Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 6


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit malam, Salwa asyik menatap layar netbooknya yang dipenuhi foto oppa-oppa korea idolanya, sesekali ikut bernyanyi dengan musik yang sedang dia putar sekarang.


Tingtong... Tingtongg..


Dua notifikasi pesan masuk hampir bersamaan, pesan yang diterima dari nomor tak dikenal dan yang lainnya adalah pesan yang diterima dari Fauzi. Salwa terlebih dahulu membuka pesan yang dikirim dari nomor yang tidak di kenal.


"Selamat malam.. Benar dengan Salwa??"


"Siapa??" Pikir Salwa dengan mengerutkan dahinya.


"Iya, siapa?" Balasan pesan yang dikirim Salwa.


"Aku Farhan.."


"Farhan? Kak Farhan?"


"Hehe iya.."


"Ah iya, ada apa kak??"


"Gak, aku cuman sekedar ngirim pesan aja. Aku gak ganggu kamu kan?"


"Gak kok kak.."


"Oh iya, katanya kamu ngambil dua eskul ya.."


"Iya kak.."


"Wah kuat ya.. Eskul apa aja?"


"Hehe dibilang kuatt juga gak sih kak sebenarnya, aku cuman mau nyoba-nyoba saja.. Aku join eskul tari dan musik"


"Kamu suka nyanyi.."


"Bukan kak, aku cuman senang sama beberapa alat musik saja.."


"Wah aku juga, hehe gak bisa dibilang beberapa sih kalau aku karena hanya bisa gitar aja.."


"Jadi kakak ambil eskul musik juga??"


"Gak, aku juga gak terlalu bisa gitar sih, cuman tahu beberapa kunci aja.."


"Beberapa kunci aja kalau udah bisa satu lagu udah keren itu kak.."


"Ha ha ha masa iya keren cuman karena bisa satu lagi.."


"Iya dong, gitar kan gak mudah, kalau bisa berarti itu keren"


"Haha jadi sekarang aku keren nih.."

__ADS_1


"Hehehe kakak kan memang selalu keren, temen-temenku banyak yang suka sama kakak.."


"Kamu gak termasuk kah?"


"Apanya kak?"


"Ya orang yang suka sama aku seperti temen-temenmu.."


"Ya aku juga termasuk lah kak, emang ada anak seangkatanku yang gak suka sama kakak? Semuanya suka tuh.."


"Haha bagus lah kalau Salwa suka, aku senang kalau Salwa suka sama aku.."


"Haha harus lebih senang lagi karena yang suka bukan cuman aku saja.."


"Tapi cukup Salwa aja aku udah senang kok.."


Salwa sedikit kebingungan dengan apa yang di maksud Farhan.


"He he he iya.." Jawab Salwa canggung.


Salwa keterusan membalas pesan dari Farhan sampai dia sempat lupa kalau sebelumnya ada satu pesan lainnya yang masuk dari Fauzi. Salwa dengan cepat menutup percakapan dari Farhan dan membuka pesan dari Fauzi.


"Salwa aku minta maaf karena udah ngasih nomor kamu ke oranglain tanpa izinmu, aku gak enak nolak sama Farhan soalnya" Pesan yang dikirim Fauzi.


"Oh jadi kak Farhan dapat nomorku dari kak Fauzi" Gumam Salwa.


"Iya gak apa kak.." Balasan pesan yang dikirim Salwa untuk Fauzi.


Akhirnya seperti sebulan belakangan ini, Salwa kembali asyik berkirim pesan dengan Fauzi sampai larut malam, namun kali ini selain membalas pesan Fauzi, Salwa juga sesekali membalas pesan yang masuk dari Farhan.


Tidak lama ujian untuk mid semester akan dimulai, tapi akhir-akhir ini Fauzi menjadi sulit berkonsentrasi. Ya mungkin karena ini pertama kali baginya benar-benar tertarik dengan seorang perempuan sampai membuatnya selalu pusing sendiri memikirkan Salwa.


Fauzi kembali meraih buku yang beberapa waktu lalu dia gunakan untuk menulis ungkapan perasaannya saat pertama kali melihat Salwa dan langsung membuat jantungnya berdebar.


"Apa aku laki-laki yang pantas untuk mencintaimu? Apa boleh? Apakah aku tidak akan melukaimu jika aku memintamu menjadi pujaan hati?" Tulis Fauzi.


Sejenak Fauzi memandangi tulisannya sendiri lalu menutup buku itu dengan kesal.


