
Fauzi menghempaskan tubuhnya ditempat tidur, mengambil bantal dan menutup kepalanya dengan kuat..
"Maluunyaaaa...." Teriak Fauzi namun suaranya tertahan oleh bantal. "Dia mikir apa ya sekarang tentang aku???" Tanya Fauzi pada dirinya sendiri.
Fauzi meraih ponselnya, membuka obrolan percakapan dengan Salwa. Apa aku chat saja ya??" Pikir Fauzi. "Ah gak gak... Aku juga gak tahu harus ngechat apa.." Fauzi kembali meletakkan ponselnya.
Fauzi kembali mengingat bagaimana saat dia mengatakan perasaannya tadi.
.
.
"Salwa tunggu.." Kata Fauzi meraih pergelangan tangan Salwa.
Salwa menoleh.
"Aku mau ngomong sesuatu.."
Salwa hanya menatap Fauzi dengan tatapan bertanya.
"Salwa.. Aku suka sama Salwa, kamu mau gak jadi pacarku.." Tanya Fauzi tegas dengan sorot matanya yang serius.
Salwa terdiam, menatap Fauzi cukup lama. Fauzi tidak tahan lagi ditatap oleh Salwa, dia mengalihkan pandangannya.
"Haaissss..." Fauzi menutup mukanya karena malu. "Ah aku gak tahu ini momennya tepat atau salah, aku hanya gak bisa nunggu lagi buat ngomong sama kamu kalau aku suka sama kamu" Fauzi kembali menatap Salwa.
Salwa masih terlihat terkejut dan masih menatap Fauzi.. Fauzi benar-benar tidak tahan ditatap oleh Salwa, lagi dia mengalihkan pandangannya.
"Kenapa?? Aku aneh ya??" Tanya Fauzi ragu-ragu.
"Ga gak kok.." Jawab Salwa terbata-bata dan baru mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap Fauzi.
"Maaf kalau harus menyatakan ini sama kamu, maaf kalau ini membuatmu gak nyaman.." Fauzi mulai pesimis.
"Ga gak.. Bu bukannya aku....." Salwa semakin terbata-bata.
"Iya aku tahu kamu kaget, mungkin kamu gak nyangka aku akan bilang sama ini ke kamu. Kalau kamu beneran ngerasa aku aneh dan pernyataanku barusan ngebuat kamu gak nyaman, lupain aja yang barusan aku bilang.."
"Gak, aku sama sekali gak ngerasa gak nyaman kok.."
"Ja jadi???"
"Ngg... I itu.."
__ADS_1
"Kamu punya hak untuk nolak kok, jangan karena aku seniormu sampai kamu merasa sungkan buat nolak, itu hakmu. Apapun jawabanmu aku akan terima dan setelahnya jika masih ingin berteman aku bakalan tetap jadi temanmu seperti sebelumnya.." Jelas Fauzi berusaha tersenyum.
"Ka kak.. bisa kasi aku waktu gak kak??"
"Oh he he i iya, pasti kamu butuh waktu buat mikirin ini.. Apalagi aku ngomongnya terlalu tiba-tiba.."
"He he iyaa.." Jawab Salwa sedikit canggung.
"Oh ya yaudah kalau gitu, ayo aku antar pulang.." Fauzi melangkah, dan Salwa ikut mengekor di belakang Fauzi sambil menunduk. Ya Salwa masih cukup terkejut, dia sama sekali tidak menyangka.
"Gak gak gakk..." Kata Fauzi berhenti dan berbalik menatap Salwa yang tertunduk, melihat Fauzi yang berhenti Salwa mengangkat kepalanya menatap Fauzi. "Jangan begini.. Jangan canggung begini.. Aku bakal nganter kamu pulang, aku bisa grogi sepanjang jalan kalau kita seperti ini.. Ayo jalan seperti biasanya.." Kata Fauzi menarik Salwa, dan Salwa yang mengikut.
Salwa melepas tangannya dari genggaman Fauzi. Fauzi terkejut melihat reaksi Salwa yang seolah menolak untuk dipegang, perlahan dari melihat tangannya yang dilepas oleh Salwa kemudian mengangkat pandangannya menatap Salwa.
"Bukan seperti ini.." Kata Salwa tersenyum. Salwa merangkul tangan Fauzi. "Tadi kita seperti ini, bukannya seperti yang tadi kak Fauzi menarikku kayak bapak-bapak yang ngajak anaknya jalan-jalan" Kata Salwa tersenyum. Fauzi balas tersenyum.
.
.
.
