Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 43


__ADS_3

Fauzi menghampiri Salwa yang sedang berdiri sendiri didepan gedung dimana dilakasanakan acara resepsi pernikahan Fathan dan Nina.


"Mau ikut sama aku??" Tanya Fauzi menawarkan setelah dia tahu Salwa yang berdiri sendiri sedang memikirkan cara untuk pulang.


"Gak usah kak, aku naik taxi saja.." Jawab Salwa.


"Ck, aku kurang apa coba dibandingkan supir taxi? Mobilku juga bagus dan lagi aku gak bakal minta biaya tumpangan" Dengus Fauzi dalam hati.


"Naik taxi dengan baju yang seperti itu??" Fauzi mencoba mencari-cari jalan agar Salwa bisa ikut pulang bersamanya hari ini.


"Ta tapi kita beda arah, aku bakal ngerepotin kakak.." Jawab Salwa.


"Segitunya kamu berfikir. Udah ayo aku antar.."


"Ta tapi.." Salwa masih berusaha menolak namun.


"Udah ayo.." Kata Fauzi sembari meraih pergelangan Salwa dan menariknya untuk ikut dengannya. "Gak akan aku lewatkan waktu dimana aku bisa berduaan denganmu" Fauzi tersenyum smrik.


Fauzi mengendarai dengan lamban, ya dia beralasan pada Salwa karena ingin hati-hati padahal Fauzi menginginkan waktu yang lebih lama untuk bisa bersama Salwa. "Bahas apa yaaa bahas apaa?? Masa iya mau diam-diaman begini terus" Fauzi mulai pusing sendiri.


"Nanti malam mau aku jemput?" Tanya Fauzi kembali menawarkan saat mereka sampai di depan rumah Salwa "Hufftt harus berinisiatif lagi.."


"I itu.."


"Ini anak pasti merasa ngerepotin lagi.." Fauzi sudah menebak. "Jangan berfikiran kalau kamu bakal ngerepotin aku, kan yang nawarin aku.." Fauzi memperjelas, dia tidak ingin Salwa menolak ajakannya hanya karena merasa dia akan merepotkan.


Salwa terdiam saja.


"Diam saja?? Apa dia gak mau??" Fauzi melirik Salwa yang masih saja terdiam tidak menjawab ajakan dari Fauzi. "Hufftt apa aku kesannya agresif sekali? Habis ngajak siang ini dan mau ngajak bareng lagi buat nanti malam. Haisss harusnya aku slow slow saja.." Gerutu Fauzi dengan sedikit perasaan menyesal. "Kalau gak mau gak apa kok.." Kata Fauzi. Dia tidak ingin terlihat agresif di mata Salwa.


"Mau kok.." Jawab Salwa spontan sampai membuat Fauzi terkejut. Fauzi spontan menatap Salwa, dilihatnya pipi Salwa yang mulai memerah karena malu.


"Ha ha ha" Fauzi tertawa meski ekspresinya masih menunjukkan betapa terkejutnya dia barusan karena Salwa yang menjawab spontan juga dengan nada yang sedikit tinggi. "Oke nanti malam aku jemput.." Fauzi tersenyum, ada perasaan bahagia setelah Salwa menerima ajakannya.


Fauzi masih tidak bosan memandangi wajah Salwa yang semakin merah karena manahan malu. "Ck.. lucu sekali..." Gumam Fauzi.


"Ya yaudah aku masuk dulu kak.." Kata Salwa mencoba menghindari kontak mata dengan Fauzi.


Tidak cukup dengan jawaban spontan yang membuat Salwa malu, kali ini dia kembali malu didepan Fauzi karena lupa melepas safety belt. Namun dimata seorang Fauzi yang mencintai Salwa, itu bukanlah hal yang memalukan melainkan itu lebih terlihat lucu dan menggemaskan bagi Fauzi.


