Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 45


__ADS_3

Fauzi dengan cepat mengarahkan mobilnya ketepi jalan dan berhenti.


"Kamu bilang apa barusan? Calon istri??" Tanya Fauzi memperjelas apa yang baru Salwa katakan.


"Ah bukan calon istri ya? Sepertinya sekarang sudah jadi istri" Kata Salwa dengan ogah-ogahan.


"Ck, apalagi sih yang anak ini pikir? Apa dia masih mengira kalau Afifah itu calon istriku? Bukannya pembahasan Farhan dan Annisa cukup menjelaskan kalau aku ini masih sendiri??" Pikir Fauzi sambil menatap Salwa dengan lekat "Istri siapa? Kamu bilang apa sih?? Kamu tahu dari mana kalau aku sudah punya istri??" Tanya Fauzi ulang.


"Ke kemarin waktu kakak ngantar seseorang ke rumah sakit. Dia bilang kalau dia udah mau menikah, bu bukannyaa...." Terlihat Salwa yang ragu-ragu melanjutkan kata-katanya dengan sorot matanya yang kebingungan.


"Astagaa... Salwa benar-benar masih salah paham" Fauzi tertawa kecil melihat ekspresi Salwa yang kebingungan. "Kenapa aku mau menikah sama sepupuku sendiri?"


"Sepupuu???? Ta tapi.. Undangan yang kakak bahas dengan Annisa.."


"Kamu pikir itu undanganku??"


Salwa mengangguk memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan.


Fauzi tidak sanggup lagi menahan tawanya, kesalahpahaman Salwa dan ekspresi Salwa yang kebingungan sangat lucu di mata Fauzi.


"Jadi selama ini kamu selalu menghindar, kamu gak ngebalas chatku dan yang kamu bilang tidak mungkin untuk kita bersama itu karena kamu pikir aku sudah punya perempuan lain??"


Salwa mengangguk dan semakin bertambah bingung melihat Fauzi yang tertawa. "Ja jadi Afifah bukan?? Ka kakak be belum menikah??" Tanya Salwa terbata-bata.


"Kenapa lucu sekali sih?? Issshh jadi pengen ku unyel-unyel mukanyaa..."


Salwa masih saja kebingungan meski dia sudah tahu bahwa bukan Fauzi yang akan menikah.


"Cari tahu sendiri..".


Fauzi kembali menyetir melanjutkan perjalanannya mengantar Salwa pulang. Sepanjang perjalanan Fauzi tidak berkata-kata hanya terus-terusan menahan tawanya yang sesekali lepas ketika dia tidak mampu menahannya lagi.


"Jadi selama ini dia hanya salah paham, dia gak punya orang lain dan melihat ekspresinya sepertinya dia masih suka sama aku.. Ah bagaimana ini?? Rasanya pengen ngelamar dia sekarang saja. Ck, Salwa kamu berhasil lagi mengaduk-aduk perasaanku"


Perasaan Fauzi dipenuhi dengan perasaan bahagia setelah sebelumnya dia sempat down saat mendengar perkataan Salwa. Semua perkataan Salwa yang dikatakannya tadi dia lupakan karena luapan kebahagiaan memenuhi seluruh hatinya.


"Salwa, terimakasih sudah mau terus terang dengan apa yang ada dipikiranmu selama ini?" Kata Fauzi saat tiba didepan rumah Salwa. "Kamu ini masih saja seperti dulu.." Kata Fauzi kembali mengembangkan senyumannya dan menahan tawanya.


"Ma maksudnya.." Salwa lagi-lagi tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Fauzi.


"Bukan apa-apa. Sana masuk, ini sudah malam..." Kata Fauzi tersenyum.


Bukannya beranjak, Salwa kembali bertanya pada Fauzi untuk memperjelas status Fauzi.


"Kak, dari kata-kata kakak yang aku dengar tadi, i itu berarti kakak belum menikah dan..."


"Dia penasaran?? Lucu sekali.. Aku gak akan ngasih tahu secara langsung Salwa.."


Ekspresi bingung dan penasaran bercampur menjadi satu membuat Fauzi sangat gemas melihatnya.

__ADS_1


"Cari tahu sendiri.. Sudah, sana masuk..."


Salwa masih terdiam dan belum beranjak, dia masih sangat penasaran.


"Kenapa? Gak mau turun? Masih mau tinggal sama aku disini?" Goda Fauzi mendekatkan wajahnya ke Salwa sambil memperlihatkan senyumnya yang manis.


"Ga gaak... A aku turun.." Jawab Salwa terbata-bata dengan pipinya yang mulai merona.


"Kamu ini kenapa selalu lupa melepas sabuk pengamannya kalau aku antar sih??" Fauzi sekali lagi membantu Salwa melepas safety beltmya. "Aku harus bisa nahan diri, rasanya udah kepengen banget aku meluk kamu Salwa, kamu terlalu menggemaskan.."


