
Waktu menunjukkan pukul 05:25, dan alarm Fauzi sudah berbunyi untuk membangunkannya pagi ini. Fauzi mulai meraba meja disamping tempat tidurnya, dan mematikan alarm yang sedari tadi berdering. Alarm itu hanya diperuntukkan untuknya, sehingga Fauzi tidak ingin suara dari alarm itu membangunkan istri kesayangannya.
Fauzi mengucek pelan matanya, berusaha menghilangkan rasa ngantuk yang bertengger disana. Dengan penuh paksaan, Fauzi perlahan membuka matanya.
Wajah cantik istrinya yang dibalut dengan senyum manis menyapa pandangannya saat pertama kali ia membuka mata pagi ini. Entah sejak kapan Salwa terjaga dari tidurnya, yang Fauzi tahu istri kesayangannya itu sudah membuka lebar matanya dan memberinya senyuman manis sebagai sambutan diawal hari.
“Kamu sudah bangun sayang??” Tanya Fauzi mengecup kening istrinya.
“Iya..” Jawab Salwa masih tidak melepas senyumannya.
“Kenapa bangun sepagi ini?” Tanya Fauzi mengarahkan tangannya melingkar di pinggang ramping milik istrinya.
“Aku gak tahu, tadi aku kebangun dan gak bisa tidur lagi”
Fauzi tersenyum. Sudah lama sekali dia tidak mendapatkan sambutan pagi berupa senyum manis dari istrinya, karena selama ini setiap bangun pagi, yang dia temui hanyalah ekspresi bingung dari istrinya, yang memperlihatkan bahwa ingatan istrinya tidak lagi mengingat akan dirinya. Tapi pagi ini serasa berbeda, Salwa terbangun lebih dulu, memberinya senyuman manis dan berbicara layaknya Salwa yang dulu, seolah dia baik-baik saja.
Meski Salwa terlihat baik-baik saja pagi ini, dan berbeda seperti hari-hari sebelumnya, namun Fauzi tetap harus memastikan dan melatih ingatan istrinya dengan pertanyaan yang setiap paginya dia ajukan pada Ibu dari anaknya.
Fauzi beranjak dari tidurnya, disusul oleh Salwa. Fauzi memperbaiki posisi duduknya dan menggenggam lembut tangan istrinya.
“Namaku siapa?” Tanya Fauzi memulai rutinitas pagi mereka.
“Fauzi” Jawab Salwa tersenyum.
“Dan kamu?”
“Aku Salwa”
“Aku, apanya Salwa?”
“Suamiku..” Jawab Salwa dengan senyumannya yang semakin mengembang.
Sangat jarang Salwa bisa mengatakan hal benar seperti ini. Meskipun terkadang ia menjawab benar bahwa Fauzi adalah suaminya, namun tatapan matanya berbeda.
“Makasih sayang, karena sudah mengingatku” Kata Fauzi tersenyum.
“Kamu cuman nanya itu? Gak nanya tentang anak kita?”
Fauzi sedikit tersentak. Selama ini Salwa tidak pernah sadar akan kehadiran Mikayla jika tidak dibantu oleh Fauzi atau dengan membaca tempelan sticky note yang menempel di dinding rumah mereka.
“Ka-kamu ingat tentang anak kita?”
“Tentu saja, aku kan Maminya masa aku ngelupain anak kita. Mikayla bisa sedih kalau dia tahu, Papinya berpikiran kalau Maminya ngelupain dia”
Perlahan mata Fauzi mulai berkaca-kaca, rasa haru yang dia rasakan mencuak mendengar apa yang Salwa katakan pagi ini. Rasanya bahagia sekali, melihat Salwa yang bisa mengingat Mikayla tanpa bantuan darinya.
“Jadi siapa anak kita??”
“Mikayla Azzalea” Jawab Salwa dengan ekspresi yang sangat bahagia.
Rasa bahagia memenuhi hati Fauzi. Salwa bukan hanya menyebut nama panggilan Mikayla, dia bahkan ingat nama lengkap putri mereka.
“Sayang.. Apa kesadaranmu kembali sekarang?” Tanya Fauzi memastikan.
“Kesadaran apa?” Tanya Salwa kebingungan.
Fauzi menatap istrinya dan tersenyum. “Bukan apa-apa sayang” Kata Fauzi kembali mengecup pelan kening istrinya.
