Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
LAST..


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 6 kurang lima belas menit. Fauzi berharap hari ini dia bisa menyampaikan perasaannya pada Salwa bersamaan dengan terbitnya matahari pagi ini.


"Ka kamu ngapain pagi-pagi begini kesini??" Tanya Salwa kebingungan sambil menghampiri Fauzi yang sudah berdiri didepan rumah.


"Ck, kenapa keluar hanya menggunakan Piyama sih? Cuaca kan masih dingin sekali.."


Salwa yang tidak tahu menahu tentang apa yang menyebabkan Fauzi datang kerumahnya sepagi ini keluar hanya dengan menggunakan piyama tanpa persiapan pakaian lain seperti jaket atau sweater untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya suasana pagi.


"Kenapa gak pake jaket atau sweater, nanti kamu kedinginan.." Omel Fauzi sambil melepas hodie yang dia kenakan dan diberikan pada Salwa sambil memasangkannya pada Salwa. "Ayoo.." Fauzi menarik tangan Salwa.


"Ke kemana???"


"Ke suatu tempat.." Jawab Fauzi tersenyum.


"Tapi aku masih pakai piyama.."


"Gak papa, kan ada hoodieku jadi kamu gak akan kedinginan. Kalau dingin bisa meluk aku juga kok.." Kata Fauzi tersenyum. "Pelukanku bisa lebih hangat dibandingkan pakaian apapun yang kamu gunakan.."


.


.


.


Fauzi terus memandangi Salwa yang tertidur lelap dalam mobil. Fauzi tidak tahu apa yang membuat wanita yang begitu di cintainya itu tidur dengan lelapnya bahkan ketika sinar matahari mulai menerobos menerpa wajahnya dari balik kaca mobil.


"Hari ini aku melihatmu seperti ini, dan tidak lama lagi setiap harinya aku akan melihatmu seperti ini" Gumam Fauzi sambil tersenyum menatap Salwa. "Hem.. Kamu ngebuat rencanaku pagi ini gagal Salwa, aku berharap bisa melamarmu bersamaan dengan terbitnya matahari, tapi sampai jam tujuh begini kamu masih saja tertidur.. Kamu habis ngapain semalam sampai tertidur lelap begini hah??" Celoteh Fauzi tanpa mendapatkan respon dari Salwa.


Fauzi terus-terusan duduk menatap Salwa sambil menunggunya terbangun, sesekali Fauzi menghalangi sinar matahari dengan tangannya yang menerpa wajah Salwa. Rasanya pada sinar mataharipun Fauzi merasa cemburu karena bisa menjelajah begitu bebasnya di wajah Salwa.


"Selamat pagi.." Sapa Fauzi saat perlahan Salwa mulai terjaga dari tidurnya.


Jelas Fauzi melihat ekspresi terkejut Salwa. "Mungkin dia belum sepenuhnya sadar saat aku memmbawanya tadi.." Fauzi menahan tawanya.


Fauzi beranjak dan mengajak Salwa keluar dari mobil.


"Kita ngapain disini??" Tanya Salwa masih kebingungan dan lagi Salwa kesulitan berjalan karena embun yang masih bertengger di rerumputan membuat ujung-ujung pakaian Salwa menjadi basah.


"Mau aku gendong?" Fauzi menawarkan punggungnya.


Meski awalnya Salwa menolak untuk di gendong oleh Fauzi, namun akhirnya dia tetap naik dipunggung Fauzi karena Fauzi yang menawarkan dengan kesan sedikit memaksa.


"Aku akan memberimu hari yang tidak bisa kau lupakan hari ini. Aku akan membuatmu menangis karena terlalu bahagia.."


Setelah berjalan cukup jauh, Fauzi akhirnya menurunkan Salwa.


"Salwa.. Selamat ulangtahun.." Kata Fauzi tersenyum. "Maaf, mungkin aku orang terakhir yang mengucapkan ini padamu, tapi tahun-tahun kedepannya aku tidak akan membuat oranglain bisa mengucapkannya pada sebelum aku"


Jelas sekali oleh Fauzi bagaimana wanita yang dicintainya terkejut sekarang.


"Aku tidak tahan lagi, aku ingin meluapkan perasaanku padamu sekarang.." Mata Fauzi berbinar-binar menatap Salwa.


Salwa masih saja terdiam ditempatnya.


"Boleh aku memelukmu??"


Meski terasa lain, namun meminta izin pada Salwa untuk memeluknya itu terasa janggal karena sebelumnya untuk menumpahkan segala perasaannya dengan pelukan Fauzi tidak perlu meminta izin.


Salwa berjalan mendekat dan memeluk Fauzi terlebih dulu. "Terimakasih udah ngucapin selamat ulangtahun buatku.." Kata Salwa meletakkan kepalanya di dada Fauzi yang bidang.


