
Meski awalnya ragu, namun Sasa akhirnya mengiyakan saran Azka untuk liburan di rumah Azka. Sasa tidak tahu dia harus bagaimana nanti saat tiba dirumah Azka, namun Azka selalu mengatakan bahwa bersikap biasa saja, karena keluarganya mudah menyesuaikan diri dengan tamu yang datang ke rumah mereka.
“Bu..” Panggil Azka saat memasuki halaman rumahnya.
Seorang wanita paruh baya berlari pelan menyambut kedatangan putranya.
“Anak Ibu, akhirnya pulang juga”
Sebuah ciuman cinta mendarat dipipi Azka dari wanita yang telah melahirkannya.
“Bagaimana perjalananmu Nak? Kamu baik-baik saja kan di jalan?” Tanya Ibu Azka pada Sasa.
“Iya Bu..” Jawab Sasa tersenyum.
“Oh, syukurlah. Ya sudah, ayo masuk. Azika sudah masak makanan enak di dalam”
Meski malu-malu, Sasa akhirnya melangkahkan kakinya masuk kerumah Azka. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun suasananya terasa sangat hangat dan nyaman. Beberapa foto keluarga tergantung di dinding, dan beberapa lainnya tertawa rapi dalam bingkai yang di susun rapi diatas meja.
“Woahh... Putri Ayah datang..” Sambutan yang luar biasa Ayah Azka berikan pada Sasa.
“Ayah, jangan ngaco deh. Itu anak orang, kenapa diakui-akui” Tegur Azika yang keluar dari dapur masih menggunakan celemek.
“Ya gak apa-apa. Habis punya satu anak perempuan, kelakuannya tidak menyerupai perempuan..”
“Ha ha ha.. Makanya kalem sedikit mbak. Penuhi keinginan Ayah untuk punya anak perempuan yang seutuhnya, bukan yang setengah-setengah” Tegur Azka dengan nada meledeknya.
Sasa tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa kecil melihat kelakuan keluarga Azka yang ribut hanya dengan masalah sepele. Keluarga Azka benar-benar memberikan suasana nyaman dan tenang bagi Sasa. Sasa yang sedari kecil tidak pernah menikmati nyamannya kekeluargaan, akhirnya bisa merasakan itu di tengah-tengah keluarga Azka.
“Makanya kamu cepat nikah Ka, biar Ayah bisa dapat anak perempuan yang baru”
“Memangnya nikah tinggal nikah? Dikata cari istri kayak cari baju baru” ketus Azka sambil duduk di kursi yang tersedia di ruang tengah rumah mereka.
“Itu ada Sasa..” celetuk Azika sambil melirik ke arah Sasa.
Sasa sedikit terkejut mendengarnya, dan Azka pun refleks mengarahkan pandangannya pada Sasa, berharap Sasa tidak merasa tidak nyaman mendengar apa yang kakak perempuannya katakan.
“Mbak.. Kalau ngomong sembarang deh..”
“Lah, Mbak kan cuman nyaranin Ka”
“Sudah, sudah.. Kalian ini, Sasa baru pertama kali datang kerumah kita, dan kalian sambut seperti ini. Sudah sudah.. Azika lanjutkan masakmu, Ayah awasi Revano lagi. Dan kamu Azka, ke rumah pak Rahman ambilin lengkuas” Kata Ibu Azka mencoba melerai.
“Lah Bu, Azka kan baru nyampe..”
“Kamu kesini kan gak jalan kaki, masa iya ngambil lengkuas di sebelah aja gak bisa”
Azka memasang wajah cemberutnya namun tetap saja melangkahkan kakinya keluar, menuruti permintaan Ibunya.
Azka yang selalu terlihat dewasa dimata Sasa, selalu nampak beribawa meski humoris, rupanya terlihat seperti anak kecil jika berada di tengah-tengah keluarganya.
Semuanya kembali pada posisi pekerjaan masing-masing, setelah omelan dari ‘Ibu negara’ dalam istana di rumah Azka melayang ketelinga mereka.
