
Fauzi rutin membawa Salwa mengecek kesehatannya, sekiranya itu bisa memberi istrinya waktu yang lebih lama untuk sampai pada tahap Azheimer yang lebih buruk. Meskipun Fauzi tahu akan keadaan istrinya itu, ia masih berharap, ditiap pemeriksaannya ia bisa mendapatkan hasil yang berbeda yang akan menyatakan istrinya akan sembuh. Sebuah harapan yang jelas hanya akan menyisahkan luka untuknya. Adakalanya putus asa jauh lebih baik jika dibandingkan dengan harapan yang sudah jelas tidak ada jalannya itu.
Zahran Fauzi, laki-laki dengan kulit putih dan cacat di pipinya itu, tengah duduk bersandar di punggung kursi, menunggu Salwa sang istri yang saat ini sedang di periksa di ruangan dokter, ditemani oleh Ibunya.
Sebelumnya, Fauzi sendiri yang akan masuk mendampingi istri tercintanya saat melakukan pemeriksaan, namun pagi ini sang Ibu mertua menelfon dan meminta untuk ikut lagi mengantar putrinya periksa hari ini. Ya jelas, bukan Fauzi saja yang sangat mencemaskan Salwa, Ibunya pun begitu, apalagi istrinya itu adalah putri satu-satunya.
“Antar Salwa periksa lagi?”
Fauzi berbalik, menatap seseorang yang sudah mengambil posisi duduk di sampingnya.
“Iya..” Jawab Fauzi sembari memperlihatkan senyum tanda keramahannya.
Keduanya mulai larut bercerita, tentang istri Fauzi yang sekarang sedang di grogoti oleh sesuatu yang mampu menelan ingatnnya, juga tentang masa-masa mereka semasa masih duduk di bangku kuliah dulu.
Waktu tunggu yang biasanya selalu mendebarkan dan membuat jantung Fauzi memompa lebih kuat dari biasanya akibat penjelasan dari dokter, kini menjadi lebih santai akan kehadiran teman lama yang baru lagi temui beberapa hari terakhir ini. Obrolan ringan yang mulai menjurus pada kenangan mereka semasa duduk di bangku kuliah, membuat laki-laki beranak satu itu menjadi lebih nyaman.
Sasa yang masih mengenakan seragam kerjanya itu, entah lagi rehat ataukah akan segera pulang, sehingga memiliki waktu yang cukup larut bercerita bersama Fauzi.
Tak ada hal seru dalam pembahasan mereka, namun entah mengapa sejenak membuat Fauzi lupa akan sesuatu yang ia janjikan pada Faiq, yang berhubungan dengan wanita yang kini duduk di sampingnya.
Ingatan Fauzi yang kembali menyentuh akan janjinya, kini mulai membaca situasi untuk menyela dalam obrolan mereka dan akan segera menanyakan kesiapan Sasa untuk di bawahnya dengan dalil menjaga Salwa.
“Emh Sasa..”
“Ya..”
“Kamu bilang, kalau aku butuh bantuan, aku bisa minta tolong sama kamu kan?”
“Iya, kamu bisa bilang sama aku. Selagi aku bisa, pasti aku bantu”
Fauzi dengan segala sesuatu yang sudah ia pikirkan untuk mempertemukan Sasa dan Faiq, akhirnya mulai meluncurkan aksinya. Ya sekiranya, inilah awal dari dimulainya kembali kisah cinta di antara keduanya yang sempat terpisahkan oleh takdir.
“Aku memutuskan untuk berhenti kerja, biar bisa menemani Salwa terus, tapi karena aku memiliki jabatan seorang direktur di perusahaan Ayah dari temanku, aku jadi harus menyelesaikan beberapa urusan sebelum akhirnya benar-benar resign”
Fauzi mulai membahas apa yang menyebabkannya harus meminta tolong pada Sasa. Meski tidak ada kebohongan yang ia katakan, namun tetap saja ada unsur tertentu dari bahasanya itu.
“Iya, terus?”
“Beberapa hari yang lalu, aku diminta untuk bertemu dengan calon direktur baru penggantiku, untuk melakukan pemindahtanganan kerja dan beberapa hal yang harus aku bahas sama dia. Aku harus ketemu sama dia, tapi aku gak bisa ninggalin Salwa sendiri sekarang. Seperti yang kamu tahu, keadaan Salwa semakin tidak memungkinkan untuk aku tinggalkan dia sendiri di rumah”
“Kamu mau aku nemenin Salwa di rumahmu?”
Fauzi menggeleng.
“Aku mau kamu ikut sama aku. Aku mau Salwa juga bisa keluar, dan tidak hanya dirumah saja. Aku mau, saat aku ketemu sama calon direktur baru itu nanti, kamu sementara bisa nemenin Salwa saaat itu”
“Maksudmu, kamu mau aku ikut buat jagain Salwa saat kamu ketemu sama orang yang menggantikan posisimu nanti?”
