
Waktu menunjukkan pukul 01:49, yang menandakan malam semakin larut.
Fauzi tertidur dengan pulas, rasa lelah yang dia dapatkan dari bekerja seharian mengurus rumah dan juga istrinya, membuat tubuhnya lelah sehingga saat tubuhnya diberi waktu istirahat, ia benar-benar terlelap.
Hawa dingin merembes masuk kepermukaan bumi, meski di siang hari matahari meraja dengan segala hawa panasnya, namun ketika malam datang, rasa panas itu lenyap dengan berganti hawa dingin.
Malam yang larut menciptakan kesunyian, hanya terdengar suara detak jam yang bertengger di dinding, dan sesekali suara kendaraan yang entah mengapa pemiliknya masih mengoperasikan kendaraan mereka di malam selarut ini.
Fauzi yang sebelumnya terlelap begitu nyaman, perlahan terjaga saat telinganya mendapati suara isak tangis. Meski jelas tangis itu ditahan sebisa mungkin, namun tetap saja dapat tersentuh oleh indra pendengaran Fauzi.
Fauzi perlahan membuka matanya, dan mendapati istrinya tengah duduk sambil memeluk lutut dan menyandarkan kepalanya di lututnya.
Dengan sedikit sulit, Fauzi mengumpulkan semua kesadarannya, ia beranjak dari rebahannya lalu memperbaiki posisi duduk dan mencoba menenangkan istrinya. Ya, sesekali emosi Salwa tidak bisa terkontrol, hingga ia menangis tanpa sebab dan tidak butuh waktu yang lama Salwa akan kembali seperti semula dan melupakan bahwa ia baru saja menangis.
Fauzi memeluk Salwa dari belakang, meringkuh tubuh istrinya yang nampak seperti kepompong dengan posisinya yang menunduk, menyandarkan kepalanya pada lutut.
“Kamu kenapa sayang?” Bisik Fauzi dengan lembut.
Tidak ada jawaban dari Salwa, tangisnya masih saja berlanjut dan dia yang tidak mengubah poisisnya sehingga Fauzi tidak bisa melihat wajah istrinya.
“Sayang, kamu kenapa nangis? Ada yang sakit??” Tanya Fauzi sekali lagi.
Masih saja sama, tidak ada jawaban dari Salwa. Hanya suara isak tangisnya yang semakin jelas terdengar.
Fauzi bergeser sedikit dan memutar tubuh istrinya, mencoba mengangkat wajah yang sedari tadi dibenamkan.
Fauzi melihat dengan jelas, bagaimana wajah sembab milik istrinya dengan airmatanya yang masih saja mengalir.
“Kamu kenapa sayang? Bilang sama aku?” Tanya Fauzi sembari menyeka airmata istrinya yang entah apa yang dirasakan Ibu dari anaknya itu, sehingga airmatanya semakin deras saja mengalir saat ia bertanya perihal apa yang menyebabkan dia menangis tersedu-sedu di malam yang semakin larut.
“A-aku.. Aku sakit kan?” Tanya Salwa tersikuk-sikuk.
Fauzi terdiam sejenak. Terakhir kali istrinya sadar akan kondisinya, ialah saat ia menemukan obat yang diberikan untuknya dan itu sudah berlalu cukup lama. Malam ini, adalah kali pertama lagi istrinya sadar akan kesehatannya.
“Siapa yang bilang kamu sakit sayang? Kamu baik-baik saja. Apa kamu lagi ngerasa sakit sekarang? Bagian mananya yang sakit?”
“Gak perlu bohong sama aku Fauzi, aku tahu kalau aku sakit. Ada penghapus di kepalaku, aku tidak normal lagi”
Airmatanya semakin deras mengalir, saat dia mengatakan kondisinya yang tengah ia sadari saat ini.
“Sudah berapa lama aku sakit? Aku gak tahu”
Salwa kembali menyandarkan kepala pada lututnya dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
“Sudah lama aku gak sadar kan? Sudah lama aku seperti ini”
Fauzi kembali mengangkat wajah istrinya, dan menarik wanita kesayangannya itu kedalam pelukannya.
Fauzi tahu, ada waktu kesadaran istrinya bisa muncul kepermukaan. Sesekali, ia sadar layaknya orang normal dan berpikiran seperti biasanya.
“Aku gak normal Fauzi, aku seperti orang gila yang gak sadar dan gak paham sama diriku sendiri”
“Jangan bicara seperti itu sayang, kamu baik-baik saja, semuanya baik-baik saja”
Airmata mulai menggenang di pelupuk mata Fauzi. Dia menahan mati-matian agar airmatanya tidak tumpah, dia harus kuat agar bisa menguatkan istrinya.
