempuan dan dia menginginkan anak seperti Farhan yang akan menjaga putrinya. Tapi orang-orang di Pabrik beranggapan kalau pak Fatir secara khusus meminta Farhan untuk jadi menantunya.."
"Jadi bagaimana ini Pah??"
"Untuk sekarang tutupi saja dulu tentang ini, usahakan kakek dan neneknya Farhan tidak dengar.."
"Kalau hanya para bapak-bapak yang tahu ini tidak masalah Pah, tapi kalau sudah sampai Ibu-ibu yang tahu, cepat atau lambat ini akan sampai ditelinga Kakek dan Neneknya Farhan.."
"Nantilah bapak pikirkan lagi, sekarang liat Farhan dulu sepertinya emosinya sedang naik. Dia harus tenang akhir-akhir ini karena dia sudah kelas tiga, dia harus menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Ujian Nasional nanti.."
"Iya Pah.."
Ibu Farhan menyusul Farhan ke kamarnya.
"Nak..."
__ADS_1
Farhan terdiam saja duduk di meja belajarnya tidak menghiraukan panggilan Ibunya.
"Nak, apa yang Tettamu lakukan itu semua demi kebaikanmu, Tettamu tidak ada maksud membuatmu..."
"Demi kebaikanku apa Mah??" Tanya Farhan memotong perkataan Ibunya. "Kenapa di jaman yang modern seperti ini perjodohan seperti itu masih saja ada"
"Nak, Mama sama Tetta cuman tidak ingin kamu seperti om mu?? Apa kamu tidak ingat bagaimana adik Tettamu yang diabaikan sama keluarga besar kita??"
"Tapi Mah..."
Perkataan Farhan terhenti karena ponselnya yang berdering, panggilan masuk dari Salwa. Farhan menatap Ibunya dan Ibunya memberi waktu pada Farhan untuk menjawab telfonnya.
"Halo.."
"Halo kak.. emh hari ini bisa ketemu gak?"
"Kenapa?" Tanya Farhan sambil sesekali melirik Ibunya.
"Aku mau ngomong sama kakak.."
"Ngomong apa?? Kalau mau ngebahas yang tadi siang aku gak mau.."
"Tapi kak.."
"Udahlah, kalau gak ada hal penting yang mau kamu omongin aku matiin dulu telfonnya.." Farhan melirik Ibunya lagi yang diam melihatnya berbicara dengan Salwa.
"Kak, aku mau ngelurusin masalah ini.."
"Aku gak mau Salwa, aku gak mau hubungan kita berakhir" Tanpa sadar Farhan membahas tentang hubungannya dengan Salwa, dengan cepat dia melihat Ibunya. Sudah tergambar jelas pertanyaan apa yang akan ditanyakan Ibunya setelah dia menyelesaikan telfonnya.
"Tapi.."
"Salwa, sekarang aku sedang sibuk.. Aku sedang membahas sesuatu dengan orangtuaku.." Farhan berusaha menyudahi percakapannya dengan Salwa agar tidak semakin banyak yang Ibunya dengar.
"Terserah kakak, aku akan datang kerumah kakak.. Aku gak mau ini terus-terusan berlangsung kak.."
Kerumah?? Bagaimana bisa Farhan membiarkan Salwa kerumahnya sedangkan keadaannya di rumah sedang genting dengan masalah perjodohan ini.
"Salwa, kamu gak bisa ngerti situasiku??"
"Maaf karena aku egois kak, tapi hal ini memang harus kita selesaikan.. Kalau kakak nolak ketemu aku, aku yang akan kerumah kakak buat ketemu sama kakak.."
Farhan tidak tahan lagi, dia tidak bisa menahan Salwa, semakin lama dia menolak ajakan Salwa bertemu akan semakin panjang pembahasan mereka dan akan semakin banyak yang Ibunya dengar dan lagi jangan sampai Salwa benar-benar nekat untuk datang kerumahnya.
"Oke oke.. setelah ini kita ketemu, aku akan ngejemput kamu disana.." Kata Farhan langsung mematikan telfonnnya. Belum masalah perjodohan yang disampaikan orangtuanya sekarang ada lagi masalah baru dengan Salwa.
"Salwa??" Tanya Ibunya. "Siapa? Pacarmu???"
Farhan hanya terdiam.
"Sebisanya akhiri hubunganmu dengan dia.."
"Mah..."
"Nak, semua ini demi kebaikanmu, Mama juga tidak ingin memisahkan kamu dengan orang yang kamu cintai, tapi Mama lebih tidak ingin berpisah dengan kamu sayang.."
"Mah, aku sudah menyukai Salwa selama satu tahun lebih dan baru saja beberapa hari yang lalu Salwa jadi pacarku, apa Mama tega minta aku mengakhiri hubunganku, dia perempuan yang sudah aku tunggu selama satu tahun lebih Ma..." Airmata Farhan perlahan menetes.
Melihat putranya yang sampai meneteskan airmata begitu, Ibunya mendekat dan memeluk Farhan dengan erat.
"Maafkan Mama sayang, Mama cuman tidak tahu harus bagaimana lagi.." Katanya sambil memeluk putranya dengan erat dengan airmatanya yang mulai menetes.
Farhan membalas erat pelukan Ibunya.
"Kamu mau pergi bertemu dia kan?? Sudah sana siap-siap, nanti Mama yang bicara sama Tettamu.."
"Makasih Mah.."
Ibunya hanya tersenyum membelai lembut pipi putra kesayangannya
__ADS_1