
Fauzi benar-benar menemaniku malam ini. Ibu dan Ayah baru saja pulang setelah mengantarkan beberapa makanan dan tinggal menemaniku mengobrol sebentar bersama Fauzi. Awalnya Ibu sangat ingin tinggal menemaniku malam ini tapi entah bagaimana cara Fauzi merajuk sampai Ibu memberinya izin untuk tetap tinggal menjagaku malam ini.
Orangtua Fauzi sempat singgah sebentar melihatku tadi. Kukiranya hanya Orangtuaku dan Fauzi yang akan mengkhawatirkanku ternyata orangtua Fauzi juga tak kalah khawatirnya.
"Kamu gak tidur? Ini udah larut.."
"Aku mau nemenin kamu dulu.."
"Nemenin aku sambil tidur kan bisa.."
"Gak, ntar kalau kamu udah tidur baru aku juga tidur"
"Tapi kamu belum ada istirahat sedari tadi.."
"Aku juga gak bisa istirahat Salwa, pikiranku gak tenang ngeliat kamu seperti ini.."
"Kamu kan denger sendiri tadi dokter bilang kalau aku baik-baik saja, aku tinggal nunggu cairan Infusku habis dan pemulihan saja, kamu gak harus kepikiran aku seperti itu.."
"Salwa, kamu tau kan perasaanku ke kamu seperti apa? Rasa khawatir seperti ini bukan aku yang mengaturnya, memang udah seperti ini kalau ngeliat keadaan kamu yang seperti ini.."
"Tapi kamu.."
"Udah.. kamu tidur gih, ini udah malam. Kamu harus banyak istirahat biar cepat sembuh. Kalau kamu udah tidur aku juga bakal tidur.."
"Kalau aku tidur kamu juga tidur kan?"
Fauzi mengangguk dan tersenyum manis.
"Sekarang kamu tidur ya..." Kata Fauzi sambil mencium keningku..
.
.
.
Entah berapa lama aku tertidur, karena suasana Rumah sakit yang berbeda dari kamarku membuat tidurku sedikit terganggu. Aku melirik jam dinding yang tergantung disamping Tv ruanganku, sudah jam 2 pagi.
Fauzi tertidur dikursi dan meletakkan kepalanya ditepi brangkar tempatku berbaring.
"Lehernya bisa saja sakit kalau tidur seperti ini, Kenapa gak tidur di Sofa saja.." Gumamku sambil mengelus rambut Fauzi. "Maafkan aku.." Kataku sambil mengusap pipinya.
Tunggu! Pipinya basah??
Aku memperhatikan dengan lekat wajah Fauzi, dan jelas kulihat Fauzi sedang menangis padahal ia sedang tertidur. Apa dia mimpi buruk?
__ADS_1
Aku berusaha bangun, dan mengambil sehelai tissue yang diletakkan diatas meja samping tempatku berbaring. Aku mengusap wajah Fauzi, mengeringkan wajahnya yang basah karena airmata.
"Engg..."
Fauzi terjaga dari tidurnya, mungkin ia terganggu karena aku menyentuhnya.
"Loh, kamu kok bangun sayang?" Tanyanya.
"Kamu nangis?"
"Ah aku?" Fauzi melap sisa airmatanya yang belum sempat ku bersihkan semua.
"Kamu kenapa?" Tanyaku khawatir.
"Aku gak papa, udah kamu tidur lagi.." Katanya mencoba membantuku berbaring kembali.
"Gak.. Aku gak mau tidur lagi.."
"Tapi sayang, ini baru jam 2 pagi.." Kata Fauzi setelah melihat jam dinding.
"Kamu kenapa Ozi? Gak mungkin airmatamu keluar saja.."
"Hem.. Aku cuman mimpi buruk.."
"Biasa kan? Salwa pasti juga pernah kalau mimpi buruk sampai kebawa nangis.."
"Kamu tidurnya gak baca doa.."
"Hehe mungkin, tapi aku senang.."
"Kok senang.."
"Ya karena cuman mimpi, aku udah bangun kayak sekarang hal yang buruk dalam mimpiku udah hilang.."
"Memangnya mimpi apa?"
"Hem.. pokoknya mimpi buruk, yang jelas sekarang kenyataannya kamu masih ada sama aku" Jawabnya sambil tersenyum.
"Kenyataannya seperti itu? Jadi mimpimu?"
"Kebalikan dari kenyataan yang sekarang.."
"Aku hilang?" Tanyaku ragu-ragu.
"Kamu pergi ninggalin aku.. Udah gak usah dibahas, toh faktanya sekarang kamu masih ada sama aku.." Jawabnya tersenyum tapi lagi airmatanya menetes.
