Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Farhan dan Nina.


__ADS_3

Entah siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Fauzi keluar untuk membuka pintu.


"Siapa sayang??" Tanyaku sambil menyusul Fauzi keluar.


"Salwaaa.." Nina menghambur memelukku.


"Ninaa.." Aku balas memeluknya. "Aduh sekarang susah yah meluk kamu rapat-rapat, dede bayi dalam perut makin gede aja.." Kataku.


"Salwa pelan-pelan.. Anakku bisa kegencet nanti.." Seru Farhan.


"Ya elah kak, aku juga tahu mah gak bakal nekan perut Nina kencang-kencang.."


"Lu apa segitunya negur istri gue.." Tegur Fauzi.


"Bukannya negur bambangg.. Gue cuman ingetin, kasian anak gue kalau di gencet-gencet sama Salwa.."


"Ya gak gitu juga kali.."


"Makanya punya anak Lu cepat biar bisa ngerasain khawatirnya kayak gue.." Celetuk Farhan.


Fauzi terdiam mendengarnya, aku juga jadi ikut terdiam.


Melihat ekspresiku dan Fauzi, Farhan jadi terkejut. "Ka kalian.. Ja jangan belumm...????"


"Sudahlah mpreett.." Kata Fauzi spontan memukul kepala Farhan.


"Kak Fauzi, kepala suamiku bisa miring kalau dipukuli. Nanti anakku lahir kepala bapaknya malah gepeng.."


"Ck ada-ada aja kamu Nina. Jangankan tanganku, bola basket sampai stik PS semua sudah terhantam di kepala suamimu ini.." Jawab Fauzi ketus.


"Wa, anak laki-laki mainnya kasar ya.." Kata Nina kepadaku.


"Iya bikin ngeri.. Yaudah ayo duduk dulu.." Kataku membantu Nina yang sedikit kewalahan karena perutnya yang mulai membesar.


Fauzi dan Farhan juga ikut duduk.


"Lu ngapain sih bertamu pagi-pagi begini? Kayak gak pernah jadi pengantin baru aja Lu sampai gak ngerti waktu"


"Gue ngerti banget Zi, gue juga udah bilang sama Nina buat gak kesini dulu karena mau ngasih kalian waktu berdua dulu. Tapi ya apalah daya, gue gak bisa nolak permintaan yang mulia Ratu Nina kalau kepengen sesuatu. Apalagi kalau dia udah bilang anakku yang kepengen, gue gak bakalan bisa nolak"


"Oh iya ya.. Nina pasti lagi ngidam kepengen kesini.." Kata Fauzi seolah mengerti.


"Iya, nanti anak gue bisa ileran kalau gak nurutin maunya.."


"Yaudah deh, gue ikhlas diganggu pagi-pagi dan menunda waktu bermesraan sama istri gue demi keponakan yang masih dalam perut.."


"Thankyou bro karena udah ngertiin kemauan anak gue.."


"Sama-sama bro, anak Lu kan sama kayak anak gue juga.."


"Gimana ceritanya anak gue jadi anak Lu juga. Bikin sendiri sana kalau mau punya juga.."


"Ck pelit lu.."


Mereka sampai diumur yang seperti ini masih saja senang memperdebatkan sesuatu yang kurang penting. Melihat mereka yang seperti itu mengingatakanku bagaimana mereka sewaktu SMA. Setelah semuanya yang berlalu, mereka bisa kembali akrab seperti yang dulu lagi.


"Wa, suamiku sama suamimu sama-sama sedikit bodohnya ya.." Bisik Nina kepadaku.


"Hem iya, perutmu sebesar ini mana mungkin masih ngidam mau main kesini.."


"Sssttt.. Biar saja, setidaknya kak Farhan nurutin semua kemauanku kalau aku bilang ini demi anaknya.. Lumayan ini cukup dijadikan senjata.."


"Haha ide mamamu ini cemerlang sekali nak" Kataku sambil mengelus lembut perut Nina.


"Haha iya dong, dia gak tau saja niat aku yang sebenarnya kesini buat apa" Kata Nina sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Emangnya apa?" Tanyaku penasaran.


"Ya ngegangguin pengantin baru lah, ha ha ha.." Ketawa Nina yang tidak ditahannya lagi membuat perhatian Fauzi dan Farhan jadi terarah kearah kami.


"Ninaa.." Tegurku. Bisa-bisanya dia berpikiran ingin mengganggu waktu romantisku dengan Fauzi.


"Kenapa sayang?" Tanya Fauzi dan Farhan bersamaan.


"Gak kok.. " Jawab Nina tersenyum sambil menyenggolku memberi kode.


"Gak apa, ini pembahasan perempuan.." Jawabku sambil tersenyum terpaksa.


"Ck, perempuan ini sukanya bahas masalah perempuan di depan para lelaki.." Gerutu Fauzi.


"Iya nih, kita mau ikut nimbrung juga gak bakalan ngerti.." Tambah Farhan.


"Udah udah kalian cerita aja lagi.." Kata Nina.


Farhan dan Fauzi kembali sibuk membahas sesuatu yang entah apa juga itu.


"Wa, ini juga bisa kamu jadiin senjata suatu hari nanti, aku yakin kak Fauzi bakalan nurutin semua kemauan kamu kalau kamu bilang ini demi anaknya.." Bisik Nina.


"Semanjur ini alasan klise seperti itu?" Tanyaku balas berbisik.


"Iya, kamu liatkan tadi gimana reaksi kak Farhan.."


"Ah iya iya.. Haha nanti aku coba juga deh.."


"Makanya hamil cepat.."


"Ah? He he he.." Aku hanya tertawa canggung mendengar perkataan Nina.


Aku masih takut memikirkan tentang memiliki anak.


