
Setelah mendengar perdebatan yang cukup panjang dari Ayah dan Ibunya, akhirnya Fauzi bisa lolos dari perebutan hak makan bersama yang dimenangkan oleh Ayahnya pagi ini. Fauzi sesekali merasa heran dengan kedua orangtuanya yang selalu saja adu beda pendapat setiap Fauzi pulang, tapi Fauzi menyadari itu adalah bentuk rindu kedua orangtuanya selagi dia tidak sedang dirumah, hanya saja orangtuanya mengekspresikan dengan cara yang unik.
Fauzi berangkat dengan ayahnya yang tidak memerlukan waktu yang cukup lama karena lokasi yang cukup dekat akhirnya Fauzi dan Ayahnya tiba disebuah restoran dimana Ayahnya memiliki janji bertemu dengan temannya. Fauzi mengikuti langkah ayahnya dari belakang.
"Wah.. Ini nih yang ditunggu lama banget, udah kayak Ibunya anak-anak saja yang dandan lama sebelum ketemuan" Kata teman Ayahnya sambil bercanda.
"Hahaha maaf, soalnya harus bertarung dulu lawan Ibu negara sebelum ngebawa anaknya kesini.." Balas Ayah Fauzi dengan candaan.
“Ha ha ha makanya buatin gih si Fauzi adik biar bukan Fauzi saja yang jadi bahan rebutan, lagian kan Fauzi sudah cukup besar, sudah bisa ngebantu Ibunya buat jagain anak kecil”
Fauzi nyengir saja mendengarnya. Teman Ayah Fauzi tersenyum melihat Fauzi yang berdiri disamping Ayahnya, Fauzi balas tersenyum.
"Fauzi, ini pak Tio teman kuliah Ayah dulu.." Kata Ayahnya memperkenalkan.
Fauzi tersenyum menunjukkan kesopanannya.
Fauzi duduk disamping Ayahnya dan memulai perbincangan mereka.
"Begini Fauzi, kemarin anak teman saya Fira menikah dan mereka memajang foto preeweding mereka. Setelah saya cari tahu katanya yang mengambil gambar buat mereka itu kamu??" Tanya pak Tio to the point.
“Oh, dia lihat hasil jepretanku di acara kak Fira” Gumam Fauzi dalam hati.
"Iya Pak.."
__ADS_1
"Hem.. Panggil Om saja biar akrab.."
"Eh i iya Om.."
"Kamu punya bakat seperti itu apa gak mau dilanjutin? Kan sayang kalau diabaikan saja. Saya ada team photograph bersama teman-teman yang lain, kebetulan kami sedang cari tambahan teman agar bisa membuka pameran seni.."
Fauzi terdiam sejenak.
"Apa kamu berminat ikut bergabung bersama kami?? Ah, tidak usah merasa canggung karena melihat saya yang lebih tua. Saya bukannya akan ikut sama kalian-kalian dalam setiap kegiatan pengambilan gambar, team saya juga bukan orang-orang yang sudah tua seperti saya, mereka semua anak-anak muda berbakat seperti kamu ini.."
"Ta tapi saya masih kuliah Om, dan lagi saya kuliahnya gak disini jadi sulit kalau harus pulang balik kesini untuk pekerjaan ini.."
"Gak papa, kamu bisa ambil gambar apapun sesukamu. Kami punya beragam macam tema yang akan dipamerkan nantinya.."
"Gimana Nak? Kamu mau atau tidak??" Tanya Ayahnya. Fauzi berbalik menatap Ayahnya. "Ayah gak akan maksa kamu harus ikut atau ngelarang kamu untuk ikut, itu terserah dari kamu"
Fauzi berfikir sejenak.
"Ma maaf Om, tapi saya takut kewalahan kalau harus kuliah sambil bekerja. Saya juga tidak mau kuliah saya sampai keteteran karena saya punya target selesai lebih awal dari yang seharusnya” Kata Fauzi ragu-ragu. Fauzi khawatir kalau keputusannya itu akan membuat Pak Tio menjadi tidak senang dan akan berdampak pada pertemanan Ayahnya dan pak Tio.
