
Kegelisahan terus menyelimuti perasaan Fauzi. Dini hari tadi, ia disajikan fakta baru tentang misteri dalam pikiran istrinya yang tidak lagi bisa mengenal waktu. Ia begitu sakit menyadari hal ini, namun hal yang lebih menyakitkan baginya adalah, ketidakmampuannya untuk melakukan sesuatu atas apa yang terjadi pada istrinya. Dia bahkan tidak bisa melakukan banyak hal, bahkan untuk sekedar menemani istrinya dirumah seperti sekarang.
Fauzi sangat berat meninggalkan istrinya sendiri dirumah. Rasanya dia ingin terus-terusan berada di sekitar istrinya, menemani apapun yang istrinya lakukan. Namun lagi-lagi, tanggung jawabnya pada pekerjaan, membuatnya tidak melakukan itu. Fauzi harus profesional, memisahkan antara urusan dan perasaan pribadinya dengan segala sesuatu yang berurusan dengan pekerjaannya. Untung saja, Fauzi bisa mengawasi istrinya melalui CCTV yang langsung ia sambungkan pada ponselnya.
“Hei.. diam saja??”
Seseorang menepuk pundak Fauzi, membuyarkan lamunannya. Fauzi hanya berbalik dan memperlihatkan senyumnya dengan tatapannya yang baru saja kembali dari kekosongan.
Karin, mengambil tempat duduk kosong yang ada di samping Fauzi. hari ini, mereka akan mengadakan meeting untuk membahas lebih rinci perihal kerjasama yang telah mereka sepakati tempo hari.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya
Fauzi menggeleng “Tidak ada”. Fauzi masih memperlihatkan senyumnya, meski pikirannya sedang kalut.
“Oh ya? Barusan aku ngedapatin kamu melamun loh?”
“Ah, aku cuman mikirin beberapa pekerjaan saja. Kamu ngapain duduk disitu? Harusnya kan disana” Fauzi mengarahkan pandangannya pada sisi lain dari meja panjang itu. Kursi yang menjadi tempat untuk mitra kerjanya dari perusahaan lain.
“Yang lain juga belum datang, jadi ya aku duduk disini dulu” Jawab Karin memperbaiki posisi duduknya dan bersandar pada punggung kursi.
Fauzi tidak menanggapi lagi, pikirannya kembali bermain-main di sekitar istrinya.
“Emhhh Fauzi..”
Fauzi yang tengah tidak fokus pada sekitarnya, tidak menanggapi panggilan Karin.
“Hey Fauzi..” karin menepuk pelan pundak Fauzi. menyadarkan laki-laki berkulit putih disampingnya.
“Eh, iya??”
“Bener kan, kamu pasti kepikiran sesuatu..”
“Ah tidak, aku hanya kurang tidur saja, jadinya ngantuk” Jawab Fauzi berbohong, menyembunyikan kebenaran dari pikirannya yang kalut. “Kenapa?”
“Selesai meeting ini, kamu ada kerjaan gak?”
“Karena selesai meeting nanti masih jam kantor, ya berarti aku masih kerja”
“Ck, kamu kan direktur, jadi gak harus stay di kantor kan”
“Hanya karena aku direktur, bukan berarti aku bisa seenaknya ninggalin kantor”
Karin menatap Fauzi sejenak, membuat Fauzi bingung dengan tatapan Karin.
“Ke-kenapa?” tanya Fauzi gugup.
“Aku tahu..”
“Apa?”
“Alasan Ayah Farhan mempercayakan salah satu anak perusahaannya sama kamu”
Dahi Fauzi hanya berkerut menanggapi perkataan Karin.
“Kamu jujur, pekerja keras..” Kata Karin jujur. “Aku jadi cemburu sama Ayahnya Farhan, bisa dapat orang yang bisa dipercaya seperti kamu”
“Kamu terlalu berlebihan. Banyak orang yang sep...”
