
Yah, aku kecewa dan terluka tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, aku tidak ada hak untuk marah apalagi untuk melarang Farhan dekat dengan oranglain. Sudah satu tahun berlalu, sudah banyak yang berubah termasuk perasaan Farhan terhadapku. Aku hanya salah mengartikan kebaikan Farhan padaku yang kukira itu adalah perasaan cintanya seperti setahun yang lalu. Aku bodoh sekali berharap Farhan masih menyiapkan perasaannya unutukku.
Selama ini Farhan baik padaku tidak lebih dari dia yang menganggapku sebagai adik perempuannya yang sama-sama jauh dari orangtua sehingga harus saling menjaga. Aku terlalu jauh menyimpulkan perlakuan Farhan padaku. Haha siapa kamu Salwa yang merasa masih dicintai sedangkan dulunya kamu sudah sangat menyakitinya.
Aku terdiam saja dan hanya sesekali merespon Farhan dengan senyuman sembari dia menceritakan tentang kekasihnya itu. Aku merasa sedikit iri pada perempuan itu melihat Farhan yang sangat peduli dan menyayanginya. Aku juga pernah di posisinya tapi ya begitulah, aku hanya terus-terusan membuat kesalahan. Aku memang tidak pantas mendapat perhatian yang seperti itu dari Farhan.
"Ah itu dia datang.." Seru Farhan dengan semangat.
Aku seperti tidak ingin menoleh melihatnya, melihatnya semakin membuat perasaanku menjadi sakit.
"Maaf aku telat, jalanan macet.."
Tunggu.. Suara ini? Sepertinya tidak asing.
"Loh???"
"Salwaa???"
Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut tapi dia juga.
"Kalian kenapa?" Tanya Farhan kebingunan.
"Ni Ninaa??" Aku seperti tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Salwaa.. Kamu kemana saja? Aku kangenn.." Kata Nina menghambur memelukku. Aku balas memeluknya dan berusaha menyadari tentang apalagi ini? Ah ini benar-benar kejutan buatku.
"Ka kalian.. Seperti tidak pernah ketemu saja.." Pungkas Farhan.
"Emang gak pernah, jangankan ketemu komunikasian aja kita gak pernah" Jelas Nina.
"Nah loh.. Kok bisa?" Tanya Farhan semakin bingung.
"Kan kamu tahu sayang kalau ponselku sempat hilang. Semua kontak jadi hilang dan kartuku berubah, jadi aku gak bisa hubungi Salwa dan Salwa juga gak bisa ngehubungi aku.."
"Kamu kan bisa minta nomor Salwa sama aku.."
"Ya aku mana tahu kalau kamu punya nomornya Salwa.."
Nina dan Farhan sibuk berdebat sedang aku masih sangat kebingungan dengan keadaan ini.
"Ni Nina.. Kamu dengan yang nelfon kak Farhan tadi?"
"Iya.. Kenapa?"
"Ja jadi kamu sama kak Farhan?" Tanyaku masih kebingunan
__ADS_1
"Hehe iya, aku sama kak Farhan sudah tunangan dari 8 bulan yang lalu" Jawab Nina
"Selama ini aku gak pernah bilang sama kamu Salwa, karena aku kira kamu sudah tahu. Aku pikir bagaimana mungkin kamu tidak tahu sedangkan kamu sama Nina sudah seperti Naruto dan Sasuke yang tidak terpisahkan.." Kata Farhan yang juga sedikit kebingunan.
"Gak ya.. Aku sama Salwa gak pernah berantem kayak Naruto sama Sasuke"
"Ya kan cuman perumpamaannya aja sayang.."
"Kalau mau pakai perumpaan ya harus yang mirip dong.."
"Iya iya maaf"
Melihat dari tingkah mereka sepertinya Farhan masuk dalam kategori cowok bucin.
"Aku lapar.." Kata Nina memegang perutnya.
"Ini aku udah pesanin makan buat kamu.." Kata Farhan tersenyum.
Ah iya, kenapa aku gak teringat sama menu makanan Nina yang selalu itu-itu saja. Kenapa aku tidak menyadari saat Farhan memesannya tadi.
"Salwa kamu sudah makan?" Tanya Nina
"Sudah kok.." Jawabku.
"Kok gitu? Yaudah ayo makan sama aku" Kata Nina memisahkan separuh makanannya.
