Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Mother in law


__ADS_3

Sekitar satu jam yang lalu, Fauzi mendapatkan panggilan dari Ibu mertuanya. Ibu mertuanya yang mengkhawatirkan kondisi mereka karena sebelumnya di telfon oleh Salwa dengan kata-kata yang membingungkan, meminta bertemu dengan Fauzi hari ini.


Fauzi memberitahu Ibu mertuanya tentang keadaan Salwa. Dia sadar, dia tidak akan bisa menyembunyikan keadaan Salwa, putri satu-satunya yang mereka miliki.


Laki-laki dengan beban yang begitu berat pada tanggungannya itu, duduk tersungkur di salah satu kursi di sebuah restoran sembari menunggu kedatangan mertuanya yang meminta untuk bertemu hari ini. Pandangannya kosong, namun hatinya menyimpan ribuan kegelisahan yang serasa ingin menelannya, sehingga membuatnya merasa sesak.


Fauzi tersentak saat gesekan dari kursi yang ditarik menimbulkan suara. Ibu mertuanya sudah datang dan mengambil posisi duduk pada kursi kosong di depannya.


“Ibu sudah datang?”


Ibu Salwa hanya mengangguk pelan.


“Jadi Salwa sakit apa?” Tanya Ibu mertuanya to the point. Terlihat jelas bagaimana kekhawatiran tengah melanda wanita paruh baya itu.


“Sa-Salwa..”


Fauzi sedikit ragu mengatakannya. Dia tahu, mertuanya yang lembut itu tidak akan menyalahkannya atas apa yang terjadi pada putrinya, tapi tetap saja Fauzi sedikit takut untuk mengatakannya.


“Salwa kenapa? Sakit apa, Fauzi?”


Fauzi menunduk, menarik nafas lebih dalam dan menghembuskannya perlahan. Fauzi mengangkat wajahya, menatap Ibu mertuanya yang sudah dipenuhi dengan kekhawatiran.


“Dokter mendiagnosa Salwa mengidap penyakit Alzheimer, Bu”


“Als? Alzh? A-apa??”


Penyakit yang tidak begitu umum di dengar oleh orang awam, membuat Ibu mertuanya harus bertanya ulang untuk memperjelas, penyakit apa yang tengah di derita putri tunggalnya.


“Alzheimer, Bu”


“Alzheimer? Penyakit apa itu?”


“Penyakit seperti pikun. Seperti ada penghapus di otak Salwa”


“Kamu ini ngomong apa sih Fauzi? Ibu gak ngerti sama apa yang kamu bilang”


“Ada protein khusus di otak Salwa, dan membentuk plak sampai kinerja otak Salwa tidak seperti biasanya lagi”


“Jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah di mengerti Fauzi”


“Salwa akan melupakan semuanya Bu. Kemampuan mengingat Salwa terganggu, bukan cuman melupakan hal-hal sederhana, bahkan hal-hal yang seharusnya dia ingat seumur hidup pun, Salwa lupakan. Seperti yang terjadi pagi tadi saat Salwa menelfon Ibu”


Ibu mertuanya itu tercengang mendengarkan apa yang baru saja dia katakan.


“Ja-jadi, Salwa benar-benar lupa kalau kalian sudah menikah?”


Fauzi hanya mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Ibu mertuanya.

__ADS_1


“Dan bukan cuman ingatan Salwa saja Bu. Salwa juga kesulitan mengenali waktu sekarang. Beberapa hari yang lalu, Salwa keluar dinihari untuk membelis susu, dan dipikirannya itu masih jam delapan malam”


Mata dengan lekukan yang indah itu, perlahan mulai tergenangi oleh airmata, bulumata yang lentih itu mulai basah dan tidak perlu kedipan untuk membuat airmata itu terjatuh.


“A-apa yang terjadi sama anak Ibu, Fauzi??”


Tangisnya tak tertahankan lagi, airmatanya tumpah sebagai peluapan dari rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini, setelah menemui fakta akan penyakit yang tengah di derita putri semata wayangnya.


“Maafkan Fauzi, Bu. Maaf karena tidak bisa menjaga Salwa dengan baik”


Wanita dengan rambut ikal sepunggung itu menggeleng, menolak pernyataan menantunya yang tengah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada putrinya.


“Ja-jadi bagaimana? Kamu sudah ngebawa Salwa ke dokter?”


Fauzi mengangguk mengiyakan. “Awalnya Salwa sendiri yang ke dokter, tapi Salwa tidak sadar kalau dia sedang sakit. sampai sekarangpun, Salwa tidak sadar kalau dia sedang sakit”


“Apa kata dokter? Apa Salwa sudah dikasi obat?”


Fauzi terdiam sejenak, tidak memberi jawaban dengan cepat kepada mertuanya. Bagaimana bisa ia mengatakan pada Ibu mertuanya, bahwa putri satu-satunya itu tidak bisa disembuhkan.


“Fauzi, apa yang dokter katakan??”


Ingin rasanya Fauzi mengunci mulutnya rapat-rapat dan tidak mengatakan kebenaran yang ada, tapi hal seperti itu tidak boleh ia lakukan.


“Sa-Salwa tidak bisa sembuh, Bu” jawab Fauzi diringi airmatanya yang mulai menetes.


Fauzi tidak bisa menahan tangisnya tiap kali ia menyadari, bahwa istrinya tidak dapat disembuhkan.


Sekali lagi Fauzi mengangguk, airmatanya makin tidak terkendali.


