
Suasana pagi yang begitu teduh, membuat para jiwa-jiwa di bumi tentram merasakannya, namun tidak dengan seorang laki-laki dengan tubuh tinggi yang berdiri mematung di depan cermin panjang yang tersedia di kamarnya.
Faiq selalu mengalihkan dirinya akan apa yang dikatakan Ayahnya, ia tidak mau membenarkan perkataan Ayahnya. Namun sekuat apapun dia menolak, tetap saja perkataan Ayahnya itu terngiang-ngiang di telinganya.
Faiq memandangi dirinya pada cermin besar yang berada didepannya saat ini. Makin lekat ia pandangi pantulan dirinya, makin ciut perasaannya. Perasaannya semakin tidak karuan dengan beban yang mulai menghampirinya satu persatu.
"Siapa aku sebenarnya?" Tanya Faiq pada dirinya sendiri. Pantulan dirinya pada cermin memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan. "Apa aku bahagia sekarang? Apa aku sudah melampaui Ayahku?" Tanyanya lagi dengan tatapan yang mulai sendu.
Perkataan Ayahnya masih saja mengusiknya. Ia tidak bisa menolak kebenaran Ayahnya akan apa yang Ayahnya katakan mengenai Sasa yang bisa saja membencinya setelah mengetahui tentang dirinya yang saat ini sudah sangat jauh berubah dari yang sebelumnya.
Faiq sendiri tidak menyadari akan perubahan dirinya. Dia hanya mengikuti alur dan perasaan yang selalu membuatnya ingin merasakan kemenangan dan keberhasilan. Ia tidak menyadari akan obsesi yang perlahan mulai menelannya dan semakin membuatnya berbeda dari dirinya yang dulu.
Tatapan Faiq tidak lepas dari cermin yang memantulkan gambar dirinya, memperhatikan dirinya sendiri semakin lekat. "Apa itu aku?" Tanyanya lagi.
Faiq melangkah, mendekati cermin dengan berusaha meraba dirinya pada pantulan gambar yang diberikan oleh cermin. Dia tahu, hal itu tidak mungkin, namun tetap saja Faiq berusaha menggapai gambar dirinya sendiri.
Semakin larut Faiq dalam pandangannya. Ia memandangi dua bola mata miliknya yang kebingungan. Semakin lekat pandangannya, semakin ia sadar bahwa dia bukan lagi yang dulu.
Perlahan airmatanya menggenang, dan tumpah tanpa aba-aba. Semua perasaan yang bercampur aduk perlahan menyerangnya, membuatnya kebingungan harus merasakan apa, hingga akhirnya semua meledak dalam tangisnya.
"ARGGHHHHHHH...."
Rambut yang tidak bersalahpun menjadi pelampiasan dari ledakan perasaannya yang tidak karuan.
Faiq kembali memandangi dirinya di cermin yang sudah berantakan dengan airmata yang bercucuran deras tanpa henti.
"Bu-bukan aku.. Bukan aku.. ITU BUKAN AKUU....."
Faiq terus mundur menjauh dari cermin yang memantulkan gambar dirinya, hingga ia jatuh tersungkur dan tangisnya kembali pecah.
Entah berapa Faiq menangis meraung-raung menatapi dirinya dengan kesadarannya yang berkumpul tentang hal-hal negatif yang sudah dilakukannya selama ini, hingga akhirnya perlahan ia mulai tenang.
Airmata yang sedari tadi bercucuran, perlahan mereda. Tubuhnya jatuh tergeletak dan tidak melakukan gerakan apapun selama hampir satu jam itu. Hanya detak jantungnya yang terus menemani pendengarannya, dan hanya dada juga nadinya yang memiliki gerak tanda jantung dan pembuluh darahnya masih bekerja.
Setelah meluapkan segala perasaannya yang tidak karuan, Faiq yang mulai tenang perlahan mulai bisa berpikir akan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Faiq bangkit, memperbaiki posisinya dengan duduk bersandar pada tembok di belakangnya. Ia masih bisa melihat dirinya pada pantulan cermin yang berada lumayan jauh darinya, setelah sebelumnya ia melangkah menjauhi cermin. Wajah yang kusut itu terpampang disana, namun pikiran sudah tidak sekalut yang sebelumnya.
"Aku tidak akan membiarkan diriku kembali tertelan oleh obsesi yang konyol ini. Aku sudah berhasil, aku sudah menjadi orang sukses, dan aku tidak ingin seperti ini lagi" Gumam Faiq dengan penuh keyakinan.
.
.
.
.