"Ah sejak kapan aku jadi senang menulis seperti ini" Gerutunya. Tapi dia sendiri juga tidak bisa memungkiri ada perasaan menjadi lebih baik setelah menuliskan kata-kata yang menurutnya alay itu.


Fauzi kembali meraih bukunya dan mencoba fokus membaca materi-materi dan sesekali mengerjakan contoh latihan untuk mengasah sampai mana dia paham dengan pelajarannya.


Fauzi sudah berusaha keras tapi masih saja sulit fokus pada pelajarannya. Dia akhirnya meraih ponselnya dan mencoba mengirim pesan pada Salwa. "Mungkin perasaanku bisa sedikit lega dan bisa kembali fokus belajar setelah chat sebentar dengan Salwa" Pikirnya.


"Sedang apa?" Pesan yang dikirim Fauzi untuk memulai percakapan dengan Salwa.


Sekitar sepuluh menit sudah Fauzi mengirim pesan pada Salwa tapi belum juga ada balasan. Fauzi beranjak dari meja belajarnya dan berbaring ditempat tidur sambil terus-terusan memandangi ponselnya berharap balasan pesan Salwa cepat ada.


"Lagi ngehalu 😂" Balas Salwa dengan tambahan emoticon tertawa.

__ADS_1


"Ngehalu? Bahasa apaan dah?" Tanya Fauzi.


"Ck, kakak kurang jauh mainnya.." Balas Salwa.


"Lah kok jadi mainnya yang kurang jauh?"


"Ya kan, karena kakak gak ngerti sama istilah-istilah ngehalu gitu.."


"Yaelah, kamu bisa bilang gitu kalau kamu nyebut tempat tapi aku gak tahu.."


"Oh hahah iya yaa.."


"Hem, jadi ngehalu itu apa??"


"Ngehalu itu semacam berkhayal begitu.."


"Lah emangnya kamu lagi berkhayal apa?"


"Khayalin bisa ketemu Oppa 😅" Jawab Salwa.


"Oppa??" Tanya Fauzi ulang. Fauzi tahu panggilan oppa itu biasa ditujukan untuk laki-laki korea, hanya saja Fauzi ingin memastikan.


"Ya masa oppa juga kakak gak tau.. Itu loh kak, idol-idol korea yang tamvan.." Balas Salwa.


"WHAATTT???? SALWA PENGGEMAR OPPA??" Fauzi seketika jadi ingat perkataan Farhan yang menyumpahinya akan menyukai perempuan-perempuan pecinta Oppa. Kutukan Farha hari itu seolah menjadi nyata.


"O ha ha kalau itu aku tahu, aku kiranya oppa apa gitu, sempat yang kamu maksud Oppa kakek-kakek.."


"Ck, masa iya kakak kira aku doyan sama kakek-kakek.."


"Haha ya siapa tahu.. Kenapa suka sama Oppa-oppa? Karena mereka cakep??"


"Haha ya salah satunya juga itu sih..."


"Aku juga cakep, kenapa gak suka sama aku aja. Aku bisa kok balas suka sama kamu, jadi gak perlu ngehalu 😂" Balas Fauzi dengan emoticon tertawa yang memperlihatkan dia sedang bercanda meski sebenarnya dia cukup serius dengan pesan yang dia kirim itu.


"Ha ha emang boleh suka sama kak Fauzi?" Balas Salwa.


"Boleh kalau kamu mau 😂" Lagi-lagi Fauzi menambahkan emoticon tertawa, Fauzi hanya tidak ingin percakapannya terkesan kaku.


"Ha ha ha nanti deh aku pikir-pikir kalau masalah suka sama kak Fauzi.."


"Ha ha ha aku tunggu loh sampai Salwa suka.."


"Hari ini mungkin belum tapi gak tahu kalau besok. Tunggu saja. Dilan vers Salwa, ha ha ha.."


"Wah cocok sekali, noh Dilan juga cakep kenapa gak suka Dilan aja dan bukan oppa-oppa itu??" Tanya Fauzi.


Fauzi selalu tertarik dengan apapun tentang Salwa. Dia sudah pernah kagum pada Salwa yang menurutnya tidak mudah putus asa, kali ini Fauzi ingin tahu seperti apa yang membuat Salwa sampai suka dengan Oppa-oppa itu, apakah hanya karena para Oppa-oppa itu terlihat tampan.

__ADS_1


Fauzi yang tadinya ingin belajar namun tidak bisa berkonsentrasi karena kepikiran dengan Salwa sampai akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Salwa akhirnya lupa dengan niat belajarnya dan terlanjur asyik saling berbalas pesan dengan Salwa.


__ADS_2