
Fauzi masih duduk bersama dengan perempuan yang mengenalinya meski ia tidak mampu mengingat siapa perempuan tersebut.
Garis besar yang Fauzi tahu tentang perempuan itu, hanya sebatas seorang direktur dari perusahaan ternama yang bersedia melakukan kerjasama dengan perusahaan yang sedang dijalankannya , dan kini bertemu untuk membahas beberapa hal sebelum melangsungkan kerjasama.
“Melihatmu yang gak ingat sama aku, bahkan saat aku sudah memperkenalkan diri, membuat aku sadar kalau kehadiranku dalam hidupmu sebelumnya benar-benar tidak berkesan” Ucapnya lirih dengan penuh kekecewaan. Seperti sebuah tembakan khusus yang diarahkan pada Fauzi tentang ingatannya yang begitu dangkal akan dirinya.
“Maaf” Entah berapa kali Fauzi mengulang-ulang kata maafnya.
“Awalnya aku mau memaklumi. Tapi sepertinya aku benar-benar kecewa saat kamu tetap gak ingat sama aku, bahkan saat aku udah nyebutin namaku..”
Fauzi hanya terus menatapnya, masih berusaha mengumpulkan ingatannya di waktu lalu, sekiranya sedikit saja bisa terbesit tentang perempuan yang tengah kecewa dengan daya ingat Fauzi yang begitu lemah.
“Ah sudah sudah.. Ngeliat kamu berusaha keras ingat sama aku, makin membuatku sakit saja. Aku seperti orang yang mengemis-ngemis untuk diingat sama kamu. Ya meskipun faktanya begitu, ha ha ha” Tawanya terdengar nyaring meski ekspresinya memperlihatkan betapa ia kecewa akan Fauzi yang tidak mengingatnya.
Keduanya mulai menikmati sajian yang tersedia di depan mereka. Tidak banyak kata yang keluar dari keduanya sampai akhirnya mereka selesai sarapan bersama.
Perempuan yang tidak begitu asing bagi Fauzi, meski ia tidak mengenalinya itu, mulai membahas pokok-pokok pekerjaan yang bersangkutan tentang kerjasama yang akan dilangsungkan. Perkenalan perusahaan masing-masing dan beberapa pembahasan ringan yang masih bersangkutan dengan masalah pekerjaan. Hingga akhirnya setelah melewati waktu hampir dua jam, keduanya akhirnya menyudahi pembahasan pekerjaan itu.
Fauzi mulai merapikan beberapa dokumen yang dibawanya tadi dan sempat ia buka-buka untuk diperlihatkan pada rekan relasi kerjanya dari perusahaan yang berbeda.
“Sebelumnya aku minta maaf karena melakukan pertemuan se pagi ini. Ah, kita sampai bertemu dan membahas masalah pekerjaan di luar jam kerjamu..”
“Tidak apa” Jawab Fauzi tersenyum dan memaklumi.
Ya mitra kerjanya itu memiliki perusahaan yang terbilang besar, jelas waktunya sangat padat, sehingga mengatur jadwal bertemu pasti sulit baginya. Fauzi pun sangat bersyukur karena ia diberi kesempatan bertemu ditengah-tengah aktifitas padat dari kliennya itu.
“Aku punya janji diluar kota juga hari ini, dan beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan disana. Aku akan berangkat tengah hari nanti, jadi aku mengambil janji bertemu sama kamu lebih awal di pagi hari. Karena aku gak tahu kapan aku kembali dari luar kota, sedang aku udah penasaran banget ngeliat kamu yang sekarang”
Senyum manis yang sedari tadi mengembang di bibir Fauzi, yang dia perlihatkan sebagai keramahan pada lawan bicaranya, seketika menjadi sedikit canggung setelah mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan perempuan itu.
“Ha ha ha maaf, aku gak ada maksud lain. Aku cuman udah lama banget gak ngeliat kamu, jadi aku penasaran seperti apa lelaki semua wanita di sekolah dulu. Ya harus kuakui, bahkan di usiamu yang tidak remaja lagi, kamu tetap tampan dan terlihat muda” Pujinya.
Fauzi hanya menanggapi dengan senyuman. Lagi Fauzi berusaha mengumpulkan ingatannya mengenai perempuan yang ada di depannya itu. Perempuan yang seperti mengenalinya begitu dalam di waktu lalu.
Apa aku tertular virus pikunnya Salwa sekarang? Atau memang usiaku yang sudah masuk range untuk menjadi pikun?
__ADS_1
“Hem.. Melihat pandanganmu, sepertinya kamu masih gak ingat sama aku ya..” Keluhnya.
Berulang-ulang wanita itu mengungkapkan kekecewaannya pada Fauzi yang masih saja belum bisa mengingatnya.
Fauzi hanya tersenyum simpul, kemudian menunduk memperlihatkan penyesalannya akan ingatannya yang begitu tidak bersahabat saat ini.
“Sebenarnya aku sedikit malu ngebahas ini, tapi kurasa hanya ini yang bisa ngebuat kamu ingat sama aku..”