“Gak.. Kamu itu langkah..”
Fauzi hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Karin.
“Seriusan, selesai ini kamu gak bisa keluar? Harus tetap di kantor?”
“Kenapa?”
“Ada hal yang mau aku bicarain sama kamu”
“Apa?”
“Ya sesuatu yang penting. Jadi bisa gak nanti keluar bareng?”
__ADS_1
“Kenapa gak bahas disini saja? Mumpung meetingnya belum dimulai”
“Gak bisa, aku maunya ngebahas ini berdua aja sama kamu”
Fauzi menyapu sekitar dengan pandangannya. Tidak banyak orang dalam ruangan itu. Hanya ada office girl yang tengah menyediakan air untuk meeting nanti dan seorang dari perusahaan yang sama dengan Fauzi, duduk sedikit jauh dari mereka tengah fokus pada pekerjaannya.
“Ini juga sama aja kalau kita lagi berdua. Kalau hal penting yang mau kamu bahas itu sedikit rahasia, kurasa disini juga bisa dibahas. Orang yang di pojok itu gak bakal dengar apa yang kamu bilang”
“Ck, susah banget sih ngajak kamu keluar bareng?”
“Maksudnya?”
“Eh? Maksudku, susah banget minta waktu kamu sebentar buat ngebahas sesuatu”
Fauzi menatap Karin dengan memperlihatkan ekspresinya yang bingung.
“Ck, ayolah.. aku lagi butuh bantuanmu..” bujuk Karin
Fauzi menghela nafas. “Aku gak punya banyak waktu, Karin”
“Sebentar saja. Oke?”
“Sebentar??”
“Iya, sebentar saja. Aku benar-benar butuh bantuanmu”
Setelah merengek-rengek membujuk Fauzi, bujukan Karin akhirnya berhasil, Fauzi mengangguk mengiyakan permintaan Karin, membuat Karin tersenyum senang.
Meeting yang sudah di jadwalkan sebelumnya, akhirnya dilangsungkan. Saling mengeluarkan pendapat dan merespon dengan baik. Tidak ada adu argument, dan berakhir dengan hasil yang sudah di sepakati bersama, membuat meeting berjalan lancar.
“Jadi kan??” Tanya Karin cepat setelah moderator menutup meeting.
Fauzi terkejut mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Karin. Namun disusul dengan anggukannya.
.
.
.
“Mau ngebahas apa?” tanya Fauzi to the point.
“Ck, to the point banget sih, belum juga pesan makan”
“Kamu lapar? Ini kan belum jam makan siang”
“Memangnya aku gak boleh lapar kalau belum jam makan siang”
“Maksudku bukan begitu..”
“Ya ya.. Aku mau pesen makan dulu” Karin mengalihkan pembicaraan sebelumnya dan mulai sibuk memilih-milih makanan yang tertera pada daftar menu.
Fauzi hanya terdiam dan kembali memainkan ponselnya. Memantau Salwa melalui layar ponselnya yang sudah terhubung dengan CCTV dirumahnya. Fauzi tersenyum, melihat Salwa dari layar yang sepertinya sibuk merapikan lemari pakaian mereka. Ya, setidaknya dia tidak melakukan hal-hal aneh yang bisa membahayakan dirinya.
“Mau makan apa?”
Pertanyaan Karin spontan membuat Fauzi mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
“Apa aja..”
“Gak ada menu apa aja disini..”
“Kopi” kata Fauzi singkat dan kembali menatap layar ponselnya, memperhatikan gerak gerik istrinya.
Karin memberikan list pesanannya pada pelayan yang sudah menunggu di samping meja mereka.
“Hem, jadi apa yang mau kamu bicarakan”
Karin menghela nafas, entah apa yang membuat laki-laki di depannya ini seperti terburu-buru, membuatnya menjadi tidak bisa menikmati waktu bersama lebih lama.