“Maafkan mereka ya Nak Sasa, mereka semua memang seperti itu. Maaf kalau mereka membuat kamu merasa tidak nyaman”
“Tidak apa Bu, aku merasa baik-baik saja” Jawab Sasa tersenyum.
“Azika itu sifatnya sama persis dengan Ayahnya. Dia suka bercanda dan ribut disana-sini. Cuman ya begitu, bercandanya kadang suka kelewatan”
Sasa hanya tersenyum mendengarkan penuturan Ibu Azka.
Keluarga Azka memberikan kenyamanan tersendiri bagi Sasa. Selain keluarga Azka yang begitu hangat menyambutnya, suasana rumah dan sekitarnya yang masih terbilang pedesaan, sangat asri dan menyenangkan. Membuat Sasa benar-benar lupa sama kehidupan yang dia milik di kota sebelah.
Siang hari yang berlalu begitu menyenangkan, hingga membuat Sasa tidak merasakan bahwa malam hampir tiba. Azika yang tadinya ikut seru-seruan bersama mereka, akhirnya harus izin pulang kerumahnya dan berjanji untuk kembali lagi besok.
Azika hidup dirumah yang terpisah dengan orangtuanya, karena sekarang dia sudah berkeluarga. Namun jarak rumahnya dan rumah orangtuanya yang tidak jauh, membuat Azika sangat sering berkunjung kerumah orangtuanya saat suaminya sedang bekerja.
Siang yang diketuai oleh matahari, kini berganti ketika sang surya mulai kembali keperadabannya, dan sekarang bulan lah yang mengambil alih untuk menerangi mahluk yang ada di bumi.
Ibu dan Ayah Azka pamit untuk istirahat setelah mereka berbincang-bincang sejenak saat selesai makan malam bersama tadi. Mata yang belum juga di hampiri rasa kantuk, membuat Sasa melangkahkan kakinya keluar rumah, dan duduk di depan menikmati cahaya bulan yang bertengger di langit.
“Kamu bisa kedinginan kalau diluar sini tanpa jaket” Kata Azka yang tiba-tiba muncul dengan membawa jaket dan diberikan pada Sasa.
“Makasih Ka” Sasa memperlihatkan senyum manisnya dan mulai menggunakan jaket yang diberikan oleh Azka.
“Sa, maafin keluargaku kalau mereka ngomong ngawur. Ayah sama Mbak ku memang seperti itu, mereka pandai sekali dalam membuat orang ngerasa gak nyaman”
“Gak kok, aku malah merasa nyaman sama mereka. Mereka humoris dan menyenangkan”
“Syukurlah kalau kamu merasa nyaman”
“Oh ya, Ka. Ayahmu gak kerja?”
“Kerja”
“Tapi hari ini?”
“Ya dia ambil libur karena tahu kita mau datang”
“Aduh, aku jadi gak enak. Karena kedatanganku Ayahmu sampai..”
“Udah, santai aja. Ayah bolos kerja kan karena dia yang mau”
“Tapi, tetap saja rasanya aku sungkan..”
Azka berbalik dan tersenyum menatap Sasa.
“Ayahku memang doyan bolos Sa, makanya kedatangan kita ini cuman alasan biar dia bisa bolos” Kata Azka di susul dengan tawa kecilnya.
Jelas saja apa yang dikatakan Azka itu tidak benar. Dia hanya tidak ingin Sasa merasa tak enak jika dia tahu bahwa Ayahnya benar khusus mengambil libur sehari hanya untuk menyambut mereka.
“Sa..”
“Hem??”
__ADS_1
“Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baikan?”
“Tidak” Jawab Sasa singkat. “Bukan cuman sekedar baikan, tapi aku merasa sangat baik sekarang. Makasih Ka, karena udah ngebawa aku kesini dan membuatku merasa nyaman. Aku senang bisa merasakan ini, kekeluargaan seperti ini adalah sesuatu yang gak pernah aku rasain sebelumnya” Jelas Sasa dengan senyum lebarnya, memperlihatkan bagaimana dia bahagia saat ini.
Keduanya larut dalam obrolan mereka yang ditemani oleh cahaya bulan. Begitu banyak pembahasan-pembahasan absurd, yang membuat mereka tertawa lepas, meski sesekali harus menahan tawa mereka mengingat kedua orangtua Azka sudah beristirahat sekarang.