Apa yang Salwa ingat hari ini, membuat Fauzi mengira bahwa kesadaran istrinya kembali mencuak kepermukaan. Namun melihat Salwa bertanya dengan bingung, kembali membuat Fauzi menyadari bahwa hanya sebuah kebetulan saja ingatan istrinya menyentuh tentang semua yang dikatakannya tadi.
Fauzi beranjak. “Aku mau masak, kamu mau ikut?”
Salwa hanya mengangguk. Sembari meraih tangan Fauzi yang tadi diulurkan untuknya.
Fauzi berjalan keluar kamar, menggenggam lembut tangan istrinya. Namun belum beberapa langkah, Salwa menghentikan langkahnya.
“Kenapa sayang?”
Salwa hanya terdiam dan menatap Fauzi dengan kebingungan.
Fauzi sadar, bahwa ingatan istrinya kini tidak mengenalnya lagi sehingga ia harus kembali menjelaskan akan siapa dirinya dan mengapa ada disini bersamanya sekarang.
Perlahan, Fauzi menuntun Salwa menunju ruang tengah dimana disana tertempel puluhan sticky note yang menjelaskan semua tentangnya. Ada beberapa foto juga yang bisa membantu istrinya itu untuk menggali kembali ingatannya yang terkubur.
Tapi lagi-lagi, belum juga mereka sampai diruang tengah, Salwa kembali menghentikan langkahnya.
“Mau kemana? Katanya kamu mau masak?”
Fauzi tersenyum, dan dengan sabar mengarahkan dirinya sesuai dengan apa yang istrinya itu katakan.
“Kamu gak mau istrirahat saja sayang? Biar aku yang masak”
“Aku? Kenapa aku istirahat? Aku gak capek”
“Gak.. Maksudku, kamu gak mau nonton tv saja atau duduk-duduk liat foto, biar aku saja yang masak”
Salwa terdiam sejenak, dan akhirnya mengangguk.
Fauzi menuntun istrinya menuju ruang tengah untuk menikmati acara tv pagi ini.
Fauzi sempat merasa senang saat istrinya mengingat akan dirinya dan dengan tersenyum mengakui bahwa dia adalah suaminya. Rasa bahagia Fauzi semakin meningkat saat istri kesayangannya itu bahkan mengingat putri mereka hingga menyebut dengan lengkap nama Mikayla.
Sejenak Fauzi berharap bahwa itu adalah kemajuan untuk istrinya. Namun tidak berlalu 20 menit, Salwa kembali bingung bahkan melupakan dirinya. Istri kesayangannya itu kembali menyadarkannya bahwa apa yang sempat Salwa ingat itu hanyalah ingatan yang tiba-tiba muncul kepermukaan, bukan sebagai bukti bahwa itu adalah tanda-tanda untuk sembuh.
Fauzi meninggalkan Salwa di ruang tengah dan mulai sibuk mempersiapkan makanan yang akan mereka jadikan sarapan pagi ini. Sesekali Fauzi tersenyum jika mengingat masa-masa bahagia yang dia lalui bersama istrinya dulu, namun tak jarang juga matanya berkaca-kaca saat ia menyadari bahwa semua hal yang mereka lakukan bersama dulu, tidak akan lagi bisa mereka rasakan sekarang, ataupun di kemudian hari.
Fauzi tersentak, saat tiba-tiba saja Salwa menyelipkan tangannya di balik celemek yang dia gunakan. Terasa sekali bahwa Salwa tengah memeluknya dengan erat saat ini. Fauzi sempat berpikir sejenak tentang apa yang mengganggu pikirannya tadi hingga ia tidak menyadari keberadaan istrinya yang tiba-tiba saja muncul. Atau apa yang tengah menyumbat telinganya hingga dia tidak mendengar langkah kaki Salwa mendekatinya.
“Sayang..” Panggil Salwa dengan manja. Sebuah panggilan dengan nada yang sudah sangat lama tidak menyentuh indra pendengaran Fauzi.
“Hem..”
“Selesai kamu masak, kita ketempat favorit yuk..” Ajak Salwa dengan masih melingkarkan tangannya dengan manja di pinggang Fauzi.
“Tempat favorite? Dimana sayang??”
Salwa melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberut yang memperlihatkan dia sedang kesal.
“Masa kamu lupa tempat favorite kita” Kata Salwa sudah dengan bernada kesal.