Fauzi kembali tertawa saat pertahannya dikalahkan oleh kelakuan lucu Salwa. "Menggemaskan sekali..."


"Jangan ngeliat aku.." Salwa menutupi wajahnya, dia sadar kalau wajahnya sedang merona sekarang.


Kali ini Fauzi benar-benar mati-matian menahan diri untuk tidak lepas kendali memeluk Salwa untuk meluapkan rasa gemas dan bahagianya.


"Aku mencintaimu, dan sekarang aku semakin jatuh cinta. Kamu harus bertanggung jawab pada perasaanku Salwa.." Fauzi masih memandangi Salwa yang berjalan masuk kehalaman rumahnya dengan jasnya yang dia berikan pada Salwa untuk melindunginya dari cuaca malam yang dingin.


.


.


.


Farhan berjalan masuk menghampiri Nina yang sekarang sudah menjadi istrinya. Nina yang duduk didepan meja hiasnya sedang menggunakan skincare setelah sebelumnya dia selesai membasuh wajahnya dengan bersih dari make up tebal yang dia gunakan malam ini.


"Tentang apa?" Tanya Nina tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.


"Salwa masih suka sama Fauzi kan?? Aku sudah bilang tentang ini loh sama Fauzi"


"Emang Salwa masih suka kok sama kak Fauzi.." Kata Nina berjalan mendekati Farhan.


"Tapi kok respon Salwa seperti itu??"


"Hem.. Aku juga gak tahu.." Nina duduk disamping Farhan.


Melihat istrinya yang duduk disampingnya, Farhan perlahan merebahkan kepalanya dipangkuan istrinya.


"Apa Salwa punya pacar baru??"


"Kayaknya sih gakk.." Nina mulai memainkan rambut Farhan yang basah.


"Tau darimana kalau gak??"


"Ya karena Salwa gak ada cerita sama aku. Semua hal itu Salwa cerita sama aku, tentang kamu saja dia cerita..."


"A apa??" Tanya Farhan terbata-bata. Farhan cukup terkejut, apa saja yang Salwa sudah ceritakan pada Nina.


"Waktu kamu nembak dia dulu..." Kata Nina santai dan masih asyik memainkan rambut Farhan.

__ADS_1


Mata Farhan terbelalak "Nina tahu soal ini??"


"Ka kamu tahu ini??"


Nina hanya mengangguk mengiyakan.


"Kamu gak papa?"


"Gak papa. Memangnya aku harus kenapa-kenapa??"


"Ya ya enggak.. Kamu gak ngerasa kesal atau marah gitu tahu tentang hal ini??"


"Kenapa aku harus kesal atau marah?? Itu kan hal yang sudah berlalu, dan aku gak peduli itu. Yang aku tahu sekarang kamu adalah milikku. Bagaimana kamu dimasa lalu itu urusanmu, dan aku gak akan mempermasalahkannya. Yang jadi urusanku adalah kamu dengan hari-harimu kedepannya. Aku sayang sama kamu.." Kata Nina tunduk dan mengecup kening Farhan.


Farhan tersenyum. "Aku juga sayang dan cinta sama kamu. Kedepannya aku akan berusaha menjadi laki-laki hebat dan suami yang luarbiasa untukmu.." Kata Fauzi mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Nina perlahan. Nina hanya tersenyum mendapat perlakuan lembut namun terkesan manja dari suaminya itu.


Meski Farhan berbaring dipangkuannya, Nina tetap memainkan ponselnya membuat jangkauan mata Farhan untuk melihat Nina terhalang oleh ponsel Nina.


Farhan menarik ponsel Nina.


"Ada aku disini kok asyik sama Hpnya sih??" Tegur Farhan dengan wajahnya yang cemberut.


"Kenapa?? Aku lagi ngebalas ucapan selamat dari teman-temanku" Kata Nina berusaha meraih kembali ponselnya yang dipegang Farhan.


"Besok-besok saja.."


"Kenapa???"


"Ya enggak, aku maunya kamu merhatiin aku saja malam ini.." Kata Farhan yang terlihat menggemaskan sekali dimata Nina.


"Ha ha kan ini aku lagi sama kamu.." Jawab Nina tertawa kecil dan kembali meraih ponselnya dari genggaman Farhan.


Nina kembali sibuk membalas ucapan-ucapan selamat dari teman-temannya.


"Sayang..." Panggil Farhan.


"Hem??" Nina menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Ayo..."


"Apa??"


"Ya ayoo..."


Nina mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Farhan yang masih berbaring di pangkuannya.


"Ayoo..." Ajak Farhan.


Nina hanya tersenyum saat mengerti apa yang suaminya inginkan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2