"Apa kamu juga gugup sekarang?? Kamu sampai lupa melepas sabuk pengamannya, kenapa harus lucu begini sih Salwa..."


Fauzi mendekat dan membantu Salwa untuk melepas safety beltnya. "Kenapa terburu-buru sekali sampai lupa melepas sabuk pengamannya dulu.." Kata Fauzi sambil menahan rasa gemasnya melihat Salwa.


Dag dig dug.. Fauzi tersenyum kecil, detak jantung Salwa yang tidak beraturan samar-samar bisa dia dengar.


"He he he maaf.."


"Kamu memang harus meminta maaf Salwa, karena sudah membuatku menahan ini semua.." Gumam Fauzi berusaha menyembunyikan ledakan bahagianya. "Kenapa minta maaf, kamu kan gak salah.." Jawab Fauzi masih mencoba terlihat santai saja.


"I itu.. aku"

__ADS_1


"Aku tahu kamu malu dan canggung sekarang.. Kali ini kulepaskan, lain kali kalau masih terlihat lucu dan imut seperti ini, jangan salahkan aku kalau tidak bisa tahan lagi untuk memelukmu.." Gejolak batin Fauzi yang meronta-ronta namun tetap berusaha terlihat tenang dimata Salwa. "Kayaknya kamu kelelahan.." Fauzi memberi jalan buat Salwa untuk melepaskan diri dari rasa malunya. "Sore ini kita akhiri dulu, tenangkan dirimu dulu.. Aku tidak bermaksud mengasihanimu, hanya saja aku tidak tega melihatmu harus menahannya seperti ini"


"Makasih udah nganterin aku pulang.."


"Oke.. Aku balik dulu"


"Hati-hati kak.."


Fauzi hanya tersenyum kemudian memutar arah mobilnya..


"Yeess yesss yessss...." Seru Fauzi dengan semangat sambil berkali-kali menghantam stir mobilnya dengan telapak tangannya. Bekas merah ditangannya tidak lagi dia rasakan sakitnya karena terlalu bahagia. "Kenapa harus seimut tadi sih??" Fauzi sampai kewalahan menahan perasaannya..


.


.


Fauzi berjalan masuk sambil bersenandung..


"Pulang-pulang dari pesta kok senang begitu???" Tegur Ayah Fauzi yang duduk sambil menikmati secangkir teh diruang keluarga.


"Kok Ayah ada dirumah??"


"Kamu kenapa bertanya begitu?? Ini kan rumah Ayah?"


"Ya santai dong Yah? Kan aku cuman nanya, biasanya kan jam begini Ayah lagi gak dirumah.."


"Karena Ayahmu bisa ada dirumah di jam begini harusnya kamu senang dongg.." Kata Ibunya berjalan dari dapur membawa piring yang berisikan makanan kecil.


Fauzi duduk disamping Ayahnya sambil mengambil sepotong kue yang dibawa Ibunya.


"He he he karena aku lagi senang Yah.." Jawab Fauzi nyengir.


"Kenapa? Karena habis makan banyak di pestanya Farhan.."


"Ya ampun Yah.. Emang Ayah kira anakmu ini kekurangan makan sampai harus sesenang ini cuman karena makan banyak???" Tegur Fauzi diiringi senyumnya yang berubah menjadi ekspresi tidak senang.


"Iya nih Ayah.. Memangnya Ayah kira Ibu gak bisa masak makanan yang enak buat putra kita??"


"Bukan begitu sayang.."


"Yahh.. Sayang-sayangann aja terussss..." Tegur Fauzi.


"Makanya nikah juga sana biar kamu bisa sayang-sayangan juga.. Ayah capek di tegur sama orang iri kayak kamu tiap manggil sayang ke Ibumu.."


"Ooww Ayah udah kepengen mantu??? Okee aku kabulkan.." Kata Fauzi sambil kembali memperlihatkan senyumnya yang mengambang.


