
Waktu berlalu, tidak terasa sudah tujuh bulan Fauzi memutuskan hubungannya dengan Salwa. Meski tujuh bulan bukan waktu yang sebentar tapi tetap saja Fauzi masih kesusahan untuk menahan rindu dan perasaannya pada Salwa. Sesekali dia pulang dengan harapan setidaknya bisa berpapasan dengan Salwa tapi sekalipun Fauzi tidak pernah bertemu dengan Salwa. Rasa rindunya semakin memupuk dan tumbuh dengan subur tanpa bisa dia tebus, yah Fauzi sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menemui Salwa sebelum dia siap untuk menjemput Salwa di orangtuanya.
Hari-hari yang Fauzi lalui tak seharipun dia lewatkan tanpa rasa rindunya pada Salwa, Fauzi sesekali menghubungi Ibu Salwa untuk sekedar mengetahui bagaimana kabar Salwa saat ini dan apakah Salwa masih membahas tentangnya. Jujur saja ada perasaan takut dihati Fauzi jika mengingat bahwa bisa saja Salwa saat ini memiliki laki-laki lain dan mulai melupakannya. Fauzi sudah mempersiapkan hati jika saja pada waktunya tiba nanti Salwa benar-benar sudah menjadi milik oranglain tapi sepertinya sampai sekarang hati yang dia persiapkan untuk menerima kemungkinan itu belum juga siap.
Berbeda dengan Fauzi yang sedang bertahan dari terjangan badai rindunya pada Salwa, Farhan dan Nina sekarang malah sedang menikmati indahnya kasmaran berdua. Siapa sangka pertemuan mereka hari itu yang hanya berawal dari kebohongan masalah pertemuan dengan teman yang akhirnya terungkap oleh Ayah Nina sebagai orang yang di jodohkan berakhir dengan perasaan yang sama-sama mulai saling mencintai. Farhan ataupun Nina sesekali pulang secara bersamaan untuk sekedar bertemu. Ya awalnya Farhan melakukan itu hanya karena tidak ingin Ayah dan Ibunya dianggap tidak becus jika Nina menolaknya, namun lama kelamaan karena keseringan bertemu dan keseringan bersama akhirnya perasaan Farhan benar-benar tumbuh pada Nina. Sedangkan bagi Nina mengubah perasaan kagumnya dulu menjadi perasaan cinta bukanlah hal yang sulit terlebih lagi karena mendapatkan dorongan dari orangtua.
Hari ini seperti biasanya mereka kembali janjian untuk bertemu disalah satu cafe indoor. Farhan yang meskipun sudah mulai mencintai Nina tapi sampai sekarang dia belum pernah secara langsung mengatakan bahwa dia mencintai Nina. Sampai saat ini pun Nina belum pernah mendengar pernyataan langsung dari Farhan, namun bagi Nina itu bukan sesuatu hal yang harus dipermasalahkan, bagaimana mereka sudah sama-sama nyaman saat ini itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka punya perasaan yang sama.
"Kamu lama banget.." Tanya Nina dengan ekspresi tidak senang karena menunggu Farhan cukup lama. Ya sudah tidak ada lagi panggilan kakak untuk Farhan dari Nina. Panggilan kakak itu sudah berubah menjadi 'kamu' menandakan sudah bagaimana akrabnya mereka sekarang meski sekalipun belum pernah keduanya saling memanggil 'sayang' karena belumnya ada pernyataan resmi. Meski begitu mereka tetap menikmati hubungan mereka yang hanya diresmikan dengan ikatan perjodohan, bukan dari pernyataan salah satu diantara mereka.
"Maaf, maaf, tadi ada kesibukan sebentar.." Jawab Farhan sambil duduk di kursi depan Nina.
"Ini hari libur atau apa sih?? Kok sepi begini ini cafe.." Tanya Nina kebingungan setelah melihat di sekitar dan tidak seorangpun yang ada disana.
"Gak ada orang karena aku udah ngerefervasi tempat ini.."
"Kenapa??" Tanya Nina bingung.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, takutnya habis ngedenger ini kamu bakalan marah atau nangis-nangis mungkin, jadi gak perlu malu karena gak bakal ada yang liat.." Kata Farhan dengan tatapannya yang serius.
Nina terdiam sejenak. Ekspresinya yang tadi santai-santai saja berubah menjadi datar kemudian perlahan menjadi bingung dan tidak senang.
"Mau ngomong apa??" Tanya Nina ragu-ragu. Nina seolah sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Farhan. Dia tahu bahwa Farhan sudah tahu tentang bagaimana perasaannya pada Farhan sekarang, mendengar Farhan merefervasi tempat ini agar dia bisa menangis sepuasnya membuatnya menjadi takut mendengar perkataan Farhan.
"Nin, kayaknya aku gak bisa lagi ngelanjutin hubungan kita sebagai seseorang yang dijodohkan oleh orangtua kita, aku udah gak belajar lagi buat cinta sama kamu.." Kata Farhan.
"Ta tapi ke kenapa??" Tanya Nina terbata-bata, matanya mulai berkaca-kaca.
Farhan beranjak dari kursinya, mendekati Nina dan memegang tangannya agar Nina ikut berdiri.
"Karena.."
"Kamu tahu kan apa yang aku rasain sekarang??" Tanya Nina memotong perkataan Farhan. "Kamu mau aku belajar buat cinta sama kamu, buat sayang sama kamu dan setelah sekarang aku dengan perasaanku yang seperti ini kamu mau...." Nina menarik tangannya dari genggaman Farhan.