Fauzi menatapnya menunggu kata selanjutnya yang akan keluar dari bibir tipis berselimut lipstik warna nude miliki wanita yang duduk di depannya itu.
“Aku Karin, kakak kelas yang nembak kamu semasa SMA dulu. Yah, yang nekat nembak kamu meski sudah tahu kalau kamu punya pacar waktu itu. Mungkin hanya aku satu-satunya yang nembak kamu meski udah tahu kamu udah ada yang punya” Jelasnya, mencoba membangkitkan memori Fauzi akan dirinya. “Ck, rasanya memalukan sekali membahas ini..” Keluhnya dengan senyum smrik sambil membuang wajahnya. Sepertinya itu benar-benar cerita yang memalukan baginya.
Fauzi terus mengingat, hingga akhirnya perlahan kornea matanya melebar menandakan, memori yang sedari tadi digalinya itu akhirnya ketemu juga.
“Ah kak Karin.. Maaf maaf, aku beneran gak bisa ingat tadi”
Fauzi benar-benar butuh bantuan percikan kesan yang sedikit nyetrik untuk bisa membawa ingatannya kembali.
Ya wajar saja Fauzi sulit mengingat wanita yang duduk dengan penuh kecewa di depannya itu. Bagaimana tidak, selain karena memang interaksi mereka selama sekolah dulu tidak begitu sering, juga karena penampilan dewasa, feminim nan rupawan yang dimiliki Karin sekarang, jauh berbeda dengan yang dulu. Ditambah lagi balutan kemeja dan rok span yang memperlihatkan body rampingnya, semakin membuatnya terlihat mempesona.
“Akhirnya kamu ingat juga”
“Tidak apa. Cuman, berhenti manggil aku dengan panggilan Kak, Fauzi. Kamu semakin memperjelas usiaku yang sudah tua”
“Ah tidak, tidak, aku gak bermaksud begitu” Sela Fauzi memungkas anggapan Karin, wanita yang sudah diingatnya.
Karin tersenyum melihat tingkah Fauzi yang tidak ingin membuatnya salah paham dengan perkataannya.
“Bagaimana kabarmu? Ah, lucu sekali rasanya baru bertanya kabar sedang kita sudah dua jam duduk bersama disini”
“Aku baik, kakak.. Ah maksudku kamu gimana?”
“Ya seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Terlebih lagi karena sudah melihatmu sekarang, aku semakin baik dari yang sebelumnya”
Entah itu adalah godaan atau hanya sekedar candaan dari seorang senior pada juniornya di waktu duduk di Sekolah menengah atas dulu. Fauzi pun tidak menanggapi serius akan perkataan Karin itu.
__ADS_1
“Jangan-jangan, Ayah teman yang kamu maksud tadi itu, adalah Ayahnya Farhan?”
Fauzi mengangguk mengiyakan pertanyaan Karin.
“Iya, benar”
“Lalu Farhan sekarang dimana?”
“Dia juga disini, sekarang membantu Ayahnya mengurus perusahaan perusahaan induk milik Ayahnya”
"Membantu Ayahnya? Kenapa gak jadi direktur di perusahaan Ayahnya yang lain?"
"Karena Farhan seorang Farmasi, jadi dia tetap melakukan aktifitas yang sesuai dengan profesinya"
“Wah, mendengar kamu membahas Farhan, sepertinya kalian masih bersahabat baik seperti dulu”
“He he he iya, tidak ada yang berubah antara aku sama Farhan. Kami masih seperti yang dulu”
“Rasanya aku iri sama persahabatan kalian”
Ya, Fauzi tidak menyangkal, rasa iri yang dimiliki seseorang terhadap persahabatannya dengan Farhan adalah hal yang wajar baginya. Bagaimana tidak, hubungan mereka tetap baik meski waktu sudah berselang berpuluh-puluh tahun, bahkan setelah hubungan mereka sempat diterjang badai saat remaja lalu.
“Apa Farhan sudah berkeluarga sekarang?”
“Iya, Farhan sudah jadi Ayah sekarang. Kamu pasti terkejut saat tahu, siapa istri Farhan”
“Siapa?” Dahi mulus meski dibalut dengan alas bedak tipis itu berkerut, memperlihatkan dia yang cukup penasaran.
“Nina. Adik kelasku dulu..”
“Nina?? Adik kelas yang dua tingkat dibawahku?? Yang agak cuek itu?? Yang kemana-mana sama Salwa??”
“Iya” Jawab Fauzi membenarkan.
“Wah.. Jodoh benar-benar tidak ada yang tahu..”
__ADS_1
Ekspresi terkejut dan sedikit tidak percaya terpancar di wajah Karin. Mulutnya setengah menganga dalam beberapa detik, saat mengetahui fakta yang di sajikan Fauzi.
Keduanya menjadi larut dalam obrolan mereka. Obrolan yang terasa hangat dan menjadi akrab, layaknya seorang teman yang baru bertemu kembali setelah sekian lama tak pernah saling mengetahui kabar.