Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (9)


__ADS_3

Sudah berlalu 4 hari setelah Faiq mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Karin istrinya, namun Karin belum juga memberikan jawabannya.


Bukan karena ia masih dalam kebimbangan, dia hanya sengaja mengulur waktu agar terkesan berpikir lebih lama untuk menjawab permintaan Faiq. Namun dari waktu empat hari itu, Faiq sama sekali tidak menghubungi Karin untuk meminta jawaban, padahal Karin sempat berekspektasi tinggi mengenai kemungkinan Faiq yang akan terus-terusan mendesaknya untuk meminta jawaban. Meski itu sedikit aneh, namun Karin mencoba berpositif thinking. “Mungkin saja Faiq tidak mau membebani aku atau benar-benar ngasih aku waktu berpikir lebih lama untuk mengambil keputusan”


Pikiran Karin yang demikian adalah sebuah kewajaran mengingat bagaimana Faiq yang terlihat tertarik dengannya dari saat pertama kali mereka bertemu, hingga Faiq yang meminta pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya. Hanya saja Karin tidak mengetahui mengenai hal apa yang menyebabkan Faiq terus-terusan memintanya untuk bertemu.


Hal yang sama saat ini terjadi lagi, dimana apa yang Faiq lakukan sangat berbeda jauh dari apa yang Karin pikirkan. Faiq tidak mendesak meminta jawaban, bukan karena dia memberi Karin kelonggaran waktu untuk berpikir, melainkan dia yang memiliki kecemasan dan kegelisahannya sendiri sehingga tanpa sadar bahwa waktu telah berlalu empat hari dari dimana saat dia melamar wanita yang menyukai warna lipstik nude itu.


Setelah mengutarakan niatnya untuk menjadikan Karin sebagai istri, Faiq kembali diterpa dengan pikiran-pikiran lainnya yang menghubungkan tindakannya ini dengan Sasa.


Saat ia melamar Karin empat hari yang lalu, dia begitu mantap melepas Sasa dan menjadikan Karin sebagai orang yang akan menariknya keluar dari lingkaran hidup di sekitar Sasa. Namun tiba di malam hari, ia kembali mengingat Sasa dan mulai resah dengan apa yang sudah dia putuskan saat melamar Karin. Dilema menyelimutinya, Sasa kembali bermain-main disekitar ingatannya membuatnya resah dan kebingungan.


Hingga ia memikirkan dengan matang, ia akhirnya menyerahkan semuanya pada keputusan Karin. Jika Karin menerima lamarannya, maka itu berarti dia benar-benar harus melangkahkan kakinya keluar dari masa lalunya mengenai Sasa, dan jika Karin menolak lamarannya, maka ia memutuskan untuk tetap mempertahankan perasaannya pada Sasa meski ia tidak tahu, wanita yang dicintainya itu dimana sekarang dan bagaimana keadaannya. Faiq siap mempersiapkan dirinya untuk terluka, jika dia memilih masa lalunya dan bertahan pada Sasa, dan saat ia temui nanti, wanita kesayangannya itu tidak lagi sendiri.


.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul 15:48, yang berarti beberapa menit lagi Faiq dan Karin akan bertemu sesuai janji yang sudah mereka sepakati.


Sebelumnya, Karin mengirim pesan pada Faiq untuk bertemu sore ini. Ajakan pertemuan ini jelas adalah untuk menjawab permintaan Faiq beberapa hari yang lalu.


Karin begitu gugup mengingat ia akan bertemu dengan Faiq hari ini, dan akan memberi jawaban. Berbeda dengan Faiq yang tampak lesuh akibat dilema yang menyerangnya tanpa ampun, meski ia sudah meyakini bahwa jawaban Karin hari ini adalah penentu untuk hidupnya.


“Ha-hai.. Lama gak ketemu” Sapa Karin saat Faiq menghampirinya.


Rasanya begitu canggung, mereka yang dulunya sering bertemu dan saling menyapa dengan nyaman, hari ini mereka saling menyapa dengan kegugupan. Ya meski Karin jauh lebih gugup.

__ADS_1


“Hai..” Faiq balik menyapa sembari mengambil posisi duduk di depan Karin. “Maaf aku sedikit terlambat, ada beberapa kerjaan”


“Gak masalah” Jawab Karin tersenyum.


“Sudah pesan makan?”


Karin menggeleng pelan.


Keduanya menikmati menu yang sudah disiapkan, di selingi obrolan seperti bisanya, meski atmosfirnya terasa berbeda.


Karin bingung harus menyela di bagian mana untuk membahas perihal jawaban yang akan dia berikan, ia pun menunggu-nunggu Faiq untuk bertanya, namun dari reaksi Faiq sepertinya ia tidak memiliki ciri-ciri untuk membahas hal itu.


“Faiq..”