“Lapangan samping bandara?” Tanya Fauzi memastikan.
“Iyalah.. Memangnya dimana lagi??”
Fauzi menatap lekat istrinya. Meski ia menempelkan sebuah sticky note yang menjelaskan mengenai tempat istimewa mereka itu, tapi rasanya Salwa tidak akan bisa mengingatnya jika tanpa bantuan penjelasan darinya.
“Masa kamu lupa, dimana kamu ngelamar aku” Dengus Salwa kesal.
Kornea mata Fauzi sedikit melebar mendengar Salwa menyebut tempat itu dengan benar.
__ADS_1
“Kenapa bengong? Kamu gak mau kesana?”
“Eh? Ma-mau sayang. Oke, aku selesaiin dulu masaknya terus kita kesana ya..”
Salwa tersenyum dan mengangguk.
“Cepat masaknya, aku gak sabar mau kesana..”
“Iya sayang..” Kata Fauzi sembari membelai lembut pipi istrinya. “Yaudah sana nonton lagi, nanti aku bawain makanannya kesana”
“Oke..”
Jelas sekali Fauzi melihat bagaimana istrinya itu tampak senang sekarang. Sangat jarang Salwa memperlihatkan ekspresi dengan emosi. Selama ini, yang selalu Salwa perlihatkan hanya ekspresi datar dan kebingungan, kalaupun dia tersenyum, itu tidak seriang sekarang.
Demi memenuhi keinginan istrinya, Fauzi mempercepat gerakannya agar bisa selesai memasak lebih awal. Dia harus mempersiapkan sarapan untuk istrinya sebelum menyiapkan baju dan mandi bersama istrinya. Karena saat ini, Salwa tidak lagi bisa menentukan baju apa yang akan dia gunakan.
Sarapan pagi ini terasa berbeda, Salwa makan dengan lahap dan tanpa memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan memandangi makanan. Jika ini adalah hari-hari kemarin, jelas saja sekarang Fauzi menyuapi istrinya sambil menjelaskan segala jenis yang ada pada makanan itu.
.
.
.
.
.
Salwa terus tersenyum selama mereka di jalanan, dia memperlihatkan bagaimana dirinya yang begitu antusias menuju tempat bersejarah bagi mereka.
“Sudah lama banget kita gak kesana, rasanya aku rindu suasana disana” Kata Salwa dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
“Iya sayang, maafin aku karena jarang ngebawa kamu jalan-jalan sekarang”
“Gak apa, kamu kan sibuk” Kata Salwa penuh pengertian.
Fauzi melempar pandangannya keluar sebelum akhirnya kembali fokus pada jalan yang tidak terlalu padat.
“Sayang, kamu ngebuat aku berharap terlalu banyak sekarang. Kamu ngebuat aku merasakan bagaimana kamu yang dulu. Terimakasih, meski aku tahu hanya sejenak saja kamu seperti ini, tapi sungguh terimakasih. Aku sangat senang ngelihat kamu seperti ini”
Tanpa sadar, mata Fauzi berkaca-kaca. Dia tahu, tidak seharusnya dia berharap banyak melihat Salwa yang sekarang terlihat normal. Karena apa yang Salwa perlihatkan saat ini, bisa saja berubah seketika.
Fauzi menyeka airmata yang menggenang di pelupuk matanya meski belum tumpah. Dia tidak ingin istri kesayangannya itu mendapatinya tengah berkaca-kaca, itu bisa merusak mood istrinya.
“Ada gula kapas..” Kata Salwa menunjuk seorang penjual gula kapas di pinggir jalan.
“Kamu mau?” Fauzi menawarkan.
Salwa berbalik menatap suaminya, menggeleng di iringi senyumannya.
“Kalau kamu mau, kita singgah beli”
“Gak kok, aku gak mau. Aku hanya ngerasa lucu” Kata Salwa mulai tertawa kecil.
“Lucu? Apanya sayang?”
“Dulu kamu nembak aku pas aku lagi makan gula kapas yang kamu belikan kan?” Kata Salwa.
Fauzi tersentak. Mengenai hal itu, Fauzi tidak menulisnya di sticky note yang tertempel di dinding rumah mereka, juga Fauzi tidak pernah bercerita hal itu semenjak Salwa di diagnosa mengidap Alzheimer. Lalu bagaimana bisa Salwa mengingat itu?
