
Matahari mulai menampakkan sinarnya yang menyilaukan, seolah memberi tahu kepada seluruh penghuni planet ke tiga dari susunan tata surya, bahwa dialah pemilik cahaya paling terang.
Mobil Fauzi terparkir dihalaman rumah, membuat Mikayla berhambur keluar dan berlari memasuki rumah dimana dulunya Fauzi dibesarkan.
"Kakek.. Nenekk..." Seru Mikayla yang sepertinya tidak sabaran ingin segera mendapat pelukan dari kakek dan neneknya.
"Cucu Kakek.." Ayah Fauzi yang semakin menua, berhambur memeluk Mikayla yang berlarian kearahnya. "Aduh cucuk kakek tambah besar ya sekarang" Mikayla mendapat ciuman bertubi-tubi.
Mikayla hanya tertawa geli merasakan pipinya yang tersentuh oleh kumis kakeknya.
"Wah Mikayla datang.."
Ibu Fauzi mempercepat langkahnya melihat cucu satu-satunya itu datang. Segera saja mengambil alih Mikayla dari suaminya dan menggendong Mikayla, juga memberinya ciuman bertubi-tubi. "Nenek rindu sekali sama cucu nenek yang cantik ini.."
"Mikayla juga rindu.."
Bukan karena jarang Fauzi dan Salwa membawa Mikayla untuk bertemu dengan kakek dan neneknya. Setiap bulan, bahkan bisa dalam hitungan minggu, Fauzi akan membawa anaknya untuk bertemu dengan orangtuanya. Bergantian membawa Mikayla bertemu dengan orangtua Salwa, juga orangtuanya. Namun tetap saja, rindu seorang kakek dan nenek tetap saja selalu menggebu-gebu pada cucunya, sesering apapun mereka bertemu.
"Rindunya cuman sama Mikayla aja nih?" Tegur Fauzi yang berjalan masuk menghampiri Ayah dan Ibunya.
Melihat Fauzi dan Salwa yang menghampirinya, Ibu Fauzi kembali menyerahkan Mikayla pada suaminya.
"Ibu juga rindu dong sama menantu Ibu.." Ibu Fauzi menghampiri Salwa. Salwa menyalami Ibu mertuanya dan memberi pelukan hangat pada mertua yang begitu menyayanginya.
"Aku sudah seperti anak tiri saja. Ibu lebih sayang sama Salwa dan Mikayla.." Fauzi dengan nada cemburunya itu, juga menyalami Ibunya.
"Kamu ini sangat persis dengan Ayahmu, suka cemburu tidak jelas.." Tegur Ibunya.
Fauzi hanya tersenyum.
"Kamu bawa apa sayang?" Tanya Ibu Fauzi melihat rantang yang diturunkan Salwa saat menyambut pelukan Ibu mertuanya tadi.
"Ah ini, tadi aku masak banyak Bu, jadi sekalian aku bawa kesini.. Aku bawa kedalam dulu.."
"Ah iya, di dalam juga ada Afifah lagi masak.."
Salwa berjalan masuk sembari membawa rantang yang berisi lauk.
"Kak Salwa.." Sambut Afifah menghampiri Salwa dan memberinya pelukan hangat.
"Apa kabar Afifah? Sudah lama sekali kita gak ketemu.."
"Alhamdulillah baik kak. He he, mas Zidan baru ada libur, jadi aku baru sempat main kesini.."
"Oh iya, Naila kemana? Aku gak ngeliat Naila main sama Ibu di depan.."
"Naila lagi ikut sama Ayahnya ke supermarket, bentar lagi juga kembali.."
"Wah.. Naila anak Ayah yah.."
"Bukan kak.. Naila itu suka ikut-ikut, siapa aja yang keluar, pasti Naila mau ikut.."
__ADS_1
"He he anak-anak memang seperti itu.."
Salwa dan Afifah larut dalam obrolan mereka sembari memasak untuk menyiapkan makan siang bersama hari ini.
Acara makan siang bersama hari itu berjalan dengan penuh kebahagiaan. Canda dan tawa menyelingi ditiap percakapan mereka, Mikayla dan Naila asik bermain berdua. Terlihat jelas bagaimana raut bahagia di wajah orangtua Fauzi melihat anak, menantu, keponakan dan cucu-cucunya berkumpul. Berulang kali Ayah dan Ibu Fauzi mengulang-ulang kalimat yang memperlihatkan bagaimana bahagianya dia saat itu.
Hari semakin siang, mereka yang tadinya berkumpul diruang keluarga setelah makan siang, perlahan mulai kembali ke rutinitas pribadi setelah Ayah dan Ibu Fauzi undur diri untuk istirahat sejenak. Usia orangtua yang semakin menua, membuatnya membutuhkan waktu istirahat lebih.
Salwapun akan segera membujuk Mikayla untuk tidur siang, Mikayla akan sangat rewel di malam hari jika dia tidak tidur dan istirahat disiang hari. Meski sesekali tetap aman ketika tidur lebih awal, tapi itu lebih sulit lagi karena Mikayla akan bangun lebih awal di pagi hari dan meminta untuk ditemani bermain.
"Sayang.. Kamu lihat susu Mikayla gak?" Tanya Salwa sambil merogoh tas yang dibawanya tadi.