"Memangnya sudah ketemu sama calon menantunya Ibu??" Tanya Ibunya.


Fauzi mengangguk dan memperlihatkan ekspresinya yang sangat bahagia.


"Siapa?? Bukannya kamu udah janji buat ngejadiin Salwa mantu Ayah.. Kok sekarang jadi lain?? Apa kata Ibunya Salwa nanti?? Dia udah ngijinin kamu buat ninggalin putrinya dengan segala alasanmu dan kamu.."

__ADS_1


"Ayaahh..." Kata Fauzi memotong perkataan Ayahnya. "Kan aku gak bilang oranglain.."


"Ja jadi??"


"He he aku udah mulai ngedekatin Salwa lagi.. Ibunya bilang aku udah harus maju.."


"Kamu seriusss???"


Fauzi kembali mengangguk dengan semangat..


"Jadi jadi bagaimana???" Tanya Ayahnya lebih bersemangat.


"He he he tadi pulang dari pestanya Farhan, aku nganterin Salwa pulang kerumahnya.."


"Teruss teruss.."


"Ck, aku kan masih cerita.. Ayah jangan main potong ceritaku dongg.." Sungut Fauzi.


"Kan Ayah cuman suruh ngelanjutin.."


"Kan aku gak ngejeda ceritaku.. Aya.."


"Haisss.. Kenapa malah jadi berdebat sama Ayahmu.. Lanjutkan, jadi gimana???" Tanya Ibunya yang tidak kalah penasaran dari Ayahnya.


Ekspresi kesal Fauzi saat ceritanya terpotong tadi kembali berubah menjadi merona dengan senyumnya yang semakin melebar kala mengingat semalam dia akan berangkat dengan Salwa.


"Nanti malam aku ngejemput Salwa lagi.." Jawab Fauzi tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


"Wahh.. Nanti malam kamu harus tampil tampan nak.. Buat Salwa terpesona dan rebut kembali hatinyaa..."


"Woaahh jelas dong Yah..."


"Yasudah ayo.." Kata Ayahnya beranjak dari duduknya.


"Ayo?? Kemana??"


"Ke toko lah Nak, kamu harus beli jas yang bagus untuk dipakai nanti malam. Kamu harus sadar dengan tampangmu yang pas-pasan. Meskipun wajahmu standar, setidaknya penampilanmu harus keren.."


"Ayah.. Dia putra kita, wajahnya itu tampan, kalaupun itu pas-pasan itu karena gen Ayah yang kurang tampan.." Tegur Ibunya.


"Ha ha ha.. Ayah, Ibu bilang gen Ayah kurang tampan.." Fauzi tertawa terbahak-bahak.


"Biar saja, asal Ibumu tetap mencintai Ayah.. Ayo kita berangkat, cari jas dan kemeja yang bagus.."


"Sebentar, aku ganti baju dulu Yah, masa iya aku ke toko pake baju resmi begini.." Kata Fauzi melangkah menuju kamarnya.


"Fauzi.." Cegah Ayahnya.


Fauzi menoleh dan...


"Berjuanglah Nak, Perempuan itu bukannya susah untuk di dapatkan tapi bukan mudah juga. Perlihatkan kesungguhan dan ketulusanmu, itu akan menyentuh hatinya.." Kata Ayahnya sambil memeluk Fauzi.

__ADS_1


Fauzi hanya tersenyum. " Iya yah..." Jawabnya.


Dia Ayahku, dibanding serius dia lebih sering bercanda. Selagi aku mengingat, mungkin hanya hitungan jari saja aku melihat Ayah memperlihatkan keseriusannya. Mendengarnya mengatakan ini dengan memelukku erat membuktikan, bagaimana dia ingin aku bahagia diterima oleh wanita yang aku cintai. Terimakasih Ayah, sudah menjadi orangtua yang berprilaku sebagai teman agar aku tidak sungkan untuk mengatakan semua isi hatiku padamu.


__ADS_2