Nina dan Farhan spontan menatap Fauzi kemudian beralih menatapku.


"Mrs. Zahran?" Tanya Farhan dan Nina bersamaan.


"Kenapa?" Tanya Fauzi."Itu panggilan buat istriku yang tercinta, katanya itu kedengerannya romantis.." Jawab Fauzi cengengesan.


Nina dan Farhan kembali menatapku.


"Lu apa gak ada panggilan yang lain?" Tanya Farhan.


"Iya nih, panggilan itu kedengarannya agak gimana gitu. Lagian kenapa jadi make nama depannya kak Fauzi?" Tanya Nina.


"Istriku maunya gitu, dia manggi aku mas Zahran sekarang.." Jelas Fauzi yang sedari tadi cengengesan terus.


"Ck suami siapa sih ini kok bikin malunya kelewatan" Batinku.


"MAS???" Lagi-lagi Nina dan Farhan dibuat terkejut.


"Ah ha ha ha ha.." Aku hanya tertawa terbata-bata tidak karu-karuan. "Ga gak gitu kok, tadi itu cuman bercandaan.." Jelasku "Iya kan sayang??" Tanyaku pada Fauzi sambil merapatkan gigi dan melihatnya dengan mata melotot.


"Ha?" Fauzi terlihat bingung.


"Aku bilang panggilan itu cuman bercanda kan sayang??" Sekali lagi aku merapatkan gigiku memberi kode pada Fauzi.


"Oh iya, cuman bercanda" Jawab Fauzi yang sepertinya sudah mengerti dengan kode yang kuberikan. Dia sepertinya paham kalau aku sedang kesal sekarang, telihat dari ekspresinya yang mulai tegang dan takut kalau aku marah.


"Oh syukurlah kalau kalian hanya bercanda.." Kata Nina sambil bernafas lega.


"Menurutku gak apa sih kalau kalian memang sukanya saling manggil seperti itu, tapi kuharap kalian saling memanggil seperti itu kalau hanya berdua saja, jangan saat ada orang lain. Hufftt.." Farhan pun ikut menanggapi.


"He he he iya kak.." Jawabku mencoba tersenyum kemudian mengalihkan pandanganku menatap Fauzi dengan tatapan seperti ingin menerkamnya. Fauzi terkejut.

__ADS_1


"I itu.. Biar aku sa saja sayang yang ngambil air buat tamu kita.." Kata Fauzi beranjak mempercepat langkahnya menuju dapur.


Hahaha.. Nina dan Farhan tertawa melihat tingkah Fauzi.


Cukup lama Nina dan Farhan mengobrol bersama kami, aku dan Fauzi bahkan belum mandi dan tetap asyik mengobrol sampai akhirnya Nina dan Farhan pamit untuk pulang.


Aku berjalan menuju kamar tanpa memperdulikan Fauzi.


"Sayang.. sayang.." Panggil Fauzi sambil berlari kecil mengejarku.


Aku masuk kekamar dan duduk ditepi tempat tidur.


"Sayang kamu marah?" Tanya Fauzi duduk berlutut didepanku.


Aku mengalihkan pandanganku dari Fauzi dan mengabaikannya.


"Sayang maafin aku.. Ya yaaa...??" Fauzi merajuk manja.


"Kamu tuh, kenapa harus manggil aku dengan panggilan kayak tadi di depan kak Farhan sama Nina" Tanyaku kesal.


"Maaf sayang, aku gak tahu kalau kamu bakal marah kalau aku panggil begitu, habisnya kamu sendiri yang bilang panggilan kayak gitu romantis, aku cuman mau ngasih liihat Farhan kalau kita itu romantis"


"Keromantisan kita itu tidak perlu diperlihatkan sama orang lain.."


"I itu kan cuman Farhan sama Nina sayang, aku pikir kita seperti dulu gak ada malunya kalau cuman sama mereka berdua.."


Ah iya, kenapa juga aku jadi sensitif dan sok malu seperti ini padahal itu hanya Nina dan kak Farhan yang biasanya juga kalau kami bertemu urat malu seperti sudah putus semua.


"Sayang maafin aku ya.." Rengek Fauzi.


Ck, aku mana bisa tahan marah kalau sudah melihat ekspresi Fauzi yang menggemaskan begini, meski aku sangat ingin memeluknya karena dia terlihat sangat lucu tapi aku harus tetap jaga image sok marah. Aku semakin senang melihat Fauzi yang merajuk seperti ini, menggemaskan sekali.


Aku perlahan mengangguk tanpa melihatnya.


"Jadi kamu maafin aku kan?"


Aku mengangguk sekali lagi.


"Beneran????"


"Iyaa.."


Fauzi menghambur memelukku. "Makasih sayang..." Katanya sambil memberikan ciuman manis di pipiku.


"Aku gak mau lagi.."


"Gak mau apa sayang??" Tanyanya melepas pelukannya.


"Manggil kamu seperti itu, aku mau manggil sayang saja.."


"Iya terserah kamu saja, aku dipanggil apapun sama kamu aku tetap suka.." Jelasnya.


"Peluk??" Kataku dengan manja sambil merentangkan tanganku. Fauzi memelukku dengan lembut.


"Lagian kamu kenapa sih sayang? Kamu gak lagi datang bulan tapi bawaannya marah terus"


"Siapa yang marah terus? Aku gak marah tau.."


"Hemm.. Kamu sambil bilang 'gak marah'nya juga sambil marah sayang.."


Aku ingin melepas pelukanku tapi Fauzi menahannya dan kembali memelukku dengan erat.


"Iya iya.. Kamu gak lagi marah.." Kata Fauzi mengiyakan perkataanku saja.


Aku berharap kedepannya kami akan selalu seperti ini, saling menyayangi dan saling memahami satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2