Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Letter


__ADS_3

Masih seperti biasanya, hari ini Fauzi tetap masuk kerja dan melakukan semua pekerjaannya dengan cepat agar bisa selesai lebih awal sehingga ia bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Sesekali Fauzi membuka ponselnya untuk memantau keadaan istrinya melalui CCTV. Namun tidak lagi bisa sesering dulu, dikarenakan pekerjaan Fauzi menjadi lebih banyak setelah diadakannya meeting bersama dari direktur perusahaan lain saat penyetujuan kerja sama berlangsung.


Salwa yang tinggal di rumah sendiri, lebih sering melakukan hal-hal yang sudah ia lakukan, kemudian di lakukan lagi. Terakhir kali yang menjadi aktifitas rutin Salwa, adalah membongkar lemarinya dan menata kembali pakaiannya, dan itu masih sangat sering Salwa lakukan sekarang.


Meski ingatan dan kemampuan bertahan hidup lainnya perlahan menurun dan semakin buruk, namun ingatan dan pikiran Salwa masih terkadang kembali normal seperti biasanya, dan ketika pikiran rasionalnya muncul ke permukaan, Salwa akan melakukan kegiatan layaknya seorang Ibu yang baik-baik saja. Meski semakin hari, semakin jarang lagi pikiran rasionalnya itu muncul.


Seperti halnya pagi ini, pikirannya kembali normal beberapa saat sehingga dia membersihkan rumahnya seperti biasa. Rasa lelah mulai menghampirinya setelah ia selesai menyusuri rumahnya dengan sapu.


Salwa segera membersihkan tubuhnya, agar sekiranya rasa lengket dari keringat yang bercucuran hasil dari bersih-bersihnya, segera hilang.


Wanita yang biasanya hanya membersihkan lemari seharian itu, hari ini menjadi normal. Entah karena obat yang selama ini membantunya, atau ada impuls baru yang mengirim hal seperti ini ke sel-sel otaknya yang semakin hari semakin kesasar dalam bekerja.


Salwa duduk didepan meja rias, merapikan rambutnya dan mengoles beberapa krim ke wajahnya. Andai saja suaminya tidak sedang sibuk saat ini, dan memonitoring istrinya dari ponsel miliknya yang terhubung dengan cctv dirumahnya, pasti dia akan sangat bahagia.


Mata yang sedari tadi terpaku pada beberapa alat make up diata meja yang tersedia di kamarnya, tanpa sengaja teralihkan oleh plastik yang tergeletak di meja yang sama.


“Apa ini?” gumam Salwa sambil meraih kantong plastik itu dan mulai memeriksanya.


“Obat? Obat siapa?” Tanyanya lagi sembari membuka obat-obat yang tidak satu jenis itu.


Salwa sedikit terkejut tatkala menemui namanya tertera pada obat itu. Dia yang mengira dirinya baik-baik saja sekarang tidak pernah menyangka akan memiliki obat sebanyak itu untuk di konsumsi.


Terlintas sejenak dalam ingatannya, ketika ia meminum beberapa butir obat atas bujukan Fauzi.


“Ah iya, sepertinya aku pernah minum obat..”

__ADS_1


Wanita dengan ingatan yang kabur-kabur itu, mulai mengecek obat-obat apa kiranya yang diberikan padanya selama ini.


Jika Salwa yang sebelumnya, ia akan dengan mudah mengetahui obat apa yang tengah di pegangnya sekarang. Ia pun merasa sedikit bingung, tatkala ingatannya tidak bisa mengingat indikasi obat yang sedang di pegangnya.


Salwa beralih mengambil ponselnya yang dia letakkan diatas ranjang sebelum ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh sebelumnya. Ia mulai membuka google browser dan mencoba mencari tahu indikasi obat yang ditujukan untuknya.


Salwa begitu terkejut saat internet menyajikan fakta tentang obat yang di searchingnya barusan. Salwa berulang-ulang memastikan indra penglihatannya untuk melihat benar tidaknya artikel tentang obat itu yang terpampang di layar ponselnya. Dia bahkan mematikan ponselnya, kemudian membukanya lagi dan mencari informasi tentang obat itu. Dan lagi yang dia temui, adalah hasil yang sama dari pencarian yang dia lakukan sebelumnya.


Airmata Salwa menetes, beberapa ingatan kecil akan dirinya yang mulai berubah, muncul kepermukaan seolah membuktikan kebenaran apa yang sudah di suguhkan google pencarian untuknya.