Faiq yang sudah memutuskan untuk berubah, kini perlahan mulai membersihkan kepalanya dari ide-ide buruk yang sempat ia rencanakan namun belum ia jalankan hingga kini. Ia mulai menyusun jalan dan strategi untuk bisa menembus pasar saham dan jalinan kerjasama tanpa menggunakan trik kotor yang selama ini dia lakukan.
Faiq berjalan memasuki kantor yang ia naungi semenjak pulang dari negara yang berada di benua eropa itu. Hari ini ia datang terlambat, tidak seperti biasanya yang selalu tepat waktu. Ya keterlambatannya hari ini dikarenakan dirinya yang sempat tantrum pagi tadi akibat terngiang-ngiang dengan perkataan Ayahnya semalam. Namun hal baik yang ia temukan setelah tubuhnya bergerak refleks meluapkan segala perasaannya itu ialah, dia yang sudah berpikir jernih dengan menyingkirkan hal-hal negatif yang sudah memenuhi isi kepalanya beberapa waktu terakhir ini.
Dari kejauhan, Faiq melihat Ayahnya yang sedang berbincang dengan seseorang yang cukup familiar baginya.
Ya, dia seorang laki-laki dengan usia yang berselisih tidak jauh diatasnya. Seorang yang terbilang sukses juga dibidangnya, hanya saja wataknya sedikit buruk dengan kesombongan yang dia miliki akibat kesuksesan yang di raihnya saat ini.
Meski perasaannya masih saja kalut saat melihat Ayahnya dengan perkataan Ayahnya yang terngiang-ngiang di telinganya, namun Faiq tetap melangkahkan kakinya menuju dimana Ayahnya berdiri, dengan mengatur diri untuk menyembunyikan perasaannya yang kalut dan memeperlihatkan dirinya yang seolah baik-baik saja sekarang.
"Ada apa Ayah?" Tanya Faiq pada Ayahnya dengan sopan. Menutupi kebenaran akan persetegangan yang sempat terjadi diantara mereka semalam. Ya keduanya harus terlihat tetap harmonis.
__ADS_1
Ayahnya menatap Faiq dengan sedikit terkejut. Ia menyadari akan perubahan putranya saat ini, yang bisa saja meluncurkan segala niat jahatnya pada laki-laki yang menjadi lawan bicaranya saat ini. Ayahnya yang tidak tahu menahu tentang niat Faiq untuk merubah dirinya menjadi lebih baik, jelas masih berpikiran yang tidak-tidak pada putranya itu.
Faiq tersenyum menatap Ayahnya yang mengerti akan tatapan dengan rasa sedikit takut dari Ayahnya itu. Namun Faiq seolah berbicara melalui telepati, memberi peringatan pada Ayahnya agar terlihat santai saja, mengingat oranglain sedang berada diantara mereka saat ini.
"Kalau aku tidak salah, apa kamu Faiq?"
Tanya orang itu, menyela pertanyaan Faiq yang dia ajukan pada Ayahnya tadi.
"Iya benar" Jawab Faiq tersenyum. Menyembunyikan kebenaran dirinya yang sudah mengenal orang di depannya itu dengan berpura-pura tidak mengenalinya. "Maaf, anda??"
Orang itu tersenyum, memperlihatkan sedikit kesombongan pada senyuman.
"Aku tidak tahu, kalau masih ada orang yang tidak mengenalku.." kata-kata yang mengandung sedikit kesombongan itu, kembali membuat niat buruk yang sudah Faiq kubur, kembali terbakar dan muncul kepermukaan.
"Ah, maafkan saya. Sepertinya permainan saya kurang jauh hingga tidak mengenal anda. Mungkin anda bisa memperkenalkan diri pada saya. Bukankah tidak sopan jika anda mengenali saya, tapi saya tidak kenal dengan anda" Kata Faiq dengan menyelipkan sedikit hinaan akan ketidakterkenalan orang itu dalam dunia bisnis yang mereka geluti saat ini.
Laki-laki yang cukup mengerti dengan kata-kata Faiq yang menyelipkan maksud hinaan, hanya tersenyum dengan menyunggikan bibir atasnya.
"Kamu cukup handal menangkap sasaran"
"Aku anggap itu sebagai pujian" Jawab Faiq dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya, mencoba berdamai sejenak dengan Faiq yang telah menyinggung sedikit perasaannya. Bagaimanapun juga, dia tahu jikalau Faiq bukan orang biasa yang bisa dia ajukan perang sesuka hatinya.
