
Masih sulit bagiku menerima kenyataan bahwa Fauzi mengakhiri hubungan kami. Setiap aku mengingat perkataan, perilaku dan tatapannya yang dingin hatiku menjadi semakin sakit. Ya, ini adalah hukuman yang aku terima atas apa yang aku perbuat, harusnya aku mempersiapkan diri menerima resiko seperti ini. Aku mencoba merelakan semuanya dan menjadikan ini pelajaran buatku, tapi tetap saja rasanya sakit. Sekuat bagaimanapun aku mencoba ikhlas, tetap saja aku tidak rela hubunganku dengan Fauzi berakhir.
Apa yang Ibu katakan benar, hanya penyesalan yang kudapat ketika Fauzi pergi meninggalkanku. Aku menangis sejadi-jadinya tapi tidak ada hal yang berubah. Ibu berusaha menenangkanku tapi semuanya sia-sia ketika aku menyadari, Fauzi bukan lagi seseorang yang kumiliki.
Berulang-ulang aku mencoba menghubungi Fauzi, tapi tidak satupun panggilanku yang digubris. Puluhan atau mungkin sudah ratusan pesan yang kukirim pada Fauzi tapi tak satupun yang mendapat balasan. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa.
Aku terus-terusan menelfon Fauzi sampai akhirnya.. Yang kudengar dari seberang telfon bukan lagi nada menunggu panggilan tapi suara operator yang memberitahu bahwa aku tidak bisa lagi memanggil nomor Fauzi, Fauzi memblokir panggilanku. Perasaanku semakin hancur, aku kembali mencoba menghubunginya untuk memastikannya sekali lagi dan yang kutemui adalah perasaanku yang semakin hancur mengetahui Fauzi benar-benar sudah memblokir panggilan masuk dari nomor telfonku.
Aku mengirimi Fauzi pesan.
"Ozi maafkan aku.."
"Ozi aku gak akan seperti ini lagi, aku gak akan mengulanginya.."
"Aku janji Ozi.."
Pesanku terkirim tapi sama sekali tidak ada respon dari Fauzi. Jangankan direspon, bahkan aku belum melihat tanda centang dua biru yang menandakan pesan dibaca pada pesanku.
Aku masih terus mengirimi pesan, berharap mendapat respon dari Fauzi meski hanya sekali saja. Tapi sekali lagi aku merasakan sakit yang luarbiasa di hatiku. Tadi pesan yang kukirim tetap terkirim meski tidak terbaca tapi kali ini pesan yang kukirim pun hanya mendapatkan centang satu yang berarti pesanku tidak sampai. Apa Fauzi memblokir pesanku juga?
Aku masih mencoba hingga beberapa pesan dan hasil yang sama masih kutemui, pesanku tidak sampai pada Fauzi.
Aku terus-terusan menangis, aku tidak tau lagi bagaimana caranya untuk menjelaskan semuanya pada Fauzi. Aku tidak tahu lagi cara apa yang bisa kuperbuat untuk memperbaiki hubunganku dengan Fauzi.
"Tidak.. aku tidak bisa diam begini saja.." Aku meraih jaket dan ponselku, aku harus menyusul Fauzi kerumahnya, aku harus lebih kuat lagi minta maafnya, aku harus bisa meyakinkan Fauzi sekali lagi.
Aku bergegas turun.
"Mau kemana sayang?" Tanya Ibu yang melihatku bergegas keluar.
"Kerumah Fauzi Bu, aku yakin Fauzi masih dirumahnya.."
"Kerumah Fauzi? Apa kamu gak sadar kalau sekarang sudah larut.."
"Tapi Bu.."
"Sekarang sudah jam sepuluh malam Salwa, bagaimana bisa kamu kesana selarut ini.."
"Bu, Fauzi memblokir nomor telfonku.. Aku gak bisa lagi ngehubungi Fauzi.." Kataku sambil terisak-isak menangis.
"Tapi sekarang sudah larut malam Nak, apa kata orangtua Fauzi ketika melihatmu disana larut malam begini.."
Aku sudah tidak sampai berfikir kesana karena pikiranku yang hanya dipenuhi Fauzi saja. Apa yang akan dikatakan orangtua Fauzi ketika larut malam seperti ini aku kesana dengan keadaanku yang seperti ini.
"Ibuuu..." Tangisku semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Sudahlah Sayang, coba kamu jelaskan lagi pada Fauzi besok dan malam ini istirahatlah dulu.." Kata Ibu memelukku mencoba menenangkanku.
Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan Ibu, Ibu berusaha menenangkanku.
.
.
.
Mataku terasa berat dan kepalaku terasa pusing sekali. Entah berapa lama aku menangis setelah kembali ke kamar semalam, rasanya aku tidak berdaya sekali.