Fauzi melepas pelukannya, dan kembali menyeka airmata wanita yang sangat dicintainya.
“Aku sadar sekarang, aku tahu kondisiku. Meski aku tidak tahu kapan kesadaranku hilang dan kembali berubah menjadi orang lain”
“Syukurlah kalau kesadaranmu itu kembali sayang, aku senang bisa berbicara seperti ini sama kamu”
“Tapi tidak lama lagi kesadaran ini akan hilang. Semua tentangmu dalam kepalaku akan hilang, aku akan kembali menjadi orang gila yang tidak mengenal suamiku”
“Jangan selalu menyebutmu dirimu seperti itu. kamu gak begitu sayang, bahkan saat kesadaranmu ini berlalu, kamu masih ingat sama aku, kamu masih sering bilang cinta sama aku”
“Tap..”
“Sayang.. Bisa gak, kalau kesadaranmu ini kembali seperti sekarang, kamu tidak memikirkan hal-hal seperti kondisimu atau kesehatanmu. Apa bisa, saat kamu sadar seperti ini kamu hanya memikirkanku, meresapi cintamu untukmu, mengakuiku sebagai suamimu, dan hanya mengenang masa-masa indah kita saja. Buang semua pikiran tentang keadaanmu yang bisa melupakanmu, yang harus kamu sadari adalah kamu masih ada bersamaku dan cintamu masih untukku. Cukup katakan kamu cinta sama aku, sayang sama aku. Aku rindu ngedenger kamu bilang cinta sama aku dengan tatapan istriku yang seperti ini”
Fauzi mati-matian menahan agar airmatanya tidak tumpah. Dia tidak ingin memperlihatkan kerapuhannya, sehingga istrinya bisa percaya bahwa suaminya saat ini tetap kuat dalam keadaan apapun.
Salwa berhambur memeluk Fauzi, apa yang baru saja suaminya katakan, memberinya sedikit rasa nyaman meski sakit masih menderu dalam hatinya ketika menyadari kondisinya saat ini.
__ADS_1
“Aku mencintaimu Fauzi, aku sayang sama suamiku. Saat kesadaranku hilang nanti dan aku kembali seperti orang lain, aku akan tetap cinta sama kamu. Apapun yang aku bilang nanti, kamu harus tetap percaya kalau aku sayang sama kamu”
“Iya sayang, aku tahu itu. perasaanmu sudah menjadi hal yang akan menguatkan aku, memberiku segala-galanya dari apa yang aku butuhkan”
Salwa melepas pelukannya, memandangi wajah Fauzi dengan lekat meski matanya masih saja banjir oleh airmata. Perlahan, ia mengangkat tangannya, meraba setiap sudut wajah suaminya dan merasakan lekukan di wajah itu. Hidung mancung, mata yang tidak terlalu lebar, hingga bibir milik suaminya, tidak lepas dari indra perabanya.
“Aku akan ingat wajah ini, aku pasti ingat sama wajah ini” kata Salwa, menatap lekat ke bola mata hitam milik suaminya.
Tangisnya kembali berlanjut, tatkala ia sadar bahwa hanya dalam hitungan detik ingatannya bisa saja kembali hilang. Lalu bagaimana bisa dia mengatakan bahwa ia akan mengingat wajah suaminya, sedangkan dirinya sendiripun tidak akan bisa dia ingat saat sesuatu dalam otaknya itu kembali mengambil semua ingatannya.
“Aku cuman bisa bilang ini karena aku sadar sekarang. Nanti kalau kesadaranku hilang, aku.. aku pasti lupa sama semuanya lagi, sama wajahmu, sama statusmu bahkan aku akan lupa sama perasaanku yang mencintaimu seperti ini. Hu hu hu aku ini apa?? Aku bahkan tidak tahu aku ini apa?” Salwa kembali menangis meraung-meraung menyadari dirinya.
“Hey sayang.. Aku kan sudah bilang, jangan pikirkan yang lainnya. Saat ingatanmu kembali seperti sekarang, yang harus kamu ingat hanya kenangan indah kita saja, hanya kebahagiaan kita saja, jangan yang lainnya”
Fauzi berusaha menenangkan istrinya yang kembali menangis sejadi-jadinya.
“Ozi..”
“Iya sayang..”
“Kenapa masih disini?? Kenapa kamu masih disini??”
“'Kenapa disini'?? Ya karena disini rumah kita sayang..”
“Kamu pasti tahu kalau aku tidak bisa sembuh, jadi aku tidak akan bisa kembali seperti dulu, dan kondisiku akan semakin buruk. Jadi kenapa kamu masih disini sama aku?? Pergi.. Pergi cari yang lainnya, pergi cari perempuan sehat yang normal untuk menemani hari-harimu”
“Sayang.. Kamu ngomong apa sih?? Kenapa bicara seperti itu..”