__ADS_1
"Ozi.. Kamu nangis lagi.."
"Haha aku juga gak tau, ini airmata kenapa keluar terus sih.." Katanya menyeka airmatanya.
"Mimpinya seburuk itu?"
Fauzi mengangguk dengan airmatanya yang masih saja terus menetes. "Kehilangan kamu itu sangat menyakitkan Salwa, bahkan meskipun itu cuman sekedar mimpi. Jadi tolong apapun alasanmu jangan hilang dari kehidupanku"
Antara senang dan sedih karena rasa bersalah, aku sampai tidak sadar ikut menangis mendengar apa yang dikatakan Fauzi.
Aku senang mendengar Fauzi yang berkata begitu, itu seolah memperlihatkan bagaimana besarnya perasaannya terhadapku tapi itu juga membuatku semakin takut. Semakin besar perasaan Fauzi terhadapku akan semakin besar juga rasa bencinya padaku kalau dia tau kebenarannya, seperti yang pernah dia katakan dulu.
"Sudah jangan dipikirkan, aku gak akan ngebuat mimpi burukmu itu menjadi kenyataan" Kataku mencoba menenangkan Fauzi meskipun apa yang aku katakan sekarang sangat bertolak belakang dengan apa yang aku lakukan.
Fauzi meraih dan memelukku. "Makasih.." Katanya lirih.
Cukup lama Fauzi berusaha menenangkan perasaannya. Aku tidak tau seperti apa mimpinya itu hanya saja mendengar perkataan Fauzi karena mimpinya membuatku semakin menyadari kesalahanku dan membuat terbesit dipikiranku untuk benar-benar mengakhiri hubunganku dengan Farhan.
Waktu menunjukkan pukul 3 pagi dan kami belum juga kembali tertidur. Fauzi membukakan buah untukku sambil bercerita hal-hal indah yang sudah kami lalui bersama. Sebaik itu hubunganku dulu sampai benar-benar Fauzi bisa bercerita indahnya hubungan kami.
"Ozi..."
"Hem?" Jawabnya tanpa menoleh kearahku karena fokus memotong buah.
"Menurut kamu selingkuh itu gimana?" Tanyaku pelan
"Selingkuh? kenapa sama selingkuh?"
"Menurut kamu itu gimana?"
"Ya bukan hal yang baik.. Semuanya juga tau kalau selingkuh itu bukan hal yang baik.."
"Kalau misalnya karena terpaksa gimana?"
"Hem.. Gak ada yang namanya selingkuh karena terpaksa sayang.." Kata Fauzi sambil menyuapiku buah yang sudah dipotong-potongnya. "Orang selingkuh itu karena ingin, bukan karena paksaan. Kalau paksaan yang kamu maksud itu misalnya keadaan yang membuatnya yang harus memiliki dua orang disisinya itu bukan selingkuh namanya karena seharusnya dia bilang sama kekasihnya kalau dia harus memiliki orang lain disisinya dan itu karena keadaan"
"Maksudnya.."
"Kamu tahu kan selingkuh itu menyembunyikan oranglain dari kekasih kita, nah karena kamu bilang misalnya karena terpaksa ya harusnya dia bilang dulu sama pasangannya. Contoh nih ya sayang, biasakan seseorang itu mau nyelematin seseorang dengan harus menikahinya padahal udah punya istri ya itu berarti dia harus bilang dulu sama istri pertamanya dan itu bukan selingkuh namanya karena dia bilang dan bukannya menyenbunyikan istri keduanya dari istri pertamanya"
"Maksudku bukan keadaan yang seperti itu, tapi misalnya terpaksa karena butuh seseorang yang lain buat nemenin dia.."
"Itu namanya egois sayang... Kalau alasan dia selingkuh karena apa yang dia mau gak bisa pacarnya turuti makanya dia jalan sama orang lain yang bisa nuruti kemauannya yang pacarnya gak bisa itu namanya serakah. Sebagai pasangan kita harus bisa menerima baik buruknya pasangan kita, kurang dan lebihnya pasangan kita. Kita gak boleh egois kayak gitu karena kita sendiri juga belum tentu bisa memenuhi apa yang pasangan kita inginkan. Pasangan itu saling melengkapi, bukan yang laki-laki melengkapi yang perempuan ataupun sebaliknya.." Jelas Fauzi.
Penjelasan Fauzi seperti menamparku, ada perasaan yang sakit direlung hatiku. Cara Fauzi menyampaikannya seperti memperlihatkan bagaimana buruknya aku. Ya, aku yang tidak bisa menerima kekurangan Fauzi karena tidak bisa selalu ada buatku dimana dia harus kuliah ditempat yang jauh.
__ADS_1