.
.
.
Sekitar lima hari Sasa berada dirumah Azka, dia begitu menikmati hari-hari yang dia lalui disana. Kekeluargaan Azka yang hangat membuat Sasa dengan mudah menjadi sangat akrab. Hingga saat akan pulang, rasa berat hati sangat Sasa rasakan. Namun Sasa tidak mungkin tinggal lebih lama disana mengingat dia memiliki tanggung jawab pekerjaan yang harus dia lakukan.
Sasa sedang menunggu Azka untuk pulang. Entah penyakit apa yang tengah di derita oleh teman Azka itu, hingga sudah berlalu hampir dua minggu dan dia masih saja di rawat sekarang, membuat Azka selalu meluangkan waktunya untuk menjenguk temannya itu sebelum pulang.
“Ciee cieee...” Ledek Olla dengan eskpresinya yang cukup menyebalkan untuk dilihat.
“Apaan?” Tanya Sasa tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang dimainkannya.
“Ada yang dari rumah calon mertua nih”
“Apaan sih La, aku cuman lagi liburan. Tujuannya itu bukan dirumah Azka, tapi di tempat wisata yang ada disana. Aku cuman nebeng tidur aja di rumah Azka” Jawab Sasa berbohong. Ia akan mendapatkan ejekan lebih panjang dari Olla jika Olla tahu yang sebenarnya.
“Ya tapi kan sama aja. Sekarang kamu lagi nunggin Azka lagi kan?”
“Iya, biar bisa nebeng pulang”
“Alasan, pasti janjian kan??”
Sasa hanya menghembuskan nafas malas mendengar Olla yang sangat senang meledeknya.
“Oh ya, La. Kamu tahu teman Azka yang dirawat itu?”
“Yang di kamar VIP?”
“Iya. Dia sakit apa? Perasaan sudah berhari-hari disini”
“Dia udah sembuh”
“Udah sembuh? Terus ngapain lagi masih disini?”
“Biasa lah orang kaya. Dia ngejadiin rumah sakit sebagai tempat pelarian”
“Lah, kayak gak ada tempat yang lain aja”
“Tapi aku setuju sih sama idenya. Untuk orang-orang seperti mereka, memang cuman alasan sakit saja yang bisa ngebuat mereka lari dari hal yang tidak mereka inginkan. Ya kan, orang sakit gak mungkin dipaksa buat ngelakuin apa-apa”
“Ya tapi kan...”
“Gak usah nanya lagi Sa. Setiap pertanyaanmu mengenai dia itu ada jawabannya, dan jawabannya itu bakal ngebuat kamu terheran-heran. Disinilah kita bisa melihat kehebatan uang”
“Ma-maksud kamu..”
“Ya kamu tebak sendiri lah. Kekuasaan orang ber-uang itu bukan hanya ada di tivi-tivi, di dunia nayata pun banyak yang berkeliaran seperti itu”
“Oh ya, kemarin ada yang datang nyariin kamu”
“Siapa?”
“Cowok tampan. Aku tanya namanya, lah dia malah nyelonong pulang aja pas tahu kamu gak masuk”
Sasa sudah bisa menebak siapa yang datang itu. Sasa tidak punya banyak teman apalagi keluarga yang bisa mencarinya disini. Hanya Fauzi orang lain yang dia kenal, dan pergi tanpa menjawab pertanyaan dan tanpa memperkenalkan diri itu, bukan gaya Fauzi.
“Orang itu sering datang??”
“Hem lumayan, tapi baru kemarin dia masuk dan bertanya. Aku selalu ngeliat dia setiap harinya diluar, ya aku kira dia cuman nungguin siapa gitu. Lah kemarin dia masuk, dan malah nyariin kamu. Dia siapa?”
“Ah? Ya-ya, ya aku gak tahu. Kan aku gak tahu siapa yang nyariin”
“Ah iya ya.. Yaudah deh, aku ngecek pasien dulu”
“Oke..”