“Iya... Aku hanya tidak ingin Salwa hanya tinggal dirumah saja, tapi aku juga khawatir jika membawa Salwa seorang diri ke acara pertemuan dengan calon direktur itu. Apalagi yang kudengar, direktur itu cukup disiplin, aku tidak mau dia terganggu karena keberadaan Salwa. Ah, aku minta maaf kalau permintaanku berlebihan. Kamu bisa menolak kalau merasa ini terlalu membebani”
“Ah tidak, tidak. Ini bukan permintaan yang besar. Cuman kamu tahu kan Zi, aku kerja menggunakan waktu yang tidak ditentukan, otomatis aku harus menyesuaikan waktu untuk nemenin kamu. Tidak, maksudku, apa bisa kamu yang nyesuain waktu dengan jadwalku. Maaf, aku sangat berniat membantumu, tapi ak...”
“Gak apa-apa. Aku juga belum ngehubungi orang itu” kata Fauzi memperjelas bahwa ia bisa mengatur waktu sesuai dengan jadwal Sasa.
Orang-orang yang akan hadir dalam pertemuan itu adalah Karin sebagai pihak kedua jika berbicara dari sudut pandang Fauzi mengenai pekerjaannya, orang yang memiliki kerjasama bersama Fauzi sebelumnya. Perempuan dengan perasaan istimewa pada Fauzi, yang selalu punya waktu kapan saja saat Fauzi meminta untuk bertemu. Sehingga tidak akan membuat Fauzi kesulitan mengatur waktu bertemu dengannya.
__ADS_1
Dan Faiq, pihak ketiga yang akan menggantikan posisi Fauzi sebagai direktur di perusahaan yang menaungi Fauzi beberapa tahun terakhir ini. Orang yang akan menyiapkan waktunya kapanpun demi bertemu dengan Sasa, wanita yang masih bertahta di hatinya hingga saat ini. Waktu Sasa adalah penentu untuk jadwal bagi pertemuan mereka bertiga.
Semua waktu bisa diatur untukmu Sa.
“Oh syukurlah kalau waktunya bisa di kondisikan”
Terlihat kelegaan di wajah Sasa, memperlihatkan dia yang benar-benar ingin membantu meski kondisi waktu yang dia miliki tidak menentu. Resiko dari profesi yang mengharuskan bekerja per shift-shift.
“Aku akan hubungi nanti, kapan aku bisa. Sekarang aku harus kembali bekerja, waktu istirahatku sudah selesai”
“Makasih ya Sa..”
Perempuan bermata bulat yang masih terkesan imut di usianya yang tidak lagi muda itu, menggangguk dengan senyum manis yang berhias di bibir tipis yang berhias lipstik berwarna nude miliknya itu.
Sasa berlalu meninggalkan Fauzi dengan pandangannya yang masih mengantar langkah-langkah wanita yang masih jadi incaran temannya.
Laki-laki yang telah berhasil dengan rencananya itu, segera mengeluarkan ponselnya yang sempat ia masukkan ke dalam saku saat Sasa menghampirinya, mengirim pesan pada Faiq yang harus mempersiapkan diri bertemu dengan mantan kekasih yang masih sangat dicintainya.
“Aku akan ngabarin kamu, kapan kita bisa ketemu sama Sasa” pesan singkat yang Fauzi kirimkan pada Faiq.
Belum lewat semenit setelah Fauzi mengirim pesan itu, ponsel yang masih di genggamannya berdering, satu panggilan masuk dari Faiq.
“Buru-buru sekali” Gumam Fauzi tersenyum menatap layar ponselnya dengan tampilan panggilan masuk dari laki-laki yang sepertinya sangat bahagia dengan info yang baru saja dia berikan. Padahal Fauzi hanya memintanya untuk bersiap-siap, namun sepertinya dia sudah terlalu senang. Ya bagaimana tidak, dia akan bertemu kembali dengan ratu yang bertahta di hatinya selama bertahun-tahun.
“Kamu serius??” Tanya Faiq dari seberang telfon dengan sedikit berteriak, membuat Fauzi harus memegangi telinganya agar terhindar dari rasa nyeri akibat suara yang cukup tinggi dari telfon sebelah.
“Ck, kenapa teriak-teriak sih??”
“Ah maaf-maaf.. I-ini serius kan?”
“Ja-jadi kapan? Kapan bisa ketemu sama Sasa?”
“Ntar aku kabarin lagi. Tahu kan profesi Sasa, dia punya jam kerja yang berbeda sama jam kerja orang lain, jadi harus menyesuaikan sama waktu liburnya dia”
“Kabari aku secepatnya.”
“Ya kalau Sasa cepat ngasih info, ya aku cepat juga ngasih infonya..”
“Oh oke oke..”