Aku bergegas bersiap-siap, aku akan kerumah Fauzi pagi ini aku yakin Fauzi masih di rumah dan belum kembali kuliah. Aku mengompres mataku dengan sendok yang sudah kuletakkan dalam kulkas agar bengkaknya sedikit mereda.
"Selamat pagi Bu.." Sapaku pada Ibu Fauzi sambil tersyang membuka pintu ketika bel depan pintu ku tekan.
"Oh Salwa.. Selamat pagi Nak, tumben pagi-pagi kesini? Ayo masuk Nak.."
"Hehe iya Bu maaf menganggu pagi-pagi.."
"Hem.. Mengganggu apanya Ibu senang kalau kamu datang, jadi sering-seringlah datang kesini menjenguk Ibu.." Kata Ibu Fauzi dengan ramah
"Iya Bu.." Jawabku tersenyum.
"Eh, gak usah repot-repot Bu, Salwa cuman sebentar aja.."
"Loh kok gitu? Padahal udah lama gak main kerumah.."
"Hehe iya Bu, Salwa kemarin sibuk nyiapin ujian"
"Oiya, Ibu lupa padahal Fauzi sempat pulang kemarin buat ngasih ucapan selamat"
"I iya Bu.." Jawabku dengan tersenyum tipis. Mendengar Ibu Fauzi berkata seperti itu seperti mengingatkanku kembali atas kejadian yang terjadi kemarin.
"Bagaimana kemarin? Dia ngasih kejutan apa?" Tanya Ibunya dengan bersemangat.
"Ah i itu.." Aku sedikit ragu-ragu.
"Udah udah gak usah dicerita, pasti Salwa malu kan.. Hehe anak muda jaman sekarang tau cara yang lebih romantis dari kita dulu.." Kata Ibu Fauzi menggodaku, aku hanya menanggapinya dengan tersenyum. Dari pertanyaannya sepertinya Ibunya tidak tau tentang apa yang terjadi kemarin.
"Ng.. Bu, Fauzi kemana? Kok tidak kelihatan?" Tanyaku mencoba tahu keberadaan Fauzi.
"Loh.. Fauzi gak bilang sama kamu?"
"Bilang apa Bu?"
__ADS_1
"Fauzi sudah kembali tadi pagi-pagi sekali Nak, Ibu kira dia sudah bilang sama kamu.."
Ternyata Fauzi sudah kembali.
"Ah.. Fa Fauzi gak bilang, mungkin dia nelfon aku tadi pagi tapi karena ponselku tidak aktif jadinya dia gak sempat bilang Bu.." Kataku berbohong, Ibunya bisa curiga kalau dia tahu Fauzi tidak memberiku kabar.
"Kayaknya begitu Nak, soalnya dia perginya pagi-pagi sekali katanya ada kuliah pagi ini"
"Oh iya Bu.."
"Ibu awalnya ngelarang dia untuk kembali dulu, sepertinya dia kurang sehat.."
"Kurang sehat?"
"Iya, sepulangnya kemarin sore Fauzi terus dikamarnya, Ibu tanya kenapa katanya dia kelelahan. Hem bisa jadi dia benar kelelahan tapi Ibu khawatir dia juga sakit tapi gak mau bilang karena gak mau Ibu khawatir.."
Andai saja Ibu Fauzi tahu penyebab anaknya yang sepertinya kurang sehat karena kejadian kemarin, mungkin saja aku sekarang tidak duduk manis bersamanya sekarang.
Ternyata Fauzi sudah kembali, bagaimana aku bisa minta maaf, bagaimana caranya aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Fauzi.
Ah iya..
"Bu, aku boleh minta alamat rumah Fauzi disana?"
"Untuk apa Nak?"
"Aku mau nyusul Fauzi kesana Bu?"
"Kamu yakin?"
"Iya Bu, sekalian untuk memastikan kalau keadaan Fauzi baik-baik saja, kalau dia sehat-sehat saja"
"Ah sebentar Ibu tuliskan alamatnya.."
"Tapi Bu, jangan bilang sama Fauzi ya aku mau kasi Fauzi kejutan" Kataku berboong agar Ibu Fauzi tidak memberitahu Fauzi dan membuat Fauzi menghindariku lagi.
"Tapi kamu sampai disana nanti gak ada yang jemput"
"Gak apa Bu, aku bisa kok sampai sana langsung cari alamat Fauzi, nanti gak jadi kejutan kalau dia udah tau duluan kalau aku mau kesana"
"Baiklah kalau begitu Nak, Ibu hanya khawatir kalau kamu kesana dan Fauzi tidak menjemoutmu.."
"Gak apa Bu.." Jawabku tersenyum.
Ibu Fauzi memberiku alamat Fauzi disana, aku akan menyusul Fauzi kesana.
__ADS_1