Tidak perlu aba-aba lagi, Fauzi balas memeluk Salwa dengan erat. "Aku merindukan masa seperti ini denganmu, bisa memelukmu untuk meredakan segala gejolak di hatiku"


Fauzi meminta maaf atas keterlambatannya mengucapkan selamat ulangtahun pada Salwa dan Salwa memakluminya.


"Tempat ini memiliki memberikan kita kenangan buruk, dan aku ingin mengubah itu menjadi sebuah kenangan manis. Salwa, maukah kamu menjadi istriku??"


Fauzi tidak ingin lagi menunda untuk melamar wanita yang sudah dia cintai 8 tahun terakhir ini. Wanita yang membuatnya merasa bahagia hanya dengan mengingatnya, wanita yang membuatnya tidak bisa mencintai wanita lain dan wanita yang tidak pernah bisa dia gantikan dengan yang lain dari belahan bumi manapun.


Salwa berhambur memeluk Fauzi, segala perasaan bahagia berkumpul dihatinya dan diluapkan dengan memeluk Fauzi erat-erat. Detak jantungnya bergemuruh, seolah kesulitan mengimbangi kebutuhan darah yang harus mengalir deras ke kepalanya karena perasaan yang terlalu bahagia.


"Terimakasih Salwaa... Terimakasih.. Aku mencintaimuu..."


Tidak ada yang bisa menggambarkan seperti apa perasaan bahagia dari kedua insan yang seolah enggan melepas pelukannya satu sama lain itu.


.


.


Tidak cukup lama setelah Fauzi melamar Salwa secara pribadi, orangtuanya akhirnya datang kerumah Salwa, melamarnya secara resmi dihadapan orangtuanya. Lamaran yang berjalan lancar itu kemudian disusul dengan acara pernikahan beberapa minggu setelahnya.


.


.

__ADS_1


.


.


7 tahun kemudian.


"Sayang..." Panggil Salwa..


Fauzi bergegas menghampiri istrinya.


"Ini, masukin semuanya dalam mobil.."


"Apa harus sebanyak ini? Kita kan cuman mau piknik sayang..."


"Kita memang perlu membawa sebanyak ini sayang. Makanan, minuman, alas untuk duduk, dan juga perlengkapan si kecil.." Jelas Salwa.


"Tapi..."


Belum Fauzi melanjutkan kata-katanya, mata Salwa mulai melotot seolah siap menerkam Fauzi membuat Fauzi tidak melanjutkan kata-katanya.


"Iya iya sayangg... Aku masukin semuanya di mobil yaa..." Kata Fauzi mulai mengangkat satu persatu barang yang sudah disiapkan Salwa.


"Si kecil mana??" Tanya Salwa.


"Sudah naik di mobil duluan.."


"Yasudah, aku ganti pakaian dulu.."


Pagi ini Salwa mendapat telfon dari sahabatnya Nina. Nina bermaksud mengajak Salwa untuk piknik menghabiskan akhir pekan bersama. Mereka masih berkomunikasi dengan baik, dan tidak jarang saling mengunjungi satu sama lain.


Salwa yang sudah menjadi seorang Ibu sekarang tidak lagi bekerja seperti sebelumnya, Salwa membuka Apoteknya sendiri dirumah sehingga membuatnya bisa bekerja sekaligus mengurus rumah tangganya.


.


.


.


Mereka tiba disebuah taman, menikmati akhir pekan bersama dan tertawa dengan cerita-cerita konyol yang masih saja asyik mereka bahas seperti saat mereka masih remaja dulu. Nina dan Salwa duduk sambil memperhatikan putra putri mereka yang sedang bermain sedang Farhan dan Fauzi sibuk memancing di danau yang tidak jauh dari lokasi mereka piknik.


"Hu hu hu.. Mami...."


"Kenapa sayang???" Tanya Salwa menghampiri putri semata wayangnya berjalan sambil menangis.


"Fariz, kamu apakan adikmu Nak.." Tegur Nina pada putranya.


Entah apa yang dilakukan anak laki-laki usia 6 tahun itu sampai membuat Mikayla yang lebih muda satu tahun darinya menangis.


"Akak Fariz pelit bundaa..." Adu Mikayla pada Nina.


"Gak gak.. Fariz gak pelit bunda.. Mikayla aja yang mau ngerampas mainan Fariz.."


"Kayla, kamu tidak boleh merampas mainan kakakmu seperti itu Sayang.." Salwa berusaha memberitahu putrinya.


"Aku gak salah kan Mami Salwa.. Dede Kayla aja yang nakal.."


"Aku gak ngerampas Mami.. Aku cuman mau pinjam mainan Akak Fariz saja.." Jelas Mikayla masih menangis tersedu-sedu.


Nina menghampiri putranya.


"Nak, Kayla hanya ingin meminjam mainanmu.. Bukannya bermaksud merampasnya.."


