
Salwa terus menunggu pesan dari Fauzi, tapi sampai sore pesan Fauzi mengenai jadwal belum juga ada masuk.
"Apa aku tanyakan saja ya?" Gumam Salwa "Ah tapi kalau aku nanya entar dikiranya aku tidak sabaran" Katanya tidak yakin. "Tapi kan kak Fauzi sendiri yang bilang buat aku ngechat dia kalau dia gak ngirim jadwalnya, ya kan mungkin aja dia lupa.."
Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Salwa mengirim pesan pada Fauzi.
"Selamat sore kak.. ini aku Salwa, mau tanya mangenai jadwal eskul" Pesan yang dikirim Salwa setelah melewati beberapa pertimbangan, tapi sudah hampir tiga puluh menit belum juga ada balasan pesan dari Fauzi.
.
.
.
"Akhirnya segar juga.." Kata Fauzi keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.
Fauzi duduk ditepi tempat tidurnya sambil membuka ponselnya yang sedari tadi tidak pernah dia jenguk karena aktifitasnya yang padat yang membuatnya sangat sibuk.
"Eh..." Fauzi sedikit terkejut. Tanpa memperdulikan handuknya yang jatuh dilantai begitu saja dan air dari rambutnya yang masih menetes-netes, Fauzi dengan cepat membalas pesan masuk dari Salwa.
"Maaf dek, tadi sibuk banget jadi gak sempat ngirim jadwalnya.." Balas Fauzi kemudian mengirim jadwal eskul yang terbaru pada Salwa.
Fauzi terus-terusan menatap layar ponselnya menunggu dengan tidak sabaran pesan dari Salwa.
Tingtonggg.. Satu notifikasi pesan masuk balasan dari Salwa.
"Iya gak apa kak, maaf aku jadi ngerepotin.."
"Gak apa kok, kalau masih ada yang mau ditanyain, tanya aja.."
"He he iya kak.."
"Memangnya mau ambil eskul apa?" Tanya Fauzi sekedar basa basi agar percakapan tidak selesai begitu saja.
"Hehe belum tau sih kak, rencana mau musik sama tari tapi itu kalau di izinin sama Ibu.."
"Woahh berarti bisa nyanyi nih??"
"Hehe gak, cuman kepengen coba aja.."
"Hem bisa gabung sama cherrybell tuh.."
"Hah? Maksud??"
"Bisa nyanyi sambil nari kan??"
"Haha aku bilang gak kak, cuman kepengen coba aja" Tanpa sadar Salwa jadi lebih santai membalas pesan dari Fauzi, dia nyaris lupa bahwa Fauzi adalah seniornya.
"Yah kirain, padahal aku bakal jadi fans pertama loh kalau kamu jadi bagian dari Cherrybell.."
"Ck, kakak ngasal deh. Hehehe.."
__ADS_1
Fauzi membalas pesan Salwa dengan senyum-senyum tidak jelas.
"Kalau kakak join eskul apa??"
Belum Fauzi mengirim pesan balasan dari Salwa, Salwa sudah mengirim pesan baru dan membuka percakapan baru.
"Aku cuman eskul basket aja, gak kuat kalau mau join lebih dari satu eskul.."
"Hemm iya sih, kakak kan ketua osis pasti sibuk banget jadi wajar kalau gak bisa join eskul lebih dari satu.."
"Bukan karena itu, tapi karena aku bukan Salwa yang kuat pengen join dua eskul plus minat masuk jadi anggota osis.. Aku mah rapuh.." Balas Fauzi.
"Haha kakak apaan sih.."
"Hahaha sebenarnya bukannya gak kuat buat join lebih dari satu eskul tapi karena gak ada bakat buat bisa join sama eskul yang lain.."
"Aku juga gak ada bakat buat nari, cuman karena kepengen jad ya di coba aja.."
Fauzi yang selama ini hanya melihat Salwa sebagai perempuan yang cantik dan menarik perhatiannya kini bisa melihat Salwa lebih dari itu. Jawaban Salwa seolah memperlihatkan bagaimana Salwa yang memiliki motivasi yang besar.
"Hehe iya sih, cuman untuk sekarang yang bisa aku andalkan cuman kaki panjangku ini buat main basket.."
"Ha ha ha syukurlah kalau cuman kakinya yang panjang, bukan tangannya.."
"Hahaha tangannya ya jangan.."
"Eh maaf kak, aku gak bermaksud yang lain, beneran aku cuman bercanda masalah tangannya.."
"Ha ha ha gak apa, santai aja kalau sama aku.."
