Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review..


__ADS_3

Cahaya matahari menerobos masuk ke kamarku dengan leluasa melalui jendela yang lupa aku tutup gordennya semalam. Karena beberapa kejadian yang mengejutkan semalam membuatku lupa beberapa hal kebiasaan yang biasa aku lakukan seperti menutup gorden jendela.


Kepalaku sakit sekali, terasa berat dan pusing. Mungkin karena semalam hujan-hujanan dan menangis terlalu lama.


Tinggtongg..


Satu notifikasi pesan masuk yang dikirm melalui WhatsApp.


"Selamat pagi.. Sudah bangun?"


Satu pesan singkat yang dikirim oleh Farhan.


Aku mengabaikan pesan itu lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


Telfonku berdering..


"Siapa? nomor baru?"


Panggilan dari nomor tidak dikenal masuk, dan setelah ku cek ini adalah panggilan ke tiga belasnya pagi ini dan beberapa panggilan tak terjawab tadi malam dari nomor yang sama.


Aku bukan tipe orang yang asal memberikan nomor telfonku pada oranglain, teman-teman yang lain juga tahu betul itu sehingga tidak ada dari mereka yang berani memberikan nomor telfonku pada oranglain sebelum meminta izin dariku, kalaupun ini adalah seorang teman, mengapa harus menelfon berkali-berkali? Mengapa tidak mencoba menghubungiku lewat sosial media ketika telfonnya tidak kuangkat.


Telfonku bergetar kembali, satu pesan singkat, dan ternyata ada beberapa pesan singkat lainnya yang dikirim semalam dengan nomor telfon yang sama. Aku seperti orang yang lupa ingatan sampai tidak sadar ada beberapa pesan singkat yang masuk tapi tidak kusadari.


"Salwa.. tolong angkat telfonku, aku punya banyak hal yang harus aku jelaskan sama kamu sayang.."


Ah, aku mengerti sekarang, ini pesan yang dikirim Fauzi melalui nomor telfon yang baru. Ya, aku baru ingat, karena terlalu sakit dan kesal semalam, nomor telfon Fauzi ku blokir sehingga Fauzi tidak bisa menghubungiku.


Ingatanku kembali mengingat kejadian semalam, dimana aku benar-benar terluka dan jatuh dalam rasa sakit yang luarbiasa.


Aku selesai melakukan pentas Lomba Tari Tradisional antar Sekolah Menengah Tingkat Atas, aku dan teman-temanku tidak memiliki hasil yang baik yang membuatku sangat terpukul karena merasa kegagalan itu karena aku yang tidak profesional. Meski begitu tidak ada dari teman-temanku yang menyalahkanku, mereka malah terus menghiburku dan berusaha meyakinkanku bahwa ini bukan kesalahanku yang membuatku terus menyalahkan diri sendiri. Untuk menghiburku teman-temanku berinisiatif untuk makan bersama selepas pentas itu disebuah cafe disamping Maleo Mall. Aku yang datang terlambat karena harus menenangkan perasaanku terlebih dahulu akhirnya kedapatan gerimis yang menyebabkan pakaian bagian bawahku sedikit basah, karena ketidaknyamanan pakaianku yang basah aku akhirnya singgah untuk berganti pakaian di Maleo mall samping cafe dan mendapati Fauzi kekasihku sedang bersama perempuan lain.

__ADS_1


Aku terus-terusan berfikir, kenapa aku harus berganti pakaian sedangkan yang basah hanya bagian bawah pakaianku saja, kenapa aku harus ketoko yang bersampingan dengan toko accesories sedangkan ada banyak toko yang lain, kenapa aku sangat tertarik untuk masuk toko accesories sedangkan aku saat itu sangat sadar dan mengingat teman-temanku sedang menungguku di Cafe. Dan.. yang paling menyakitkan, kenapa aku harus melihat kekasihku sedang bersama perempuan lain, bukan hanya sekedar bersama tapi dengan jelas aku melihat dia membelai rambut perempuan itu. Kenapa harus ada waktu dimana aku menjadi penonton dalam drama romance yang diperankan oleh kekasihku sendiri. Sampai saat ini pertanyaan-pertanyaan itu terus-terusan berputar dikepalaku dan membuat hatiku kembali sakit. Yah.. mungkin saja ini naluri, ini adalah petunjuk dimana aku diharuskan untuk melihat sisi lain dari kekasihku.


Mengingat kejadian semalam membuatku kembali menangis. Andaikan ada Ibu, mungkin Ibu bisa membantuku menenangkan sedikit perasaanku, tapi di sisi lain aku juga bersyukur Ibu dan Ayah sedang tidak dirumah sehingga ia tidak harus melihatku menangis seperti ini dan melihatku pulang dalam keadaan basah kuyup semalam.