Meski dengan ragu-ragu, Karin akhirnya mencoba untuk membahas perihal lamaran itu. Ini hal yang sedikit aneh jika dipikirkan. Biasanya untuk hal seperti ini, yang melamarlah yang lebih gugup, namun dalam kasus Faiq dan Karin, itu hal yang tidak berlaku.


“Hem??”


“I-itu.. Masalah lamaran kemarin..”


“Iya, jadi bagaimana jawabanmu?” Faiq masih memperlihatkan senyumannya, sekiranya itu bisa menghilangkan meski sedikit saja keguugpan yang tengah melanda Karin.


Karin tidak dengan cepat menjawab pertanyaan Faiq, pelan-pelan ia tertunduk dan kembali mengangkat kepalanya memandangi Faiq.


“Aku mau..” Jawab Karin setelah mengumpulkan semua keberanian yang dia punya.


Ekspresi datar Faiq perlihatkan, membuat Karin kebingungan melihatnya. Sekali lagi ekspektasinya tidak sesuai, yang selalu Karin bayangkan beberapa hari terakhir ini saat ia menerima lamaran Faiq adalah, Faiq yang akan terkejut dan kegirangan, namun melihat ekspresi Faiq saat ini, itu sangat jauh dari apa yang dia bayangkan selama ini.


Faiq sempat bingung harus menanggapi seperti apa setelah Karin menjawab dan menerima lamarannya. Terbesit di ingatannya akan ia yang akan melangkah keluar dari semua hal yang bersangkutan dengan Sasa, sesuai dengan apa yang dipikirkan sebelumnya. Namun, seperti ada rasa tak ikhlas untuk Faiq memulai itu.


Ekspresi bingung Karin akhirnya di tangkap oleh Faiq, membuat Faiq dengan cepat mengubah ekspresinya.

__ADS_1


“Terimakasih.. Terimakasih karena sudah menerima lamaranku..” Faiq tersenyum, berusaha menutupi perasaan tidak karu-karuan yang tengah menerpanya saat ini.


Perlahan Karin pun tersenyum. “Ah, mungkin itu bagian dari ekspresi terkejutnya tadi” Karin kembali berpositif thinking.


“Aku akan bilang hal baik ini pada Ayahku, dan akan membicarakannya pada Ayahmu”


Faiq tidak melepas senyuman dari bibirnya, berusaha memperlihatkan bahwa itu juga adalah jawaban yang dia inginkan, meski sekelebat dilema masih bernaung di pikirannya saat ini.


“Iya..” Jawab Karin tersenyum.


Terlihat jelas di mata Faiq, perempuan yang sedari tadi dipenuhi rasa gugup kemudian bertransformasi dengan memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan itu, sekarang sudah menjadi lebih nyaman dengan senyumnya yang mengembang.


.


.


.


Faiq duduk termenung di tepi tempat tidurnya, ia masih saja belum siap menerima kenyataan mengenai Karin yang menerima lamarannya. Ia sendiri tidak siap dengan pilihan yang sebelumnya sudah ia tetapkan untuk hidupnya. Dia begitu tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya keluar dari segala hal yang menyangkut Sasa, rasa ingin mempertahankan perasaannya pada Sasa masih begitu kuat dan menggebu-gebu, membuatnya bingung harus bagaimana sekarang.


Saat ia menyampaikan perihal diterimanya lamaran ini pada Ayahnya, jelas Ayahnya akan dengan segera berbicara pada Ayah Karin dan tidak akan memakan waktu lama, pesta pernikahan mereka akan diadakan. Meski ia menunda mengatakan hal ini pada Ayahpun, tetap saja cepat atau lambat mereka akan menikah. Karin tidak mungkin diam saja saat Ayahnya tidak datang menemui Ayah Karin, wanita yang telah menerima lamarannya itu pasti membahas hal serupa pun pada Ayahnya.


Faiq merebahkan tubuhnya, memandangi langit-langit kamarnya dengan lampu terang yang bertengger disana.


“Sasa, apa aku harus melupakanmu sekarang? Apa aku harus memulai hidupku yang baru dan meninggalkanmu di masa lalu? Aku tidak siap untuk menguburmu dalam ingatanku, tapi saat ini aku juga tidak punya pilihan lain. Aku harus bagaimana? Kalau kamu yang berada di posisiku saat ini, apa yang akan kamu lakukan??”


Faiq melontarkan pertanyaan yang dia sendiripun tahu, itu tidak akan mendapatkan jawaban.


“Apa aku salah mengambil keputusan?? Kenapa aku menjadi bodoh begini??”


Perlahan Faiq memejamkan matanya dengan dahi yang berkerut. Rasanya pikirannya sangat sulit mencerna keadaan yang terjadi saat ini.

__ADS_1


“Sa, aku merindukanmu. Aku mau kamu ada dan menenangkanku sekarang, seperti yang sering kamu lakukan saat aku berada dalam masa sulit. Sa, aku sungguh mencintaimu dan sangat merindukanmu”


Airmatanya menetes dengan matanya yang masih terpejam.


__ADS_2