“Ka-kamu ingat tentang itu?” Tanya Fauzi masih memperlihatkan ekspresinya yang terkejut.
Salwa tertawa terbahak-bahak, sedang Fauzi merasa keheranan melihat istrinya yang bisa mengingat hal itu, bahkan hingga pertanyaan yang dia ajukan saat itu.
Berhenti membuatku berharap lebih, tapi sungguh aku tidak bisa memungkiri bahwa aku senang kamu bisa mengingat hal itu.
Rasa terkejut yang menghampiri Fauzi belum juga mereda, meski rasa terkejutnya itu diiringi dengan rasa bahagia melihat istrinya bisa mengingat momen-momen yang berlalu itu.
Ingin rasanya Fauzi mengecek kesehatan istrinya sekarang dan berharap akan diberikan hasil sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Fauzi berbalik menatap Salwa dengan tawanya yang belum juga reda akibat mengingat pertanyaan konyol Fauzi.
“Sayang, setelah pulang dari sana. Kamu mau gak ngejenguk Mikayla?”
Fauzi berharap, Salwa yang terlihat baik-baik saat ini bisa ia bawa untuk bertemu putri mereka sekedar melepas rindu.
“Mikayla? Mikayla siapa??” Tanya Salwa kebingungan.
“Ah? Kamu gak kenal Mikayla?”
Salwa menggeleng dengan memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan.
Perasaan senang yang sempat menghampirinya tadi, perlahan memudar.
Ya, seharusnya aku memang tidak berharap lebih. Apa yang singgah di ingatan Salwa saat ini, bukanlah tanda-tanda bahwa dia akan kembali seperti semula. Semua hanya ingatan yang tiba-tiba muncul kepermukaan.
Fauzi berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terlalu merasa bahagia akan apa yang Salwa perlihatkan saat ini, terlebih lagi jika menyimpan harapan bahwa istrinya akan sembuh. Karena pada kenyataannya, Salwa hanya mengingat moment-momen tertentu dan melupakan yang lainnya. Pagi tadi, dengan jelas ia mengingat putri kesayangannya, sedang sekarang? Mikayla tidak ada lagi dalam ingatannya. Ingatan yang timbul itu, juga menenggalamkan ingatan yang lainnya.
“Mikayla siapa sih sayang??”
“Bukan siapa-siapa, aku hanya salah sebut tadi” Jawab Fauzi tersenyum, berusaha menyembunyikan perasannya yang mulai tidak karuan.
“Kamu gak jelas deh..”
“Maaf..” Fauzi masih tidak melepas senyumnya.
Fauzi kembali mengalihkan pandangannya dan menyeka airmata yang kmebali menggenang di pelupuk matanya. Rasanya, ingatan Salwa tengah mempermainkan perasannya. Membuat ia merasa senang seketika, namun dalam waktu bersamaan menembakkan luka yang luarbiasa sakitnya.
Fauzi bingung harus merasakan seperti apa sekarang. Dia begitu senang melihat Salwa bisa mengingat hal yang terjadi beberapa tahun silam, seolah dia adalah orang yang tidak mengidap Alzheimer. Namun di sisi lain, Salwa memperjelas keadaannya bahwa dia adalah penderita Alzheimer yang tidak memiliki kemungkinan untuk sembuh. Salwa memperlihatkan bagaimana dia melupakan putri mereka, yang seharusnya tidak bisa ia lupakan jika dibandingkan dengan momen beberapa tahun yang lalu.
“Waahh BTS BTS...”
Fauzi kembali tersentak. Salwa bahkan bisa mengingat BTS, dan memperlihatkan ekspresi bahagianya sama seperti dulu saat ia melihat idolanya itu. Fauzi benar-benar dibuat bingung dengan apa yang ada dikepala istrinya saat ini. Hal seperti BTS bisa ia ingat, sedang putri mereka yang dia bawa sembilan bulan dalam perutnya, tidak bisa ia ingat.
“Sayang sayang.. Lihat..” Seru Salwa menunjuk sebuah papan iklan milik Tokopedia dimana BTS sebagai model ambassadornya.
Foto BTS yang terpampang nyata dengan ukuran besar itu, membuat Salwa memandanginya dengan puas dan senyum yang lebar.