“Aku ini sakit Fauzi, dan tidak akan sembuh. Tidak ada gunanya kamu bertahan sama aku, cepat atau lambat aku akan mati dan sampai aku mati nanti, aku tidak akan bisa mengingat kamu.. tidak akan bisaaa...”
Dengan satu kali tarikan, Fauzi membawa Salwa kedalam pelukannya. Dia yang tadinya berusaha sebisa mungkin tidak menumpahkan airmatanya, akhirnya tumpah juga setelah mendengar apa yang Salwa katakan.
“Jangan bicara omong kosong seperti itu, jangan bicara hal buruk seperti itu. Aku gak suka dengar kamu ngomong kayak gitu, jadi jangan bicara seperti itu lagi” Kata Fauzi yang tangisnya ikut pecah sembari memeluk istrinya dengan erat.
“Tapi apa yang aku bilang itu benar, aku gak bakal sembuh dan gak bakal bisa kembali seperti semula. Aku hanya akan nyusahin kamu”
“Siapa bilang kamu nyusahin aku, semuanya baik-baik saja. Aku bahagia bisa sama kamu”
“Berhenti bicara.. Aku gak mau dengar apapun dari kamu. Jangan bicara lagi..”
“Hu hu hu.. Tapi aku beneran sakit Fauzi, a-aku gak bakalan sembuh..”
Fauzi melepas pelukannya, menggenggam dengan sedikit erat bahu Salwa.
“Memangnya kenapa kalau kamu sakit? Kenapa kalau kamu gak bisa sembuh?? Kenapa???. Aku tidak peduli itu, aku akan tetap ada disini buat kamu, dan tetap ngejaga kamu seperti ini. Aku ini suamimu Salwa, bagaimana bisa kamu meminta suamimu untuk mencari perempuan lain?? Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku??”
“Aku sayang sama kamu Ozi, tapi aku sakit.. Aku gak bisa ngebahagiaan kamu, aku gak bisa seperti orang-orang lainnya yang bisa kamu andalkan. Aku sakiiitt...”
Fauzi memegangi wajah mungil milik istrinya yang di penuhi airmata. Perlahan ia cium kedua mata istrinya, lalu hidung dan mengecup pelan bibir kecil Salwa. Fauzi memandangi sejenak wajah Salwa, kemudian kembali memberikan ciuman pada pipi kanan yang dilanjut pada pipi kiri Salwa, dan terakhir pada kening istrinya. Ciuman yang dia berikan dengan penuh ketulusan pada perempuan yang sudah hilang kepercayaan dirinya sebagai istri.
“Bagaimanapun keadaanmu, aku akan tetap bersamamu. Aku tidak peduli dengan kondisimu, cukup kamu mencintaiku itu sudah lebih dari cukup. Kamu tidak akan meninggalkanku, karena aku adalah rumahmu, tempatmu kembali”
Fauzi mengusahakan diri untuk tersenyum, berusaha menguatkan diri sebelum menguatkan istrinya yang kini sangat rapuh.
“Dengarkan aku, andai jantungku adalah nyawamu, maka akan kupaksakan jantung ini terus berdetak agar kamu tetap hidup. Andaikan mataku ini adalah duniamu, maka akan kupaksakan mataku ini tetap melihat agar kamu tetap ada, dan karena aku adalah cintamu, maka aku akan selalu ada untukmu selama kamu ada di dunia ini. Tidak akan ada yang saling meninggalkan diantara kita, aku adalah kamu, dan kamu adalah aku”
Airmata Salwa kembali terjun bebas meski dia tidak lagi menangis meraung-meraung.
Fauzi kembali mengecup kedua mata istrinya.
“Mata ini, aku akan selalu membuatnya melihat hal-hal indah yang ada di dunia ini”
Kemudian Fauzi lanjut mencium hidung istrinya.
“Hidung, akan kubuat selalu menghirup udara segar dan aroma nikmat dari masakan enak yang akan kubuatkan setiap harinya”
Fauzi lanjut mengecup pelan bibir istrinya.
“Bibir ini, akan kutuntun untuk terus mengatakan cinta untukku, dan menikmati semua sajian yang kusediakan untukmu”
Fauzi menuju telinga milik istrinya, dan menciumnya bergantian.
“Telinga ini, setiap harinya akan mendapat konsumsi dari kata-kata manis dan ungkapan cinta dariku”
__ADS_1
Fauzi beranjak dari telinga dan mencium kedua pipi istrinya.
“Pipi ini, akan kubuat selalu merona memperlihatkan bagaimana kamu bahagia dan jatuh kedalam cintaku”
Hingga yang terakhir, Fauzi mengecup kening istrinya.