"Ett tunggu-tunggu..." Kata Fauzi bangun. "Iya, tadi Salwa ngerangkul tanganku sambil tersenyum. Iya Salwa tersenyum tadi, apa itu maksudnya lampu hijau??" Fauzi terus berbicara pada dirinya sendiri. "Hemm.. Tapi sebelum ada jawaban dari Salwa, itu semua belum pasti.." Fauzi kembali kehilangan semangatnya.
"Apa aku terlihat bodoh? Dia menatapku dengan tatapannya yang aneh. Memalukan tapi aku lega karena sudah mengatakannya..
Ah terserah, aku sudah mengatakannya dan rasanya lega. Hanya saja kenpaa jantungku terus-terusan berdetak tidak karuan. Aku takut dia akan nolak aku, rasanya mau jadi orang egois satu kali ini saja. Aku mungkin tidak bisa menerima penolakan sekarang..."
Fauzi kembali mengucek-ucek kepalanya membuat rambutnya jadi berantakan.
"Aku gak akan tenang kalau Salwa belum ngejawab permintaanku" Fauzi menyandarkan kepalanya di meja. "Ah, apapun jawabannya aku harus siap dong.." Fauzi bangkit setelah mendapat semangat dari dirinya sendiri..
Fauzi melangkah meninggalkan meja belajarnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
.
.
.
Sementara itu di kamar Salwa.
Salwa terus memandangi langit-langit kamarnya, pikirannya masih berputar di sekitar apa yang terjadi tadi siang. Plokkk... Salwa memberi tamparan kecil di pipinya berusaha menyadarkan diri apakah ini nyata atau mimpi.
__ADS_1
Kata-kata Fauzi yang meminta untuk jadi pacarnya selalu terngiang-ngiang di kepala Salwa, sesekali Salwa jadi tersenyum jika mengingat ekspresi Fauzi sangat menyatakan perasaannya.
"Aku terima atau gak ya??" Tanya Salwa pada dirinya sendiri yang mulai bimbang. Dari dasar lubuk hatinya dia jelas mengagumi Fauzi dan tidak menolak kenyataan bahwa ada rasa yang lebih dari sekedar rasa kagum. Fauzi yang menyenangkan dan ramah, siapa perempuan yang tidak menyukainya? Meski pernah kesal pada Fauzi saat awal masuk sekolah dulu, tapi pada kenyatannya Fauzi juga membuat Salwa terkesima saat dia pertama kali melihat Fauzi dan sampai sekarang Salwa benar merasa nyaman setiap mengobrol bahkan walau sekedar saling berkirim pesan dengan Fauzi.
Hanya yang membuat Salwa bingung saat ini adalah. Sebulan yang lalu Farhan sahabat Fauzi mengungkapkan perasaannya pada Salwa dan saat ini dia juga menerima pernyataan cinta dari Fauzi. Salwa merasa tidak enak hati jika nanti Farhan tahu. Selain itu yang menjadi pertimbangan bagi Salwa adalah orang-orang sekitarnya. Bukan rahasia lagi bagaimana perempuan-perempuan di sekolahnya sangat menyukai Fauzi, dia takut akan ada pembullyan terhadap dirinya jika dia kedapatan berpacaran dengan Fauzi, pujaan para wanita disekolahnya.
Salwa meraih ponselnya.
"Halo Nin.."
Salwa menelfon Nina, kali ini dia betul-betul butuh seseorang yang bisa memberinya pencerahan dan dia rasa Nina adalah orang yang tepat. Salwa memang punya banyak teman sekarang tapi tetap saja Nina yang menjadi teman pertamanya saat masuk SMA yang menjadi teman terdekatnya yang bisa Salwa tempati untuk berbagi apapun yang mengganggu pikirannya.
"Hem kenapa??" Tanya Nina.
"Besok free gak.."
"Ya karena udah gak ada pelajaran di sekolah ya aku free lah.." Jawab Nina.
"Ayo keluar.."
"Kemana??"
"Jalan.."
"Ah males, lebih enak ngadem di kelas terus rebahan kalau udahh pulang.."
"Ayolah Nin, aku mau cerita sama kamu.."
"Cerita apaan?"
"Ini penting.. Pokoknya besok ayo keluar..."
"Iya deh.. Awas aja kalau gak ada yang mau diceritain.."
"Beneran ada, kamu juga bakal kaget pas tau nantinya.."
"Apa dah?? Bikin penasaran aja ih..."
"Pokoknya besok aku ceritain semuanya.. Oke??"
"Iya iyaa.."
"Yaudah tiduran lagi sono.."
__ADS_1
Salwa memutuskan panggilannya.