Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Prasangka..


__ADS_3

Hari beranjak sore, matahari semakin mengubah warnanya menjadi tajam yang tadinya menyilaukan sekarang perlahan menjadi lebih redup namun lebih tajam dengan warna orangenya.


Aku duduk dikursi taman bersama Fauzi sambil menikmati Gula kapas yang langsung hilang setelah menyentuh pengecap.


"Tidak terasa ya.." Kata Fauzi sambil menikmati Gula kapas miliknya.


"Hem? Apanya?" Tanyaku berbalik melihatnya.


Fauzi ikut berbalik.


"Waktunya.." Jawabnya tersenyum sambil membersihkan sisa-sisa Gula kapas yang menempel di ujung bibirku.


"Waktu apa?"


"Ya waktu masa-masa SMA sayang.. gak kerasa aku sudah bukan siswa lagi sekarang.."


"Kerasa kok.." Kataku bersandar "Apalagi pas kamu lagi masa-masa ujian, itu kerasa banget waktunya. Rasanya dalam sehari waktunya lama sekali. Aku gak kesekolah dan gak ada kamu yang bisa nemenin aku ngobrol atau jalan karena sibuk sama Ujian kamu.."


"Nanti kalau tiba waktunya kamu juga bakal ngerasain, waktu yang menurutmu itu lama akan berubah menjadi singkat sekali saat kamu ujian nanti.."


"Iya mungkin.."


"Salwa.."


"Hemm??"


"Aku jahat gak sih?"


"Jahat apanya?" Tanyaku bingung.


"Tadi sekilas aku sempat kesal sama Farhan.. Aku tau Farhan cuman bercanda dan gak seharusnya aku kepikiran tentang itu.."


"Tentang??" Tanyaku memperjelas apa yang Fauzi maksudku. Aku tahu mungkin saja yang Fauzi maksud adalah perkataan Farhan tadi karena terlihat jelas Fauzi merasa tidak nyaman. Tapi aku tidak mau mengira-ngira, lebih baik kalau kupertanyakan agar lebih jelas.


"Dia suka sama kamu.." Fauzi merendahkan nadanya sambil tertunduk.


Ah, itu benar-benar membuatnya kepikiran.


Aku meraih Fauzi dan memeluknya.


"Jangan dipikirkan, Farhan cuman bercanda.."


"Iya aku tahu, aku jadi merasa bersalah sempat befikir seperti ini tadi.."


Perasaan bersalahku semakin besar mendengar Fauazi berkata seperti itu.


"Sayang.. Sesuka apapun orang sama kamu, jangan sampai mau ya.." Katanya melepas pelukanku dan menatapku.


Aku hanya tersenyum.


"Dengar.. Sesuka apapun oranglain terhadapmu tidak akan bisa melebihi rasa sukaku sama kamu.."


Aku hanya mengangguk. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kalau suatu hari nanti Fauzi tau tentang aku dan Farhan. Aku hanya berharap aku bisa menyelesaikan hubunganku dengan Farhan sebelum Fauzi tahu.


Fauzi tersenyum.


"Aku akan berusaha untuk sukses lebih cepat, untuk mapan lebih cepat biar bisa meminta tanggung jawab orangtuamu dialihkan kepadaku.." Kata Fauzi tersenyum.


Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kamu kuliahnya nanti bagaimana?"


"Seperti yang kamu tahu aku Lulus, kemungkinan kalau gak besok berarti lusa aku berangkat.."


"Secepat itu??" Tanyaku terkejut.


"Iya, banyak hal yang harus aku urus disana sebelum masuk kuliah, aku harus nyiapin tempat tinggal dan segala kebutuhanku selama disana"


Aku menatapnya, aku mulai tidak bisa mengendalikan perasaanku..


"Hey.. jangan pasang ekspresi begitu sayang"


"Aku gak mau Ozi jadi jauh.."


"Aku bakal rajin pulang kok, tiap akhir pekan aku pasti pulang karena jaraknya juga gak terlalu jauh, cuman kalau mau pulang pergi setiap harinya aku gak bisa.."


"Beneran ya?"


"Iya.." Katanya sambil merangkulku meletakkan kepalaku dipundaknya. "Selama aku gak bisa nemenin kamu kemana-kemana, kamu jangan pergi sama sembarang orang, jangan suka jalan keluar kalau gak ada urusan penting, jaga kesehatan dan jangan lupa untuk selalu ngabarin aku.. Aku juga akan berusaha selalu bisa pulang untuk bertemu Ibu Ayahku dan juga kamu.." Katanya tersenyum.


"Iya.." Balasku tersenyum.


"Sayang.."


"Hem??"


"Maaf, tapi aku.."


"Apa?" Tanyaku bingung melihat Fauzi seperti ragu-ragu melanjutkan perkataannya.


"Aku tahu ini salah, aku tau ini bentuk egoisku tapi setelah kupikir-pikir sepertinya ini akan membebaniku kalau aku gak ngomong sama kamu.."