“Dan kening ini, adalah wadah untuk bibirku agar selalu bisa memberikan ciuman tulus dan indah untuk istriku”
Fauzi kembali menatap wajah istrinya.
“Sayang.. Hari ini, besok, lusa hingga waktu yang tidak ditentukan, aku akan selalu bersamamu, bagaimanapun keadaannya. Cintaku tidak mengizinkan aku untuk beranjak dari kamu”
Salwa tersenyum meski airmatanya masih belum bisa ia hentikan. Hingga ia beranjak dan memeluk suaminya.
“Terimakasih, karena sudah menjadi suami yang hebat untukku”
Fauzi balas memeluk istrinya, dengan pelukan yang semakin erat.
“Terimakasih juga, karena terus-terusan mencintaiku bagaimanapun kondisimu..”
Pelukan yang sama-sama tidak ingin mereka lepaskan. Meski airmata mengiringi, namun tetap ada perasaan bahagia yang menyelimuti keduanya.
Fauzi begitu betah memeluk istrinya, juga sangat betah berada dalam pelukan istrinya. Ia tidak lagi sadar bahwa malam semakin larut, juga waktu semakin berlalu dan hanya tinggal beberapa jam lagi, matahari akan menyapa penduduk bumi.
“Sayang..”
“Hem..”
“Kenapa??”
“Apanya sayang??”
Fauzi melepas pelukannya, bingung dengan pertanyaan Salwa yang tiba-tiba.
“Kamu kok meluk aku erat banget, ada apa?” Tanya Salwa dengan tatapannya yang memperlihat kebingungan. Ekspresi yang dimiliki sebelumnya kini sudah berubah menjadi ekspresi datar dengan tatapan kebingungan.
Melihat Salwa yang seperti itu, menyadarkan Fauzi bahwa ingatan kesadaran istrinya kini sudah pergi. Salwa yang ada didepannya saat ini, adalah istrinya dengan ingatan yang tidak beraturan.
Penghapus itu datang lagi.
“Gak apa-apa sayang, tadi aku mimpi buruk dan ketakutan, jadi aku bangun dan meluk kamu”
“Jangan takut, kan ada aku..” Kata Salwa tersenyum meski sisa airmatanya masih jelas terlihat di wajahnya.
Fauzi hanya tersenyum mendengar perkataan istrinya, kemudian mengiyakan apa yang Salwa katakan.
“Yaudah, ayo tidur lagi” Ajak Salwa.
Fauzi memperbaiki posisinya dan kembali berbaring, matanya masih memerah sisa dari tangisnya yang sempat pecah tadi.
“Mau aku peluk?” Tanya Salwa menawarkan.
Sekali lagi Fauzi mengangguk, membuat Salwa mendekat dan memberikan pelukan pada suaminya.
“Sekarang ada aku yang meluk kamu, jadi mimpi buruk itu pasti gak datang lagi”
Fauzi berusaha memejamkan matanya, meski pikirannya masih bermain di sekitar apa yang sempat dikatakan istrinya.
Salwa terlelap lebih dulu sebelum Fauzi. Fauzi memperbaiki posisi tidur istrinya, Salwa bisa saja keram jika tidur dalam posisi bantal yang tinggi karena bermaksud memeluk Fauzi sampai tidur tadi.
Fauzi menatap lekat ke wajah istrinya yang sekarang tertidur lelap, mungkin saja mimpi sudah menghampirinya sekarang.
“Kamu mimpi apa sayang, sampai tidurmu begitu tenang”
Airmata Fauzi kembali menetes, rasanya begitu menyakitkan tiap kali ia menyadari bahwa wanita yang sedang terlelap dengan damai di depannya itu, menyimpan sebuah misteri di otaknya.
Aku senang saat kesadaranmu kembali, karena itu membuatku bisa melihat Salwa-ku yang dulu, membuatku bisa merasakan cintamu yang tulus, bukan dari apa yang aku arahkan.
Tapi, jika kesadaranmu yang kembali itu mendatangkan pikiran buruk di kepalamu, maka sebaiknya kesadaran itu tidak usah kembali lagi.
Aku senang bisa menatap matamu yang memancarkan cinta yang tulus untukku ketika sadarmu pulang, tapi aku tidak suka jika kedatangannya membuatmu merasa tak pantas dan rendah diri, maka biarkan saja kesadaranmu itu terus tenggelam.
Aku mencintai Salwa-ku, dalam keadaan apapun. Meski kamu tidak bisa mengingatku, dan hanya mengatakan cinta karena aku mengajarimu seperti itu, aku tetap suka. Aku cinta kamu, bagaimanapun itu.
__ADS_1