
Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur..
"Huffftt.. lelah sekali.." Gumamku.
Aku memejamkan mataku sejenak. "Emhhh..." Aku meregangkan otot-otot lenganku dengan menarik tanganku lebih kuat keatas. "Sudah kayak pekerja kuli saja sampai sok-sokan meregangkan otot" Pikirku menggerutu. AKu hanya berjalan-jalan sebentar dengan Fauzi tadi, berkeliling sekitar taman dengan sepedaku, itupun aku hanya duduk manis dibelakang sambil mengemil, tapi kenapa aku seolah lebih lelah dari Fauzi yang harus mengayuh sepeda ditambah beban aku yang diboncengnya.
Beberapa pengunjung taman melirik ke kami, ada yang tersenyum pada kami, ada yang sedikit tertawa, ya wajar saja mereka tertawa toh siapa juga dua manusia ini yang keliling-keliling naik sepeda ditengah teriknya matahari. Ada juga yang memandang dengan tatapan aneh mungkin dipikirannya "Ini anak masih pakai seragam sekolah sudah keluyuran" Tapi terserah saja orang-orang mau berfikiran apa, pikiranku tidak butuh konsumsi asumsi masyarakat yang memberi hak kepada dirinya sendiri untuk menilai seseorang sesuka hatinya.
Aku memandangi langit-langit kamarku dengan sebuah bohlam lampu yang tergantung disana. Pikiranku kosong dan mataku hanya memutar-mutar pandangan tanpa titik yang bisa kufokuskan.
Tingg tongg..
Satu notif pesan masuk di ponselku yang membuatku terkejut. Aku meraih ponselku dalam tas rangsel yang tadi kugunakan.
"Sudah pulang?" Pesan yang diterima dari Farhan
"Iya.." Balasku
"Gimana? Seru?"
"Apanya?"
"Ya Jalan-jalannya"
"Iya.."
"Syukurlah.."
Aku hanya membalas pesan Farhan dengan emoticon.
"Salwa.." Farhan kembali mengirimiku pesan setelah beberapa saat pesannya hanya kublas dengan emoticon.
"Kenapa?" Jawabku
"Perasaanku sedang tidak enak.."
"Kenapa? Kakak sakit?" Balasku.
"Tidak.."
"Lalu?"
"Ah bukan apa-apa.. Kamu pasti lelah, istirahat gih.."
Melihat pesan Farhan yang seperti itu membuatku sedikit khwatir. AKu menelfonnya untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Kenapa menelfon?" Tanyanya ketika menjawab tekfonku
"Karena aku khawatir.."
"Khawatir?"
"Kakak kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak kenapa-kenapa"
"Kenapa pesannya kayak gitu?"
"Hemm.. perasaanku hanya sedikit tidak enak.."
"Iya.. tidak enak kenapa? kalau cuman bilang tidak enak ya aku mana tau.."
"Aku juga mau seperti Fauzi.."
"Maksudnya.."
"AKu juga mau menghabiskan waktuku sama kamu seperti Fauzi, aku juga mau bisa jalan kesana kemari denganmu"
"Kakak ngomong gitu kayak kita gak pernah jalan aja.."
"Iya.. aku juga gak tau kenapa.. ah udahlah gak usah dibahas, kamu istirahat.."
"Oh yaudah kalau gitu aku istirahat dulu.. Aku matiakn kak.."
"Tunggu.." Cegatnya. AKu hampir saja memutuskan telfonnya.
"Kenapa?"
"Salwa apa aku salah?"
"Salah apa lagi?"
"Mungkin aku cemburu.. Apa aku salah?"
"Sepertinya begitu.."
"Kak, ngapain cemburu ke Fauzi sih? kakak kan tau aku sama Fauzi itu kayak gimana?"
"Iya aku tau, Fauzi pacarmu. Jadi aku yang pacarmu juga tidak boleh cemburu?"
"Ya terus kakak maunya gimana? Aku gak jalan sama Fauzi gitu?"
"Ya bukan, hanya saja..."
"Kak, ini resiko yang harus kakak tanggung. Aku udah pernah bilang kalau aku gak akan bisa memperlakukan kakak seperti aku memperlakukan Fauzi.."
Aku juga tidak tau, mungkin karena lelah aku jadi sedikit marah dan melampiaskannya ke Farhan. AKu tau, aku salah tapi tetap saja rasanya aku kesal mengingat Farhan yang cemburu sedangkan keadaan ini adalah pilihannya.