“Lihat sayang.. Taehyung tampan sekali, Jimin manis sekali, dan Namjoon.. Ah berkharismanya. Aku suka mereka”
Salwa yang bahkan bisa menyebutkan satu persatu nama idolanya, membuat Fauzi semakin bingung. Bayangkan saja, nama-nama asing yang sulit disebutkan itu bisa Salwa ingat, hingga membuatnya menjerit kesenangan. Tapi putri mereka? Itu benar-benar terhapus dari ingatan Salwa.
“Ah sayang.. Putar lagu Bangtan, aku rindu ngedenger lagu mereka..”
Diantara kebingungan dan rasa sakit yang tengah menderunya, Fauzi tetap berusaha memperlihatkan senyuman pada istrinya dan menuruti apa yang Salwa inginkan.
Lagu Love Myself oleh BTS mengalun mengiringi perjalanan mereka. Salwa begitu fasih menyanyikan lagu yang menggunakan bahasa korea itu, tanpa salah sedikitpun.
Fauzi hanya terdiam, dia membiarkan istrinya menikmati lagu yang begitu disukainya. Dia sendiri tengah berusaha mengendalikan perasaannya, agar bisa terlihat baik-baik saja didepan istrinya yang tampak sangat bahagia saat ini.
__ADS_1
Salwa yang sebelum ikut bernyanyi dengan riangnya, tiba-tiba diam dan tak bersuara. Membuat Fauzi yang sebelumnya terus mengarahkan pandangannya ke arah jalan, beralih menatap istrinya.
“Kenapa sayang? Kok berhenti nyanyi? Mau ganti lagunya?”
Salwa menggeleng. Ia memperlihatkan wajah sedih yang membuat Fauzi khawatir melihatnya.
“Kamu kenapa sayang? Ada apa?” Tanya Fauzi semakin khawatir.
Fauzi mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan. Dia tidak akan bisa konsen mengemudi jika keadaan istrinya tiba-tiba sedih tanpa alasan seperti sekarang.
Fauzi menghentikan mobilnya, melepas safety belt yang dia gunakan dan mendekat pada istrinya.
“Sayang, ada apa??” Tanya Fauzi berulang-ulang yang tidak mendapat jawaban dari Salwa sebelumnya.
“Maafin aku..”
Apa kesadarannya muncul lagi?
Melihat ekspresi sedih hingga mata yang berkaca-kaca, membuat Fauzi berpikir bahwa istrinya itu kembali sadar, karena sebelumnya Salwa tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih jika penghapus dalam kepalanya sedang beraksi.
Kumohon, jika kesadaranmu itu kembali jangan berpikir yang tidak-tidak dan menyalahkan dirimu sendiri.
“Maaf, untuk apa sayang??”
“Maaf karena aku pernah mengkhianatimu”
Fauzi terkejut. Apalagi ini? Apa istrinya ini sedang ngawur ataukah ingatannya mengenai sesuatu di masa lalu itu.
“Mengkhianati apa sayang?”
“Waktu aku jalan sama Farhan” Kata Salwa sudah meneteskan airmatanya.
Fauzi bingung, kenapa ingatan-ingatan di masa lalu itu semua muncul ke permukaan sekarang.
Di tengah kebingungannya, Fauzi berusaha terlihat tenang agar bisa menenangkan istrinya. Fauzi mendekat dan memeluk Salwa.
“Gak apa sayang, itu kan sudah berlalu. Jadi jangan pikirkan hal begitu”
“Aku jahat sekali dulu..”
“Gak, kamu gak jahat” Fauzi melepas pelukannya dan menyeka air mata istrinya. “Kamu kenapa tiba-tiba ingat sama hal itu sih sayang? Kenapa tiba-tiba kepikiran sama hal itu?”
“Tadi kita lewat disana” Jawab Salwa tersikuk-sikuk.
“Disana? Disana mana?”
“Di toko parfum”
Fauzi kembali dibuat bingung dengan apa yang dikatakan istrinya. Apa hubungannya toko parfum dengan saat istrinya itu mengkhianatinya.
“Toko parfum? Memangnya kenapa sama toko parfum?” Tanya Fauzi yang memang tidak tahu kejadian di masa lalu, dimana Salwa yang tertabrak setelah keluar dari toko parfum saat janji bertemu dengan Farhan.
Salwa tidak menjawab pertanyaan Fauzi, tatapannya berubah menjadi bingung meski airmatanya masih menetes.
“Toko parfume? Kenapa?” Salwa balik bertanya.