Sasa terdiam, pikirannya kembali bermain disekitar Faiq. Sudah satu minggu lebih dari waktu dimana dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya bersama Faiq, dan sudah satu minggu juga dia menghindari pertemuan dari Faiq.
Selama itu, Faiq tidak pernah menelfonnya dan hanya mengirim pesan, menunjukkan bahwa dia sedang menunggu Sasa memperbaiki perasannya dan kembali padanya.
“Ayo pulang..”
Sasa tersentak saat kehadiran Azka yang tiba-tiba datang mengejutkannya.
“Eh a-ayo..”
“Kamu kepikiran apa? Kok melamun?”
“Gak..” Jawab Sasa menggeleng dengan tersenyum.
Keduanya melangkahkan kaki keluar menuju dimana mobil Azka terparkir. Sasa sempat menyapu area sekitar dengan pandangannya, sekiranya sosok Faiq bisa tertangkap oleh matanya. Tapi sepertinya, Faiq yang beberapa hari terakhir ini selalu menunggunya diluar kini tidak lagi ada disana.
Mobil yang dikendarai oleh Azka melaju. Pikiran Sasa yang sempat terpaku pada Faiq tadi, kini sudah teralihkan setelah mengobrol bebas dengan Azka. Azka selalu bisa mengalihkan perhatiannya.
“Sa, mau jalan dulu gak hari ini?”
“Kemana?”
“Ke pantai yang kemarin?”
“Kamu suka banget kayaknya sama pantai” Kata Sasa sedikit tersenyum.
“Gak juga, aku cuman lagi kepengen saja kesana”
Sasa mengangguk mengiyakan permintaan Azka untuk tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ketempat dimana Azka membawanya dulu untuk melampiaskan perasaan sakit dan sesaknya.
__ADS_1
.
.
.
Desiran angin pantai menyapu wajah mereka yang memberikan rasa nyaman dan damai. Beberapa cemilan sudah mereka persiapkan untuk menemani sore mereka hari ini dipantai.
Azka maupun Sasa terdiam sejenak, Sasa begitu menikmati suasana pantai itu, sedang Azka sedang diterpa kegelisahan dan keragu-raguan.
“Sa..” Azka membuka obrolan. Meski ia ragu, tapi dia memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan hari ini.
“Ya?” Sasa menoleh.
“Perasaan kamu ke Faiq, bagaimana?”
“Hem.. Entahlah..”
“Kamu masih cinta sama dia?”
“Kalau ditanya perihal masih cinta, aku bohong kalau aku bilang tidak. Bertahun-tahun perasaanku tertaut disana Ka, jadi gak mudah buat menghapus semuanya”
“Jadi??”
“Ya, aku biarkan saja. Aku tahu, aku cuman nyakitin diri sendiri kalau memaksa hatiku untuk mengubah perasaanku. Meskipun aku sudah memutuskan untuk gak mau balik lagi sama Faiq, tapi bukan berarti aku harus memaksakan diri untuk menghapus perasaanku”
“Kamu sudah yakin untuk gak balik lagi sama Faiq?”
Sasa mengangguk pelan. “Aku sama Faiq sangat berbeda. Kita hanya akan saling menyakiti kalau memaksakan diri untuk bisa bersama. Apa yang Faiq raih selama ini harus bisa dia nikmati, bukan melepaskan semuanya hanya untuk aku. Sedangkan aku, harus menjalani hidupku dengan baik seperti sekarang. Cukup di waktu yang lalu saja aku selalu merasa tertekan, sekarang aku harus menikmati hidupku” Jelas Sasa.
“Akhir-akhir ini, meski perasaanmu masih ada buat Faiq tapi udah gak sama, apa kamu ngerasakan itu sebagai beban?”
Sasa menatap Azka lekat, rasanya sedikit aneh Azka bertanya hal-hal seperti itu. Namun Sasa tetap menjawab pertanyaan Azka yang menurutnya aneh itu.
“Gak dibilang beban juga. Sesekali aku merasa sakit tiap kali menyadari kalau Faiq udah gak sama aku lagi. Tapi aku selalu menguatkan diriku dengan menamparkan fakta tentang aku dan Faiq yang memang sangat sulit untuk bersatu. Selain itu, apa yang aku lalui di rumahmu lima hari kemarin, itu sangat membantu dan membuatku nyaman”
“Kamu nyaman sama keuargaku?”