“Ha ha ha kenapa ekspresimu seperti itu? Saya hanya menawarkan, kalau nak Fauzi tidak bisa ya tidak apa-apa. Kenapa memasang ekspresi seperti saya akan memukulmu” Pak Tio tertawa terbahak-bahak melihat eskpresi Fauzi disusul oleh Ayah Fauzi.
“Kamu ini kenapa Nak? Ayah kan sudah bilang kalau keputusan tetap ada ditanganmu, ha ha kamu ini” Ayahnya pun ikut tertawa terbahak-bahak
__ADS_1
Fauzi hanya tersenyum nyengir, semua hanya kekhawatirannya yang berlebihan saja. Bisa ikut pameran adalah sebuah batu loncatan besar buat Fauzi untuk bisa lebih mengasah kemampuan pengambilan fotonya, hobinya itu bisa memberinya penghasilan andai saja Fauzi mau menerima permintaan Pak Tio untuk bergabung, tapi Fauzi kembali memikirkan tentang bagaimana Salwa dan hubungannya nanti juga bagaimana dia bisa mengatur waktunya.
Fauzi undur diri dengan cepat pada pak Tio dan Ayahnya setelah makan bersama, Fauzi tidak sabar untuk bertemu dengan Salwa dan melepaskan rindunya selama mereka tidak bertemu.
Rindu yang sepertinya hanya dimiliki oleh Fauzi itu akhirnya tertebuskan juga, Fauzi membawa Salwa berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. Salwa selalu bertanya tentang siapa yang dia temui hari ini dan apa yang mereka bahas, namun Fauzi menyembunyikan semuanya. Fauzi tidak ingin Salwa merasa bersalah karena salah satu penyebab dia menolak tawaran itu adalah Salwa, Fauzi tidak ingin hubungannya dan Salwa bermasalah lagi.
Fauzi merasakan bagaimana Salwa yang tahu dia menyembunyikan sesuatu, tapi tetap saja Fauzi tidak menjelaskan apapun, ini sudah menjadi pilihannya dan tidak ingin membuat pilihannya itu menjadi beban buat Salwa.
.
.
.
.
.
Salwa dan Farhan yang semakin larut dalam hubungan mereka, dan seolah melupakan kehadiran Fauzi. Salwa sesekali mengecam dirinya atas apa yang dia perbuat terhadap Fauzi, dan Farhan pun tidak jauh berbeda. Dari lubuk hati terdalamnya Farhan tetap memiliki rasa bersalah pada Fauzi, tapi meski begitu perasaannya pada Salwa yang terlalu besar membuatnya mengesampingkan hubungannya dengan Fauzi.
Hubungan perselingkuhan mereka yang sedang manis-manisnya tidak berjalan dengan baik bukan hanya dari segi menyembunyikan semuanya pada Fauzi. Menyembunyikan hubungan mereka dari Fauzi bukanlah hal yang sulit karena kepercayaan Fauzi yang begitu besar terhadap Farhan maupun Salwa. Namun meskipun hubungan Salwa dan Farhan berhasil terhindar dari masalah Fauzi, tetap saja ada masalah-masalah lain yang membumbui hubungan Farhan dan Salwa diluar masalah tentang Fauzi.
Ada waktu dimana Salwa menangkap basah isi percakapan Farhan dengan perempuan lain yang sangat romantis di mata Salwa. Bagaimana tidak, isi percakapan itu memperlihatkan bagaimana Farhan dan teman perempuannya yang dia beri nama “K” di kontak ponselnya saling memanggil panggilan sayang layaknya sepasang kekasih.
__ADS_1
Hampir sama sakitnya saat Salwa melihat Fauzi dengan perempuan lain waktu itu, begitu juga sakit yang dirasakan Salwa saat melihat isi percakapan Farhan dengan perempuan lain. Namun masalah itu akhirnya terselesaikan dengan Farhan yang membawa langsung perempuan yang diberi nama “K” ponselnya itu untuk menjelaskan semuanya pada Salwa. Hubungan Farhan dan Salwa yang sempat berakhir itu akhirnya baik-baik saja setelah terselesaikannya kesalahpahaman mengenai perempuan yang dicurigai Salwa adalah kekasih Farhan yang lain.