Pulang basah kuyup?? Ah ya, semalam aku pulang dalam keadaan basah. Melihat Fauzi dengan perempuan lain semalam benar-benar mengejutkanku dan spontan berlari meninggalkan Fauzi. Aku tidak tau apakah Fauzi sempat mengejarku atau bagaimana hanya saja ketika aku sadar, aku tahu kalau tidak ada Fauzi yang mengejarku. Aku juga sangat sakit mengingat itu, apa Fauzi tidak ada niat untuk mengejarku sekedar memberikan penjelasan tetang apa yang aku lihat, apakah setidak peduli itu Fauzi terhadapku? Hanya ketika sampai dirumah barulah ada beberapa pesan yang Fauzi yang kirimkan dan panggilannya yang sudah tidak ingin aku gubris.


Aku spontan berlari menjauh dari Fauzi semalam. Aku tidak bisa berfikir jernih, perasaanku yang tidak bisa kuatasi membuat tubuhku impulsif melakukan hal yang bahkan tidak bisa secara langsung kusadari. Aku tidak tau berapa lama aku jatuh tersungkur dijalan hujan-hujanan sampai akhirnya Farhan datang. Farhan datang menemani, menenangkanku dan... ASTAGAAA..!! Kenapa aku bisa lupa? Apa tanggapan Farhan semalam tentang itu. Aku terkejut sendiri setelah mengingatnya.


Ponselku bergetar..


"Ehhh ehhh anu anuu..." Kataku spontan terkejut dan Ponselku terlepas dari tanganku.


"Belum bangun ya??" pesan yang dikirim oleh Farhan.


"Sudah kok.." balasku


Apa yang difikirkan Farhan tentang semalam? Apa dia berfikir aku mengiyakan permintaannya. Ah, kenapa juga aku impulsif sekali semalam? Aku jadi pusing sendiri memikirkannya.


"Lumayan.." Balasku.


"Kok baru dibalas?"


"Baru pegang Hp soalnya.."


"Udah sarapan?"


"Belum.."


"Yaudah aku jemput kamu ya, kita cari sarapan sama-sama"


"Gak usah, entar bisa pesan makanan aja, ngerepotin kamu aja"

__ADS_1


"Udah gak papa, aku kesana ya sekarang.."


"Ta.. tapi.."


"Gak ada tapi-tapian, tunggu aku disana oke.."


"Gakk..." Belum sampai ucapanku telfonnya sudah terputus.


Melihat reaksi Farhan sepertinya dia menanggapi serius tindakanku semalam. Aku tidak tau harus seperti apa, aku harus menanggapi bagaimana Farhan ketika datang dan harus bagaimana aku nantinya. Aku mengerti, kalaupun aku diposisi Farhan untuk seseorang yang sudah lama kita sukai pasti akan sangat antusias dan jelas menanggapi serius perlakuanku semalam.


Aku berfikir sejenak, ini sesuatu yang salah. Iya hubunganku dengan Fauzi sekarang dalam keadaan tidak baik tapi belum ada kata putus diantara kami, kalaupun pada akhirnya aku benar-benar putus dengan Fauzi aku tidak akan bisa langsung menerima Farhan, aku butuh waktu sendiri untuk sejenak dan aku tidak ingin menjadikan Farhan sebagai pelampiasan semata.


Ya, aku harus menjelaskan kesalapahaman ini pada Farhan agar ini tidak berlaru-larut dan akan semakin membingungkan nantinya. Bukan hanya perasaanku yang masih sulit menerima Farhan, pikiranku tentang pikiran oranglain juga seolah menolak hubunganku yang seperti ini sama Farhan. Aku akan menejelaskan dan mencoba membuat Farhan mengerti tentang apa yang terjadi semalam, aku sendiripun tidak sadar dengan tindakanku yang seperti itu. Ya, aku tau aku akan melukai Farhan dengan ini tapi jika aku biarkakn Farhan terus-terusan dalam kesalahpamahan,  kelak akan ada waktu dia tau kenyataannya dan itu akan semakin membuatnya terluka. Semoga saja Farhan bisa mengerti.


Aku bersiap-siap sebelum Farhan datang menjemputku.


.


.


.


.


Halo semua.. Salwa kembali..


Sebelumnya saya meminta maaf karena terlalu lama Up untuk season 2, berhubung kesibukan dan sedikit gangguan kesehatan sehingga tidak bisa Up lebih cepat..


.


Terimakasih masih membaca kelanjutan kisah Salwa :)

__ADS_1


__ADS_2