Sasa mengangguk. “Aku bener-bener makasih untuk itu Ka, kalau saja kamu gak ngebawa aku kesana, aku gak yakin bisa lebih tenang seperti sekarang”
Azka hanya tersenyum.
Keduanya kembali terdiam, hingga Azka kembali memulai obrolan. Apa yang ingin dia sampaikan, belum juga tersampaikan hingga sekarang.
Matahari perlahan semakin turun. Warna orangenya terpantul cantik di pantai, memberikan pemandangan yang sangat memanjakan mata.
“Cantik sekali..” Gumam Sasa mengagumi apa yang ditangkap oleh indra penglihatannya sore ini.
“Iya, makanya aku ngajak kamu kesini, buat ngeliat ini..”
Sasa berbalik dan tersenyum pada Azka. “Kamu tahu sekali hal-hal yang menyenangkan”
Azka hanya tersenyum mendapat pujian dari Sasa.
“Hem, mau sampai kapan disini? Matahari mulai tenggelam, sebentar lagi gelap”
“Kamu sudah mau pulang?”
“Kamu belum mau pulang?” Sasa balik bertanya. “Ini kan sudah sore, kalau mau besok kita bisa kesini lagi”
Azka terdiam, sedikit menunduk membuat Sasa kebingungan.
“Ta-tapi, kalau kamu masih mau disini, ya gak apa-apa. Kita bisa tinggal disini lebih lama” Kata Sasa yang mencoba mengerti melihat Azka yang sepertinya belum berniat beranjak dari tempatnya.
“Aku bukannya masih mau tinggal disini, aku cuman ngomong sesuatu yang belum aku bilang sampai sekarang”
“Tentang apa?”
Perlahan Azka menoleh, menatap Sasa.
“Sa, aku tahu kamu masih cinta sama Faiq, dan aku tahu kamu gak akan mudah untuk bisa melupakan Faiq. tapi...”
“Tapi??”
“Tapi, apa kamu gak mau mencoba untuk membuka hatimu untuk oranglain? Apa kamu gak berminat buat orang lain masuk kedalam hatimu untuk jadi penghuni baru”
Sasa terdiam, memandangi Azka dengan ekspresinya yang kebingungan.
“Sa, apa kamu ngebolehin aku jadi tamu baru dihatimu? Apa aku bisa jadi penghuni baru di hatimu?”
Ekspresi bingung yang sedari tadi Sasa perlihatkan kini hilang dan berubah menjadi terkejut ketika ia tahu maksud dari perkataan Azka.
“Ma-maksud kamu??” Sasa mencoba memperjelas, untuk memastikan apa yang tengah di pikirkannya sekarang.
“Aku gak mau ngebuat kamu kepikiran tentang apa yang akan aku bilang nanti. Aku tahu kalau aku salah mengatakan ini disaat hatimu masih jadi milik orang lain. Tapi aku rasa, aku tidak akan bisa masuk ke dalam hatimu jika hanya menunggu kamu mengosongkan hatimu dulu. Aku harus bisa menjadi penghuni baru untuk mengusir penghuni lama”
Sasa masih terdiam, dia tidak tahu harus menanggapi bagaimana pernyataan Azka barusan. Meski Olla sering kali meledeknya dengan hal-hal seperti ini, tapi Sasa tidak pernah menyangka bahwa kata-kata Olla yang bernada gurauan itu ternyata benar.
Azka menatap lekat ke dalam mata Sasa, memandangi Sasa dengan serius.
“Ayo menikah”
Kornea mata semakin melebar. Apa pendengaranku tidak salah menangkap barusan???
“Me-menikah??”
“Iya. Kita bukan lagi anak remaja, seusia kita harusnya sudah menikah bukan? Jadi aku gak minta lagi untuk jadi pacarmu, tapi jadi suamimu”
Azka berbicara dengan memperlihatkan ekspresinya yang serius.
“Ayo menikah, Sa”
.
__ADS_1
.
.