"Hey dengar aku dulu.."
"Apa??? Sengaja mau berbuat ini sama aku.. Kamu jahat.." Kecam Nina, airmatanya mulai mengalir dengan deras.
__ADS_1
Farhan berusaha memeluk Nina untuk menenangkannya agar mau mendengar penjelasannya.
"Gak usah peluk-peluk.. Buat apa ngepeluk aku kalau ujung-ujungnya mau ninggalin aku.."
"Siapa yang mau ninggalin kamu???"
Nina seketika terdiam mendengar perkataan Farhan.
"Aku gak pernah bilang kalau mau ninggalin kamu..."
"Te teruss.. Mau bilang apa?? Kamu bilang biar aku puas marah-marah dan menangis biar gak diliat orang.. Emang aku mau menangis apa lagi kalau bukaan..."
"Tapi aku kan gak bilang kalau mau ninggalin kamu.."
"Ta tapi tadi bilangnya gak bisa ngelanjutin perjodohan kita, katanya juga udah gak mau belajar cinta sama aku.."
"Ha ha ha" Farhan tertawa kecil mendengar perkataan Nina dan lucunya ekspresinya. "Maksudku bukan begitu.." Farhan mendekat dan memegang tangan Nina. "Aku gak mau ngelanjutin hubungan kita sebagai orang yang di jodohkan karena aku mau menjalin hubungan yang sebenarya sebagai orang yang benar-benar saling mencintai bukan karena di jodohkan, pasangan yang akan menikah bukan karena perjodohan. Dan lagi buat apa aku belajar cinta sama kalau nyatanya sekarang aku udah beneran cinta sama kamu.." Jelas Farhan.
Hikss hikss.. Nina yang tadi sempat terdiam mendengar penjelasan Farhan perlahan mulai menangis lagi sampai akhirnya jatuh duduk tersungkur menangis sejadi-jadinya.
"Kamu jahat.. Jahat sekalii..." Kata Nina sambil menangis dan semakin kuat saja tangisnya.
"Ja jahat?? A aku??" Farhan bingung, apakah perasan cintanya pada Nina yang tulus sekarang ini adalah sebuah kejahatan?
"Hiksss.. Ka kamu ngebuat aku takut.. Hikss a aku takut kamu ninggalin aku.. A aku takut kamu gak bisa cinta sama aku meskipun udah belajar buat bisa cinta sama aku.. hikss a aku takutt..." Kata Nina terisak-isak.
Farhan hanya tersenyum dan berusaha menahan tawanya mendengar perkataan Nina. Nina bisa semakin marah kalau Farhan melepaskan tawanya sekarang.
"Yasudah cup cup jangan nangis.. sini sini.." Farhan mendekat mencoba menenangkan Nina.
"Jangan pegang-pegangg.." Kata Nina menyingkirkan tangan Farhan. "Ka kamu jahaattt... Hikss huaaa..." Nina kembali menangis semakin kencang.
Farhan berdiri. "Jadi kamu gak mau sama aku??" Tanya Farhan.
Nina menoleh menatap Farhan dengan airmatanya yang masih mengalir.
"Ya maauuu..." Nina berdiri dan menghambur memeluk Farhan.
__ADS_1
Farhan balas memeluk Nina tersenyum.
"Sudah sudah.. Jangan nangis lagi.."
Cringgg cringgg.. Lampu lampu dicafe itu menyala secara bergantian, membentuk sebuah gambar hati dan foto Nina mulai berjatuhan bergelantungan dibelakang Farhan.
Mata Nina membelalak melihat itu semua.
"Jadi kamu mau kan hidup denganku suatu hari nanti, mengizinkanku mencintaimu terus dan menjadi lelakimu yang selalu ada buat kamu.." Tanya Farhan.
Nina masih terdiam, dia masih sangat shock melihat semuanya.
"Aku mencintaimu Nina, aku sayang sama kamu dan aku mau kelak kamu akan menjadi ratu di dalam rumahku.."
Perlahan airmata Nina kembali menggenang dipelupuk matanya, ekspresinya yang tadi sempat tenang sejenak mendengar perkataan Farhan perlahan mulai tidak karuan lagi karena sepertinya tangisnya akan pecah untuk yang ketiga kalinya.
"Kamu mau kan???" Tanya Farhan menyodorkan sebuah kotak cincin.
Nina hanya mengangguk karena tidak mampu berkata-kata lagi, airmatanya kembali menetes.
Farhan memasangkan sebuah cincin berbentuk bunga Daisy yang melambangkan sebuah kemurnian seperti arti dari nama Nina.
Cincin itu melingkar indah di jari manis Nina, Nina terus menatapnya lalu mengangkat wajahnya menatap Farhan. Nina menghambur memeluk Farhan dan kembali menangis sejadi-jadinya.
"Hey kenapa menangis lagi.." Tanya Farhan membalas pelukan Nina
"Karena aku sayang sama kamu.." Jawab Nina sambil terisak.
"Ha ha ha.. Sudah sudah jangan menangis lagi.."
"Huaaa.. Aku gak bisa berhenti menangis..." Kata Nina mempererat pelukannya.
"Ha ha ha kenapa lagi??"
"Tadi aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena terlalu bahagiaa...Hiksss aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti menangis" Kata Nina terus-terusan menangis.
Farhan hanya memeluk Nina berusaha menenangkan perempuan yang dicintainya itu.
__ADS_1