"Engg Nin.. Ka kamu sama kak Farhan kenapa bisa begini?" Tanyaku penasaran. Aku seperti masih tidak bisa percaya dengan hubungan mereka bedua. Apa yang saja yang sudah terjadi selama setahun belakang ini, ah aku terlalu lama terpuruk dalam lukaku sampai aku seperti orang baru dalam dunia ini.
"Hem.. pokoknya ceritanya panjang. Nanti aku ceritain sekarang ayo makan dulu, aku lapar" keluh Nina.
Kepalaku dipenuhi pertanyaan yang berlomba-lomba meminta jawaban tapi tak satupun jawaban yang bisa kuberikan. Aku tidak sedang ulangtahun tapi kenapa orang-orang ini memberiku kejutan yang sangat-sangat tidak aku duga.
Aku hanya mengikuti arus suasana yang diciptakan Farhan dan Nina, aku hanya ikut tertawa ketika mereka sedang tertawa atau memperlihatkan ekspresi serius saat Nina bercerita tentang liburannya yang tidak bisa berkomunikasi karena tidak memiliki jaringan telfon.
"Selama kamu gak ada Salwa yang terus yang nemenin aku.."
"Ya maaf, aku juga kan gak enak kalau diajak sama keluarga tapi gak ikut" Jelas Nina.
"Jadi kepalaku gak jadi di jitak nih?" Tanya Farhan menggoda Nina.
"Hem kali aku gak jitak karena kamu jalannya sama Salwa jadi aku maafin" Kata Nina sambil melahap makanannya.
"Aku sering nemenin Salwa keluar biar dia tahu tempat daerah sini.."
"Ide bagus.." Jawab Nina "Salwa kalau kamu ingin kesuatu tempat tanyakan saja sama Kak Farhan, dia habis ngejelajah disini jadi hapal betul sama daerah sini.."
__ADS_1
"Hehe iya.." Jawabku mencoba terlihat baik-baik saja.
"Tapi aku jadi iri sama kamu.." Keluh Nina.
"Kenapa?"
"Setidaknya kamu udah jalan kesana kemari sama kak Farhan.."
"Kamu belum?"
Nina mengangguk.
"Itu karena kamu terlalu sibuk sampai gak bisa jalan sama aku.." Bela Farhan
"Ya aku kan gak punya waktu buat kesini terus, kamu juga kuliahnya sibuk banget. Laporan udah dijadiin kayak pacar, aku mah apa atuh dibandingin sama laporanmu" Keluh Nina.
"Ya maaf sayang.."
Mereka sama sekali tidak canggung memperlihatkan kemesraannya di depanku, mungkin karena mereka tidak lagi melihatku sebagai orang lain sehingga tidak harus merasa canggung lagi. Tapi kenapa aku yang merasa canggung, kenapa aku yang merasa tidak enak hati dan kenapa juga aku memberi batas diriku dengan mereka. Perasaanku benar-benar tidak karuan.
"Nanti kamu mau balik kemana? Ke rumah aku atau.."
"Aku mau kerumah Salwa" Potong Nina. "Boleh ya Salwaa.." Rengek Nina.
Aku tidak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Nina meski sebenarnya malam ini aku ingin sendiri saja melepaskan sesaknya perasaanku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaan Nina.
"Kamu kok langsung baliknya kerumah Nina? Kamu gak kangen sama aku?" Tanya Farhan.
"Kangen, tapi aku lebih kangen lagi sama Salwa, setahun ini aku gak pernah ketemu sama Salwa, banyak hal yang ingin aku ceritain ke Salwa banyak hal juga yang ingin aku tanyain ke Salwa.." Kata Nina samibl melahap makanannya.
"Yaudah deh aku ngalah sama Salwa malam ini, Salwa juga lagi butuh teman malam ini biar gak ngerasa takut tentang kejadian kemarin tapi besok pagi aku ngejeput kamu pokoknya.."
"Kak Farhan segitu gak bisa tahannya ya gak ketemu Nina" Kataku mencoba tersenyum meski hatiku sakit menanyakan ini.
"Hehe begitulah" Jawab Farhan tersipu. "Ya mau bagaimana kami juga tidak punya banyak waktu untuk bertemu" Tambah Farhan.
Kuliah Farhan pasti sangat menyita waktunya untuk bertemu dengan Nina.
Kami melanjutkan makan bersama, perasaanku terus-terusan tidak karuan sedangkan Nina dan Farhan tetap asyik dalam obrolan mereka. Aku hanya merespon pembicaraan mereka sebisaku
__ADS_1