"Tapi Bunda, ini kan mainan anak laki-laki.." Fariz menunjukkan sebuah mobil-mobilan pada Bundanya.


"Tidak apa-apa jika Kayla ingin meminjamnya, dia kan juga mau lihat mainan anak laki-laki itu seperti apa.."


Fariz terdiam sambil cemberut mendapat teguran dari Bunda.


"Udah udah Nin, Kayla juga sudah diam.."


Perlahan Fariz menyodorkan mainan yang dipegangnya itu pada Kayla. "Ini aku pinjamin.."


Nina tersenyum melihat putranya yang mulai mengerti jika dijelaskan sesuatu.


"Karena kalau udah besar kita nikah, jadi ini aku pinjamin..."


"WHAATT???"


Bukan main terkejutnya Nina dan Salwa mendengar perkataan seperti itu dari mulut kecil Fariz yang baru berusia 6 tahun itu. Bagaimana bisa anak sekecil Fariz berfikiran seperti itu. Nina dan Salwa saling memandang dalam kebingungan mereka.


"Ka kamu bilang apa tadi Nak..??" Tanya Nina ingin memperjelas apa yang baru saja putranya katakan itu.


"Akak Fariz bilang mau nikah sama Kayla Bunda.." Mikayla menggantikan Fariz menjawab pertanyaan Nina.

__ADS_1


"Menikah?? Kalian dengar itu dari mana sayang??" Tanya Salwa memegangi kedua pipi putrinya.


"Dari Papi sama Ayah Farhan.." Jawab Mikayla polos.


"Ya ampun.. Fauzi sama Farhan ngomong apa sih sama anak kecil.." Gerutu Salwa kesal


"Ck.. Benar-benar dua laki-laki itu.. Bisa-bisa dia membahas masalah pernikahan pada anak sekecil ini.." Nina tidak kalah kesalnya.


"Hem sayang.. Papi Fauzi sama Ayah Farhan ngomong apa saja??"


"Papi bilang, kalau kita saling mencintai dan menyanyangi kita akan menikah. Aku kan sayang sama dede Kayla, dede Kayla juga sayang sama aku.." Jelas Fariz dengan wajah polosnya.


"Iya.. Tapi kata Papi kalau masih kecil gak bisa nikah, yang nikah itu orang besar.." Lanjut Mikayla.


"Jadi aku sama dede Kayla nikah kalau udah besar nanti..."


Nina menepuk jidatnya dan Salwa hanya menggeleng-geleng tidak tahu harus berkata apa.


"Yasudah, sana kalian main lagi ya.. Jangan berantem dan lari-larian.."


"Iya Mami.." Jawab Mikayla dan Fariz serempak.


Kedua anak kecil yang terpaut satu tahun itu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


"Nin.. Mau ngasih pelajaran apa sama si Farhan nanti malam.." tanya Salwa.


"Farhan gak bakal tidur dikamar malam ini..." Jawab Nina sangar. "Kalau kamu? Fauzi bakal diapain nanti malam??"


"Gak dapat jatah.. Bukan cuman malam ini, sampai seminggu kedepan gak bakal dapat jatah.."


"Wa, kamu apa gak terlalu kejam. Masa suamimu gak dikasi jatah seminggu.."


"Biar saja.. Biar besok-besok dia mikir dulu kalau mau ngomong sesuatu sama anak kecil.."


Sementara itu ditempat Fauzi dan Farhan memancing.


Hatcchhiii....


"Perasaan gak ada debu, kok bersin-bersin yaa..."


"Iya nih, kayaknya kita mau flu Zi.." Kata Farhan setelah bergantian bersin-bersin dengan Fauzi.


"Sssstt.. Jangan ribut, nanti ikannya kaburr.." Tegur Fauzi.


"Kita juga dari tadi diam-diaman disini, tapi tetep aja gak ada ikan yang datang.."


"Jangan-jangan nih danau gak ada ikannya.."


"Yaudah gih ayo balik.. Beli ikan dipasar saja nanti..."


Fauzi beranjak dari duduknya mengikuti ajakan Farhan untuk menghentikan aktifitas memancingnya dan kembali menuju dimana istri dan anaknya sedang bersama.


.


.


.


Pelangi yang Indahpun muncul setelah awan gelap berhasil menumpahkan hujan kedasar bumi. Begitu juga Indahnya sebuah hubungan pasti ada kesulitan yang harus dilalui dulu.. Semua itu tergantung kuatmu untuk bertahan, asal jangan bertahan untuk hal yang tidak memungkinkan untuk dipertahankan.


**SELESAI


.


.


Terimakasih sudah mampir di 'Dear, Jodohku!!'


Terimakasih sudah bersama dengan Author sampai di eps ini 😊


Sayang cinta untuk kalian semua 💜💜


.


.


.


Baca juga novel terbaru Lina ya 😊**


~The Truth (Un)Told~


__ADS_1


__ADS_2