Sangat jelas terdengar di telinga Fauzi, bagaimana Faiq antusias dan begitu senang saat dia di beri kabar akan dia yang diminta untuk mempersiapkan diri agar bisa bertemu dengan Sasa, membuat Fauzi sadar akan perasaan Faiq yang sesungguhnya.
“Ck, bucin banget sih” Gerutu Fauzi dalam hatinya. “Eh aku juga bucin sih” Lanjutnya kemudian saat dia menyadari akan dirinya yang tidak jauh berbeda dengan Faiq dalam hal menjadi budak cinta.
Fauzi tertawa kecil dengan dirinya yang sempat lupa akan tingkat cintanya yang luarbiasa pada istrinya hingga ia menyandang gelar budak cinta.
“Eh, gimana sama orang yang sebelumnya ada kerjasama sama kamu, apa waktunya juga pas buat ngesamain sama jadwal Sasa?”
“Biasanya sih kalau aku panggil ketemu buat ngurus kerjaan, dia selalu bisa dan selalu datang..”
“Biasanya? Jadi belum pasti?”
“Ya belum, kan aku belum bilang sama dia. Lagian gimana caranya mau bilang sama dia, kalau jadwal kosongnya Sasa aja belum tahu”
“Gak apa-apa sih kalau orang itu gak datang, kan bisa datangnya kapan-kapan saja..”
__ADS_1
“Lah bagaimana ceritanya kapan-kapan saja, dia itu orang paling penting dari pertemuan kita nanti”
“Ya kan bisa ketemu kapan-kapan lagi. Aku gak keberatan kok buat keluar dua kali”
“Bilang saja kalau kamu mau menikmati pertemuanmu sama Sasa nanti, tanpa diganggu dan tanpa membahas pekerjaan. Lagian, kamu yang gak keberatan keluar dua kali, tapi aku yang keberatan..”
“Hehehe, ketebak banget ya” Jawab Faiq yang terdengar cengengesan dari balik telfon “Ya terus gimana?”
“Gak usah pikirin itu, biar aku yan urus”
“Ini bisa dipercaya kan?” Tanya Faiq dengan keragu-raguannya pada Fauzi untuk membawa mitra kerja sama Fauzi yang diketahui adalah seorang perempuan dengan posisi direktur di perusahaannya.
Faiq tidak lagi menghirukan masalah datang atau tidaknya direktur dari perusahaan yang bekerja sama dengan Fauzi. Karena baginya, ada tidaknya perempuan itu, bukanlah masalah. Hal yang Faiq prioritaskan sekarang adalah pertemuannya dengan Sasa.
“Kira-kira Sasa sekarang suka makan apa ya?”
“Bukannya Sasa suka nasi kuning?”
“Ck itu kan dulu..”
“Lagi ngapain nanya makanan kesukaan Sasa?”
“Ya kan kalau tahu, aku bisa revervasi tempat sesuai cita rasa yang Sasa suka”
“Ck, kamu jangan berlebihan. Aku gak bilang sama Sasa kalau orang yang mau aku temui itu kamu. Aku sendiri juga pura-pura gak tahu kalau ternyata yang akan menggantikan aku itu kamu. Jadi jangan banyak gaya..”
“Kan gak apa-apa kalau aku merefervasi tempat, anggap saja aku terlalu menghargaimu sebagai direktur yang akan aku gantikan”
“Ck, aku bilang jangan berlebihan. Lagian direktur perusahaan lain juga akan datang, dia akan merasa aneh kalau kamu melakukan itu”
“Tapi..”
“Aku batalin aj..”
“Eh iya iya.. Oke oke..”
Fauzi tersenyum kecil mendapati respon Faiq yang seketika menurut hanya dengan ancaman pembatalan yang dia katakan tadi.
“By the way, kamu ketemu dimana sama Sasa?”
“Di rumah sakit”
“Ngantar Salwa?” Tebak Faiq.
“Iya..”
“Bagaimana keadaannya sekarang, apa kata dokter?”
“Masih sama seperti yang kemarin, semakin banyak lupa, semakin sering delusi, emosinya semakin tidak stabil dan kadang-kadang menarik diri. Aku belum tahu hasil pemeriksaan hari ini, Salwa masih di dalam sama Ibu mertuaku”
“Semoga bisa memberi kabar yang baik nantinya..”
“Iya, aku juga berharap seperti itu..”
Fauzi memutuskan telfonnya saat Ibu mertua dan istri kesayangannya keluar dari ruang dokter setelah mendapat konseling dan pemeriksaan.
__ADS_1
Salwa yang tersenyum padanya, membuatnya merasa lega. Setidaknya istri kesayangannya itu masih ingat dengan dirinya. Itu adalah sebuah kesyukuran besar bagi Fauzi, mengingat dirinya yang belum siap dilupakan oleh belahan jiwanya