"Reza, direktur sekaligus pemilik dari perusahaan Astra. Aku rasa, kamu tidak mungkin tidak mengenali perusahaan besar itu" Lagi-lagi, laki-laki yang memperkenalkan diri bernama Reza itu, kembali menyombongkan dirinya akan posisi dan hak kepemilikannya pada perusahaan yang benar adalah salah satu perusahaan yang besar.
Faiq tersenyum, dan menggapai tangan Reza dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
"Tentu saya tahu perusahaan besar itu. Maafkan saya karena tidak mengenali anda sebelumnya"
"Santai saja. Aku memang jarang keluar, jadi wajar saja kalau kamu tidak mengenaliku. Terlebih lagi, kamu sangat sibuk bukan" Reza mencoba menepis hinaan Faiq pada dirinya yang tidak dikenali dengan menjadikan kesibukan Faiq sebagai senjata. Sayangnya, dia tidak tahu bahwa sesuatu yang dia jadikan senjata itu adalah hal yang bisa menjadikan Faiq kembali menyerangnya.
Kata-kata Faiq barusan membuat Reza tidak lagi bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Wajahnya mulai memerah dengan kemarahan yang berusaha ia tahan mati-matian, mengingat sekarang mereka sedang berada di kantor dengan sangat banyak orang yang melihat mereka.
"Ya.." Reza memalingkan wajahnya, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Ayah Faiq yang sedari tadi hanya diam tidak bisa menyela pembicaraan diantara keduanya. "Nanti saya akan pikirkan lagi pak masalah tawaran anda" Kata Reza dengan sesekali melirik Faiq. Mempertegas keadaan, bahwa Ayah Faiq lah yang tengah membutuhkannya sekarang.
"Maaf jika saya menyela. Mungkin kiranya bapak Reza bisa memberitahu saya tentang hal apa yang baru saja dikatakan sebelumnya?"
Reza kembali memperlihatkan keangkuhannya. Ya, dia yang memiliki perusahaan di usia yang masih sangat muda, jelas membuat dirinya merasakan kebanggan tersendiri. Terlebih lagi ketika mendapat sebuah tawaran dari Ayah Faiq yang menurutnya sangat membutuhkan persetujuan darinya saat ini.
"Saya mendapatkan tawaran dari Ayah anda untuk bergabung dalam proyek yang sedang dia jalankan. Ya tentu saja perusahaan besar seperti Astra sangat diminati untuk bergabung karena kemampuan mendongkrak keuntungan, tidak lagi perlu diragukan. Saya akan mempertimbangkannya lagi. Saya tahu akan keberhasilan anda dalam meraih persetujuan dari perusahaan yang sangat besar di wilayah timur saat ini. Tapi itu tidak akan menjadi alasan atau patokan untuk anda merasa memiliki peluang yang sama untuk saya menerima tawaran anda"
Reza semakin mempertegas akan dirinya yang tidak mudah di ajak kerjasama. Dari ucapannya pun ia memperjelas, akan ketidakinginannya bergabung akibat rasa kesal yang dia peroleh dari ucapan Faiq sebelumnya.
"Tentu, kami tidak akan menjadikan diri kami merasa bisa meraih persetujuan anda hanya karena kami berhasil bernegosiasi dengan perusahaan yang lebih besar dari milik anda" Faiq pun kembali menegaskan bahwa perusahaan milik Reza yang begitu dia bangga-banggakan dan sangat dipamerkan di depannya, tidaklah lebih besar dari perusahaan yang tengah menjalin kerja sama darinya.
Percakapan panas antara Faiq dan Reza, akhirnya berakhir setelah Reza undur diri dari perusahaan milik Ayahnya. Faiq hanya tersenyum simpul mengikuti langkah kaki Reza yang memburu keluar, seolah ingin segera melepaskan pijakan kakinya dari gedung besar dimana ia baru saja mendapatkan penghinaan tadi.
"Apa yang kamu lakukan, bicara tidak sopan seperti itu akan membuat pak Reza menjadi tidak senang"
"Ayah, kita hanya berdua, kenapa bicaranya formal begitu?" Tegur Faiq.
Ayahnya yang masih terbawa suasana dengan percakapan Faiq dan Reza.
"Faiq, hal ini bisa membuat Reza tidak akan menyetujui tawaran Ayah"
Faiq tersenyum dengan menyunggingkan sedikit bibir bagian atasnya.