Fauzi menyadari, bahwa lagi ingatan istrinya sudah direnggut sekarang. Ingatan saat ini ataupun di masa lalu, kembali terkubur dan membuat Salwa tidak lagi bisa memberitahu Fauzi perihal hubungan toko parfum dengan pengkhianatan yang pernah dia lakukan dulu.
Fauzi tersenyum, dan kembali menyeka sisa airmata yang membasahi pipi istrinya.
“Tidak apa-apa sayang” Kata Fauzi.
Fauzi sendiri tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Salwa mengenai toko parfum, karena dia sendiri tidak tahu perihal toko parfum yang sempat di bahasnya tadi.
“Kamu masih tahu kan kita mau kemana sekarang?”
“Tempat favorit” Jawab Salwa tersenyum.
Meski ia lupa akan apa yang sebelumnya membuatnya menangis, namun dia tidak lupa kemana arah tujuannya yang dia inginkan sekarang.
Fauzi kembali ke posisi siap menyetir, memasang safety belt dan lanjut mengemudi.
Salwa kembali kembali meminta untuk di putarkan lagu yang sempat terhenti tadi. Dan lagi Salwa menikmati lagu yang mengalun dengan ikut bernyanyi.
“Gula kapas..”
Salwa kembali menegur gula kapas yang dilihatnya.
“Kamu mau?” Fauzi kembali menawarkan. Meski sebelumnya Salwa sudah mengatakan kalau tidak ingin, namun Fauzi tetap menawarkan kembali mengingat istrinya itu mudah lupa. Bisa saja saat ini dia lupa kalau sempat ditawarkan gula kapas.
Salwa mengangguk dengan tersenyum. Terlihat jelas dia senang saat Fauzi menawarkan gula kapas untuknya.
“Yasudah, tunggu aku di dalam mobil. Biar aku yang kesana”
Fauzi tidak mungkin mengajak Salwa turun, sedang dia harus menyebrang jalan dulu agar bisa menghampiri penjual gula kapas. Rasanya terlalu berbahaya jika membawa istrinya turun, belum lagi pikiran Salwa yang bisa berubah kapan saja.
Salwa mengangguk saat Fauzi memintanya untuk tetap tinggal di dalam mobil.
Fauzi keluar dan berlari kecil menuju penjual gula kapas di seberang jalan. Dia tidak mau membuat istrinya menunggu lama, sehingga Fauzi bergerak lebih cepat.
Meski Fauzi berusaha secepat mungkin untuk mendapatkan gula kapasnya, tapi karena begitu banyak anak-anak yang mengantri disana membuat Fauzi harus sabar menunggu.
BBRRUUKKK....
Suara hantaman keras membuat orang-orang sekitar menoleh. Beberapa orang mulai berlari menuju mobil yang sepertinya menabrak sesuatu.
“Sepertinya ada kecelakaan mas” Kata penjual gula kapas itu pada Fauzi.
“Iya pak. Orang-orang sudah berlarian kesana” Jawab Fauzi dengan pandangannya yang tidak teralihkan dari kerumunan orang-orang yang semakin banyak berdatangan.
Semoga saja Salwa gak liat kerumunan itu, dia bisa saja turun dari mobil jika penasaran dengan apa yang membuat orang berkerumun.
Fauzi mengarahkan pandangannya menuju mobil, memastikan istrinya tetap berada di dalam dan..
“Pak, saya tinggal sebentar. Nanti saya kesini lagi ambil gula kapasnya”
“Oke mas..”
Fauzi berlari menghampiri mobilnya. Pintu mobil yang sudah terbuka itu membuatnya yakin bahwa Salwa sudah keluar dan mungkin sudah berbaur dengan orang-orang yang berkerumunu disana.
“Sayang..” Fauzi menghampiri mobil dan mencari Salwa disana, namun sepertinya Salwa benar sudah keluar.
Fauzi berlari menghampiri kerumunan orang-orang yang sepertinya tengah menunggu ambulance untuk membawa seseorang yang sedang ditabrak itu.
“Permisi.. permisi..” Fauzi menyelip orang-orang disana untuk mencari keberadaan Salwa.
DEEGGGG....
Fauzi terdiam mematung, bagaimana bisa sesorang yang berbaring di jalan dengan darah yang berlumuran diseluruh wajah dan tubuhnya itu, adalah...
__ADS_1
“SALWAAA....”