Fauzi berbalik, dan meraih tanganku. "Aku tau siapa Farhan dan aku tau tidak akan ada sesuatu diantara kalian, maaf sayang, bukannya aku gak percaya sama kamu tapi boleh gak kalau sekarang gak terlalu sering main sama Farhan.." Fauzi terdiam sebentar "Ah, aku kenapa sih jadi kayak gini, kenapa aku harus kepikiran sama hal-hal yang gak penting begini.." Lanjutnya.


"Kamu masih kepikiran tentang apa yang Farhan bilang tadi?"


Fauzi mengangguk.


"Jangan terlalu dipikirkan, kamu sebentar lagi masuk kuliah fokus sama kuliahnya saja.." Kataku mencoba menenangkannya sedang aku sendiri sedang dalam keadaan tidak tenang sekarang ini.


"Aku kenal sama Farhan, aku tau Farhan itu seperti apa. Cara berbicara dan melihatmu seperti tadi seperti bukan orang yang sekedar bercanda, aku ngerasa Farhan seperti serius dengan ucapannya.."


"Mu mungkin perasaanmu saja.."


"Iya, semoga.. Aku juga gak mau curiga sama Farhan, aku percaya kalian berdua.." Kata Fauzi menatapku lalu tersenyum.


Aku sangat merasa bersalah mendengar Fauzi berkata seperti itu. Dia sebegitu percayanya terhadapku dan Farhan tapi apa yang sudah aku dan Farhan lakukan terhadapnya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa terkejut dan perasaannya nanti ketika dia tau kebenarannya.


"Maafkan aku Ozi.."


"Hem.. Sudah sore, ayo pulang.."


Aku hanya mengangguk..


.


.


.

__ADS_1


Aku sengaja tidak mengaktifkan ponselku ketika sedang berjalan-jalan dengan Fauzi tadi. Setelah aku memberi kabar sama Ayah dan Ibu kalau aku telat pulang karena jalan dengan Fauzi terlebih dahulu. Entah kenapa akhir-akhir ini Farhan sedikit berbeda, dia lebih agresif dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri mungkin karena pengaruh stres dari Ujiannya. Seperti tadi, Farhan blak-blakan berbicara seperti itu didepan Fauzi padahal sebelumnya Farhan sangat pandai menyembunyikan segalanya.


Aku mengaktifkan ponselku, aku tahu akan ada beberapa pesan beruntun yang masuk dari Farhan.


"Kamu dimana?"


"Belum pulang ya?"


"Pulangnya masih lama?"


"Salwa kenapa nomornya tidak aktif?"


"Maaf :("


"Hubungi aku kalau sudah dirumah"


Seperti dugaanku, ini tidak kali pertama Farhan seperti ini, setiap aku jalaln sama Fauzi Farhan akan mengirim pesan secara beruntun.


"Aku udah dirumah.." Pesan teks yang kukirim balasan dari pesan teksnya sebelumnya.


Selang beberapa menit Ponselku berdering panggilan masuk dari Farhan.


"Maafin aku.." Kalimat pertama yang Farhan katakan setelah aku menjawab telfonnya


"Apa?"


"Masalah tadi, aku tau aku salah udah ngomong gak jelas kayak gitu di depan Fauzi.."


"Fauzi sempat kepikiran dan sekarang Fauzi memintaku untuk tidak terlalu dekat dengan kakak.."


"Jadi kamu mau jauhin aku? Aku gak mau Salwa.. Aku gak akan seperti itu lagi.."


"Iya, kakak gak akan seperti itu lagi, karena besok Fauzi udah berangkat kemungkinan kita bertemu bertiga udah jarang.."


"Secepat itu, bukannya perkuliahan akan dimulai bulan depan?"


"Iya, tapi Fauzi harus mempersiapkan segala kebutuhannya disana, kakak juga tau kan ini kali pertama Fauzi tinggal sendiri.."


"Jadi Fauzi akan tinggal disana?"


"Iya.."


"Jadi hubunganmu dengan Fauzi?"


"Ya kami LDRan sampai Fauzi selesai kuliah atau sampai aku selesai dan lanjut di kampus yang sama dengan Fauzi"


"Kamu yakin bisa LDRan?"


"Kok kakak nanyanya seperti itu?"


"Ah enggak.. aku cuman sekedar nanya doang.."


"Aku sama Fauzi udah negelewatin banyak waktu bersama, masalah-masalah udah kami lewati bahkan yang terparah kemarin pun bisa kami lalui. Kalau hanya masalah LDR aku yakin, aku sama Fauzi pasti bisa.. toh Fauzi akan pulang setiap minggunya.."


"Kok nyesek ya ngedenger pacar sendiri sebegitu yakinnya dengan pacarnya yang lain.. Tapi aku juga akan berusaha untuk membuat kamu seyakin itu juga sama aku suatu hari nanti.."


"Terserah kakak saja.."


Aku tidak tau, datang dari mana semangat Farhan yang seperti itu. Terkadang aku dengan sengaja membuatnya sakit agar menyerah pada nantinya tapi alhasil sampai saat ini bukannya menyerah Farhan malah semakin semangat saja.

__ADS_1


__ADS_2