"Apa Ayah tidak lihat? Dari cara dia berbicarapun, harusnya Ayah bisa tahu kalau dia memang tidak tertarik dengan tawaran Ayah, dia hanya senang melihat Ayah mengemis-ngemis minta persetujuannya. Dia hanya memamerkan apa yang dia miliki dan menyombongkan semuanya. Apa Ayah tidak malu merendahkan diri pada laki-laki yang usianya hanya berjarak beberapa tahun dari aku. Dia menganggap Ayah remeh dan tidak memperlakukan Ayah sebagaimana dia harus memperlalukan orang yang lebih tua"
__ADS_1
"Dalam dunia bisnis, usia bukan.."
"Apa itu bisa dijadikan patokan untuk menjadi kurang ajar?" Tanya Faiq memotong perkataan Ayahnya. "Ayah terlihat menyedihkan.."
Faiq hanya melirik Ayahnya dan beranjak. Namun belum beberapa langkah kaki jenjang itu melangkah, ia kembali berbalik.
"Aku akan mengurus ini, jadi Ayah tenang saja.."
"Apa lagi yang mau kamu lakukan, Faiq?" Tanya Ayahnya terkejut. Bagaimana tidak, dia sudah tahu akan putranya yang melalukan apa saja demi apa yang dia inginkan. "Faiq jangan.."
"Tunggu saja..."
Faiq meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
Tidak ada kemampuan bagi Ayahnya untuk menghentikan keinginan Faiq. Putra tunggalnya itu, bukan lagi laki-laki yang dia kenal dulu, yang bisa dia atur sesuai keinginannya. Pemuda polos itu telah berformulasi menjadi seseorang yang tidak bisa lagi dia kendalikan.
.
.
.
.
.
Faiq sudah memutuskan untuk tidak lagi melakukan hal curang, dia sudah bertekad untuk berubah dan menjadi lebih baik lagi. Namun, dia yang mendapati Ayahnya mendapatkan perlakuan tidak sopan dari laki-laki yang usianya jauh di bawah Ayahnya, membuat Faiq kembali melakukan beberapa trik kotor untuk membuat laki-laki yang dia kenal dengan nama Reza itu, bisa menerima tawaran Ayahnya, meski dengan cara paksaan.
Faiq meyakinkan dirinya, bahwa ini adalah kali terakhir dia melakukan hal kotor seperti ini. Dia hanya ingin memberi pelajaran dan menundukkan kesombongan yang dimiliki Reza, laki-laki yang telah membuatnya kesal beberapa hari yang lalu. Ia sendiri mengecam dirinya karena telah bermain seperti ini.
..
Waktu menunjukkan pukul 10 kurang delapan menit, pagi. Beberapa hari terakhir ini, Ayahnya dibuat tidak tenang mengingat apa yang akan putranya lakukan. Dan hari ini lah, ketakutan yang selalu membayang-bayangiya itu semakin jelas ketika Reza mengatakan keinginannya bertemu untuk membahas sesuatu.
Ayah Faiq sudah menunggu, setelah mendapat kabar dari Reza bahwa ia akan mampir di kantor miliknya hari ini. Hingga tidak cukup beberapa lama, pintu ruangannya diketuk oleh perempuan dengan baju elegan khas kantor, memberitahukan akan keberadaan tamu yang sudah dia tunggu-tunggu pagi ini.
Reza menyampaikan persetujuannya untuk menerima tawaran yang dia tawarkan beberapa hari yang lalu. Tak banyak yang laki-laki itu katakan seperti sebelumnya saat bertemu di tempo hari. Hari ini dia hanya menyatakan persetujuan dan membahas hal-hal yang akan di lakukan dalam pelaksanaan proyek yang ditawarkan. Hingga percakapan mengenai pekerjaan selesai, Reza akhirnya undur diri. Namun sebelum Reza melangkahkan kakinya keluar, ia mengatakan sesuatu yang mempertegas kekhawatiran Ayah Faiq.
"Putra anda hebat dalam berbisnis, hanya saja sedikit melenceng. Semoga sukses"
Kata-kata singkat yang di ucapkan Reza yang kemudian berlalu meninggalkan Ayah Faiq tanpa penjelasan lebih lanjut tentang apa yang baru saja dia katakan.
Ayah Faiq tentu paham, meski ia tidak tahu akan apa yang putranya lakukan. Namun lagi, meski ia berusaha menanyai Faiq, dia tidak akan mendapat jawaban dari apa yang dia inginkan.
.
.
.
.
.
Maafkan Lina baru Up ðŸ˜
Laptopku sempat sakit, dan baru kemarin sembuhya. Jadi, baru hari ini aku bisa ngetik dan Up lagi..
Hu hu hu.. sekali lagi maafkan Lina ðŸ˜
__ADS_1