Tangis Ibu Salwa pecah. Ia tidak lagi bisa menahannya, semua rasa sakitnya ia luapkan dengan tangisan.


Beberapa pengunjung lain berbalik dan memandang kearah meja Fauzi dan Ibu mertuanya. Tangisan Ibu mertuanya itu mengundang perhatian. Hal yang sudah tidak di perdulikan lagi oleh Ibu Salwa, dan tetap saja melampiaskan perasaan sakitnya dengan menangis.


“Bagaimana bisa tidak ada? Pasti ada.. Operasi? Cangkok, atau apapun itu”


Fauzi menggeleng. “Aku juga sudah tanya itu semua, Bu. Aku sampai setengah menutut pada dokter agar dia bisa memberiku jawaban yang bisa menenangkan perasaaku. Tapi benar, Salwa tidak bisa di sembuhkan”


Ibu mertuanya semakin tidak bisa menahan tangisannya.


“Kenapa kamu baru bilang hal ini, Fauzi? Kenapa baru sekarang kamu bilang hal serius seperti ini??”


“Maafkan Fauzi, Bu..”


Fauzi sadar jika yang dilakukannya dalam menyembunyikan kebenaran tentang penyakit Salwa adalah kesalahan. Sebelumnya Fauzi pernah berniat untuk mengatakannya, namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, Fauzi mengurungkan niatnya dan akhrinya tetap diam.


“Andaikan pagi ini Salwa gak nelfon, mungkin Ibu belum tahu sampai sekarang. Kamu kenapa gak bilang ini sih, Nak??”

__ADS_1


“Maafkan Fauzi, Bu. Fauzi belum siap cerita sama Ibu, aku takut Ibu akan marah”


“Iya, sekarang Ibu lagi marah, marah karena kamu gak bilang hal sepenting ini sama Ibu. Tapi Ibu tidak akan marah tentang apa yang menimpa Salwa saat ini”


Fauzi hanya tertunduk dengan airmatanya yang menetes. “Maafkan Fauzi karena tidak bisa menjaga Salwa dengan baik. Ini semua salahku”


“Jangan menyalahkan dirimu. Ibu tahu kamu sangat sayang sama anak Ibu. Ibu juga tahu, kamu sekarang pun sangat terpukul dengan keadaan Salwa saat ini”


Fauzi hanya terdiam sembari menyeka airmatanya yang tidak berhenti menetes.


“Jadi apa yang kamu lakukan sekarang??”


“Aku masih rutin mengambil obat untuk Salwa. Dokter bilang, obat-obat akan memperlambat perkembangan Alzheimer meski tidak bisa menyembuhkannya. Aku juga sesekali ngebujuk Salwa untuk kembali ke klinik memeriksakan kesehatannya”


“Klinik? Kenapa gak di rumah sakit Fauzi?”


“Pertama kali Salwa periksa itu di klinik, Bu. Dan dokter disana yang menanganinya..”


“Gak, besok bawa Salwa ke rumah sakit. Salwa butuh pemeriksaan yang lebih baik”


Fauzi hanya mengangguk mengiyakan.


“Selain itu, apalagi yang bisa dilakukan untuk Salwa?”


“Membantunya untuk tetap bisa mengingat kejadian-kejadian yang pernah dialaminya, meluruskan hal-hal yang keliru dia lakukan dan sebisa mungkin untuk mengatur perasaannya agar tetap baik. Dan juga, Salwa sudah harus di bimbing dalam melakukan kegiatan sehari-harinya”


Airmata yang sempat mereda tadi, kembali menghujani mata Ibu mertuanya. Fauzi mengerti akan apa yang di rasakan Ibu mertuanya, diapun pernah di posisi itu dan benar mengerti seperti apa rasanya.


“Fauzi, terimakasih karena tetap menjaga putri Ibu meskipun keadaannya seperti ini sekarang”


Dia yang sedari tadi menunduk saat airmatanya terus tumpah, perlahan mengangkat wajahnya.


“Ibu tahu ini susah. Jika kamu kesulitan dalam mengurus Salwa, kamu bisa mengembalikan Salwa pada Ibu”


Sontak Fauzi terkejut dengan apa yang dikatakan Ibu mertuanya. Sebuah kata-kata yang tidak masuk akal baginya.


“Ibu bicara apa. Aku gak akan kembalikan putri Ibu dengan alasan seperti itu. Aku sangat mencintai Salwa Bu, bagaimana bisa aku melepaskan Salwa dan menyerahkannya pada Ibu karena masalah seperti ini”


Sebuah tangis yang tadinya sebagai peluapan dari rasa sakitnya, kini bercampur dengan tangis haru mendengar menantunya mengatakan hal yang begitu baik dengan sungguh-sungguh.


“Terimakasih sudah mencintai putri Ibu seperti ini, terimakasih karena tetap bersedia menemani Salwa dengan kondisinya seperti ini, dan terimakasih karena sudah menjadi suami yang hebat buat putri Ibu. Tolong jaga putri Ibu dengan baik, Nak”


Fauzi hanya mengangguk dan berusaha tersenyum, meski rasa sakit masih dengan kuat menghantam perasaannya.


Ibu mertuanya itu beranjak dan mendekatinya, lalu perlahan memeluk Fauzi.


“Kita akan bisa menjaga Salwa bersama-sama”

__ADS_1


Fauzi balas memeluk Ibu mertuanya yang sudah dibanjiri airmata, sembari mengangguk mengiyakan perkataan Ibu mertuanya.


“Terimakasi sudah percaya sama aku, Bu”


__ADS_2