"He he iya kak makasih ya.."
"Iyapss sama-sama"
Tidak hanya sampai disini, Fauzi dan Salwa terus saling berbalas pesan. Fauzi selalu mencari pembahasan baru agar percakapannya dengan Salwa tidak cepat selesai dan Salwa merespon dengan baik tiap ada pembahasan baru dari Fauzi.
.
.
.
Hari-hari berlalu, Fauzi dan Salwa semakin akrab, hanya saja keakraban itu hanya berlaku saat mereka chat, disekolah Fauzi ataupun Salwa berprilaku layaknya junior dan senior dan tidak memperlihatkan kearaban mereka. Sebenarnya bukan karena mereka tidak ingin memperlihatkannya hanya saja keduanya sama-sama canggung jika bertemu.
Fauzi kembali sibuk diruang osis ditemani dengan Farhan.
Tingtongg.. Satu pesan masuk di ponsel Fauzi, karena ponselnya yang tergeletak begitu saja, Farhan jadi melihat pesan yang masuk dari Salwa karena tampil di taskbar ponsel Fauzi.
"Salwa?? Salwa yang anak kelas satu itu?" Tanya Farhan.
"Iya.." Kata Fauzi tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan.
__ADS_1
"Lu akrab sama dia??"
"Menurut Lu?" Tanya Fauzi ulang dengan masih fokus pada pekerjaannya.
"Di sekolah Lu kemana-kemana sama gue, tapi gue gak pernah ngeliat Lu saling tegur sapa sama Salwa.."
"Ya karena gue jarang ketemu sama dia di sekolah bambang..." Jawab Fauzi menatap Farhan sejenak kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Terus dia ngechat Lu karena apa?"
"Lah gue juga belum tau, kan Lu liat sendiri gue belum ngebaca pesannya.." Kata Fauzi kemudian meraih ponselnya. "Ck, ni anak makan apa sih dirumahnya? Udah ikut dua eskul, ikut jadi anggota osis dan sekarang dia nanyain tentang aktifitas Rohis, kuat bener" Dumel Fauzi sambil membalas pesan Salwa.
"Dia ngechat Lu apa?"
"Dia nanya tentang Rohis, dari model-modelannya sih dia juga tertarik masuk anggota Rohis"
"Dia ngechat Lu cuman nanyain itu??"
"Lah iya, emang Lu pikir dia bakalan penasaran gitu sama hidup gue sampai mau nanya-nanya hal lain tentang gue.." Jawab Fauzi ketus.
Farhan yang juga ada rasa pada Salwa sempat merasa gelisah ketika melihat pesan Salwa masuk di ponsel Fauzi. Tapi itu hanya sementara karena akhirya dia merasa lega setelah mendengar jawaban dari Fauzi bahwa Salwa mengirimi Fauzi pesan hanya untuk bertanya tentang masalah sekolah. Yah, Fauzi memang adalah orang yang tepat jika ingin bertanya perihal sekolah.
"Lu sejak kapan punya nomor Salwa??"
"Sekitar dua bulan yang lalu,.."
"Kok bisa??"
"Ya taulah Salwa itu mau tau ini dan mau tau itu, sedangkan kita jarang ketemu buat nanya langsung jadi ya dia save nomornya di ponsel gue.."
"Oh gitu..."
"Kenapa? Lu sedari tadi nanya-nanya mulu.."
"Gue cuman ngerasa lagi diselingkuhin.."
"Maksud Lu?" Tanya Fauzi terkejut. "Apa Farhan ada hubungan spesial dengan Salwa yang aku gak tahu" Tanya Fauzi dalam hati. Fauzi sedikit cemas.
"Ya kan kita ini pasangan beb, kalau Lu dekat sama Salwa itu sama saja kalau Lu selingkuhin gue.." Jawab Farhan mulai meledek dengan memasang ekspresi manja.
"Astagfirullah.. Lu ngebuat gue jijque seketikaa.."
"Ahh Oppaa..." Ledek Farhan menarik tangan Fauzi.
"Ih apaan sih Lu, geli tau guee.."
"Heleh.. Biasanya juga yang kumat kan elu, ngapa sekarang malah jadi geli.. Fix Lu udah berubah.."
"Ck, gue sentil juga pankreas Lu kalau model gak karuan begini.."
Kekhawatiran Fauzi hilang. Yah jika dia tahu yang sebenarnya bahwa Farhan juga punya perasaan yang sama terhadap Salwa, jelas kekhawatirannya itu tidak akan pernah hilang.
__ADS_1