"Bukannya ada didalam tas?" Tanya Fauzi kembali, mengingat sebelumnya dia melihat istrinya menyiapkan susu formula putrinya, meski dia tidak melihat secara langsung Salwa memasukkannya kedalam tas.
"Gak ada.."
Salwa terus-terusan mengutak-atik tas yang dibawanya. Tas yang cukup besar berisi segala perlengkapan Mikayla itu terus di hamburnya untuk mencari keberadaan susu formula Mikayla yang biasanya disimpan dalam wadah kecil ketika bepergian.
"Cari apa kak?" Tanya Afifah menghampiri Salwa yang terlihat bingung.
"Ah, aku lagi nyari susu formula Mikayla. Seingatku, udah aku masukin dalam tas, tapi aku cari-cari gak ada.." Keluh Salwa.
"Mikayla minum susu apa? Apa sama dengan punya Naila?"
Afifah memperlihatkan kemasan susu formula yang diberikan pada Naila.
"Ah iya sama.."
"Makasih yah Afifah.."
"Iya sama-sama kak, jangan sungkan begitu.."
"Bisa-bisanya aku lupa sama susu Mikayla.." Keluh Salwa.
"Gimana kamu gak lupa sayang, kamu tadi terlalu bersemangat mau kesini makanya serba buru-buru, alhasil kamu sampai lupa ngebawa susu Mikayla.."
"Ya karena aku kangen Ibu sama Ayah, makanya jadi gak sabaran tadi.."
Fauzi hanya tertawa kecil melihat istrinya yang terlihat sedikit kesal saat ia menyalahkannya tadi.
Hari yang melelahkan, namun rindu yang terbalaskan membuat rasa lelah dari sepasang suami istri itu menjadi tak terasa.
Fauzi memiliki pekerjaan yang belum selesai, membuatnya harus meninggalkan rumah orangtuanya lebih awal dari sebelum-sebelumnya.
.
.
.
Fauzi merenggangkan tubuhnya yang serasa kaku, setelah duduk sekitar dua jam mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai jum'at lalu sebelum akhir pekan. Fauzi beranjak meninggalkan ruang kerjanya untuk menebus rasa lelahnya dengan melihat wajah istri dan anak yang sangat dia sayangi.
__ADS_1
Fauzi berjalan menuju kamar Mikayla. Sebelum beranjak, ia sempat melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan waktu itu memberi tahu keberadaan istrinya yang pastinya sedang berada dikamar putrinya untuk menidurkan si malaikat kecil seperti biasanya.
"Sayang.." Panggil Fauzi pelan, tidak ingin menganggu proses menidurkan putri mereka satu-satunya itu. "Kamu cari apa?" Tanya Fauzi melihat istrinya yang sedang sibuk membuka-buka laci meja dan sesekali meraba tempat tidur putrinya.
"Minyak telon Mikayla" Jawab Salwa tanpa melihat suaminya dan terus-terusan mencari.
Fauzi melangkah masuk, meraih sebuah pouch bag bening dimana Salwa biasa menaruh segala peralatan perawatan tubuh Mikayla.
"Ini ada.."
Salwa menoleh, melihat minyak telon yang dikeluarkan Fauzi dari pouch bag.
"Ah disitu rupanya.." Salwa tersenyum sembari meraih minyak telon ditangan Fauzi dan mulai membaluri ditubuh Mikayla, agar terjaga dari nyamuk dan tetap merasa hangat.
"Kan memang selalu disini sayang.." Kata Fauzi sedikit bingung. Bagaimana bisa istrinya itu mencari segitu sukarnya, sedang minyak telon itu sebelumnya selalu ia simpan dalam pouch bag itu.
"Ah iya? Haha kok aku gak kepikiran buat nyari disitu ya.."
Fauzi semakin merasa aneh.Tidak kepikiran katanya?? Harusnya letak minyak telon yang dia letakkan rutin di pouch bag selama bertahun-tahun itu, sudah tidak harus membuatnya lagi berfikiran untuk menemukannya.
"Hem.. Seharian ini kamu kenapa sih sayang?" Tanya Fauzi mendekat dan memeluk istrinya dari belakang yang baru saja selesai membaluri tubuh putri kecilnya dengan minyak telon.
"Aku juga gak tahu, mungkin karena semalam aku kurang tidur.."
"Ah iya ya.."
Fauzi mengingat bagaimana kemarin malam istrinya sampai menganggu sebisanya karena hingga pukul 3 dinihari, ia belum bisa terlelap.
"Yaudah ayo tidur sekarang, toh mikayla juga udah tidur.."
"Tapi aku belum ngantuk.."
"Gimana tidurmu gak kurang sayang, kalau kamu terus-terusan nuruti rasa tidak mengantukmu itu"
"Tapi sayang.."
Fauzi meraih istrinya, menggendongnya keluar dari kamar putrinya. "Ayo.. Kamu harus tidur lebih awal biar gak linglung lagi seperti hari ini"
Salwa hanya tertawa kecil melihat suaminya yang memperlakukannya seperti anak-anak, hanya untuk menyuruhnya tidur.
.
.
.
.
Cara cuci tangan yang benar menurut WHO
__ADS_1