Karin mengambil dokumen dari dalam tasnya, menyodorkan pada Fauzi.
__ADS_1
“Aku mau ngajak kamu kerjasama lagi. Tapi ini bukan antar perusahaan, melainkan antara kita”
Fauzi mulai membuka-buka dokumen itu.
“Kenapa mau kerjasama sama aku? Aku rasa, kamu bisa menjalankan proyek ini tanpa perlu kerjasama. Ini bukan hal yang terlalu rumit”
“Iya aku tahu. Aku cuman mau mengajakmu membuka peluang bisnis baru. Lagian aku sibuk banget, jadi aku butuh partner agar gak kewalahan”
“Aku juga sibuk. Aku gak bisa
“Kamu belum baca sampai selesai, dan udah mutusin gak bisa?”
“Aku beneran sibuk Karin, banyak hal yang harus aku kerjakan. Aku juga bukannya laki-laki lajang yang bisa fokus pada pekerjaan saja. Aku punya keluarga, punya istri dan juga anak yang butuh waktuku”
Perkataan Fauzi seolah memperjelas statusnya. Membuat Karin terdiam sejenak.
“Apa kalau kamu ikut proyek ini sama aku, kamu sama sekali gak punya waktu buat keluargamu?”
“Punya, hanya saja jadi semakin sedikit. Sekarang pun, waktu yang aku punya buat keluargaku sedikit, dan akan semakin sedikit kalau aku ikut proyek kamu itu” jelas Fauzi.
Karin hanya terdiam. Menunduk dan bingung harus mengatakan apa lagi.
“Beruntung sekali..”
Fauzi menatap Karin, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Karin.
“Apanya?”
“Istri dan anakmu. Mereka mendapatkan orang sepertimu, yang benar-benar memikirkan mereka”
“Bukan mereka yang beruntung ngedapatin aku, tapi aku yang beruntung punya mereka”
Karin tersenyum kecut. Tidak mampu mengangkat kepalanya menatap Fauzi “Perkataanmu semakin ngebuat aku merasa iri. Aku sepertinya cemburu sama Salwa”
“Maksudmu?”
“Apa aku juga bisa dapat laki-laki seperti kamu nanti?” Tanya Karin sembari mengangkat kepalanya, menatap Fauzi.
Fauzi hanya balas menatap Karin.
“Kamu benar-benar laki-laki idaman, perfect dan sangat meyenangkan. Salwa pasti sangat bahagia menjadi istrimu. Sepertinya, aku tidak salah karena pernah menyukaimu dulu, mungkin juga sekarang”
Fauzi mengalihkan pandangannya, menatap keluar dan kembali mengarahkan padangannya pada Karin.
“Kamu juga akan dapat nantinya..”
“Semoga..”
Senyum simpul Karin yang tidak bisa diartikan.
“Jadi, sudah gak ada lagi kan yang harus kita bahas? Aku harus menjemput Mikayla sekarang” Fauzi mengangkat lengannya, melihat jam yang menunjukkan sedikit lagi pukul 10.
“Mikayla?”
“Dia putriku?” Jawab Fauzi tersenyum. “Aku akan ke kasir”
“Gak usah, biar aku yang bayar. Kamu juga gak pesan makanan kan”
“Aku pesan kopi”
“Kamu gak minum kopinya. Sudahlah, biar aku yang bayar. Kayaknya aku juga lagi kepengen minum kopi”
Karin memperlihatkan senyumannya meski wajahnya memperlihatkan kekecewaan.
“Makasih kalau begitu. Dan maaf, karena aku gak bisa ikut bergabung dalam proyek barumu”
Karin hanya mengangguk dengan senyumannya.
“Aku permisi dulu..”
Fauzi melangkah keluar, karin mengantar Fauzi dengan pandangannya. Jelas sekali ia merasakan kecewa.
__ADS_1
“Ah aku memang bodoh..” gumamnya.