Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
What Else?


__ADS_3

Pertemuan Karin dengan Fauzi dan Salwa di sebuah restaurant, meski Fauzi tidak ingin memberitahu banyak orang tentang keadaan istrinya, tapi keberadaan Karin ditengah mereka yang tiba-tiba, membuat Fauzi tidak memiliki jalan lain selain memberi tahu Karin keadaan Salwa, demi menghindari pikiran negatif yang bisa karin layangkan pada wanita yang sangat dicintainya.


Keberadaan Salwa yang berada di dalam toilet terlalu lama, membuat Fauzi khawatir mengingat istrinya itu perlahan kehilangan kemampuan bertahan hidupnya layaknya manusia lain pada umumnya. Keberadaan Karin yang sebelumnya ia kecam, berujung menjadi sesuatu yang dia syukuri karena melalui Karin, Fauzi bisa meminta tolong untuk mengecek keadaan perempuan yang menjadi Ibu dari buah hatinya itu.


Karin yang menyusul Salwa ke toilet wanita, mendapati Salwa tengah berdiri di depan wastafel sembari memandangi dirinya sendiri dari pantulan cermin.


“Salwa, kamu kenapa??” Tanya Karin berjalan mendekati Karin.


Salwa tidak merespon panggilan Karin, dan tetap fokus menatap dirinya sendiri melalui cermin.


“Salwa??”


Karin menepuk pelan bahu Salwa, dan itu membuahkan hasil. Salwa berbalik menatapnya.


“Kamu gak apa-apa?”


Salwa menatap Karin dengan lekat, membuat Karin menjadi kebingungan.


“Apa itu aku??” Tanya Salwa sembari menunjuk pantulan dirinya di cermin.


Karin terkejut dengan kebingungannya yang semakin menjadi-jadi. Setengah percaya ia saat mendengar apa yang Fauzi ceritakan padanya, namun saat ini yang di sajikan di depan matanya adalah fakta dimana Salwa sendiri yang memerankannya.


“I-iya. Itu kamu..” Jawab Karin.


Salwa hanya terdiam mendengar jawaban Karin.


Fakta untuk seseorang yang menderita Alzheimer adalah, dia yang harus di jauhkan dari cermin atau apapun yang bisa memantulkan gambar diri, karena itu akan membuatnya semakin bingung dan bisa menciptakan delusi yang berkelanjutan.


“Kamu sudah selesai di toilet? Ayo kita keluar, Fauzi menunggumu” Ajak karin, menarik pelan pergelangan tangan Salwa. Salwa hanya menurut saja.


Sembari berjalan menuntun Salwa, kata-kata Fauzi kembali terbesit diingatan Karin mengenai Salwa yang tidak akan bisa di sembuhkan. Karin bukannya ingin menyimpulkan sesuatu asal-asalan sesuai kemauannya, tapi dengan fakta yang mengatakan Salwa tidak akan bisa sembuh, itu berarti penyakit yang tengah di derita Salwa saat ini, pelan-pelan akan semakin parah dan menelan semua ingatan Salwa yang berakhir dengan Salwa yang tidak akan bisa bertahan hidup dengan baik.


Pikiran buruk mulai merasuki Karin. Akankah aku memiliki kesempatan saat Salwa sudah tidak ada nanti??


.


.


.


.


Hari-hari berlalu, dan kesehatan mental Salwa makin hari makin menurun. Fauzi tetap berusaha melakukan yang terbaik buat istrinya, menjadi suami yang bisa diandalkan setiap saat dan mampu melakukan apapun dalam melindungi istrinya.


Seperti biasanya, Fauzi akan pulang lebih awal agar bisa memiliki waktu lebih cepat dalam menjaga dan mengurus istrinya. Belum saja Fauzi memarkir mobilnya, dia sudah dibuat terkejut dengan pemandangan yang di sajikan untuknya sekarang. Baru sebentar saja Salwa lepas dari pengawasan Fauzi yang selalu memonitornya melalui CCTV, dan hal buruk sudah terjadi.


Apotek yang sudah ditutup sekitar sebulan itu, kini terbuka yang membuat Fauzi bergegas memarkir mobilnya dan dengan cepat segera menutup Apotek yang sudah dijalankan Salwa kurang lebih lima tahun itu.

__ADS_1


Segala kekhawatiran mulai berkalut di pikiran Fauzi. Obat apa saja yang sudah dikeluarkan istrinya hari ini? Sudah berapa orang yang datang hari ini? Apa saja yang Salwa katakan dan semua hal yang berkemungkinan besar membahayakan keselamatan orang-orang yang datang hari ini. Dan lagi, apakah Salwa masih bisa mengigat ketika ia ditanya tentang apa saja yang sudah terjadi dengan Apotek hari ini.


Rasa lelah yang sedari tadi dirasakannya, semua hilang berganti dengan rasa khawatir. Tenaga yang awalnya sudah hampir habis, seketika terpompa saat menutup garda Apotek. Fauzi hanya bisa berdoa, semoga apa yang dikhawatirkannya tidak terjadi.


Salwa yang mendengar deretan-deretan garda Apotek yang tertutup, berlari kecil keluar dan dengan cepat menghampiri Fauzi.


