Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Kesalahpahaman yang Berlanjut


__ADS_3

Makanan terasa hambar, mungkin karena perasaan sedang dalam keadaan tidak baik. Pikiranku juga masih saja berputar disekitar kejadian semalam, tentang apa yang terjadi antara aku dan Farhan juga tentang Fauzi dan perempuan lain. Ah, membuat nafsu makan jadi hilang selera saja.


"Mau makanan penutup? Es cream?" Tanya Farhan.


"Ini masih pagi kak.." Jawabku datar.


"Cupcake? kamu suka yang manis-manis gak? mau cake?"


Aku menggeleng.


"Kamu kenapa?" Tanya Farhan yang kebingungan melihatku.


Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi menunduk dengan ribuan pikiran tidak jelas dikepalaku.


"Gak papa.." Jawabku mencoba tersenyum.


"Salwa, jangan seperti ini?"


"Apa?" Tanyaku datar.


"Aku tidak senang melihatmu yang seperti, ini bukan Salwa yang aku kenal.."


Aku terdiam saja..


"Kamu masih kepikiran masalah semalam? Jangan terlalu larut memikirkannya Salwa, kamu harus...."


"Kak.. Kita sedang didepan makanan, tidak baik membahas hal seperti ini.." potongku.


"Oh, Maaf.." Kata Farhan dan mulai terdiam.


Jujur saja, aku malas membahas hal semalam, tapi aku juga tidak bisa terus-terusan membiarkan Farhan salah paham tentang hubunganku dengannya. Jika aku terus-terusan membiarkan kesalahpahaman ini dia akan terluka lebih berat nantinya.


**


Farhan mengajakku berjalan-jalan sejenak ditaman, sekedar olahraga pagi dan mendapatkan energi positif dari matahari pagi. Aku ikut saja, berjalan seperti orang yang kehabisan tenaga sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan apa yang harusnya dijelaskan.


"Salwa, kamu suka jalan-jalan pagi?" Tanya Farhan membuka percakapan.


"Sesekali.." Jawabku singkat.

__ADS_1


"Hem.. pasti gak sempat juga ya.. kamu kan sibuk, akhir pekan begini kamu pasti masih ada jadwal latihan dan mungkin beberapa rapat organisasi.." Kata Farhan terus berjalan menuju kursi kosong dipinggir taman.


"Gak juga.." Jawabku sambil duduk.


"Kirain aku kamu bakalan sibuk meskipun akhir pekan, mengingat kegiatanmu yang banyak sekali.."


"Aku gak sesibuk itu kok, gak selalu ada rapat juga dan gak selalu ada lomba yang mengharuskan aku latihan tiap akhir pekan.." jelasku


"Syukurlah kalau seperti itu, kamu jadi ada waktu istirahat.. Jadi kalau gak latihan biasanya akhir pekan kamu ngapain?" Tanya Farhan.


Farhan sudah seperti reporter saja yang sedang melakukan sesi wawancara denganku, sedari tadi bertanya terus. Aku mengerti maksudnya, dia mencoba membuat keadaan menjadi tidak canggung, juga mungkin sedang berusaha mengalihkan perhatianku agar tidak berfikiran tentang yang semalam terus. Aku tau, Farhan adalah orag yang baik yang memikirkan hal itu untukku.


"Jalan dengan Fauzi.." Jawabku sambil menunduk. Farhan sedikit tersentak


"Oh.. hehehe, kali ini jalannya sama aku ya.." Jawabnya terdengar sedikit canggung.


Kurasa ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya sama Farhan.


"Salwaa..."


Belum juga aku menjelaskan, Farhan sudah memulai percakapan baru.


"Ya.." jawabku.


"Kak.."