Ingatan Salwa yang muncul satu persatu itu memberikan sebuah pukulan tersendiri untuknya. Airmatanya perlahan menetes saat ingatannya menyentuh tentang dia yang melupakan kehidupannya satu persatu, dan membuat putri kecil satu-satunya menjadi takut dengan amarahnya. Namun tangisnya makin menjadi-jadi saat ingatannya mengenai dia yang melupakan status dan pernikahannya itu menghampiri.


Salwa beranjak dari duduknya, mundur beberapa langkah dengan airmatanya yang mulai deras mengalir, menutup mulut dengan kedua tangannya dan sesekali menggeleng seolah ingin menolak kebenaran tentang hidupnya saat ini.


Salwa jatuh tersungkur, menangis sejadi-jadinya. Dia yang menyadari akan dirinya yang sedang di grogoti oleh Alzheimer itu sangat sulit menahan diri. Tangisnya pecah memenuhi seisi kamarnya.


Fauzi merenggang tubuhnya setelah menyelesaikan beberapa dokumen tentang proyek baru yang sedang dijalankannya sekarang. Harus tetap fokus pada pekerjaan sedang istrinya yang sangat butuh perhatian juga, benar-benar menguras tenaga yang banyak.


Fauzi meraih ponselnya, kembali ingin melihat apa yang tengah dilakukan oleh wanita yang sangat dicintainya itu, melalui CCTV yang sudah terhubung pada ponselnya.


Laki-laki dengan kaki jenjang itu mengubah posisi duduk yang tadinya bersandar dengan santai di punggung sofa, kini menegakkan duduknya. Fauzi tidak menemukan posisi Salwa, meski ia sudah mengganti tampilan-tampilan dari semua letak CCTV yang terpasang di rumahnya.


Fauzi mencoba menelfon ke ponsel Salwa, namun tidak ada jawaban dari sana. Fauzi kemudian beralih menelfon telfon rumah yang ada di rumahnya, dan lagi tidak ada jawaban dari sana.


Tidak ada lagi yang Fauzi pikirkan selain istrinya. kekhawatiran mulai merasukinya, juga rasa takut mulai meyelimuti perasaannya. Ia bergegas kembali ke rumahnya dan meninggalkan pekerjaan begitu saja.

__ADS_1


Fauzi tergesa-gesa masuk kedalam rumah, mencari keberadaan istrinya yang tidak bisa ia lihat melalui CCTV.


“Salwa...” Panggil Fauzi sembari berlari menuju kamarnya.


Fauzi yang tidak menemukan keberadaan Salwa disana kembali memutar tubuhnya dengan cepat dan kembali mencari posisi keberadaan istrinya.


“Sayang, aku pulang. Kamu dimana??”


Tidak sekali ini Fauzi mengelilingi rumahnya dalam mencari istrinya, sebelumnya pun pernah seperti ini, dan perasaan yang sama sakitnya seperti waktu itu tengah menghantuinya saat ini.


“Salwa.. Kamu dimana?????”


Fauzi masih terus mencari dengan sesekali memanggil nama belahan jiwanya itu, tapi tetap saja dia tidak mendapatkan jawaban seperti sebelumnya.


Fauzi kembali memanggil nomor Salwa, mungkin saja kali ini dia bisa mendapatkan jawaban dari sana.


Fauzi dengan cepat menoleh, tatkala ia mendengar suara dering ponsel Salwa, suara yang berasal dari kamar tidur mereka. Fauzi sudah mencari disana sebelumnya, namun ia kembali mencari ke kamar untuk memastikan. Langkah kakinya mengikuti arah sumber suara nada dering ponsel milik istrinya.


Fauzi mempercepat langkahnya menuju ponsel yang berdering itu. Bukan hanya ada ponselnya disana, sepucuk surat juga berada disana.


Dengan perasaan yang semakin cemas, laki-laki yang tengah kebingunan mencari istrinya itu, meraih kertas dengan tulisan tangan yang ia kenal betul bahwa itu adalah tulisan tangan milik istrinya.


Hatinya sakit teriris, kertas yang di gengamnya menjadi lecet akibat tangannya yang secara impulsif menggenggam kuat setelah membaca pesan yang diberikan istrinya melalui surat. Airmatanya mengalir lebih deras, memakili perasaannya yang sedang dirajam pilu.


“Kenapa seperti ini?? Dimana kamu sekarang???” Desis Fauzi dengan nada suaranya yang menahan sakit.

__ADS_1


Proporsi tubuh yang bagus itu, dibalik dengan cepat dan bergegas mencari istrinya yang entah kemana.


__ADS_2