“Kenapa di tutup?”


“Kamu kan sakit sayang, jadi gak seharusnya buka Apotek dulu”


“Ck.. aku gak lagi sakit, aku baik-baik saja. Cepat buka kembali Apoteknya!”


“Kapan-kapan saja ya kita buka. Sekarang di tutup dulu”


“Kamu ini kenapa sih? Kamu mau ngehalang-halangi pekerjaanku? Aku gak pernah ngurusi pekerjaan kamu, seharusnya kamu juga begitu”


“Bukan begitu sayang, tap..”


“Baru juga Apoteknya aku buka, belum ada yang singgah dan kamu udah mau nutup lagi. Gimana obat-obatnya bisa keluar..”


Fauzi menghela nafas lega. Tadinya ia begitu khawatir, Salwa akan salah memberikan obat pada orang, atau salah memberi penjelasan. Namun, apa yang dikatakan Salwa barusan sedikit melegakan perasaannya. Meski apa yang dikatakan istrinya tidak sepenuhnya bisa dipercaya, tapi Fauzi merasakan lebih baik setelah mendengarnya.


“Sayang.. ini sudah sore, jadi besok saja di buka lagi”


“Memangnya kenapa? Sore pun ada orang yang bisa datang. Kamu ini kenapa sih ngurusi pekerjaanku begini. Aku bosan di rumah terus dan gak ngelakuin apa-apa, jadi biarin aku kerja..”


Melihat Fauzi yang tidak menuruti keinginanya, Salwa hanya menatapnya tajam kemudian berlalu masuk kedalam rumah dengan langkah kaki yang di hentak-hentakkan memperlihatkan kekesalannya. Fauzi beranggapan, lebih baik istrinya itu marah saat ini, daripada menurutinya tetap membuka Apotek yang berkemungkinan akan memberikan obat yang salah.


Fauzi menyusul melangkah masuk, meletakkan tas kerjanya di ruang kerja dan mencari keberadaan istrinya yang sudah lebih dulu masuk.


“Kamu lagi ngapain sayang??” tanya Fauzi mempercepat langkahnya masuk kedalam kamar saat ia melihat istrinya tengah membongkar lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.


“Aku mau pergi”


“Pergi? Kamu mau pergi kemana??”


“Aku mau pulang kerumah Ibuku..”


“Kenapa mau pulang? Kamu kenapa tiba-tiba begini??”


“Kamu udah gak ngehargai aku, kamu udah ngebatasi aku melakukan pekerjaanku”


“Bukannya begitu sayang..”


Fauzi mendekat dan mengeluarkan kembali baju-baju yang sudah salwa masukkan ke dalam koper.


“Jangan pegang baju-bajuku!” bentak Salwa yang membuat Fauzi terkejut.

__ADS_1


15 tahun Fauzi mengenal Salwa, dan ini adalah kali pertama Salwa membentak. Emosi istrinya benar-benar tidak stabil dan tidak bisa di padamkan begitu saja seperti sebelum-sebelumnya.


“Sa-sayangg...”


“Keluaarrrr!!”


Airmata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat matanya berkaca-kaca. Fauzi tidak peduli seperti apa cara bicara istrinya saat ini, Fauzi hanya terus mengkhawatirkan keadaan Salwa dengan amarahnya yang memuncak-muncak.


“Sa-sayang.. maafkan aku, aku bukannya..”


“Aku benci sama kamu”


Degg...


Fauzi tahu, kata-kata itu keluar diluar kesadaran istrinya. Kata-kata yang keluar hanya karena emosi yang meluap-luap dan bukan atas dasar dia ingin mengatakan itu. Tapi tetap saja, ada rasa sakit yang tidak bisa Fauzi hindari mendengar istrinya mengatakan itu.


Fauzi berhambur memeluk istrinya, mencoba menenangkan wanita dengan amarah yang meluap-luap itu, dengan pelukannya.


“Lepasin aku.. lepasss”


Salwa memberontak, rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.


“Sayang, maafin aku.. Maaf sayang..” Fauzi mempererat pelukannya.


“Kamu jahat.. kamu jahat..”


Emosi Salwa yang sebelumnya menyentuh tingkatan tertinggi, perlahan mereda dan berganti dengan airmatanya yang berhamburan keluar dari dua mata indah miliknya.


“Iya, aku jahat. Maafin aku, aku gak akan jahat lagi..”


“Jangan jahat lagi..”


Fauzi hanya mengangguk sembari terus memperat pelukannya.


Emosi Salwa yang dengan cepat meledak-ledak, namun lebih cepat tenang juga. Sebelumnya, setidaknya membutuhkan waktu 15 menit paling cepat untuk meredakan kemarahan Salwa. Namun sekarang, hanya butuh beberapa beberapa menit saja saat Fauzi mulai memeluknya, Salwa sudah menjadi lebih tenang.


.


.


.


.


Pagi yang perlahan menyambut hari baru, membuat butiran-butiran embun yang bertengger di dedaunan menguap keudara, tanpa meninggalkan jejak.


“HUWAAAAA... KAMU KENAPA ADA DISINI?????”

__ADS_1


__ADS_2