"Iya aku tau, aku kan bilang mungkin aku cemburu, kamu sebagai pacarku dan jalan sama laki-laki yang bukan aku jelas aku cemburu.."
"Yaudah, kita udahan saja biar kakak gak cemburu kalau aku jalan sama Fauzi.."
Farhan terdiam sejenak.
"Apa karena hanya aku yang mencintaimu sedang kamu tidak jadi mudah kamu ngomong putus?"
Aku terdiam.
__ADS_1
"Kamu lagi main-main sama perasaanku?"
"Kak apaan sih? Kakak yang maunya kayak gini. Kakak yang mau tetap sama aku dan menanggung semua resiko apapun yang akan kakak rasakan tapi sekarang..."
"Tapi bukan berarti kamu dengan entengnya ngomong putus salwa?"
"Terus kakak maunya apa? Kakak mau ngelarang aku jalan sama Fauzi gitu??"
"Bukan begitu.."
"Oh kakak juga mau jalan sama aku, yaudah ayo jalan.."
"Salwa maksudku bukan seperti itu.."
"Lalu seperti apa kak? Kakak cemburu ngeliat aku jalan sama Fauzi, kalau kakak minta aku buat gak jalan sama Fauzi itu gak bakalan mungkin, jadi buat nebus rasa cemburu kakak itu ya jalan sama aku juga kan.."
"Aku cuman merasa gak enak saja Salwa.."
"Yaudah ayo jalan, biar perasaan kakak bisa enakan juga, bentar aku siap-siap dulu.."
"Salwa.."
"Apalagi sih kak??"
"AKu bukannya minta kamu jalan sama aku.."
"Kalau gak jalan terus kakak maunya apa? Bentar aku siap-siap biar aku yang jalan kerumah kakak.."
"Gak, gak perlu.."
"Udah deh kak, kalau hari ini kita gak jalan, seharian ini kakak akan terus-terusan ngedumel ke aku.."
"Salwa.."
"Udah ya, aku mau siap-siap dulu, entar aku yang langsung kerumah kakak.."
"Gak usah kerumah,biar aku yang jemput kamu.."
"Biar aku aja, biar kakak puas juga kan kalau aku yang jemput.."
"Gak, jangan kerumah, biar aku aja yang kesana.."
"Kenapa?"
"Ya.. ya enggak kenapa-kenapa.. biar aku aja yang jemput.."
"Yaudah terserah kakak saja.. Aku siap-siap dulu.." Kataku dan memutuskan telfonnya.
Rasa lelahku yang tadi seketika hilang karena kesal. Tidak sekali ini Farhan mengeluh ketika aku habis jalan dengan Fauzi, meski ini kali pertama Farhan mengaku cemburu. Farhan tidak secara langsung mengeluh hanya saja chatnya akan terus-terusan masuk tiap dia tahu aku dari keluar dengan Fauzi, chat yang tidak jelas bahkan sesekali hanya menyebut namaku berulang-ulang. Terkadang aku diam saja dan membalas alakadarnya chatnya yang seperti itu, tapi hari ini rasanya benar-benar melelahkan jika aku tidak mengajak Farhan keluar juga, mungkin dia akan terus-terusan menganggu dengan chat dan panggilan telfonnya, kurasa dengan mengajaknya keluar mungkin dia akan berhenti.
Terkadang aku sedikit penasaran dengan Farhan, banyak yang ingin aku tanyakan sama dia hanya saja aku takut bertanya lebih, bisa saja dia salah mengartikan dan merasa bahwa aku mencoba mengenalnya lebih dalam. Itu akan membuat kesalahpahaman semakin memburuk.
Farhan tidak pernah mengizikan aku untuk sekedar main kerumahnya, seperti tadi tiap aku ingin menghampiri kerumahnya Farhan akan selalu memaksa agar dia yang datang kerumah untuk menjemputku. Pernah sekali Chargerku tertinggal dalam mobilnya, karena merasa aku akan merepotkannya kalau sampai dia yang mengantar chargerku jadi aku bermaksud untuk mengambil chargerku secara langsung tapi Farhan melarang, sampai akhirnya dia yang datang mengantar chargerku kerumah.
__ADS_1
Ah aku juga tidak tau apa yang sebenarnya disembunyikan Farhan, aku pernah iseng-iseng bertanya tentang bagaimana Farhan dirumahnya pada Fauzi, tapi Fauzi menjawab katanya tidak ada bedanya dengannya, jika waktu luang Farhan akan bermain game bahkan sesekali Fauzi kesana hanya untuk bermain game saja.