"Aku pernah ikhlas melepasmu, aku pernah ikhlas ngelihat kamu sama Fauzi meskipun aku sangat mencintaimu. Kupikir karena cinta itu bukan tentang memiliki tapi tentang melihat orang yang kita cintai bahagia dan aku tahu bahagiamu ada sama Fauzi. Aku selalu berfikir, Fauzi sudah sempurna untuk berada disampingmu, dia bisa menjagamu dan membuatmu bahagia sehingga aku tidak harus memilikimu dan menjagamu. Mengikhlaskanmu dengan Fauzi adalah cara terbaikku mencintaimu. Tapi Salwa, meihatmu seperti semalam membuatku tidak lagi ikhlas, selama ini aku percaya Fauzi bisa membahagiakanmu makanya aku mundur tapi sekarang sepertinya tidak ada alasan bagiku untuk mundur lagi"


"Tapi kak.."


"Salwa aku tahu, kamu gak punya perasaan apapun ke aku jadi aku benar-benar berterimakasih karena udah ngasih aku kesempatan, aku akan berusaha sebisaku ngebuat kamu bisa cinta sama aku dan ngebuat kamu bahagia. Aku senang sekali.."


Aku tidak tau harus berkata apa lagi, mendengar penjelasan Farhan membuatku tidak sampai hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya terdiam beberapa saat.


"Aku tau ini adalah waktu-waktu yang sulit buat kamu, maka dari itu aku akan membantumu melewatinya"


Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak tau harus memulai pembahasan tentang kesalahpahaman ini atau tidak. Ataukah aku harus menunggu waktu yang lain. Arrghhh belum juga masalah tentang Fauzi, sekarang ada Farhan lagi.


"Matahari udah makin tinggi, ayo pulang.. Atau kamu mau main kemana dulu gitu??"

__ADS_1


Aku menggeleng. "Aku mau pulang saja.."


"Yaudah, ayo aku antar.."


Sepanjang perjalanan Farhan terus mengajakku bercerita, ia bercerita panjang lebar tentang sesuatu yang akupun tidak mengerti. Aku hanya sesekali tersenyum dan mengiyakan saja perkataan Farhan agar kesannya aku tidak mengabaikannya. Pikiranku entah kemana, rasanya dari banyaknya cerita Farhan hanya beberapa saja yang terdengar jelas olehku, sisanya hanya seperti dengungan.


Aku tiba depan rumah, Farhan melepas sabuk pengamannya.


"Gak usah.." Cegatku. "Aku masuk sendiri aja.."


"Kamu gak mau aku antar.."


"Gak papa, ini juga udah agak siang.. kakak mungkin punya kegiatan lain yang harus dilakukan saat ini"


"Enggak kok, masih sempat kalau cuman buat nganter kamu sampai depan pintu"


"Gak usah kak, tadi kakak kesini belum mandi juga kan? kakak balik gih terus mandi"


"Kenapa? aku bau ya??" Kata Farhan mencium sekitarnya.


"Gak kok, cuman kalau mandinya makin siang entar makin gerah.."


"Hem.. Aku senang.."


"Senang? kenapa?"


"hehe rasanya kayak diperhatiin pacar gitu.." Kata Farhan cengengesan.


Aku hanya tersenyum "Ah.. sepertinya aku salah bicara.. bisa makin salah paham ini" pikirku


"Yaudah aku balik dulu.."


Akuu hanya tersenyum.. "Hati-hati kak.."


Farhan berlalu, aku berjalan masuk pekarangan rumah dengan lesuh. Aku merencanakan semua apa yang akan aku katakan, aku menyiapkan bait demi bait kata-kataku, menyusun dengan rapi kata-kata yang akan aku ucapkan agar tidak terlalu melukai Farhan, tapi nyatanya aku malah tidak mengatakan apapun karena merasa tidak enak hati dengan Farhan. Jelas sekali terlihat Farhan sangat bahagia dengan hubungan kami yang sebenarnya hanya salah paham ini, Farhan terlihat serius sekali dengan ucapannya. Aku benar-benar tidak tega mengatakan yang sebenarnya.


Langkahku terhenti setibaku di depan pintu. Seseorang berdiri disana entah sudah berapa lama, terlihat lesuh dan kusut sekali.


"Salwaa..."

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Rasanya aku ingin langsung pergi saja, melihatnya saja membuatku sakit sekali..


__ADS_2